Tauhid Asma was Shifat

Tauhid asma' wash shifat
Beda Tauhid Ahlussunnah dan Salafi Wahabi (2): Tauhid Asma was Shifat (توحيد الأسماء و الصفات)
Oleh: A. Fatih Syuhud

Hal kedua[1] yang membedakan antara konsep tauhid Aswaja dan Salafi Wahabi adalah tauhid asma wash shifat. Secara literal artinya nama dan sifat. Secara terminologis, sebagaimana didefinisikan oleh Ibnu Taimiyah, tauhid asma was shifat bermakna “mengesakan Allah dengan cara menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkan sendiri oleh-Nya (dalam firmannya) atau yang disebutkan oleh Rasul-Nya (dalam hadits), tanpa mengilustrasikan (takyif), tanpa menyerupakan dengan sesuatu (tamtsil), tanpa menyimpangkan makna (tahrif), tanpa menafikan nama atau sifat tersebut (ta’thil).”[2] Dengan kata lain, penyebutan nama dan sifat Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan hadits harus dimaknai secara apa adanya (hakiki), tidak boleh dimaknai secara kiasan (majazi).[3]

Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin (Ibnu Utsaimin), salah satu ulama senior Wahabi, menjelaskan maksud Ibnu Taimiyah di atas demikian: Misalnya, Allah menyebut dirinya dengan Al-Hayy (Yang Hidup Kekal) Al-Qoyyum (Yang Terus Menerus Mengurus makhluk-Nya), maka wajib bagi kita untuk percaya bahwa Al-Hayy adalah salah satu nama Allah. Dan wajib bagi kita mengimani apa yang terkandung dari nama ini yakni kehidupan yang sempurna yang tidak diawali dengan ketiadaan dan tidak fana. Allah juga menyebut diri-Nya dengan Al-Sami’ (Yang Maha Mendengar), maka wajib bagi kita mengimani Al-Sami’ sebagai salah satu nama Allah dan Al-Sama’ (mendengar) sebagai salah satu sifat-Nya. Begitu seterusnya.[4]

Contoh yang lain, menurut Ibnu Utsaimin, terdapat dalam QS Al-Maidah 5:64 “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”[5] Di sini Allah berfirman “tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka”, maka Allah menetapkan diriNya dengan “dua tangan” yang disifati dengan “terbuka” yaitu memberi yang luas. Maka wajib bagi kita mengimani bahwa Allah memiliki dua tangan yang terbuka dengan memberikan anugerah. Akan tetapi wajib bagi kita untuk tidak berusaha menggambarkan dengan hati atau dengan lisan bagaimana (takyif) bentuk kedua tangan itu. Juga tidak berusaha menyamakan (tamtsil) dengan tangan makhlukNya. Karena, Allah berfirman dalam QS Asy-Syuro :11 “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” Barangsiapa yang menyamakan (tamtsil) kedua tangan Allah dengan tangan makhluk-Nya, maka dia tidak mengimani firman Allah dalam QS Asy-Syuro :11. Dan barangsiapa yang mengilustrasikan kedua tangan Allah (takyif), maka dia telah menyatakan tentang Allah sesuatu yang ia tidak mengerti.[6]

Pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah

Kalangan ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) menyatakan bahwa konsep tauhid asma was shifat Ibnu Taimiyah memiliki sejumlah kesalahan. Terutama terkait dengan nama dan sifat Allah yang memiliki kesamaan dengan makhluknya. Misalnya, dalam memaknai kata “tangan” Allah. Apabila dimaknai secara hakiki, bukan kiasan, maka tangan Allah bermakna tangan-Nya. Bukan bermakna pemberian sebagaimana dipahami oleh ulama Aswaja. Ibnu Jarir dalam Tafsir Al-Thabari, mengutip pendapat Sahabat Ibnu Abbas, menjelaskan perkataan “tangan Allah terbelenggu” dalam QS Al-Maidah 5:64  itu dengan arti kiasan yakni bahwa “Orang Yahudi tidak bermaksud bahwa tangan Allah diikat. Akan tetapi mereka berkata: bahwa Allah bakhil tidak memberikan milik-Nya. Maha Luhur Allah dari apa yang mereka katakan.”[7] Sahabat Qatadah juga memaknai perkataan kaum Yahudi “tangan Allah terbelenggu” itu dengan arti orang Yahudi berkata bahwa “Allah itu pelit. Tidak dermawan.”

Begitu juga, apabila “kedua tangan Allah” dimaknai dalam arti hakiki, sebagaimana penjelasan Ibnu Utsaimin di atas, maka ia dan Ibnu Taimiyah sudah terperangkap ke dalam tafsiran kelompok Mujassimah.[8] Fakhruddin Al-Razi dalam menafsirkan kata “kedua tangan Allah” dalam QS Al-Maidah 5:64  menjelaskan: “Ulama berbeda dalam menafsiri “tangan Allah”. Kelompok Mujassimah berkata bahwa tangan Allah itu adalah anggota tubuh yang bersifat fisik sebagaimana dalam diri setiap orang.”[9]

Menurut Al-Razi, memaknai “tangan Allah” secara literal adalah tidak tepat karena Allah bukanlah berbentuk fisik. Dalilnya adalah bahwa fisik tidak lepas dari gerakan dan diam sedangkan keduanya adalah dua perkara baru. Sesuatu yang tidak bisa lepas dari hal baru maka termasuk baru. Di samping itu, setiap fisik itu ada akhirnya dan setiap hal yang ada akhir itu baru. Juga, setiap fisik itu terdiri dari beberapa bagian yang menerima untuk disusun dan ditempati. Apabila demikian, maka ia butuh pada penyusun dan itu adalah karakter hal baru. Kebaruan itu berlawanan dengan sifat qidam Allah. Dengan argumentasi ini maka Allah tidak mungkin berupa fisik. Begitu juga, tidak boleh memaknai tangan Allah dengan tangan yang berbentuk fisik.[10]

Setelah menjelaskan secara panjang lebar tentang makna “tangan Allah” dari berbagai pendapat ulama salaf, Al-Razi lalu menyimpulkan bahwa mayoritas ulama memaknai “tangan Allah” dengan kekuasaan dan anugerah Allah.[11] Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaf, hlm. 3/52, menjelaskan bahwa makna “kedua tangan-Nya terbuka” adalah kedermawanan dengan tanpa menggambarkan tangan, tidak menutup atau terbuka.[12]

Dengan konsep pemaknaan literal atas seluruh nama dan sifat Allah, maka kalangan Salafi Wahabi juga menganggap bahwa Allah berada atau bertempat di atas Arasy berdasarkan pada QS Thaha 20:5 “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang berkuasa di atas ‘Arsy.”[13] Pada ayat ini, apabila kita memakai pemahaman literal atas ayat tersebut, maka terjemahannya adalah “Yang bersemayam di atas Arasy.”[14] Pemaknaan literal seperti ini menurut Al-Razi tidak tepat, bahkan bathil secara naqli dan aqli, karena itu mengesankan seakan-akan Allah duduk di atas Arasy. Ada 10 alasan yang dikemukanan Al-Razi sebagian di antaranya adalah (a) bahwa Allah itu Ada tanpa Arasy atau tempat. Ketika menciptakan makhluk, Ia tidak butuh tempat; (b) yang duduk di atas Arasy bisa jadi dapat berpindah dan bergerak atau tidak bisa. Apabila kemungkinan pertama, maka berarti ia menjadi tempat bergerak dan diam itu artinya ia bersifat baru. Apabila kemungkinan kedua, maka berarti seperti orang yang diikat bahkan lebih buruk dan itu tidak mungkin terjadi pada dzat yang disembah; (c) bahwa firman Allah dalam QS Asy-Syuro 42:11 “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” meliputi tidak samanya Allah dengan makhluk-Nya dalam segala hal. Apabila Allah duduk maka berarti ada yang menyamai, maka makna ayat ini batal; (d) Firman Allah QS Al-Haqah 69:17 “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” Apabila mereka memikul Arasy, dan Arasy itu menjadi tempat Allah, maka berarti para malaikat itu memikul pencipta dan Tuhan mereka, ini tidak masuk akal. Karena, Sang Pencipta adalah dzat yang menjaga makhluk. Sedangkan makhluk tidak menjaga Sang Khalik dan tidak memikulnya; (e) bahwa bumi itu bulat. Maka arah bagian atas menurut kita itu adalah bawah menurut penduduk bumi di bagian yang lain begitu juga sebaliknya. Seandainya Allah itu ada di arah tertentu, maka arah itu walaupun ada di atas menurut sebagian manusia akan tetapi ia di bawah menurut sebagian yang lain. Ulama sepakat bahwa tidak boleh menyatakan Tuhan itu berada di bawah segala sesuatu.[15]

Berkaitan dengan sikap Aswaja dalam memahami QS Thaha 20:5, Dr. Salim Alwan Al-Husaini, mufti Darul Fatwa Australia, menyatakan: “Wajib menafsiri ayat ini dengan tanpa bertempat atau tidak duduk dan semacamnya. Dan kufur orang yang berkeyakinan seperti itu. Maka wajib meninggalkan makna asal, dan dialihkan pada pemahaman yang lurus menurut akal. Maka, kata ‘istiwa’ dialihkan pada arti berkuasa.”[16] Menurut Sahabat Ali bin Abu Thalib, “Allah menjadikan Arasy untuk menunjukkan kekuasaanNya, tidak menjadikannya sebagai tempat bagi dzat-Nya.”[17][]

Footnote

[1] Yang pertama adalah pembagian tauhid rububiyah dan uluhiyah. Lihat, “Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah”, dalam fatihsyuhud.net.

[2] Ibnu Taimiyah, Al-Tadammuriyah: Tahqiq Al-Itsbat Lil Asma was Shifat wa Haqiqat Al-Jam’I Bain Al-Qadr wa Al-Syar’i, hlm. 7. Teks asal: إثبات ما أثبته من الصفات من غير تكييف و لا تمثيل و من غير تحريف ولا تعطيل

[3] Ibnu Utsaimin, Syarah Tsalatsah Ushul, hlm. 88.

[4] ibid

[5] QS Al-Maidah 5:64. Teks asal: وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

[6] Ibnu Utsaimin, loc. cit.

[7] Ibnu Jarir, Tafsir Al-Thabari, hlm. 10/453. Teks asal pendapat Ibnu Abbas: ليس يعنون بذلك أن يد الله مُوثَقة ، ولكنهم يقولون : إنه بخيل أمسك ما عنده ، تعالى الله عما يقولون علوا كبيرا .

[8] Mujassimah atau musyabihah adalah aliran teologi atau akidah Islam yang menyatakan bahwa Allah itu berupa fisik atau aliran yang menyerupakan Allah dengan makhluk.

[9] Fakhruddin Al-Razi, Al-Tafsir Al-Kabir, hlm. 12/75.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasyaf, hlm. 3/52. Teks asal: بل يداه مبسوطتان أي : هو جواد ، من غير تصور يد ولا غل ولا بسط

[13] Pemaknaan istawa dengan “berkuasa” adalah berdasarkan terjemahan oleh Bahrun Abubakar, Lc. Lihat, Bahrun Abubakar, Terjemah Tafsir Jalalain, hlm. 3/1276. Pemaknaan ini lebih tepat menurut ulama Aswaja.

[14] Pemaknaan literal ini yang digunakan Terjemah Al-Quran terbitan Departemen Agama.

[15] Fakhruddin Al-Razi, op.cit, hlm. 22/5.

[16] Dr. Salim Alwan Al-Husaini, “Tafsiru Ayat 5 Surat Thaha”, www.darulfatwa.org.au.

[17] Riwayat Abu Manshur dalam Al-Tamimi dalam Al-Farq bain Al-Firaq, hlm. 333.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply