Jihad dalam Islam (1): Jihad Besar

Jihad besar dalam Islam
Jihad dalam Islam (1): Jihad Besar Jihad besar adalah tema sentral dalam Islam di mana syariah Islam memerintahkan setiap individu muslim untuk bekerja keras dalam memperbaiki kualitas akhlak, etika, kepribadian dan perilakunya agar memenuhi standar ideal seorang muslim. Ini tidak mudah karena itu harus dilakukan secara terus menerus setiap saat dan setiap hari sepanjang hidup. Dan karena itulah ia disebut jihad besar. Apabila ini dilakukan, maka umat Islam akan menjadi inspirator umat lain.
Oleh: A. Fatih Syuhud

Jihad adalah satu kosa kata khas Islam yang paling kontroversial, motivasional, provokatif dan banyak disalahpahami oleh sejumlah pihak baik muslim maupun non-muslim. Bagi kalangan muslim radikal, kata jihad dijadikan alat untuk menarik simpati dan merekrut anggota baru dengan. Menurut mereka, makna jihad tidak ambigu. Jihad bermakna perang, tidak ada makna lain. [1]  Bagi kelompok muslim liberal, kata jihad dalam arti perang hanyalah berlaku sementara.  Abdul Moqsith Ghazali, salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), menyatakan bahwa jihad kecil itu “bersifat temporal, spasial dan spesifik.”[2]

Sedangkan kalangan non-muslim anti-Islam menyambut hangat pemaknaan jihad yang sempit oleh kalangan radikal dan dijadikan alat untuk menyerang Islam. Kelompok anti-Islam di Barat seperti Robert Spencer,[3] Frank Gaffney,[4] Geert Wilders,[5] dan Donald Trump[6] untuk menyebut sebagian kecil di antaranya, memaknai kata jihad sesuai dengan makna yang disuarakan oleh kelompok Salafi sehingga tidak sedikit dari kalangan non-muslim di Barat yang menganggap Islam sebagai agama yang menakutkan dan menggeneralisir muslim sebagai teroris.[7]

Pengertian Jihad

Secara lughawi (etimologis), jihad adalah bentuk masdar (verbal noun) dari fi’il madhi jaa-ha-da[8] yang berarti “berusaha dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga“[9] atau “mengerahkan kekuatan dan kemampuan dengan sungguh-sungguh.”[10]

Jihad dalam Arti Luas dan Sempit

Secara syariah, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari membagi definisi jihad menjadi dua: jihad dalam arti sempit dan jihad dalam arti luas. Jihad dalam arti sempit adalah mengerahkan kesungguhan dalam memerangi orang kafir. Sedangkan dalam arti luas adalah memerangi diri sendiri, setan dan kaum fasiq.[11]

Ibnu Hajar kemudian menjelaskan bagaimana cara dan bentuk jihad memerangi diri, setan, orang kafir dan orang fasiq: “Adapun cara memerangi diri sendiri adalah dengan belajar ilmu agama, lalu mengamalkannya dan mengajarkannya. Sedang jihad melawan setan adalah dengan menolak perkara syubhat dan syahwat yang tampak menarik. Adapun jihad memerangi orang kafir maka itu bisa dilakukan dengan tangan, harta, lisan dan hati. Sedangkan jihad melawan orang fasiq adalah dengan tangan, lisan lalu dengan hati.”[12] Yang menarik dari pandangan Ibnu Hajar di atas adalah jihad terhadap orang kafir pun, yang umumnya identik dengan perang fisik, ternyata bisa dilakukan dengan lisan, harta dan hati.

Jihad dalam Arti Luas

Definisi Ibnu Hajar di atas, bahwa pengertian jihad secara syariah itu terbagi menjadi dua kategori, memiliki landasan dalil yang sangat kuat dari Al-Quran dan Sunnah.  Makna jihad dalam arti luas dapat dilihat dalam beberapa ayat Quran dan hadits berikut:

Pertama, jihad memerangi diri sendiri dan hawa nafsu. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut 29:69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”[13] Ayat ini turun sebelum ada perintah perang. Oleh karena itu, makna jihad dalam ayat ini adalah jihad dalam arti yang luas. Kalangan pakar tafsir klasik sepakat dalam soal ini. Al-Qurtubi dalam Tafsirnya menafsiri kata “jaahadu fina” menyatakan, “jihad melawan nafsu untuk taat pada Allah adalah jihad terbesar.”[14] Al-Hasan dikutip dalam Tafsir Al-Baghawi memaknai ayat ini dengan menyatakan bahwa “jihad paling utama adalah melawan hawa nafsu.”[15] Al-Andalusi dalam Al-Tafsir Al-Kabir menjelaskan: “Allah menggunakan kata ‘mujahadah’ dalam ayat ini dalam pengertian jihad yang luas meliputi jihad melawan nafsu, memerangi setan, dan musuh agama…Sahabat Ibnu Abbas berkata: Jihadlah melawan hawa nafsumu untuk taat pada Allah, mensyukuri nikmatNya dan sabar pada cobaanNya.[16]

Kedua, jihad melawan orang kafir dengan argumen Al-Quran. Dalam  QS Al-Furqon 25:52 Allah berfirman, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.”[17] Ibnu Asyur dalam Al-Tahrir wat Tanwir menjelaskan maksud ayat ini demikian:  “Setelah Allah mengingatkan Nabi dari sikap lemah dalam berdakwah, Allah lalu memerintahkannya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan dakwah dengan memakai istilah jihad. Jihad adalah nama yang bermakna mengerahkan usaha dengan segenap kemampuan. Sighat mufa’alah dalam kata jihad berfungsi menghadapi kesungguhan kaum kafir dengan kesungguhan Nabi. Maka Nabi hendaknya tidak lemah. Itulah sebabnya disebut dengan jihad besar yakni jihad di atas jihad. Maknanya: Lawanlah mereka dengan kesabaranmu. Jihad besar adalah: komitmen kuat atas jihad secara terus menerus dan sabar dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi.”[18]

Ketiga, haji ke Baitullah bagi yang mampu dianggap sebagai salah satu jihad dalam arti luas. Allah berfirman dalam QS Al-Hajj 22:78, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”[19] Bahwa ayat ini bermakna jihad haji diperkuat dengan hadits sahih riwayat Bukhari dari Aisyah yang bertanya pada Nabi, “Wahai Nabi, kami melihat jihad (perang) merupakan amal perbuatan paling utama. Tidakkah sebaiknya saya berjihad bersamamu?” Nabi menjawab, “Tidak, tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur.”[20]

Keempat, mengeritik atau menasihati penguasa zalim bagian dari jihad.  Ali Jumah, mufti Mesir periode 2003-2013 dalam salah satu fatwanya menyatakan bahwa termasuk jihad melawan penguasa yang zalim adalah terjun dalam aktivitas politik dengan tujuan menolong menegakkan keadilan dan kemanfaatan bagi manusia.[21] Berdasarkan pada hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Abu Said Nabi pernah ditanya, “Jihad apakah yang paling utama?” Nabi menjawab, “Jihad yang paling utama adalah ucapan yang benar pada penguasa yang korup.[22]” Dalam riwayat lain Nabi bersabda, “Jihad yang paling disukai Allah adalah ucapan yang jujur pada penguasa korup.”[23]

Kelima, melaksanakan kewajiban agama, menjauhi maksiat dan menegakkan shalat termasuk jihad. Berdasarkan hadis riwayat Tabrani dan Ibnu Syahin dari Ummu Anas Al-Anshariyah ia bertanya pada Nabi, “Wahai Rasulullah beri aku nasihat!” Nabi menjawab, “Hindari maksiat karena itu hijrah paling utama. Dan pelihara kewajiban agama karena ia jihad yang paling utama.” Dalam riwayat lain Nabi bersabda, “Tegakkan shalat karena itu jihad paling utama.”[24]

Keenam, niat yang baik dan hati yang bersih dari menyakiti dan menganiaya sesama manusia dan sesama makhluk adalah jihad. Nabi bersabda: “Jihad paling utama adalah orang yang tidak ada niat untuk menyakiti seorangpun.”[25]

Jihad Kecil: Memerangi Orang Kafir

Termasuk dalam jihad adalah memerangi orang kafir. Dan jihad dalam arti perang ini masuk dalam kategori jihad kecil dibanding jihad melawan hawa nafsu yang dianggap jihad besar. Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah ia menceritakan:[26]  “Sekelompok pasukan perang datang menemui Rasulullah. Nabi bersabda: Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Mereka bertanya: Apakah jihad besar itu? Nabi bersabda: Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.”[27]

Ayat  jihad dalam arti memerangi orang kafir umumnya memakai masdar qital dari akar kata fi’il madhi (past tense) qaa-ta-la (قَاتَلَ) yang bermakna memerangi.[28] Ayat-ayat qital terdapat dalam QS At-Taubah 9: 5, 12, 13, 14, 29, 36, 111, 123; Al-Baqarah 2:190, 191, 193, 216, 244, 246; Ali Imron 3:13, 157, 158, 167,195; An-Nisa 4:74, 75, 76, 77, 84, 89, 91; Al-Anfal 8:17, 39, 65. Jihad yang bermakna perang dengan penggunaan kata “jihad” juga dipakai dalam Al-Quran seperti dalam QS At-Taubah 9:20 dan lainnya.

Walaupun jihad perang disebut beberapa kali dalam Al-Quran dan hadits, namun implementasinya di lapangan tidaklah semudah yang dipikirkan sebagian kalangan radikal.  Perang melawan orang kafir wajib hukumnya apabila terpenuhi tiga syarat yaitu(a) dua pasukan muslim dan kafir sedang berhadap-hadapan; (b) apabila negara diserang tentara kafir; (c) apabila diminta oleh penguasa.[29] Jadi, jihad perang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang dalam segala situasi dan atas inisiatif pribadi atau kelompok tertentu.  Jihad perang adalah jalan terakhir untuk mencapai perdamaian.  Dan dalam perang juga berlaku aturan-aturan yang ketat seperti tidak menyakiti non-kombatan seperti anak, wanita dan orang tua dan lainnya. Apabila perdamaian bisa dicapai tanpa peperangan, maka itu adalah cara terbaik sebagaimana sikap Rasulullah dalam Piagam Madinah yang berdamai dengan Yahudi, Nasrani dan non-muslim pagan dalam rangka membentuk negara di Madinah Al-Munawwarah.[]

Footnore dan Referensi

[1] Kalangan radikal Islam modern dipelopori oleh gerakan Salafi. Seperti diketahui, gerakan Salafi terbagi dua yakni Salafi Jihadi (Al-Salafiyah Al-Jihadiyah) dan Salafi Pemikiran (Al-Salafiyah Al-Ilmiyah).  Ada sedikit perbedaan antara kedua jenis salafi ini. Salafi Jihadi menjadikan jihad perang sebagai dasar untuk revolusi atau membuat perubahan. Sedangkan Salafi Ilmiah atau Salafi Pemikiran mendasarkan perubahan pada penyebaran dakwahnya. Namun kedua faksi salafi ini memiliki kesamaan dalam memaknai arti jihad, syirik, dan bid’ah. Lihat, Abu Musab Al-Suri dalam Da’wat Al-Muqawamah Al-Islamiyah Al-Alamiyah; dan Ahmad Nazhif dalam Al-Salafiyah wa Akhawatuha Al-Ula: Al-Salafiyah Al-Ilmiyah wa Al-Harakiyah. Gerakan radikal Islam regional seperti Boko Haram di Afrika, Al-Qaidah dan ISIS di Timur Tengah dan Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara adalah produk langsung dari ideologi doktrin Salafi Jihadi.

[2] Lihat, Abdul Muqsith Ghozali dalam “Jihad dalam Islam”, islamlib.com. Pendapat ini dikutip dari pandangan Said Al-Asymawi.  Tidak dijelaskan dikutip dari buku apa. Namun tampaknya dari Al-Khilafah Al-Islamiyah  (Kekhalifahan Islam).

[3] Dengan situs jihadwatch.org Spencer menyerang Islam  secara intens yang dianggapnya sangat membahayakan keberlanjutan peradaban Barat.  Kalangan anti-Islam seperti Robert Spencer inilah yang menjadi pelopor dalam gerakan islamophobia di Barat (Amerika dan Eropa). Dalam situsnya, ia dengan jelas menyatakan tujuan terbentuknya situs tersebut untuk “Exposing the role that Islamic jihad theology and ideology play in the modern global conflicts” (mengekspos peran ideologi dan teologi jihad Islam dalam konflik global modern). Robert Spencer bukan orang sembarangan, selain menulis di situsnya, ia juga konsultan untuk lembaga resmi Amerika seperti agen rahasia AS CIA dan Homeland Security. Karena itu, pengaruhnya dalam peta politik dan keamanan AS tidak kecil.

[4] Frank Gaffney mendirikan lembaga anti-Islam bernama Center for Security Policy yang mengkhususkan diri untuk memberikan peringatan tentang bahaya laten Muslim yang akan memberlakukan hukum syariah di Amerika Serikat. Saat ini ia menjadi penasihat Ted Cruz, salah satu calon presiden dari partai Republik.

[5] Ketua partai PVV (Partij voor de Vrijheid ) dan anggota DPR Belanda ini dikenal dengan ucapannya, “I don’t hate Muslims, I hate Islam” Saya tidak benci muslim, saya benci Islam. Ia juga menyatakan, “Orang Islam yang masih ingin tinggal di Belanda hendaknya merobek separuh dari Quran karena mengandung hal yang buruk.” Lihat, The Daily Telegraph (UK). 24 March 2008.

[6] Donald Trump adalah figur anti-Islam paling populer di dunia. Karena selain pengusaha dan selebritis, ia juga kemungkinan besar akan menjadi calon presiden dari Partai Republik untuk pemilu presiden AS yang akan dilaksanakan pada 8 November 2016. Ia akan berkompetisi dengan Hillary Clinto dari Partai Demokrat. Ia dikenal dengan retorika anti-Islam saat kampanye antara lain: akan melarang muslim masuk Amerika (The Telegraph, 16 Desember 2015), Islam dan Muslim membenci Amerika (The Daily Mail, 16 Maret 2016), “sulit membedakan muslim radikal dan moderat” (CNN, 10 Maret 2016).

[7] Yang sekarang dikenal dengan istilah islamophobia atau rasa takut yang berlebihan pada Islam.

[8] Lihat, Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab, hlm. 3/224. Tashrifnya sbb: جَاهَدَ يُجَاهِدُ مُجَاهَدَةً وَجِهَادًا.

[9] Seperti dalam contoh جاهدَه الشَّخصُ : سعى وحاول بجِدّ ، بذل وسعه

[10] Ibnu Al-Atsir dalam An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, hlm. 1/319; Al-Fayumi dalam Al-Misbahul Munir, hlm. 1/112. Teks asal:  بذل واستفراغ ما في الوسع والطاقة من قول أو فعل

[11] Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 2/6. Teks asal: وشرعا بذل الجهد في قتال الكفار ، ويطلق أيضا على مجاهدة النفس والشيطان والفساق

[12] Ibid. Teks asal:  فأما مجاهدة النفس فعلى تعلم أمور الدين ثم على العمل بها ثم على تعليمها ، وأما مجاهدة الشيطان فعلى دفع ما يأتي به من الشبهات وما يزينه من الشهوات ، وأما مجاهدة الكفار فتقع باليد والمال واللسان والقلب ، وأما مجاهدة الفساق فباليد ثم اللسان ثم القلب

[13] QS Al-Ankabut 29:69. Teks asal: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

[14] Muhammad bin Ahmad bin Al-Anshari Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi, hlm. 13/337. Teks asal:  مجاهدة النفوس في طاعة الله هو الجهاد الأكبر

[15] Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi, hlm. 6/256. Teks asal: أفضل الجهاد مخالفة الهوى

[16] Atsiruddin Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Al-Andalusi dalam Al-Tafsir Al-Kabir (Al-Bahr Al-Muhith), hlm. 7/157. Teks asal: أطلق المجاهدة، ولم يقيدها بمتعلق، ليتناول المجاهدة في النفس الأمارة بالسوء والشيطان وأعداء الدين.. قال ابن عباس : جاهدوا أهواءهم في طاعة الله وشكر آلائه والصبر على بلائه

[17] QS Al-Furqon 25:52. Teks asal: فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

[18] Muhammad Al-Tohir bin Asyur dalam Al-Tahrir wat Tanwir, hlm. 1/2978. Teks asal:  وبعد أن حذره من الوَهَن في الدعوة أمره بالحرص والمبالغة فيها، وعبر عن ذلك بالجهاد، وهو الاسم الجامع لمنتهى الطاقة، وصيغة المفاعلة فيه ليفيد مقابلة مجهودهم بمجهوده، فلا يهن ولا يضعف؛ ولذلك وصف بالجهاد الكبير، أي الجامع لكل مجاهدة.. والمعنى: قاومهم بصبرك، وكِبَرُ الجهادِ: تكريرُه والعزم فيه وشدّة ما يلقاه في ذلك من المشقة

[19] QS Al-Hajj 22:78. Teks asal: وَجَاهِدُوا فِي اللَّـهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ  مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَـٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ  فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّـهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

[20] Hadits sahih riwayat Bukhari. Teks asal: عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلنا: يا رسول الله، نرى الجهاد أفضل العمل، أفلا نجاهد معك؟ قال: «لا، لَكِنَّ أَفضَلَ الجِهادِ حَجٌّ مَبرُورٌ

[21] Dr. Ali Jumah dalam Fatwa no. 3751, tanggal 14 Juni 2007, dar-alifta.org. Teks asal: وفي معنى ذلك المشاركة في الحياة السياسية بغرض التعاون لتقويم النظام العام وإرساء أسس العدالة، والإدلاء بما يراه صاحبه مصلحة ونفعًا للناس

[22] Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Abu Said. Teks asal: أي الجهاد أفضل؟ قال: «أَفضَلُ الجِهادِ كَلِمةُ حَقٍّ عندَ سُلطانٍ جائِرٍ

[23] Teks asal:  أحبُّ الجهادِ إلى الله كلمةُ حقٍّ تُقالُ لإمامٍ جائر

[24] Hadis riwayat Tabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Ibnu Syahin dari Ummu Anas Al-Anshariyah. Teks asal:

عن أُمِّ أَنَسٍ الأنصارية رضي الله عنها أَنَّها قالَت: يا رَسُولَ اللهِ، أَوصِنِي، قالَ: اهجُرِي المَعاصِيَ؛ فإنَّها أَفضَلُ الهِجرةِ، وحافِظِي على الفَرائِضِ؛ فإنَّها أَفضَلُ الجِهادِ وفي رواية: أَقِيمِي الصَّلاةَ؛ فإنَّها أَفضَلُ الجِهادِ

[25] Hadis riwayat Al-Dailami dalam Al-Firdaus dari Ali bin Thalib.  Teks asal: أفضلُ الجهادِ مَن أَصبَحَ لا يَهُمُّ بظُلمِ أَحَدٍ

[26] Hadis ini menurut kalangan ahli hadis (Al-Huffazh) mengandung unsur kedhaifan dari segi sanad (perawi hadis). Namun Al-Khofaji dalam Hasyiyah Tafsir Al-Baidawi menyatakan: kedhaifannya dimaafkan karena dari segi makna hadis ini sahih dan sesuai dengan syariah. Karena, jihad melawan hawa nafsu jauh lebih sulit dari jihad melawan musuh. Bahkan, manusia tidak akan bisa mengorbankan diri dan hartanya dalam berjihad melawan musuh kecuali setelah ia berhasil memerangi dirinya dan hawa nafsunya.

[27] Hadis riwayat Baihaqi dalam Al-Zuhd Al-Kabir dan Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad dari Jabir bin Abdillah. Teks asal: قَدِم على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قومٌ غُزاة، فقال صلى الله عليه وآله وسلم: قَدِمتم خَيرَ مَقدَم من الجهاد الأصغر ، قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: «مُجاهَدَةُ العبدِ هواه إلى الجهاد الأكبر

[28] Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith dan kitab lughoh yang lain dijelaskan makna qaa-tala sbb: قَاتَلَ عَدُوَّهُ : حَارَبَهُ وَعَادَاهُ

[29] Dr. Said bin Ali bin Wahaf Al-Qahtani dalam Al-Jihad fi Sabilillah Ta’ala: Mafhumuhu wa Hukmuhu, hlm. 1/7.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.