Wanita Muslimah Percaya Diri dan Trendy

Wanita muslimah yang taat semestinya adalah perempuan yang percaya diri karena dia tidak punya masa lalu kelam yang perlu disembunyikan.  Dan hanya wanita percaya diri yang bisa menjadi trend setter. Masa lalunya bersih karena dia setia pada syariah Islam dan otomatis setia pada suami karena tidak pernah selingkuh walaupun ia mungkin termasuk wanita karir.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-khoirot Putri Malang

Daftar Isi

  1. Percaya Diri Wanita Muslimah
  2. Perempuan Trendy
  3. Karir dan Perselingkuhan


Self-Esteem Wanita Muslimah

Minder, semua orang tahu maknanya, adalah sikap yang manusiawi. Semua orang memiliki sikap dan perasaan ini dengan level yang berbeda. Minder adalah manusiawi, akan tetapi menjadi tidak manusiawi lagi ketika kita tidak berusaha untuk menghilangkan sikap dan perasaan minder ini tahap demi tahap.

Sikap dan rasa minder timbul pada hal dan bidang tertentu yang kita merasa tidak mampu atau merasa lemah dari ukuran standar umum atau ideal.

Ada dua macam bentuk minder: fisik dan non-fisik. Minder fisik berkaitan dengan kekurangan yang bersifat fisik. Sedang minder non-fisik berkaitan dengan sikap mental dan pola pikir kita dalam menilai diri sendiri, dalam menilai kemampuan diri. Pada sosok pribadi yang memiliki sifat minder non-fisik yang ekstrim, biasanya dia akan merasa tidak memiliki kemampuan sama sekali, merasa orang lain jauh lebih mampu darinya. Tipe semacam ini tidak akan bisa bersikap independen. Ia juga akan sangat bergantung pada orang lain di sekitarnya. Ketergantungan pada orang lain itu akan semakin mengecil bersamaan dengan semakin kecilnya keminderan kita serta meningkatnya kepercayaan pada kemampuan diri sendiri.

Minder adalah tipikal orang yang bermental lemah. Mental yang lemah akan merasa selalu tidak aman. Selalu gelisah dan kuatir. Karena kerja otak sudah dipenuhi dengan rasa kuatir, takut dan gelisah tanpa sebab atau disebabkan oleh hal-hal kecil, maka kerja otakpun menjadi lemah dan tidak dapat berfungsi untuk memikirkan hal-hal besar yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, minder harus sebisa mungkin dihindari dan dicari jalan keluarnya dalam rangka mengubah pribadi kita menuju kepribadian yang self-esteem (baca: self estim). Suatu tipe kepribadian yang dimiliki Rasulullah dan para pemimpin besar lainnya (QS Yunus 10:62).

Self Esteem

Dapatkah seorang muslimah yang berkepribadian minder (inferiority complex) yang parah dapat menjadi profil yang penuh self esteem? Tentu bisa.

Pertama, seseorang tidak dapat disebut sebagai muslim dan muslimah yang baik kalau tidak memiliki kepercayaan diri tinggi. Sebab Islam memerintahkan kita untuk hanya bergantung kepada Allah, tidak kepada sesama makhluk (QS Annisa’ 4:36). Perintah ini kalau kita amalkan dengan sepenuh hati membuat seorang muslimah tidak akan lagi memiliki rasa takut dan rasa kecil hati kepada sesama manusia.

Kedua, Islam juga memerintahkan kita untuk selalu bekerja keras (QS Al Anfal 8:60; Al Jum’ah 62:10; Al Haj 22:78) dalam mereformasi diri dan berevolusi ke arah yang lebih baik di berbagai bidang kehidupan (QS Ar Ra’d 13:11).

Namun demikian, Islam juga mengakui perlunya proses dan tahapan-tahapan dalam mencapai suatu tujuan. Dalam realitas, tidak ada hasil tanpa melalui perjuangan dan proses panjang yang berliku (Al Balad 90:10-13). Termasuk di antara proses itu adalah dengan banyak membaca terutama profil tokoh-tokoh besar khususnya sejarah Nabi (QS Al Ahzab 33:21); dan “mengaji” realitas keseharian orang-orang di sekeliling kita untuk dipetik hikmahnya (QS Ali Imron 3:137).

Suatu tujuan baik akan tercapai mungkin dalam waktu singkat, mungkin lama, tapi selagi kita terus mencoba dan berusaha Allah akan memberi jalan menuju sukses yang diridhai (Al Ankabut 29:65).[]


Wanita Trendy
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Alkhoirot Puteri Karangsuko Malang

Secara definisi istilah “wanita trendy” umumnya diartikan sebagai wanita atau perempuan yang selalu mengikuti tren terbaru. Baik itu mode baju, gaya rambut maupun kebiasaan-kebiasaan yang lagi ngetren saat ini.

Wanita-wanita semacam ini banyak di jumpai di kota-kota besar. Umumnya kalangan wanita karir yang menempati posisi berpengaruh di suatu perusahaan tertentu atau berprofesi di bidang entertainment yang glamor. Kalangan yang biasa disebut sebagai kelompok wanita socialite yang selalu menyibukkan diri dalam berbagai aktivitas pergaulan metropolis.

Penampilan mereka dapat kita lihat di layar kaca dalam sosok seorang artis, pembawa acara gosip (infotainment), dan golongan selebritis.

Perhatikan baju yang mereka kenakan yang selalu mengikuti model terbaru dari Barat yang lebih sering menonjolkan sensualitas dan tidak pernah dikenakan lebih dari sekali. Gaya rambut terbaru. Kacamata trendy. Parfum dan kosmetik mahal buatan Paris. Dan gaya bicara yang sengaja dibuat agak bercampur dengan bahasa asing.

Mereka adalah kalangan wanita yang kehilangan kemerdekaan kepribadian. Kehidupan keseharian dan rasa percaya diri mereka sangat tergantung pada dukungan berbagai atribut luar yang materialistik. Sebuah ironi karena mereka justru merasa sebaliknya. Sebenarnya sah-sah saja meniru suatu tren asal selektif dan sepanjang itu tidak bertentangan dengan norma dan prinsip Islam.

Yang lebih ironis lagi adalah bahwa kalangan wanita trendy ini menjadi trend setter (penentu tren) yang cukup memiliki pengaruh pada kalangan wanita muslimah kebanyakan. Kalau cara perilaku para wanita trendy ini dipengaruhi oleh fashion dan tren yang ada di dunia Barat, maka kalangan wanita kebanyakan justru meniru gaya hidup dari kelompok yang perilakunya juga hasil dari peniruan. Artinya kita meniru perilaku dari kalangan yang tidak punya pendirian.

Padahal dalam soal gaya hidup, wanita muslimah semestinya adalah wanita yang patut diteladani oleh wanita manapun di dunia. Karena seorang wanita muslimah memiliki kepribadian yang lebih mengutamakan kecantikan dalam (inner beauty) yang hakiki di banding kecantikan luar yang artifisial dan bersifat sementara (QS Ali Imran 3:14).

Seorang wanita muslimah juga tidak akan kekurangan gaya hidup untuk dijadikan suri tauladan, karena dalam Al Quran sudah jelas dan eksplisit disebutkan siapa figur yang patut menjadi panutan muslimah (dan muslim) di seluruh dunia (QS Al Ahzab 33:21).

Pola hidup islami tidak pernah berubah, karena konsep kecantikan perilaku (inner beauty) memang selalu sama dari dulu sampai akhir zaman.

Islam sangat menekankan pada pengembangan inner beauty atau kecantikan perilaku karena memang pada kecantikan perilaku itulah tergantung masa depan dan baik buruknya seorang muslimah baik sebagai pribadi, sebagai ibu, sebagai bagian dari masyarakat Islam dan, yang tak kalah penting, sebagai bagian dari masyarakat dunia.

Istilah wanita trendy hendaknya tidak dimaknai sebagai wanita yang suka mengikuti tren, tapi lebih indah kalau dimaknai sebagai wanita yang selalu menentukan tren (trend setter) yang mengarah pada pembangunan karakter. Karena makna kedua ini lebih berkonotasi pada kalangan wanita yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki kepribadian dan attitude yang kuat. []


Karir dan Perselingkuhan
Oleh A Fatih Syuhud
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Perempuan telah membuat kemajuan cukup cepat di bidang pendidikan dan partisipasi kerja. Indikator sosial dan ekonomi mereka semakin menunjukkan perbaikan luar biasa waktu demi waktu. Penyempitan gap gender ini nantinya akan mengarah pada peningkatan kekerasan pada perempuan, setidaknya dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat mengontrol beberapa konsekuensi dari pemberdayaan gender, khususnya disfungsional keluarga dan hubungan rumah tangga. Bagaimana membantu kaum pria merubah pola pikir yang ada agar kemajuan perempuan tidak harus dibayar mahal tampaknya memerlukan perhatian lebih.

Imej umum lelaki adalah sebagai sosok pencari nafkah yang kuat dan gigih. Dan perempuan digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menunggu dengan setia kepulangan suami dari tempat kerja. Pria sering terjebak dalam imej sebagai pencari nafkah dan ongkos psikologis dari kegagalan memenuhi peran ini dapat luar biasa. Apa yang terjadi apabila peran gender yang sudah mentradisi ini di redifinisi kembali, khususnya di lingkungan kelas menengah ke atas, yang sering ditimbulkan oleh kebutuhan dan tantangan ekonomi baru? Perempuan sebagai tenaga kerja disukai karena kesediaan mereka melakukan pekerjaan dengan gaji lebih rendah, adanya komitmen dan rasa tanggung jawab serta cocoknya pada sejumlah pekerjaan tertentu.

Gerakan kaum feminis dan munculnya sejumlah role model telah membantu memicu bangkitnya wanita profesional kelas menengah, yang sukses berkarir dan pada waktu yang sama berhasil sebagai ibu rumah tangga. Kalangan wanita sukses ini terkadang menyembunyikan rasa tertekan mereka dalam mengemban dua macam tanggung jawab. Tetapi apa yang akan terjadi saat pembalikan peran rumah tangga terjadi dan perempuan menjadi pencari nafkah? Seorang rekan saya yang baru lulus S2 Hukum di India dan sukses sebagai konsultan hukum di perusahaan terkenal di Jakarta mengatakan, “Saya lebih memilih bekerja dan karir saya diapresiasi suami kendati suami saya sukses, dari pada hanya berperan sebagai ibu rumah tangga”.

Dengan semakin meningkatnya jumlah perempuan menempati lapangan kerja, maka sedikitnya akan muncul empat probabilitas tantangan imajiner sosial ke depan.

Pertama, wanita A akan menjalani beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengatur rumah tangga sedang suami tidak berperan apa-apa. Sang suami menolak menjadi bapak rumah tangga kendati sang istri bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya mereka berpisah tetapi membiarkan pintu tetap terbuka untuk rujuk kembali suatu hari nanti.

Kedua, perempuan B menikah secara tergesa alias cinta monyet. Istri kemudian menyadari bahwa mereka secara intelektual maupun emosional tidak serasi. Sementara itu, dua anak telah lahir dan karena itu sang istri mempertahankan perkawinan. Dia mengambil langkah berani dengan tetap bekerja mencari nafkah keluarga dan sekaligus meneruskan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Dari waktu ke waktu, sang istri ingin keluar dari wahana perkawinan, tetapi karena tak ada dukungan, tetap melanjutkan mahligai rumah tangga. Uang tidak menjadi masalah tetapi sang suami cemburu pada pekerjaan istri, independensinya, fakta bahwa istri mencapai keberhasilan yang tak bisa dia raih. Haruskah istri menceraikannya?

Ketiga, perempuan C dan suaminya menikah berdasarkan cinta. Keduanya profesional. Tetapi lama kelamaan sang suami cemburu melihat istrinya yang lebih berbakat dan sukses. Suatu hari, suami stress dan mengusir istri, dengan anak kecil yang tidur di sampingnya. Sang istri pun menjadi single parent, bekerja dan memelihara anak. Haruskah dia berekonsiliasi dan kembali ke sang suami?

Perempuan D melakukan hubungan gelap dengan kolega kerjanya dan ketika suami mengetahuinya, maka dia pun menceraikannya. Sang istri meminta maaf dengan beralasan “di luar kesengajaan” dan memohon untuk rujuk. Haruskah suami rujuk kembali, kendati kelelakiannya tertantang dan menjadi rendah di mata dunia?

Kasus ketiga itu sudah umum terjadi. Dr. Shirley Glass, seorang psikolog Amerika dan pakar soal perselingkuhan dalam bukunya Not “Just Friends”: Protect Your Relationship From Infidelity and Heal the Trauma of Betrayal memberikan data survei menarik.

Menurut Glass:

Selama dua dekade pengalaman prakteknya sebagai psikolog diketahui ada 46 persen istri dan 62 persen suami yang telah melakukan perselingkuhan dengan kolega kerja. Dan menariknya, perselingkuhan yang dilakukan kalangan istri justru meningkat secara signifikan – dari 1982 sampai 1990, 38 persen istri melakukan perselingkuhan dengan rekan kantor berbanding dengan 50 persen jumlah istri tidak setia dari tahun 1991 sampai 2000.

Di Indonesia, menurut data stastistik dari Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama Tahun 2005 lalu, misalnya,

…ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 % dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus. Alhasil ,dari 10 keluarga yang bercerai , 1 diantaranya karena selingkuh. Rata-rata , setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh.

***

Kajian tentang maskulinitas, sebuah area riset paralel yang berkembang sebagai respons pada kajian perempuan, perlu dilakukan untuk mengeksplorasi isu-isu seputar keluarga di mana pasangan seperti yang tersebut di atas terperangkap. Suami dapat saja disalahkan sebagai pemukul istri, pelaku kekerasan rumah tangga dan terror. Tetapi, apa yang membuatnya demikian?

Dalam kasus pertama, akankah ibu rumah tangga yang tidak bekerja (dan terkadang tidak mendukung) didepak dari rumah? Di sini masyarakat akan dengan cepat mengatakan bahwa sang suami yang kejam telah meninggalkan istrinya. Pada kasus kedua, suami mengalami rasa minder karena dia tidak memiliki kapasitas intelektual dan kecakapan seperti istrinya untuk berkembang dan mulai menderita kecenderungan depresi. Dalam kasus ketiga, akankah sang istri yang memahami keadaan suaminya seperti itu karena dia tumbuh dalam kondisi keluarga yang disfungsional, mencoba pendekatan yang lebih halus? Apakah sang suami dalam contoh terakhir menyadari bahwa dia hanya korban dari pembalikan peran (reversal role)—selama ini perempuan biasanya selalu dalam posisi dikhianati—dan rela menerima kembali istrinya apabila sang istri hendak rujuk?

Sementara kita memfokuskan emansipasi untuk perempuan, kita juga perlu mengembangkan bentuk baru maskulinitas yang akan memungkinkan kaum lelaki beradaptasi terhadap realitas baru perempuan.

Untuk itu, diperlukan usaha keras masyarakat yang dapat berlaku adil baik pada lelaki dan perempuan.[]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.