Rumah Tangga Agamis (6): Suka Beramal

Rumah Tangga Agamis (6): Suka Beramal
Oleh A. Fatih Syuhud

Yang dimaksud dengan beramal adalah mengeluarkan harta di luar zakat. Baik itu berupa sedekah atau hibah. Hikmah beramal dengan harta adalah untuk menunjukkan kepedulian pada sesama yang secara ekonomi kurang mampu dan membutuhkan uluran tangan kalangan berada. Adanya perilaku ini, yakni kepedulian yang kaya pada yang miskin, akan menciptakan suatu harmoni dalam msyarakat dan menghilangkan rasa iri, dengki dan saling menjatuhkan. Pada akhirnya akan terjadi suasana kondusif di mana setiap individu dalam masyarakat akan saling memiliki kepedulian menjalin kekuatan dan soliditas umat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Karena pentingnya beramal, maka Allah dan Rasulnya sangat mendorong dan memuji mereka yang dengan ikhlas melakukannya. Misalnya, dalam QS At-Taghabun 64:16 Allah menyebut orang yang berinfak sebagai orang yang beruntung; sebagai orang yang benar (shadiqun) QS Al-Hujurat 49:15. akan menjadi orang yang bahagia (QS Al-Baqarah 2:262).

Dalam kitab Sahih At-Targhib dinyatakan bahwa sedekah memiliki banyak manfaat bagi pelakunya antara lain, pertama, sedekah dapat memadamkan murka Allah seperti disebut dalam hadits Nabi: “Sedekah secara siri dapat memadamkan murka Allah.”

Kedua, sedekah menghapus kesalahan. Seperti disebut dalam hadits, “Sedekah dapat menghapus kesalahan sebagaimana air mematikan api.”

Ketiga, sedekah dapat menyelamatkan diri dari api neraka. Nabi bersabda, “Takutlah pada api neraka, walaupun hanya dengan sedekah sebiji kurma.”

Keempat, sedekah akan menjadi tempat berlindung yang akan menolongnya pada hari kiamat. Nabi bersabda, “Ada tujuh orang yang akan mendapat perlindungan pada hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang bersedekah dan merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya.”

Kelima, dapat mengobati penyakit fisik. Nabi bersabda: “Obatilah orang yang sakit dengan sedekah.”

Keenam, obat penyakit hati. Sedekah dapat mengobati keras hati yang sulit menerima nasihat dan kebenaran. Nabi bersabda pada seseorang yang mengeluh kekerasan hatinya demikian, “Apabila kamu hendak melunakkan hatimua berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”

Ketujuh, penolak bala. Sedekah dapat menolak berbagai macam musibah sebagaimana wasiat dari Nabi Yahya pada Bani Israil.

Adapun sedekah yang paling utama dilakukan adalah dalam beberapa kondisi sebagai berikut: (a) Dilakukan secara rahasia; (b) sedekah dalam keadaan masih hidup dan sehat lebih utama daripada berwasiat sedekah setelah meninggal; (c) sedekah dilakukan setelah melakukan hal yang wajib (QS Al-Baqarah 2:219); (d) sedekah pada anak. Memberi nafkah pada keluarga dengan diniati sedekah akan mendapat pahala; (e) sedekah pada kerabat atau keluarga dekat; (f) sedekah pada tetangga dekat seperti tersebut dalam QS An-Nisa 4:36.

Yang tak kalah penting lagi adalah sadaqah jariyah yaitu infaq yang tetap ada dan terus berlanjut sampai ia meninggal dunia. Sebagaimana sabda Nabi yang terkenal: “Apabila seseorang meninggal, maka putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakannya.” Dari hadits ini pula maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa beramal jariyah tidak harus dilakukan dengan menafkahkan harta saja, tapi juga dengan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada sebanyak mungkin orang. Artinya, bagi yang secara ekonomi tidak mampu, ada jalan lain yang sama derajatnya dengan sedekah yaitu infaq dengan ilmu.

Kebiasaan suka beramal bermula dari niat yang harus ditanamkan pada seluruh keluarga untuk selalu peduli pada sesama. Niat itu kemudian dilanjutkan dengan penerapan pola hidup sederhana dan tidak konsumtif karena akan sulit beramal bagi orang yang bergaya hidup mewah dan berlebihan.[]

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.