Pendidikan Akhlak Di Era Teknologi Informasi (2)

Pendidikan Akhlak Di Era Teknologi Informasi (2)
Pendidikan Akhlak Di Era Teknologi Informasi *
Bagian (2)
Oleh: A. Fatih Syuhud

Menyikapi Era Teknologi Informasi

Era teknologi informasi dengan berbagai manfaat dan mudaratnya adalah suatu realitas fenomena yang memiliki daya kekuatan sangat besar. Suatu realitas yang tidak bisa dilawan kecuali dengan cara mengasingkan diri ke dalam hutan dan beruzlah sendirian. Padahal sikap lari dari kenyataan tidaklah bijaksana. Karena tugas manusia hidup adalah memecahkan masalah, menyebarkan dakwah, bukan lari darinya. Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah Nabi bersabda: “Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas hinaan mereka itu lebih baik dibanding muslim yang tidak mau bergaul dan tidak bisa sabar pada hinaan mereka.”[1] Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:[2]


فمذهب الشافعي وأكثر العلماء أن الاختلاط أفضل بشرط رجاء السلامة من الفتن … وقد كانت الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم وجماهير الصحابة والتابعين والعلماء والزهاد مختلطين ، فيحصلون منافع الاختلاط كشهود الجمعة والجماعة والجنائز وعيادة المرضى

Imam Syafi’i dan mayoritas ulama berpendapat bahwa berbaur dengan manusia (tidak uzlah) itu lebih utama dengan syarat ada harapan selamat dari fitnah … Para Nabi dan mayoritas Sahabat, Tabi’in, ulama, orang zuhud semuanya berbaur dengan yang lain sehingga mereka mendapatkan manfaat bergaul seperti menghadiri shalat Jumat, shalat berjamaah, shalat jenazah, dan mengunjungi orang sakit.

Baca: Pendidikan Akhlak Di Era Teknologi Informasi (1)

Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah mencari strategi yang tepat dalam menghadapi era teknologi informasi agar ia membawa lebih banyak manfaat dan meminimalisir mudaratnya.  Karena, sifat asal dari teknologi adalah mubah. Cari manusia dalam menggunakannya yang dapat merubahnya menjadi halal atau haram.

Pembatasan dan Pengawasan Penggunaan Gadget

Sejak dulu, peran orang tua dalam pendidikan sangatlah krusial. Baik buruknya anak akan sangat tergantung pada pendidikan di rumah. Kaidah ini semakin relevan di era TI saat ini. Lalu, bagaimana sikap orang tua dalam soal ini? Sebenarnya akan sangat baik apabila anak di bawah usia 18 tahun tidak bersentuhan dengan gadget (ponsel, tab/iPad, laptop, game) kecuali untuk tujuan pendidikan dan memfokuskan diri pada disiplin belajar, membaca,  bermain, dan bersosial secara aktif. Namun, apabila itu tidak bisa dilakukan, maka orang tua harus melakukan pembatasan penggunaan gadget dan sekaligus pengawasannya sebagai berikut:

  1. Ada aturan yang ditetapkan di mana pemakaian gadget baru dibolehkan sebagai hadiah bagi perbuatan baik yang dilakukan hari ini. Misalnya, setelah belajar mengaji, menyelesaikan tugas sekolah, atau setelah membantu ibu.
  2. Waktu pemakaian dibatasi. Misalnya 30 menit atau maksimal 1 jam.
  3. Situs yang kunjungi atau game yang dimainkan hendaknya yang sesuai dengan usia anak. Kalau orang tua tidak bisa mengawasi anak secara terus menerus selama pemakaian gadget, maka dapat menggunakan perangkat lunak (software) seperti Parental Control yang fungsinya antara lain dapat membuat batasan mengenai apa saja yang diperbolehkan, berapa lama waktu yang dibolehkan untuk online, konten apa saja yang diblokir serta jenis kegiatan apa yang harus diblokir.
  4. Manfaatkan gadget untuk mendekatkan anak pada akhlak Islam dengan mewajibkan anak mengunjungi situs yang dapat menambah wawasan keislaman. Namun, pastikan situs yang dikunjungi dikelola oleh kalangan Ahlussunnah yang toleran, dan jauhkan mereka mengunjungi situs kelompok Islam radikal.
  5. Usahakan untuk sering berkomunikasi dengan anak dan ajak mereka bercerita. Termasuk menceritakan pengalaman selama mengunjungi situs.
  6. Selalu berusaha sebisa mungkin untuk shalat berjamaah bersama, berdoa bersama, dan bangun malam shalat tahajud secara teratur.
  7. Melakukan silaturahmi secara berkala ke rumah para ulama untuk meminta doa, dan nasihat. Karena, kebaikan dan keburukan sifatnya menular. Dan aura ulama diharapkan dapat menular pada kita.

Poin 1 sampai 5 adalah usaha yang penting dilakukan orang tua sebagai bentuk usaha zhahir untuk dapat membawa teknologi ke arah yang positif. Namun, dua poin terakhir (f dan g) tidak kalah pentingnya untuk dilakukan sebagai bentuk pengakuan mendalam kita atas kelemahan usaha manusia tanpa pertolongan Allah.

Peran Pesantren dan Lembaga Pendidikan Islam

Pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain seperti madrasah diniyah, madrasah formal Tsanawiyah dan Aliyah serta perguruan tinggi agama Islam adalah pemegang tongkat estafet pendidikan generasi muda selain orang tua. Semua lembaga pendidikan ini memiliki tanggung jawab besar untuk mensukseskan program pendidikan Islam termasuk pendidikan akhlak. Selama ini, tidak sedikit lembaga pendidikan Islam yang hanya mengajarkan ilmu semata tanpa disertai dengan pendidikan akhlak secara kompehensif. Padahal, kualitas akhlak dan moral generasi muda Islam saat ini sedang diguncang oleh cobaan arus informasi yang begitu deras baik yang berakibat buruk pada kerusakan moral atau kesesatan akidah.

Dalam konteks ini, maka teknologi informasi dapat digunakan oleh pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain untuk tujuan-tujuan edukas dan penyebaran dakwahi dengan cara sebagai berikut:

Memanfaatkan Situs Pribadi dan Youtube

Website pribadi yang biasa disebut blog atau situs resmi milik lembaga menjadi sumber utama dari pengguna internet untuk mencari informasi yang diinginkan di dunia maya. Mereka biasanya mencari informasi melalui mesin pencari Google, dan Google akan mengarahkan mereka ke situs-situs yang mengandung informasi yang dicari. Oleh karena itu, website yang informatif sangat penting dimiliki. Dengan demikian, maka:

  1. Setiap pesantren dapat membuat situs resmi lembaga yang selain berisi program pesantren juga menjelaskan ajaran dasar Islam meliputi akidah, syariah dan keilmuan lain. Termasuk di dalamnya memberikan informasi kelompok-kelompok dalam Islam dan salah benarnya dari sudut perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah. Juga, hasil bahtsul masail internal pesantren dapat dimuat di situs resmi. Situs dapat dibuat secara berbayar atau gratis seperti blogspot.com dan wordpress.com.
  2. Ulama baik kyai pesantren atau mubaligh hendaknya memiliki situs pribadi untuk menyebarkan dakwah Islam. Bahan tulisan yang berasal dari hasil pengajian kitab kuning dan dari isi ceramah. Penulisan di situs pribadi kyai bisa dilakukan secara langsung oleh ulama yang bersangkutan atau ditulis oleh santrinya. Kebiasaan baik ini biasa dilakukan oleh para ulama di Timur Tengah.
  3. Ustadz, guru dan santri dapat dikerahkan untuk menulis di blog atau situs pribadi masing-masing secara teratur setiap minggu atau 15 hari atau sebulan sekali. Kegiatan ini selain untuk mempertajam dan mengasah kemampuan menulis santri, juga bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar ala Aswaja.
  4. Menjadikan program menulis di dunia maya sebagai salah satu materi pelajaran sekolah atau pesantren.
  5. Bahan tulisan dapat berupa terjemah dari kitab kuning atau tulisan asli yang bertemakan Islam Aswaja.
  6. Media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, BBM, Instagram, dapat dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan tautan artikel yang ditulis di sebuah situs. Bukan sebagai tempat utama dalam memanfaatkan dunia maya. Karena, situs media sosial menjadi tempat orang mengobrol, bukan menulis. Bukan kegiatan ilmiah yang bersifat permanen. Yang isinya tidak dapat dicari di Google (unsearchable) dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  7. Akses internet santri harus dibatasi pada hal-hal yang bermanfaat dan waktu yang terbatas saja.
  8. com adalah situs berbagi video yang sangat populer di dunia maya (virtual). Situs milik Google ini menempati ranking #3 sebagai situs yang paling banyak dikunjungi di dunia, setelah Google.com dan Facebook.com. Oleh karena itu, Youtube dapat dimanfaatkan kalangan santri untuk berdakwah, menyebarkan kebaikan dan mengkonter ajaran sesat dan radikal. Kelebihan dari video dibanding tulisan di website adalah tampilannya yang hidup. Oleh karena itu, Youtube sangat bermanfaat apabila digunakan untuk menyebarkan ceramah, rekaman pengajian kitab kuning sehari-hari, bimbingan praktek ibadah, dan lainnya yang memerlukan contoh praktis.

Tipologi Akhlak

Sebagaimana disebut dalam pengantar tulisan ini, bahwa apapun kegiatan positif yang kita lakukan dalam aktivitas keseharian kita adalah bertujuan untuk menuntut ilmu untuk meningkatkan iman dan kualitas akhlak. Karena, akhlak adalah puncak dari tujuan sebagai upaya mendapatkan ridha Allah berdasarkan hadits yang sudah dikutip di atas [3]. Dengan demikian, akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur hendaknya menjadi standar sukses seorang muslim. Namun, berbicara tentang akhlak mulia tidaklah sesederhana mengucapkannya. Secara faktual, berdasarkan pengamatan penulis, akhlak terbagi menjadi tiga:

  1. Akhlak syariah. Yaitu perilaku manusia berdasarkan pada aturan yang ditetapkan syariah Islam meliputi hukum halal, wajib, haram, sunnah, makruh, mubah.
  2. Akhlak universal. Yaitu nilai-nilai baik dan buruk yang terkandung dalam syariah Islam dan diakui oleh ajaran agama dan budaya lain. Seperti baiknya perilaku kerja keras, dermawan, jujur, disiplin, pendidikan tinggi; dan buruknya perilaku malas, pelit, korupsi, dll. Akhlak universal sering kurang mendapat perhatian umat Islam karena sudah merasa cukup dengan hanya melaksanakan akhlak syariah dan akhlak lokal. Padahal dari pengamalan akhlak universal inilah suatu individu dapat berprestasi dan suatu bangsa dapat menjadi maju. Muhammad Abduh[4] setelah mengunjungi Eropa menyatakan kesannya: “Aku melihat Islam di Eropa, sedangkan di negara Arab aku melihat umat muslim tanpa Islam.”[5] Maksudnya adalah bahwa orang Eropa lebih mengamalkan ajaran Islam seperti disiplin dan kerja keras, sedangkan umat Islam kebanyakan melupakan hal itu.
  3. Akhlak lokal. Yaitu etika dan nilai baik buruk berdasarkan standar tradisi di suatu tempat tertentu. Misalnya, akhlak dan cara berperilaku santri pada kyai atau gurunya, anak pada orang tuanya, cara berpakaian, cara berperilaku pada sesama manusia, dll. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda: “Berakhlaklah pada sesama manusia dengan akhlak yang baik.”[6] Teknis detail akhlak yang baik tentu berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Menuju Akhlak Mulia

Umat Islam di Indonesia dan dunia saat ini sedang menghadapi dua tantangan berat yaitu (a) dampak negatif teknologi informasi; dan (b) paham Islam radikal. Dua tantangan ini harus dihadapi dengan serius, dicarikan solusinya dan berusaha mengimplementasikan solusi itu dengan komitmen dan disiplin yang tinggi.

Menuntut ilmu adalah suatu keharusan bagi setiap muslim karena ia merupakan proses yang harus dijalani yang akan menjadi jembatan menuju akhlak mulia. Namun, kepemilikan ilmu tidak menjamin seseorang mencapai derajat akhlak mulia mengingat sejumlah tantangan yang harus dihadapi sebagaimana diuraikan di atas.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan pendidikan Islam yang berkualitas adalah pendidikan yang komprehensif yakni pendidikan yang bukan hanya mengajarkan anak didik untuk pintar membaca kitab kuning, fasih berbahasa Arab, ahli fikih dan hafal Al-Quran. Akan tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana ilmu-ilmu yang dimiliki menjadi modal besar baginya untuk berakhlak mulia. Inilah tujuan akhir dalam mencari ilmu. Karena, iman yang sempurna hanya terletak pada muslim yang mengamalkan akhlak terbaik dalam aktifitas kesehariannya.[7]

Untuk mencapai tujuan ini, maka orang tua harus menjadikan rumah sebagai pendidikan keilmuan dan akhlak dasar bagi anak-anak mereka sebelum mengirim anak mereka ke tempat pendidikan berikutnya. Orang tua tidak boleh kalah dan menyerah pada anak. Orang tua harus juga mempelajari dan memahami  perkembangan teknologi agar dapat mengontrol dan mengawasi anak dengan baik. Sehingga rumah betul-betul menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak.[8]

Sedangkan pesantren dapat menjadi laboratorium terbaik pendidikan Islam yang kaffah bagi generasi muda Islam dengan syarat: (a) mempertahankan dan meningkatkan sistem pendidikan yang sudah berjalan baik; (b) selalu mengevaluasi program yang dijalankan; (c) terbuka untuk belajar mengadopsi metode baru yang sudah terbukti dapat memberikan hasil yang lebih efektif dan efisien; (d) mengikuti perkembangan teknologi modern dengan kritis dan mengadopsinya secara selektif apabila perlu.[]

Footnote

[1] HR Tirmidzi dan Ibnu Majah. Teks hadits: المؤمن الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم خير من الذي لا يخالط الناس ولا يصبر على أذاهم. رواه الترمذي وابن ماجه

[2] Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, hlm. 13/34.

[3] Pertama, Nabi bersabda: Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Hadits sahih riwayat Ibnu Saad dalam Tabaqat, hlm. 1/193, Malik dalam Al-Muwatta’, no. 2633 dari Abu Hurairah. Teks asal: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ حُسْنَ الأَخْلاَقِ. Kedua,  Hadits riwayat Tirmidzi dalam Al-Sunan, no. 1162; Ahmad dalam Al-Musnad, no. 7402. Hadits sahih.  Nabi bersabda:  أَكْمَلُ المُؤمِنِينَ إِيمَاناً أَحسَنُهُم خُلُقا (Mukmin paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya).

[4] Muhammad Abduh (1849 – 11 Juli 1905) adalah seorang pemikir Islam asal Mesir yang dianggap sebagai tokoh pembaruan Islam.

[5] Teks asal: رأيت في اوروبا اسلاما بلا مسلمين وفي بلاد العرب مسلمين بلا اسلام

[6] HR Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi, hadits sahih menurut Al-Hakim. Lihat, Ibnu Rajab dalam Jamiul Ulum wal Hukm, hlm. 1/395.  Teks asal: وَخَالِقِ النَاسَ بِخُلُقٍ حَسَن

[7] Sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi yang dikutip di atas: أَكْمَلُ المُؤمِنِينَ إِيمَاناً أَحسَنُهُم خُلُقاً

[8] Adib Syafir, seorang edukator asal Yordania, menyatakan: البيت هو المدرسة الاولى للتربية (Rumah adalah sekolah pertama bagi pendidikan anak).

*Disampaikan pada Seminar Sehari di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bira Timur, Sampang, Madura.

Comments

  • yang saya rasa adalah pendidikan akhlak adalah no satu yang harus diperhatikan, terlebih lagi sekarang beredar informasi ada permainan anak-anak yang dinamai Starter dan itu membahayakan untuk anak-anak.

    guru lesNovember 16, 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.