Sofiyah binti Huyay dan Zainab binti Jahsh

Sofiyah binti Huyay adalah istri ke-11 Nabi Muhammad sedangkan Zainab binti Jahsy adalah istri ke-7. Zainab binti Jahsh adalah sepupu Rasulullah ini menunjukkan bahwa menikahi sepupu itu boleh karena memang misanan itu bukan muhrim (Arab, mahram).

Daftar Isi

  1. Sofiyah binti Huyay
  2. Zainab binti Jahsh: Istri dan Sepupu Nabi


Sofiyah binti Huyay
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Al-Khoirot

Sofiyah binti Huyay adalah satu-satunya istri Nabi yang berasal dari etnis Yahudi. Ayahnya yang bernama Huyay bin Akhtab berasal dari suku Bani Nadhir salah satu suku Yahudi yang ada di Madinah. Sedangkan ibunya yang bernama Barrah binti Samuel berasal dari suku Bani Quraidhah juga dari etnis Yahudi Madinah.

Sebelum dengan Nabi, Sofiyah menikah pertama kali dengan Sullam bin Mishkam atau Salamah bin Maksyuh. Perkawinan pertama ini berakhir dengan perceraian. Sofiyah kemudian menikah lagi dengan Kinanah bin Abul Haqiq. Perkawinan kedua ini pun kandas di tengah jalan karena Kinanah tewas dalam perang Khaibar. Sofiyah saat itu termasuk dari tawanan perang Khaibar.        Rasulullah lalu mengambil Sofiyah sebagai tawanan perangnya dan menawarkan pilihan pada Sofiyah apakah akan masuk Islam atau tetap pada agama Yahudi. Nabi bersabda: “Pilihlah wahai Sofiyah, kalau engkau memilih Islam, maka aku akan menikahimu. Apabila tetap memilih Yahudi, maka aku akan tetap membebaskanmu sehingga engkau dapat kembali ke kaummu.”

Sofiyah menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sudah lama menyukai Islam dan percaya padamu sebelum engkau mengajakku. Di samping itu, aku tidak lagi punya ketertarikan pada agama Yahudi, aku juga tidak punya ayah dan saudara dan engkau memberiku pilihan antara kafir dan Islam, maka Allah dan Rasul-Nya lebih aku senangi daripada kemerdekaan dan kembali ke kaumku.” Mendengar respons Sofiyah, Nabi lalu memerdekakannya dan menjadikan pemerdekaan ini sebagai mahar perkawinan. Dalam proses pernikahan ini, Ummu Sulaim berperan sebagai pihak yang mendandani calon pengantin wanita. Resepsi nikah (walimah al-urs) juga diadakan secara sederhana dengan roti dan kurma.[1] Peristiwa ini terjadi pada tahun 7 hijriyah atau 629 masehi dan bertempat di Khaibar yaitu suatu tempat yang berjarak 150 kilometer dari Madinah.

Menurut ahli sejarah Islam, tujuan Rasulullah menikahinya adalah untuk memuliakan dan mengangkat statusnya serta untuk menghibur hatinya yang telah kehilangan keluarga dan kaumnya saat peperangan Khaibar. Dan yang tak kalah penting adalah untuk mewujudkan ikatan persaudaraan melalui tali pernikahan antara Nabi dengan kaum Yahudi dengan harapan agar mereka dapat mengurangi sikap permusuhannya pada umat Islam dan lebih menerima dakwah Islam.[2]

Hikmah lain dari pernikahan ini adalah bahwa Islam adalah agama universal )QS Al-Anbiya :107). Bukan hanya agama orang Arab semata. Islam tidak memuliakan status suatu kaum di atas kaum yang lain kecuali karena takwanya (QS Al-Hujurat :13). Oleh karena itu, Rasulullah marah ketika sebagian istri Nabi yang lain menyinggung status etnis Sofiyah yang bukan Arab. Nabi bersabda pada Sofiyah: “Apabila mereka (istri-istri Nabi) mendiskriminasi engkau lagi, katakan pada mereka bahwa suamimu adalah Muhammad, ayahmu adalah Nabi Harun dan pamanmu adalah Nabi Musa. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk bersikap seperti itu padamu.”[3]

Sofiyah wafat pada tahun 50 atau 52 hijriah bertepatan dengan tahun 670 atau 672 masehi pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan dan dimakamkan di Baqi, Madinah.[]

[1] Ibnu Saad, Al-Tabaqat Al-Kubro, 7/123
[2] Ibid., 7/127.
[3] Ibnu Saad, Al-Tabaqat Al-Kubra, 7/127

_________________________


Zainab binti Jahsh: Istri dan Sepupu Nabi
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Putri Al-Khoirot Malang

Zainab binti Jahsh adalah salah satu dari istri Nabi yang memilik hubungan kerabat sangat dekat dengan Rasulullah. Ayah Zainab adalah Jahsy bin Riab, seorang imigran dari suku Asad bin Khuzaymah yang tinggal di Mekkah di bawah perlindungan klan Umayah. Ibunya adalah Umamah binti Abdul Muttalib, anggota klan Hasyim dari suku Quraish dan saudara dari Abdullah bin Abdulmuttalib, ayah Nabi. Oleh karena itu, Zainab dan kelima saudara kandungnya adalah sepupu Nabi Muhammad.

Zainab lahir pada tahun ke-33 sebelum Hijrah atau 590 Masehi dengan nama asli Barrah. Nabi kemudian merubah namanya menjadi Zainab.

Suami pertama Zainab meninggal pada tahun 622 masehi saat Zainab berusia 32 tahun. Ahli sejarah Islam Ibnu Jarir At-Tabari dalam Tarikhur Rasul wal Muluk tidak menyebut siapa nama suami pertama Zainab yang meninggal ini. Yang pasti adalah bahwa saat peristiwa itu terjadi ia sudah masuk Islam dan sudah hijrah ke Madinah bersama saudaranya yang bernama Abdullah.

Pada tahun 625, yakni tiga tahun setelah menjanda, Zainab dilamar Rasulullah untuk dinikahkan dengan putra angkat Nabi yang bernama Zaid bin Haritsah. Saat itu Zainab menolak karena secara nasab ia merasa lebih mulia dari Zaid yang bekas budak. At-Tabari mengutip ucapan Zainab alasan penolakan tersebut karena, “Aku seorang janda dari suku Quraish.” Maksud ucapan Zainab ini adalah bahwa dia terlalu tinggi status sosialnya untuk menikah dengan lelaki bekas budak. Menurut Ibnu Katsir, perbedaan status sosial inilah yang justru menjadi alasan Nabi untuk menikahkan keduanya guna menyampaikan pesan yang kuat, tegas dan jelas bahwa dalam Islam derajat seseorang ditentukan oleh kualitas iman dan takwanya, bukan oleh kualitas nasab dan status sosialnya (QS Al-Hujurat :13 ).

Penolakan Zainab itu mendapat peringatan dari Allah sehingga menjadi penyebab turunnya wahyu dalam QS Al-Ahzab 33:36 yang isinya mengecam mereka yang tidak mau taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Setelah turunnya ayat tersebut, maka Zainab bersedia menikah dengan Zaid bin Haritsah. Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Terjadi ketidakharmonisan antara keduanya sehingga Zaid meminta izin Nabi untuk menceraikannya. Pada Desember 626 masehi, Zaid resmi menceraikan Zainab. Rumah tangga ini hanya bertahan kurang dari dua tahun. Konflik rumah tangga ini disebut dalam QS Al-Ahzab 33:37.

Setelah perceraian dengan Zaid dan selesai masa iddahnya, Zainab kemudian dinikah oleh Nabi pada tahun 27 Maret 627 Masehi. Pernikahan Rasulullah dengan Zainab bin Jahsy ini mengandung beberapa hikmah antara lain:

Pertama, bahwa saudara sepupu lawan jenis bukanlah mahram (QS An Nisa’ 4:23 ). Oleh karena itu, sepupu boleh dinikah dan haram melakukan khalwat (berduaan) di ruang tertutup.

Kedua, bahwa mengadopsi anak tidak dilarang. Akan tetapi, tidak ada hubungan kekerabatan apapun, tidak saling mewarisi, dan haram khalwat terhadap anak angkat yang lawan jenis dan bukan mahram. Oleh karena itu, Nabi memberi contoh dengan menikahi mantan istri anak angkatnya Zaid bin Haritsah.

Ketiga, demi ketaatannya pada Allah dan Rasul-Nya, Zainab rela menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Artinya ketaatan pada syariah Islam adalah segala-galanya melebihi apapun termasuk cinta. Muslimah jangan pernah menikahi pria non-muslim betapapun besarnya cintanya kecuali kalau dia rela menjadi mualaf, karena hal itu jelas dilarang oleh Islam.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.