Kelahiran Nabi Muhammad

Kelahiran Nabi*
Oleh A. Fatih Syuhud

Sosok yang agung dan pemimpin yang hebat akan terlihat dari sejak masa awal  kelahirannya. Dan itulah yang terjadi pada sosok Nabi Muhammad.  Dalam sebuah hadits riwayat Tabrani, Nabi bersabda: “Aku terlahir dari sebuah pernikahan. Bukan hasil perzinahan. Dari sejak Nabi Adam sampai ibu melahirkanku. Perzinahan jahiliyah tidak pernah menimpaku.” Yang dimaksud Nabi dalam hadits ini adalah bahwa seluruh nenek moyang Nabi tidak pernah melakukan hubungan lawan jenis kecuali melalui ikatan perkawinan yang sah.

Di sisi lain, orang bijak mengatakan, bahwa semakin banyak seseorang mendapat cobaan, maka akan semakin matang dan kuat kepribadian orang tersebut. Dan cobaan pertama menimpa Nabi jauh sebelum beliau lahir ke dunia ini. Baru saja ibunda Aminah binti Wahab mengandung dua bulan, ayahanda Abdullah bin Abdul Muttalib meninggal dunia saat sedang dalam perjalanan bisnis ke Syam (sekarang Suriah). Abdullah meninggal dan dimakamkan di Madinah.

Hari dan bulan terus berjalan, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Dalam catatan Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijrah yang disebut juga dengan Tahun Gajah (Amul Fil).  Dalam kalender masehi, itu bertepatan dengan tanggal 20 April  571.  Ibunda Aminah mengabarkan berita ini pada mertuanya yaitu Abdul Muttalib. Berita gembira ini disambung dengna suka cita. Dan berdasarkan mimpi yang didapatnya, maka cucu tersayangnya ini diberi nama Muhammad. Sebuah nama yang tidak umum di lingkungan suku Quraisy bahkan di kalangan bangsa Arab secara umum.

Abdul Muttalib lalu membawa cucu kesayangannya ini ke dalam Ka’bah . Ia berdiri di sana berdoa dengan khusyu’ dan mensyukuri anugerah yang diberikanNya.  Setelah itu sang kakek menyerahkan Nabi untuk disusui oleh wanita lain yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib As-Sa’diyah. Menyerahkan bayi pada ibu susuan atau radha’ah adalah tradisi yang berkembang saat itu di tanah Hijaz, Arabia. Tradisi ini kemudian mendapat legitimasi dalam syariah Islam di mana ibu radha’ah memiliki hubungan kekerabatan dengan anak yang disusuinya.

Namun masa-masa bahagia itu tidak lama. Musibah dan cobaan kembali menimpa Nabi.  Baru menginjak usia enam tahun ibunda Nabi, Aminah binti Wahab,  meninggal dunia pada tahun 47 sebelum hijriah yang bertepatan dengan tahun 577 masehi.  Rasulullah pun menjadi anak yatim piatu dalam usia yang begitu belia.  Sekarang, Nabi berada di bawah pengasuhan langsung dari sang Kakek Abdul Muttalib yang merawatnya dengan penuh kasih sayang melebihi sayangnya pada putranya sendiri. Dua tahun berlalu, pada usia Nabi menginjak delapan tahun, sang kakek pun meninggal dunia. Pengasuhan Nabi diteruskan oleh pamannya yang bernama Abu Thalib yang merawatnya dengan penuh cinta dan melindungi Nabi dengan penuh tanggung jawab tidak hanya saat masa kecil Nabi tapi juga berlanjut sampai Nabi dewasa bahkan saat Nabi sudah diangkat Allah sebagai Rasul dan mendapat  penentangan dari kalangan suku Quraisy dan yang lain.

Kesedihan, musibah dan cobaan yang menerpa adalah dinamika kehidupan yang harus dilalui Nabi saat masa kecilnya. Berbagai kesedihan dan kesulitan hidup yang dideritanya adalah kehendak Allah yang di dalamnya terkandung hikmah terpendam tak ternilai.

Musibah dan penderitaan memang seharusnya di hindari. Namun apabila itu terjadi, tidak perlu menjadi pengalaman yang traumatis. Karena, apabila manusia dapat mengelolanya dengan baik, maka ia dapat menjadi pemicu yang kuat untuk mengembangkan kepribadian menjadi lebih tangguh, lebih sensitif kepada sesama, lebih bijaksana, memiliki rasa empati lebih tinggi dan akhirnya akan mampu mencetak kepribadian dan akhlak yang ideal. Dan itu juga telah terbukti secara ilmiah.

Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun, dua orang psikolog asal Amerika, dalam bukunya Trauma and Transformation: Growing in the Aftermath of Suffering (SAGE Publications, 1995) menyimpulkan hasil penelitiannya:  “Perkembangan kepribadian positif sering terjadi pada orang-orang yang mengalami kejadian traumatik. Beberapa di antaranya adalah hubungan antarmanusia yang lebih baik, apresiasi yang lebih tinggi atas kehidupan, meningkatnya kekuatan spiritual dan pengembangan personal.”

Dalam konteks ini, maka penderitaan yang dialami Nabi pada masa kecil beliau pada dasarnya bukanlah penderitaan yang harus ditangisi;  melainkan sebuah proses panjang yang harus dilalui untuk menuju pembentukan karakter dan akhlak sempurna kenabian yang patut menjadi figur teladan umat manusia sepanjang masa (QS  Al-Ahzab 33:21). []

*Ditulis untuk Buletin SANTRI PPA Malang

computer repair new york city

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.