Daftar Artikel Opini A. Fatih Syuhud

Judul: Islam dan Politik
Penulis: A. Fatih Syuhud
Penerbit: Pustaka AlKhoirot

BAB I

BAB II

DAFTAR ARSIP ARTIKEL OPINI

List artikel opini A. Fatih Syuhud yang pernah dimuat di sejumlah media cetak nasional dan daerah yang ditulis pada periode antara tahun 2003 sampai 2006 selama penulis studi Ilmu Politik dan Islamic Studies di India. Sejak tahun 2007, yakni setelah kembali ke Tanah Air, sampai sekarang ia lebih banyak memfokuskan diri untuk menulis buku. Sudah 9 (sembilan) buah buku yang terbit termasuk yang terbaru berjudul Keluarga Sakinah: Cara Membina Rumah Tangga Harmonis, Bahagia dan Berkualitas (2013).

KOMPAS

JAWA POS

MEDIA INDONESIA

REPUBLIKA

PIKIRAN RAKYAT

DUTA MASYARAKAT

HARIAN PELITA

MEDIA LAIN


Akankah Irak Menjadi Vietnam Kedua?*
Oleh A Fatih Syuhud

BERITA tentang helikopter Chinook yang ditembak jatuh oleh rudal, menewaskan 16 personel tentara AS (termasuk dua wanita), merupakan kabar buruk bagi AS. Kemudian, Black Hawk ditembak jatuh dekat Tikrit, pada Jumat, menewaskan enam pasukan AS. Berita itu cukup mengkhawatirkan Washington.

Pentagon segera mengerahkan artileri dan serangan udara di Tikrit, di mana kedua helikopter itu diserang. Ini merupakan, salah satu alasannya, kemarahan institusional; Chinooks ditembak jatuh di siang hari bolong, dan saat ini terdapat 25 sampai 30 serangan pada pasukan Amerika Serikat (AS) setiap harinya. Pada bulan Oktober, sebanyak 33 tentara Amerika terbunuh di Irak, lebih dua kali lipat korban pada bulan September; dan bulan November sudah dimulai dengan sangat tidak menyenangkan. Dalam masa tujuh hari bulan November, 35 personel pasukan AS tewas dalam perang gerilya yang efektif dan meluas. Korban kematian AS sudah mendekati angka 400. Artileri dan jet tempur F-16 kembali beroperasi, untuk pertama kalinya sejak George W Bush mengumumkan “Mission Accomplished” pada 1 Mei. Siapa saja yang membaca sejarah mulai melihat kemiripan dengan dua kisah masa lalu.

Pertama dari Vietnam, di mana Pentagon, dengan konsisten dan terkadang brutal, membalas dendam pada warga sipil atas hukuman yang menimpa pasukan militer AS. Di Irak, AS tidak menghadapi tentara kasatmata, dan karena itu menyimpulkan bahwa seluruh Kota Tikrit menjadi target mereka. Apabila tujuan mereka adalah “shock and awe”, AS sama sekali tidak belajar di Irak. Pentagon mengubah warga sipil menjadi musuh mereka.

Sebuah think tank Amerika, Project on Defence Alternatives, telah melakukan survei ekstensif guna memberikan estimasi jumlah rakyat Irak yang terbunuh sejak dimulainya perang Irak dan jatuhnya Baghdad, hasilnya: antara 10.800 dan 15.100 tentara, dan antara 3.200 dan 4.300 warga sipil. Hitungan jumlah korban tahap kedua sekarang sudah dimulai.

Kedua, dari Eropa. Pendudukan Eropa yang pertama atas Irak terjadi pada Perang Dunia I ketika Inggris mengalahkan Turki dan mencapai Baghdad via Basrah. Warga Arab lokal saat itu percaya bahwa mereka sedang dibebaskan dari Turki.

Ketika Inggris menolak pemerintahan independen Arab, seluruh Irak pun bangkit menentang imperialisme Inggris. Senjata dan organisasi kalangan perlawanan waktu itu sama sekali tidak canggih, tetapi Inggris harus mengerahkan Royal Air Force (RAF) dan gas kimiawi sebelum mereka berhasil “menstabilkan” kawasan dan kemudian menyerahkan kekuasaan pada seorang keturunan keluarga Bani Hasyim, Faisal.

Karena itu, hendaknya kita tidak kaget apabila muncul sejumlah kemiripan di kemudian hari. Sudah ada beberapa bisik-bisik yang hendak menjadikan keturunan Bani Hasyim, Pangeran Hasan, yang tidak berhasil menggantikan saudaranya, Raja Hussein di Jordan, menjadi raja Irak yang dapat “diandalkan”. Kita lihat nanti.SAAT ini kita melihat apa yang tidak pernah terpikirkan menjadi realitas yang berkembang di Irak. Salah satu alasan mengapa hal ini tidak terprediksi adalah karena kalangan neokonservatif yang membentuk kebijakan soal Irak buat Bush hampir sama sekali tidak menyembunyikan penghinaannya pada orang Arab, baik rakyat maupun pemerintahnya. Komparasi dengan Vietnam saya kira kurang tepat, tetapi sedikitnya ada kesamaan dalam satu hal: AS tidak memahami lawan-lawannya di Vietnam, dan ia juga tidak tahu siapa atau apa yang mereka lawan di Irak. AS berpikir ia sedang memerangi pasukan “Merah” di Vietnam. Tidak ada satu pun di Washington yang diberi tahu bahwa Cina justru negara yang paling tidak disukai Vietnam. Baik di Vietnam maupun di Irak, “isme” terpenting adalah nasionalisme: Komunisme dan Islam melebur dalam nasionalisme.

Perang AS saat ini adalah melawan sebuah musuh yang singkatnya disebut Al Qaeda. Semua hal dikaitkan dengan Al Qaeda. CNN dan BBC (8/11/03) menyiarkan peringatan dari AS bahwa Al Qaeda kemungkinan “sedang berencana” untuk membajak pesawat kargo. Kedutaan AS di Arab Saudi ditutup karena Al Qaeda. Sejumlah kebebasan di land of freedom dibatasi. Bahkan, Kongres AS sekalipun tidak mendapat informasi memadai karena ketakutan pada Al Qaeda. Budaya berahasia telah berubah menjadi paranoia.

Di sisi lain, apa Al Qaeda itu? Sungguh sulit dipercaya bahwa sebuah organisasi yang dipimpin seseorang yang bersembunyi di pegunungan di Afganistan atau Pakistan, dapat menjadi jaringan internasional yang begitu solid yang dapat mengancam AS, baik antarbenua maupun di jantung AS sendiri. Bagaimana Osama bin Laden berkomunikasi dengan begitu banyak tentara bayangannya yang tersebar, apabila sedikit saja kontak dengan alat teknis dapat dideteksi teknologi AS? Bagaimana Osama dapat mengotaki pembajakan pesawat kargo di AS sekarang?

Al Qaeda tidak lagi mewakili sebuah fakta, tetapi memang ia mewakili sebuah ide. Ia telah menjadi simbol bagi suatu realitas yang mengkhawatirkan AS jauh lebih besar dibanding apa yang pernah diperbuat Osama. Sebagaimana invasi Rusia di Afganistan telah menyinergikan kelompok , atau individu Muslim yang tidak saling terkait, untuk memilih Afganistan sebagai medan tempur mereka, pendudukan AS di Irak telah meyakinkan sejumlah besar Muslim bahwa ancaman atas kemerdekaan negara Islam saat ini datang dari AS. Tidak ada mastermind. Yang ada master-objective.

Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan tahun ini adalah bahwa George W Bush merasa kaget ketika pada kunjungan luar negerinya baru-baru ini menyadari bahwa umat Islam tidak menyukainya. Tampaknya Bush disanitasi dari informasi. Ia pasti tidak membaca atau melihat media apa pun. Berbagai berita pasti disuguhkan padanya dalam bentuk kliping.

Menurut Gedung Putih, “rekonstruksi” mulai berjalan baik di Irak, dan ini berarti baik juga buat AS. Pertanyaannya sekarang, mengapa diperlukan konstruksi? Jawabnya jelas, karena adanya destruksi yang diakibatkan oleh perang AS. Diberitakan bahwa sebanyak 87 miliar dollar AS telah dialokasikan untuk Irak. Berapa banyak dari jumlah ini yang akan sampai ke Irak setelah untuk membayar angkatan bersenjata AS? Dan, berapa banyak uang yang dialokasikan untuk kerja sipil akan tersangkut di korporasi AS?

Satu komentar relevan yang dibuat Bush adalah konsekuensi nyata dari perang Irak hanya akan diketahui setelah 50 tahun. Apa yang dikatakannya tidak salah. Sayangnya, konsekuensi itu mungkin akan kurang menyenangkan pada kalangan Gedung Putih saat itu. Bush hendaknya merasa cukup beruntung bahwa saat ini tidak ada demokrasi di 22 negara Arab. Seandainya saja negara Arab memiliki pemerintahan demokratis yang mewakili aspirasi rakyat, akan terdapat 22 negara Arab yang sangat antipati pada Gedung Putih-nya Bush.***

Kompas, Sabtu, 15 November 2003

architecture design

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply