Iraq Terseret Perang Saudara?

Oleh A. Fatih Syuhud
Jawa Pos, Senin, 16 Mei 2005,

Munculnya pemerintahan baru yang didominasi Syiah pimpinan Perdana Menteri Ibrahim Jaafari kembali membuka luka-luka sektarian di Iraq. Sejak Jaafari mengumumkan susunan kabinet parsial, kekerasan meningkat. Para pengebom bunuh diri, sebagian mengendarai mobil yang dipenuhi bahan peledak atau berjalan kaki, melancarkan serangan yang menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai ratusan lainnya.

Saat tulisan ini dibuat (11/5/05), BBC melaporkan bahwa 70 orang lagi tewas oleh bom pinggir jalan. Sejumlah kelompok Sunni, yang memelopori resistansi Iraq namun akhirnya termarginalisasi dari politik mainstream, diduga berada di balik semua kekerasan yang terjadi.Gelombang baru kekerasan itu mengindikasikan sebuah pakem, merefleksikan perimbangan kekuatan yang telah mengunci sejumlah kelompok agama dan etnis Iraq.

***

Sebelumnya, kaum Syiah menjadi target utama. Tetapi, saat ini, suku Kurdi, tampaknya, menjadi sasaran baru berbagai serangan itu. Syiah dan Kurdi yang terpinggirkan selama berabad-abad secara efektif mengganti posisi Sunni yang secara historis berkuasa di Iraq.

Pada 1 Mei, di Talafar -kota dekat perbatasan Syria-, seorang pengebom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke sebuah kemah yang dipenuhi pelayat yang berkumpul untuk acara pemakaman seorang pemimpin Kurdi yang tewas. Sekitar 30 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka.

Pejabat Kurdi menyatakan, sejumlah orang bersenjata
mencegah ambulans yang mengangkut korban ke rumah sakit yang berakibat terjadinya pertempuran di jalan.

Tiga hari kemudian, seorang pengebom bunuh diri yang berjalan kaki menyerang sejumlah orang Kurdi yang sedang antre di luar kantor Partai Demokratik Kurdi (PDK) yang juga berfungsi sebagai pusat perekrutan polisi di Irbil, kawasan Iraq Utara. Sekitar 60 orang terbunuh di luar sebuah klinik di Kota Hilla.

Ketegangan hubungan antara kaum Kurdi dan Sunni memang sudah terjadi, khususnya di kawasan utara kota minyak Kirkuk. Kurdi mengklaim Kirkuk sebagai miliknya. Tetapi, hal tersebut ditentang Arab Sunni yang ditempatkan di kawasan itu dalam jumlah besar oleh pemerintahan Partai Baath di bawah mantan Presiden Saddam Hussein.

Berbagai serangan dan kekerasan mutakhir diperkirakan semakin mempertajam ketegangan antara kedua komunitas dan mungkin semakin mendorong kaum Kurdi untuk menuntut kemerdekaan serta membentuk negara Kurdistan.

***

Sejumlah kelompok Sunni yang dikenal dekat dengan kalangan perlawanan telah mengungkapkan ketidakpercayaannya pada pemerintahan baru Syiah di bawah Jaafari.

“Kami tidak percaya bahwa pemerintah baru akan bisa memecahkan masalah pendudukan Iraq. Kami tidak percaya pemerintah,” ujar Harith al-Dhari, direktur Association of Muslim Scholars (AMS), sebuah organisasi berpengaruh Sunni yang dikenal dekat dengan kelompok resistansi, seperti yang dikutip stasiun TV Al Jazirah (8/5/05).

Ketegangan laten Sunni-Syiah saat ini sudah mengemuka. Pada 4 Mei, kekacauan berkecamuk antara mahasiswa Syiah dan Sunni di kampus Universitas Baghdad setelah terbunuhnya seorang ketua mahasiswa Syiah. Masar Sarhan, 24, terbunuh setelah mengundang para mahasiswa untuk mengadakan syukuran di dalam kampus atas terbentuknya kabinet Jaafari yang baru.

Kekacauan itu bisa menyebar ke kampus-kampus lain karena banyak mahasiswa Syiah yang menuntut pembalasan dendam atas kematian Sarhan.

Hasil investigasi Wall Street Journal (16/2/05) menyatakan, munculnya sejumlah milisi bersenjata dan grup -serta tidak sedikit di antaranya yang dikontrol Amerika dan beroperasi dari kawasan Green Zone di Baghdad yang dijaga superketat- telah menambah dimensi baru yang sangat buruk dalam konteks politik sektarian dan komunal di Iraq.

Di antaranya, Special Police Commando (SPC) yang berkekuatan sedikitnya 10.000 orang dan cukup high profile. Grup tersebut dikenal pernah melakukan opsi Salvador, sebuah kebijakan untuk menarget pembunuhan tingkat tinggi yang pernah dilakukan tim berani mati bimbingin AS di El Salvador.

Grup itu dipimpin Adnan Thavit al-Samarrai, seorang loyalis mantan Perdana Menteri Iyad Allawi. Pada 1996, dia menjadi bagian sebuah kelompok yang hendak melakukan kudeta yang digagalkan untuk melengserkan pemerintahan Saddam.

Dua kelompok milisi lain di bawah Allawi adalah Muthana Brigade dan Defenders of Khadamiya. Kendati Allawi tidak lagi menjadi bagian dari pemerintah baru, dia mungkin masih akan berperan sebagai pusat kekuatan berpengaruh di bawah dukungan AS.

Marinir AS juga melatih milisi Iraqi Freedom Guard (
IFG) dan Freedom Fighters (FF). Kedua kelompok milisi tersebut terdiri atas sejumlah besar kaum Syiah dari selatan dan telah dikerahkan untuk melawan Sunni di provinsi pusat perlawanan Sunni, Anbar.

AS juga mengeksploitasi pejuang Kurdi Peshmerga yang konon ikut bertempur melawan Sunni di Fallujah dalam serangan besar pimpinan AS di kota itu pada November 2004.

Di luar pengaruh AS, pasukan Mehdi pimpinan Muqtada Al-Sadr mengontrol jalanan di banyak kota yang menjadi kantong kaum Syiah dan memberikan kontribusi pada pemerintahan de facto tingkat lokal. Kota selatan Iraq, Basra, saat ini menjadi pusat baru yang berada dalam kontrol milisi Syiah.

Munculnya sejumlah pusat kekuatan, beberapa di antaranya beroperasi dengan bantuan AS, telah memberikan bahan dasar yang diperlukan menuju perang saudara yang akan berlangsung lama di Iraq.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.