Zubair dan Tolhah

Zubair bin Awwam dan Tolhah bin Ubaidillah adalah dua Sahabat yang termasuk dari 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga ketika mereka masih hidup.

Daftar Isi

  1. Zubair bin Awwam
  2. Tolhah bin Ubaidillah


Zubair bin Awwam
Oleh A. Fatih Syuhud

Zubair bin Awwam adalah salah satu di antara 10 Sahabat Nabi yang mendapat berita gembira akan masuk surga. Zubair adalah sepupu Nabi karena ibunya yang bernama Sofiyah binti Abdul Muttalib adalah saudara kandung dari Abdullah bin Abdul Muttalib, ayah Nabi. Sedang ayahnya yang bernama Al-Awwam bin Khuwailid berasal dari klan Asadi dan termasuk keluarga besar suku Quraish. Ayahnya adalah saudara kandung dari istri pertama Nabi, Khadijah binti Khuwailid itu artinya Zubair adalah juga keponakan Khadijah.

Zubair adalah salah satu dari lima orang yang pertama masuk Islam atas pengaruh Abu Bakar. Ia juga menjadi salah satu dari 15 muhajirin pertama yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) pada tahun 615 masehi atau tahun ke-7 sebelum hijrah. Ia menjadi pria dewasa keempat atau kelima yang masuk Islam.[1]

Pada tahun 619 masehi atau tahun ke-3 sebelum hijrah ia kembali ke Makkah karena mendengar berita bohong bahwa seluruh penduduk Makkah telah masuk Islam. Namun karena sudah terlanjur, ia bersama rombongan tetap kembali ke Makkah secara diam-diam.

Pada tahun 622 masehi, Zubair bersama rombongan pertama hijrah ke Madinah. Saat sampai di Madinah ia tinggal bersama Al-Mundzir bin Muhammad. Nabi memberinya tanah yang cukup luas untuk membangun rumah dan kebun kurma . Pada tahun 625 masehi atau tahun ke-3 hijrah ia diberi tambahan pohon kurma dari lahan suku Bani Nadzir yang diusir dari Madinah karena melanggar perjanjian.[2]

Apa yang menyebabkan Zubair termasuk di antara 10 orang Sahabat pilihan yang dijamin masuk surga? Ini adalah rahasia Allah dan Rasul-Nya. Namun, hal yang dapat kita teladani dari perilaku dan kepribadiannya sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah antara lain adalah:

Pertama, Zubair termasuk di antara tujuh orang pertama yang masuk Islam. Di saat mayoritas masyarakat Makkah tidak percaya dan meperolok-olok Nabi dan ajaran Islam, ia menjadi kalangan minoritas yang mempercayai Islam dan kebenarannya dengan sepenuh hati. Itu artinya, ia memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi sehingga mudah menerima suatu kebenaran dan rela berkorban jiwa dan raga untuk membela kebenaran itu.

Kedua, ia adalah sosok yang memiliki sifat dermawan dan tawakal yang tinggi pada Allah. Zubair memang dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Ia membelanjakan sebagian besar hartanya untuk Islam dan untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Begitu dermawannya sampai ia tidak memperdulikan diri dan keluarganya. Pada menjelang akhir hayatnya, ia berpesan pada putranya yang bernama Abdullah agar putranya ini melunasi hutangnya dengan mengatakan: “Apabila kamu tidak mampu melunasi hutangku, maka mintalah pertolongan pada penolongku”. Saat ditanya siapa yang dimaksud dengan “penolong” itu, ia menjawab: “Allah. Dialah sebaik-baik penolong.” Beberapa lama kemudian, Abdullah berhasil melunasi hutang ayahnya tanpa kesulitan. Rahasianya, sebagaimana ia ceritakan dalam sebuah riwayat, adalah karena berdoa pada Allah: “Wahai penolong Zubair, lunasilah hutangnya,” maka Allah melunasi hutang Zubair.[3]

Ketiga, pejuang yang tangguh di medan perang. Dalam berbagai peperangan untuk membela Islam, Zubair memiliki kontribusi besar baik selama masa hidup Nabi sampai setelah wafatnya Rasulullah.

Zubair bin Awwam wafat pada tahun 646 masehi atau tahun ke-36 hijriah dalam usia 66 atau 67 karena dibunuh saat sedang shalat oleh seseorang bernama Ibnu Hurmuz dan dimakamkan di Bashrah oleh Ali bin Abi Thalib. Pembunuh Zubair kemudian dihukumg mati oleh Ali.[]

CATATAN KAKI

[1] Ibnu Saad, Tabaqat, hlm. 76.
[2] Ibid, 78.
[3] Berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari dari Ka’ab. Teks hadits:

كان للزبير ألف مملوك يؤدون إليه الخراج، فما كان يدخل بيته منها درهمًا واحدًا (يعني أنه يتصدق بها كلها)، لقد تصدق بماله كله حتى مات مديونًا، ووصى ابنه عبد الله بقضاء دينه، وقال له: إذا أعجزك دين، فاستعن بمولاي. فسأله عبد الله: أي مولى تقصد؟ فأجابه: الله، نعم المولى ونعم النصير. يقول عبد الله فيما بعد: فوالله ما وقعت في كربة من دينه إلا قلت: يا مولى الزبير اقض دينه فيقضيه.

_______________________


Tolhah bin Ubaidillah
Oleh A. Fatih Syuhud

Talhah bin Ubaidillah adalah salah satu dari delapan orang pertama yang masuk Islam. Ia lahir pada tahun 598 masehi atau tahun ke-26 sebelum hijrah. Ia juga salah satu dari 10 Sahabat yang dipastikan masuk surga (al-mubasyarun bil jannah).

Ketertarikan Talhah pada Islam bermula dari suatu kejadian yang tidak disengaja. Saat itu Tolhah sedang dalam urusan bisnis ke Busro Al-Syam, sebuah kota di Suriah selatan. Ketika itu ia bertemu dengan seorang pendeta senior. Rahib itu menceritakan bahwa Nabi yang dijanjikan itu akan muncul di Makkah. Ia adalah Nabi yang diceritakan para Nabi terdahulu. Dan waktu kemunculannya sudah sangat dekat.

Tolhah tidak ingin ketinggalan momen bersejarah ini. Momen penuh rahmat dan hidayah. Ketika ia kembali ke Makkah setelah beberapa bulan berada di Busro dan di perjalanan, setiap kali bertemu seseorang atau sekelompok orang ia mendengar mereka selalu memperbincangkan perihal Muhammad Al-Amin (yang dapat dipercaya) dan tentang wahyu yang datang padanya serta risalah yang dibawanya ke bangsa Arab dan umat manusia.

Talhah lalu bertanya tentang pamannya yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq yang juga baru saja kembali dari perjalanan bersama rombongan yang lebih dulu tiba. Dan ternyata Abu Bakar telah masuk muslim.

Mendengar berita yang sangat mengejutkan ini, Talhah berfikir dan bergumam sendiri: “Muhammad dan Abu Bakar? Demi Tuhan, tidak mungkin kedua orang ini berkumpul dalam kesesatan. Muhammad telah berusia 40 tahun dan tidak pernah sekalipun aku mendengar dia berdusta. Apakah dia membohongi Allah kali ini saat Muhammad berkata, “Allah mengutusku dan memberiku wahyu?” Ini peristiwa yang sungguh sulit dipercaya”.

Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Talhah bergegas ke rumah Abu Bakar. Dari perbincangan yang terjadi tidak begitu lama dengan Abu Bakar, timbul rasa rindu yang kuat untuk bertemu Rasulullah dan berbaiat padanya. Maka, Abu Bakar menemaninya menghadap Nabi untuk menyatakan keislamannya. Jadilah Talhah termasuk dalam golongan pertama yang masuk Islam. Dan cepatnya Talhah dalam menangkap kebenaran ajaran Islam menjadi salah satu sebab ia menjadi salah satu dari 10 orang yang dijamin masuk sorga.

Namun, tentu saja bukan hanya karena itu saja yang menyebabkan ia mendapat perlakuan istimewa dari Allah. Selain konsistensi dalam menjalankan syariah Islam, Talhah juga memiliki kepribadian yang terpuji. Salah satunya adalah kedermawanannya. Sebagai pengusaha, ia tergolong hartawan. Namun kekayaannya itu tidak segan-segan dia sebarkan untuk kepentingan Islam dan untuk membantu mereka yang tidak mampu. Dan untuk ini, ia mendapat penghargaan dari Rasulullah dengan julukan Talhah Al-Jud (Yang Dermawan) dan Al-Khair (Yang Baik). Nabi juga memberikan dua julukan lain padanya yakni shaqr Uhud (elangnya perang Uhud) dan Talhah Al-Fayyad (Yang Murah Hati).

Talhah bin Zubair meninggal dunia pada tahun 656 masehi atau tahun ke-36 hijriah. Ia meninggal karena dibunuh oleh sesama muslim dalam perang Jamal.[1] Ada perbedaan pendapat tentang siapa pembunuh Talhah. Satu riwayat menyatakan Marwan bin Hakam, sedangkan menurut riwayat yang lain tidak diketahui namanya.[2]

Terlepas dari kontroversi kematian Talhah, ada beberapa hal yang patut dicontoh dari salah satu dari 10 Sahabat pilihan ini. Pertama, Talhah adalah seorang pengusaha kaya yang dermawan. Kedermawanan tidak akan muncul kecuali dari hati yang peduli, sayang, punya rasa empati pada sesama. Kedermawanan orang kaya juga tidak bisa timbul dari sosok yang suka hidup mewah. Dapatlah disimpulkan bahwa Talhah bin Zubair menganut gaya hidup sederhana dalam kesehariannya.

Kedua, bahwa menjadi kaya itu adalah terpuji. Dan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya itu tidak dilarang dengan syarat cara yang ditempuh halal, memenuhi kewajibannya pada agama dengan membayar zakat, menjaga gaya hidup tetap sederhana, dan peduli pada sesama.

Ketiga, harta dapat memenuhi salah satu kebutuhan hidup. Tapi bukan semua keperluan dapat terpenuhi oleh harta. Kebutuhan batin dan emosional hanya dapat terpenuhi dengan ajaran Islam yang tak diragukan kebenarannya (QS Ali Imron 3:19) .[]

CATATAN KAKI

[1] Perang Jamal atau Perang Unta adalah perang saudara antara sesama muslim yang terjadi di Bashra, Irak. pada November 656 masehi atau 36 hijriah. Ini adalah perang saudara pertama antara sesama muslim yang disebut dengan Al-Fitnah Al-Ula. Perang ini terjadi karena terbunuhnya Usman bin Affan sebagai Khalifah ketiga yang tanpa lebih dulu dilakukan investigasi tentang siapa pembunuh Usman. Dan diperparah dengan segera terpilihnya Ali bin Thalib sebagai Khalifah keempat. Aisyah istri Nabi lalu memobilisasi massa untuk melawan mereka yang mendukung Ali.

[2] Menurut pendapat yang masyhur adalah Marwan bin Hakam, tapi tidak sedikit pendapat dari kalangan ahli sejarah seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Arabi yang tidak setuju dengan pendapat ini. Lihat, Ibnu Saad dalam Tabaqat, 8/191; Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsiri QS Al-Mumtahanah ayat 10.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply