Usman bin Affan

Usman bin Affan ^
Oleh: A. Fatih Syuhud

Usman bin Affan adalah Sahabat Nabi yang memiliki banyak julukan. Ia dijuluki Dzunnurain karena menjadi suami dari dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummi Kulsum. Ia dijuluki Dzulhijrotain karena pernah dua kali melakukan hijrah yaitu ke Habasyah (sekarang Ethiopia) dan Madinah. Ia juga salah satu Khalifah dari empat Khulafaurrasyidin. Usman lahir pada tahun 577 masehi atau tahun 47 sebelum hijrah. Ia berasal dari keturunan bangsawan klan Bani Umayah yang merupakan bagian dari suku Quraisy.

Di bawah kepemimpinan Khalifah Usman, imperium Islam meluas sampai Farsi (sekarang Iran) pada tahun 650 masehi, kawasan Khurasan (sekarang Afghanistan) pada tahun 651, dan penaklukan Armenia yang dimulai pada tahun 640-an.

Usman masuk Islam pada usia sekitar 34 pada tahun 611 masehi. Pada saat itu ia baru saja kembali dari perjalanan bisnis ke Suriah. Usman mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad baru saja mendeklarasikan kerasulannya. Setelah berdiskusi dengan temannya Abu Bakar, Usman memutuskan untuk masuk Islam. Abu Bakar pun lalu membawanya menghadap Nabi untuk menyatakan keimanannya. Dengan demikian, maka ia menjadi salah satu muslim yang paling awal masuk Islam setelah Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khadijah binti Khuwailid, dan lainnya. Keislamannya membuat marah klan Bani Umayah yang sangat menentang ajaran Islam yang dibawa Muhammad.

Nabi Muhammad sudah menikahkan putrinya Ruqoyah dengan Utbah bin Abu Lahab, sedangkan putri satunya, Ummi Kulsum, dinikahkan dengan anak Abu Lahab yang lain bernama Utaibah bin Abu Lahab. Ketika turun Surah Al-Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya memerintahkan pada kedua putranya untuk menceraikan putri Nabi. Maka, kedua putri Nabi bercerai dengan kedua anak Abu Lahab. Menurut Rasyid Ridha (dalam Dzunnurain Usman bin Affan, hlm. 12) perceraian kedua putri Nabi dengan kedua anak Abu Lahab itu sebelum terjadinya hubungan intim. Ketika Usman mendengar berita perceraian Ruqoyah, ia pun segera menghadap Rasulullah untuk melamarnya yang diterima oleh Nabi dengan senang hati.

Bersama Ruqoyah inilah Usman hijrah ke Habasyah (sekarang, Ethiopia) antara tahun 614 sampai 615 masehi bersama 11 laki-laki dan 11 perempuan muslim. Karena ia sudah memiliki kontak bisnis di Habasyah, masa setahun di negeri Raja Najasyi ini ia gunakan untuk menjadi pengusaha yang cukup sukses. Ia kembali ke Makkah. Di Makkah ia tinggal selama sekitar 7 tahun sebelum ia hijrah ke Madinah pada tahun 622 masehi bersama istrinya Ruqayah.

Usman adalah seorang pengusaha kaya dan ia membawa seluruh hartanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, kaum Anshar umumnya adalah petani. Sedangkan perdagangan didominasi oleh kaum Yahudi. Usman meneruskan insting bisnisnya menjadi seorang pengusaha jujur dan sukses di Madinah dan menjadi salah satu Sahabat terkaya.

Walaupun kaya, Usman tetap berpola hidup sederhana. Dan kesederhanaan umumnya berbanding lurus dengan kedermawanan. Artinya, orang kaya yang sederhana umumnya tidak pelit pada sesama. Itu juga yang terjadi pada Usman. Sebagai contoh, ketika Ali bin Abu Thalib akan menikahi Fatimah putri Nabi, Usman membeli pakaian perang Ali seharga 500 dirham. 400 dirham digunakan Ali untuk maskawin, sedangkan yang 100 untuk biaya lain. Tidak lama kemudian, Usman mengembalikan baju perang Ali itu sebagai kado pernikahan.

Ruqayah wafat pada tahun kedua hijrah atau 624 masehi dalam usia 22 tahun. Setahun kemudian, pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga hijrah bertepatan dengan tahun 625 masehi, Rasulullah menikahkan Usman dengan Ummi Kulsum, adik dari Ruqayah. Pernikahan ini adalah perintah langsung dari Allah. Nabi bersabda: Telah datang padaku malaikat Jibril dan berkata: “Allah memerintahkanmu agar menikahkan Usman dengan Ummi Kulsum.” Inilah yang membuat Usman mendapat julukan dzunnurain atau pemilik dua cahaya. Hanya enam tahun setelah pernikahan ini, Ummi Kulsum meninggal dunia pada tahun ke-9 hijrah atau tahun 631 masehi.

Usman bin Affan adalah sosok Sahabat yang patut menjadi teladan karena beberapa hal, pertama, ia adalah salah satu Sahabat yang memiliki derajat istimewa dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya. Terbukti ia menjadi menantu dari dua putri Nabi. Bahkan, pernikahan dengan putri kedua Nabi langsung atas perintah Allah. Pada waktu yang sama ia adalah seorang pengusaha sukses sehingga ia termasuk salah satu Sahabat terkaya. Artinya, seorang pengusaha sukses dan hartawan tidak menjadi penghalang untuk menjadi seorang mukmin yang berkualitas tinggi di dunia dan akhirat.

Kedua, kaya atau miskin seseorang tidak ada hubungannya dengan kualitas ketakwaan. Orang kaya bisa lebih kuat imannya daripada orang miskin atau sebaliknya, tergantung dari bagaimana seorang muslim menyikapi ujian harta yang berlimpah dan menghadapi musibah kemiskinan yang diderita .

Ketiga, bahwa harta dunia yang berlimpah itu mulia di sisi Allah apabila melalui proses yang halal dalam mendapatkannya, tidak merubah gaya hidup seseorang menjadi hedonis dan konsumtif, dan sebagian harta itu digunakan untuk kemanfaatan dan kemaslahatan umat.[]

^Ditulis untuk Buletin SANTRI Ponpes Al-Khoirot Malang

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply