Pemimpin Harus Adil, Rela Berkorban dan Tidak Tamak

Pemimpin harus bisa bersikap adil dalam mengambil kebijakan dan memutuskan perkara dan obyektif dalam melihat permasalahan. Selain itu harus rela berkorban dan tidak tamak. Karena ketamakan akan menghilangkan segala karakter baik yang ada padanya.
Adil dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SANTRI
Ponpes Alkhoirot Karangsuko, Malang

Daftar Isi

  1. Adil
  2. Pengorbanan
  3. Tidak Tamak


Adil

Kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran.

Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang perilakunya sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dalam Al Quran, kata ‘adl disebut juga dengan qisth (QS Al Hujurat 49:9).

Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama. Keberpihakan karena faktor-faktor terakhir—bukan berdasarkan pada kebenaran– dalam Al Quran disebut sebagai keberpihakan yang mengikuti hawa nafsu dan itu dilarang keras (QS An Nisa’ 4:135). Dengan sangat jelas Allah menegaskan bahwa kebencian terhadap suatu golongan, atau individu, janganlah menjadi pendorong untuk bertindak tidak adil (QS Al Maidah 5:8).

Mengapa Islam menganggap sikap adil itu penting? Salah satu tujuan utama Islam adalah membentuk masyarakat yang menyelamatkan; yang membawah rahmat pada seluruh alam –rahmatan lil alamin (QS Al Anbiya’ 21:107). Ayat ini memiliki sejumlah konsekuensi bagi seorang muslim:

Pertama, seorang muslim harus bersikap adil dan jujur pada diri sendiri, kerabat dekat , kaya dan miskin. Hal ini terutama terkait dengan masalah hukum (QS An Nisa’ 4:135).

Penilaian, kesaksian dan keputusan hukum hendaknya berdasar pada kebenaran walaupun kepada diri sendiri, saat di mana berperilaku adil terasa berat dan sulit.

Kedua, keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, status jabatan ataupun strata sosial. Oleh karena itu, seorang muslim wajib menegakkan keadilan hukum dalam posisi apapun dia berada; baik sebagai hakim, jaksa, polisi maupun saksi.

Ketiga, di bidang yang selain persoalan hukum, keadilan bermakna bahwa seorang muslim harus dapat membuat penilaian obyektif dan kritis kepada siapapun. Mengakui adanya kebenaran, kebaikan dan hal-hal positif yang dimiliki kalangan lain yang berbeda agama, suku dan bangsa dan dengan lapang dada membuka diri untuk belajar (QS Yusuf 16:109) serta dengan bijaksana memandang kelemahan dan sisi-sisi negatif mereka. Pada saat yang sama, seorang muslim dengan tanpa ragu mengkritisi tradisi atau perilaku negatif yang dilakukan umat Islam.

Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa seorang individu muslim yang berperilaku adil akan memiliki citra dan reputasi yang baik serta integritas yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan-nya. Karena, sifat dan perilaku adil merupakan salah satu perintah Allah (Qs Asy Syuro 42:15) dan secara explisit mendapat pujian (QS Al A’raf 7:159).

Perilaku adil, sebagaimana disinggung di muka, merupakan salah satu tiket untuk mendapat kepercayaan orang; untuk mendapatkan reputasi yang baik. Karena dengan reputasi yang baik itulah kita akan memiliki otoritas untuk berbagi dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dengan orang lain (QS Ali Imran 3:104). Tanpa itu, kebaikan apapun yang kita bagi dan sampaikan hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Karena, perilaku adil itu identik dengan konsistensi antara perilaku dan perkataan (QS As Saff 61:3).[]


Pengorbanan dalam Islam.
Oleh A Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Edisi November 2009
PP Alkhoirot Putri

Saat Hari Raya Idul Adha tiba, ada satu hal yang memaksa kita untuk merenung: pengorbanan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail, salah satu putranya. Allah menganggap pengorbanan Nabi Ibrahim itu sangat penting sehingga Allah mengabadikan kisah itu dalam Al Qur’an Surah As Shaffat (37) ayat 100 sampai 113.

Pentingnya kisah pengorbanan Nabi Ibrahim and Nabi Ismail ini karena di dalamnya terkandung pelajaran yang tinggi akan nilai-nilai kebajikan universal yang berlaku sepanjang masa.

Pertama, kepercayaan mutlak (absolut) pada Allah, dan sebagai konsekuensinya rela melakukan apa saja yang diperintahkan olehNya, termasuk apabila perintah itu terkesan tidak menyenangkan (QS As Shaffat 37: 102-103).

Kedua, bahwa setiap pengorbanan yang benar tidak akan pernah sia-sia. Akan selalu ada balasan setimpal atas jerih payah kita (QS As Shaffat 37:105 dan 107). Baik balasan untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain; baik kita harapkan atau tidak.

Ketiga, pengorbanan itu identik dengan ujian (QS As Shaffat 37:106). Dan dalam proses menuju pendewasaan sikap sebagai persiapan menjadi seorang pemimpin yang matang, adanya ujian itu menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Besar kecilnya ujian dan pengorbanan akan menentukan besar kecilnya perubahan perilaku kepemimpinan dan kearifan kita (QS As Shaffat 37:110).

Keempat, bahwa untuk menuju ke level yang lebih tinggi dalam kualitas keimanan dan kepribadian, diperlukan suatu proses yang harus dilalui. Sebagai contoh, untuk mencapai kelas enam SD, seorang siswa harus melalui proses melewati lima jenjang kelas di bawahnya. Selain itu, seorang siswa harus melewati beberapa ujian untuk menuju satu level keilmuan di atasnya. Proses-proses menuju naik kelas bagi siswa SD itu memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga dan kesabaran dalam menghadapi ketidakenakan dan mungkin kejenuhan.

Seberapa besar pengorbanan yang diperlukan akan sangat ditentukan dari seberapa besar “kenaikanpangkat” yang diinginkan. Semakin tinggi tujuan yang kita capai, maka akan semakin besar pengorbanan yang diperlukan. Siswa yang sekedar ingin naik kelas tentu lebih kecil pengorbanannya dibanding siswa yang bertujuan tidak hanya naik kelas tapi juga ingin menjadi juara kelas atau bintang pelajar.

Hal yang sama juga berlaku dalam proses meningkatkan kualitas iman kepada Allah dan perilaku (akhlakul karimah) kepada sesama umat manusia. Ujian, pengorbanan, kesabaran dan keberanian dalam menghadapinya merupakan empat poin penting yang harus dilalui dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menuju kualitas keimanan dan kepribadian yang par excellence (QS Al Qalam 68:4), suatu kepribadian yang akan memberi cahaya berkah tidak hanya pada sesama muslim, tapi juga bagi seluruh alam (QS Al Anbiya’ 21:107). Dan apabila itu terjadi, sudah wajar kalau orang tersebut mendapat predikat sebagai individu terbaik yang berhak untuk menjadi pemimpin ideal yang menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) (QS Ali Imron 3:110).[]


Tamak
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesantren Alkhoirot Putri Karangsuko, Malang

Tamak atau rakus dalam istilah psikologi bermakna keinginan eksesif (berlebihan) untuk memperoleh atau memiliki harta kekayaan yang bukan haknya atau melebihi yang dibutuhkan.

Keinginan menguasai dan mencintai harta benda yang berlebihan itu (QS Al Fajr 89:20) pada gilirannya akan membawa seseorang pada dua perilaku negatif yang sangat dilarang dalam Islam.

Pertama, menghalalkan segala cara (the ends justify the means) dengan berbagai bentuk dan variannya sesuai peluang dan kesempatan yang ada di depannya (QS Al Fajr 89:19). Perilaku korupsi yang dilakukan pejabat negara dari level tertinggi sampai terendah timbul, salah satunya, dari sifat tamak ini. Berusaha mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun biasa dilakukan pedagang atau pengusaha yang rakus.

Kedua, pelit. Ketamakan itu identik dengan pelit atau kikir (Arab, bakhil) (QS 92:8). Tidak jelas mana yang menyebabkan apa. Apakah tamak yang menyebabkan pelit atau pelit timbul dari sifat tamak. Satu hal yang pasti, kedua karakter ini hanya dimiliki orang yang mementingkan dirinya sendiri (selfish). Yang tidak pernah befikir untuk membagi sebagian harta miliknya dengan orang lain. Al Quran sendiri memakai kata syuhh, yang berarti pelit, untuk menggambarkan perilaku tamak (QS Al Hasyr 59:9; At Taghabun 64:16)

Pada dasarnya, sifat tamak, dalam arti egois, sedikit atau banyak dimiliki setiap orang. Ia inheren dalam cara pikir dan perilaku manusia. Sifat mengutamakan diri sendiri, menomorduakan orang lain, pada hakikatnya manusiawi dan tidak dilarang dalam Islam. Yang dilarang apabila perilaku selfish ini mencapai level yang tidak proporsional sampai pada tahap merugikan orang lain.

Dalam Islam, istilah “merugikan orang lain” tidak hanya terbatas pada korupsi, menipu, memeras, mencuri atau membunuh. Istilah ini mencakup juga “keengganan untuk menginfakkan sebagian harta kita pada yang berhak” (QS Ali Imran 3:180). Allah menegaskan bahwa kesalihan itu adalah membagi sebagian harta dengan orang lain; bukan hanya ibadah ritual (QS Al Baqarah 2:177).

Untuk itu, seorang muslim yang tamak harus merubah perilakunya. Merubah perilaku tamak tidaklah sulit bagi mereka yang memiliki determinasi dan kemauan untuk merubah cara pikir dan perilakunya.

Pertama, rubah pola pikir atau keinginan hidup mewah atau hidup boros. Perilaku hidup mewah timbul pertama kali dari pola pikir (mindset). Karena itu perubahan harus dimulai dari sini. Jadikan hidup sederhana sebagai gaya hidup yang baru. Apabila Anda sudah berkeluarga, yakinkan anak dan istri bahwa pilihan hidup sederhana adalah yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.

Kedua, yakinkan bahwa standar sukses yang hakiki bukanlah ditandai dari simbol-simbol kemewahan semu yang kita miliki seperti merk dan harga baju, merk mobil, nilai harga rumah dan perabotannya, dan lain-lain. Standar kesuksesan hendaknya berdasarkan pada (a) kredibilitas kepribadian, dan (b) seberapa besar kemampuan dan kekayaan kita dapat bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan (QS Al Baqarah 2:267).

Islam selalu menekankan pentingnya kesalihan kolektif untuk mencapai masyarakat madani, suatu masyarakat yang hidup damai dan sejahtera. Kesalihan kolektif baru dapat dicapai apabila kalangan yang lebih beruntung secara ilmu dan kekayaan berinisiatif untuk membagi apa yang dimilikinya dan membuang perilaku tamak dan selfish.[]

Comments

  • [sarcasm]Good News! Traffic Quotas will soon be a thing of the past! NYC is now considering the use of sedeping cameras!LEOs will never have to check to see if a driver who is exceeding the posted limit’ could bea) drunk or otherwise intoxicatedb) unlicensedc) driving an unregistered or stolen vehicled) carrying contrabande) a criminal with a warrant for their arrestf) in the process of committing a felonyWith sedeping cameras protecting us, we won’t need actual police officers, thus, no more quotas![/sarcasm]

    HammadNovember 10, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.