Subscribe to RSS Feed

Posts Tagged ‘Terorisme’

Misi AS: Demokratisasi atau Fundamentalisasi?

Jul 1st, 2005 by Indonesia

06 Sep 04 11:49 WIB WASPADA OnlineOleh A Fatih Syuhud *Pesan dari Kovensi Partai Demokrat di Boston bulan lalu sangat jelas.Demokrat Amerika murni tidak lagi eksis. Capres John Kerry mencobasebisanya bersikap seperti Republikan baru. Mengatasi soal Irakdengan tegang dan detail. Kita akan berperang di Irak dengan lebihbaik.Perilaku Partai Demokrat tidak mengejutkan – kalangan konservatif danliberal memiliki asumsi yang sama. Mereka yang membenci George Bush,menyukai Michael Moore dan terperanjat menyaksikan skandal pelecehandi penjara Abu Ghuraib juga percaya bahwa walaupun mungkin salahmenginvasi Irak, “perang ide” jelas sedang terjadi antara Baratyang “beradab” dan peradaban “lain” (Islam di antaranya) yangterbelakang.Pertama dipromosikan oleh neokonservatif setelah 11/9, teori perangide menyatakan bahwa Barat bertempur melawan ortodoksi abadpertengahan, keimanan buta dan fanatisme agama. Pertempuran iniberdasarkan logika, pemisahan sekuler antara Gereja dan Negara,demokrasi, kebebasan dan kehidupan modern dua atau tiga ratus tahunlalu. Islam dan masyarakat oriental lain (India dan China) belumbertempur dengan peradaban dari dalam; mereka belum menciptakanseorang Voltaire, Diderot atau Rousseau.Dilema yang terjadi memang ada – ia menyangkut bagian besar pemikiranpopulasi Barat dan bahkan kalangan intelektual modernis sekulerTimur. Kelompok ini lupa satu poin penting: peradaban-peradaban Timurtidak pernah mengalami kehidupan seperti yang terjadi pada agamaKristen abad pertengahan. Yakni, pemberontakan kalangan puritanmelawan kepausan (papacy) dan kalangan rasionalis melawan purist yangmenciptakan perubahan revolusioner di Eropa dan Amerika Utara.Kristen abad pertengahan bagaikan pasar takhayul dan dekadensi dimana hanya ada sedikit ruang bagi terjadinya inovasi dari dalam.Sebaliknya, Islam memiliki sistem ijtihad (pemikiran independen).India dan China kuno juga memiliki sistem filosofi rasional danperilaku sosial dalam tubuh keyakinan agama. Lagi pula, pergulatanantara ortodoksi dan inovasi progresif adalah tema yang konstan.Islam memiliki Muktazilah (rasionalis) pada abad ke-10. EmpiriumIslam menciptakan banyak saintis, sarjana dan filosof seperti IbnuSina (980-1037), Ibnu Rushdi (1126-1198), Al Farabi (870-950) dan AlKindi. Dikenal sebagai Avicenna di Barat, Ibnu Sina menjadi peletakdasar kedokteran modern. Ibnu Rushdi menemukan kembali mutiara Platodan Aristotle; Al Kindi dan Al Farabi membuat terobosan baru dibidang hidrolik dan menemukan simfoni, tonggak dasar musik klasikbarat.Keempat sarjana ini hanya mewakili spektrum kecil kalanganintelektual yang menciptakan kebangkitan dan pencerahan Islam.Masyarakat barat waktu itu masih barbar, penuh takhayul dan fanatik.Kebangkitan Islam menjadi peletak dasar kebangkitan Barat – hal yangdiakui oleh Dante, bapak kebangkitan barat.Setiap orang tahu bahwa sains modern berkembang melalui konsep helio-sentrik alam. Seandainya Galileo tidak menentang ide geosentrikalamnya Kristen, niscaya Barat masih berkutat dengan anggapan absurdbahwa matahari berputar mengitari bumi. Tetapi apakah Galileo helio-sentris pertama? “Bumi berotasi di porosnya (QS 27:48); bumi berotasimengelilingi matahari (QS 7:54). Kutipan ayat Quran ini mendahuluiteori Galileo delapan ratus tahun. Quran juga menyebutkan: “Langititu melebar (QS 51:47)”. Sejumlah gambar yang diambil oleh EdwinHubble di observatorium Mount Wilson pada 1929 menunjukkan terjadinyapelebaran alam, yang mengarah pada teori Bing Bang. Quranmengantisipasi hal ini 14 abad lalu. Tidak sebagaimana Quran, Injilmelawan interpretasi sekuler. Oleh karena itu, kalangan rasionalisBarat harus memutuskan diri dari agama. Kalangan liberal baratkontemporer mendesak muslim moderat untuk melakukan hal yang sama.Tetapi mengapa mesti memecah agama sedangkan Islam tidak sepertiKristen dan justru mendorong penggunaan akal? Begitu pula, IndiaBrahma, bahkan sebelum Islam, sudah mengenal bahw alam bersifat helio-sentrik. Kalangan avonturir Arab dan Iran menyaring pengetahuan yangpada dasarnya didapat dari India, Cina dan peradaban pagan baratklasik. Berbeda dengan Barat, orang Arab dan Iran tidak pernahmenyembunyikan sumber-sumber asal mereka. Aljabar (algebra) disebutAl Hind (India) dan resep Arab disebut pengobatan Yunani. Selama eraabad pertengahan adalah Bhava Misra yang mengajukan teori sirkulasidarah, jauh sebelum William Harvey. Ide demokratik dalam bentuk yangkita kenal sekarang sebenarnya diekspresikan pertama kali oleh KaisarIslam India dalam karyanya Sulh-I-Kul (damai dan persaudaraan untuksemua). Ide persamaan sosial, kebebasan individual dan revolusipetani semuanya pernah dibahas dalam bahasa lokal oleh reformissosial India semacam Shah Waliullah, Pandit Jagannath dan lain-lain.Permainan yang dimainkan oleh Barat adalah untuk menolak Timur darisains dan rasionalitasnya sendiri. Ia juga semakin terlibat dalammenciptakan fundamentalisme Islam modern dan berbagai bentuk fasismelain, yang membuat Timur terus tak peduli pada masa lalu dankontemporernya. Kelompok konservatif Barat sebenarnya inginmembangkitkan kembali fanatisme Kristen yang “tercerahkan” ke Timur.Apabila George Bush hendak memerangi tirani dan praduga di TimurTengah, megnapa pasukan AS di Irak dipaksa membawa Injil dan bukankarya-karya Muktazilah, Ibnu sina atau bahkan karya rasionalissemacam Benjamin Franklin atau Thomas Paine?Saat ini, modernis Timur yang setengah jadi muncul sebagai tokoh pro-Barat. Kekuatan anti-Barat, sebagai tanggapan, menggunakan fanatismebuta. Skenario yang akan terjadi sungguh menakutkan. Apabila Barattidak menggunakan jalan dan cara lokal menuju pencerahan Asia danTimur, maka yang akan terjadi adalah kemenangan barbarisme baik diTimur maupun di Barat.**** Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,India.indonesia

Continue Reading »
0 Comments

Fundamentalisme antara Konsep dan Persepsi

Jun 30th, 2005 by Indonesia

WASPADA Online 16 Aug 04Oleh A Fatih Syuhud *Secara historik, istilah “fundamentalisme” diatribusikan pada sekte Protestan yang menganggap Injil bersifat absolut dan sempurna dalam arti literaldan, dengan demikiran, mempertanyakan satu kata yang ada dalam Injil dianggap dosa besar dan tak terampuni.Dalam konteks ini, Kamus Oxford mendefinisikan fundamentalisme sebagai “pemeliharaan secara ketat atas kepercayaan agama tradisional seperti kesempurnaan Injil dan penerimaan literal ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai fundamental dalampandangan Kristen Protestan”. Julukan ini, walaupun dimaksudkan untuk menggarisbawahi ketaatan absolut kaum Protestan atas ajaran Injil, tidaklah dipakaiuntuk melecehkan.Konsep asal fundamentalisme itu sekarang menjadibagian masa lalu. Selama lebih dari dua setengahdekade, interpretasi baru dari istilah ini menjadipopuler. Fundamentalisme menjadi sinonim denganekstremisme dan radikalisme yang berakar dariintoleransi agama. Persepsi ini jelas tidak tepat danmenyesatkan karena fundamentalisme tidak dapatdisejajarkan dengan esktrimisme dan radikalisme. Yangpertama bermakna ketaatan penuh pada ajaran-ajarandasar agama yang dilakukan oleh para penganut taatsuatu agama, sebaliknya makna kedua ditolak olehseluruh penganut agama yang benar.Interpretasi fundamentalisme menjadi kontroversialkarena ia jarang dipakai secara imparsial, objektifdan rasional. Aplikasi makna fundamentalisme esensinyaberdasarkan pada apa yang dipahami dan dinyatakan olehbeberapa kelompok tingkat tinggi dari kalanganpolitisi, akademisi dan media. Di tengah terjadinyaIslamofobia dan histeria antimuslim yang terjadi disejumlah negara Barat, khususnya di AS dan Israel,saat ini istilah fundamentalisme digunakan secarasubjektif, selektif dan bias untuk melecehkan danmenjatuhkan Islam dan menggambarkannya sebagai ancamanpada peradaban Barat. Propaganda anti-Islam”fundamentalis” dan “militan” semakin meningkat sejakrevolusi Iran pada 1979. Sejumlah pemimpin Barat danakademisi serta kelompok media berpengaruh denganpenuh semangat berpartisipasi dalam usaha ini. Sepertiyang dikatakan Presiden AS Richard Nixon,”Fundamentalisme Islam telah mengganti komunismesebagai instrumen pokok perubahan dengan carakekerasan.”Nixon juga mengatakan, “Ideologi komunis menjanjikanmodernisasi cepat, sedangkan ideologi revolusi Islamadalah reaksi atas modernisasi. Komunisme berjanjiuntuk mempercepat putaran jam sejarah ke depan, sedangIslam fundamentalis hendak membalik sejarah ke masalalu”. Implikasi implisit ucapan Nixon ini adalahbahwa “fundamentalisme Islam” memiliki potensi sebagaiancaman lebih besar daripada komunisme.Dalam buku”Satanic Verses”, Salman Rushdie berpendapat bahwa”Islam”-lah yang bertanggung jawab dalam”mempromosikan kebencian pada peradaban modern”.Samuel P Huntington, dalam “The Clash ofCivilisation”, mengingatkan dunia Barat atas berbagaiancaman yang berasal dari Islam. Dalam “Todays NewFascists”, Francis Fukuyama mengungkapkankekuatirannya atas bangkitnya “Islam-Fasis” baru.Ungkapan Fukuyama ini merupakan kelanjutan darikekuatirannya atas munculnya “Islam radikal” yangdibahas mendetail dalam bukunya “The End of Historyand the Last Man”. Namun demikian, tidak ada yangdapat menandingi V S Naipaul, pemenang Nobel, dalammenyerang Islam. Hal ini dapat dilihat dari kata-katasarkasmenya, seperti “Terlukanya peradaban Indiamerupakan hasil kerja Islam” (dalam bukunya A WoundedCivilization), “Muslim non-Arab adalah pemeluk tidakotentik..” (dalam Among the Believers), dan “Islam itumenjijikkan” (dalam Beyond Belief)Berbagai macam penghinaan terhadap Islam, baik dengankekerasan maupun nonkekerasan, mencapai proporsi yangmengkhawatirkan pasca-serangan teroris pada gedung WTCdan Pentagon pada 11 September 2001. Berbagai usahadirekayasa untuk menghubungkan Islam dengan terorismetelah menyulut ketegangan komunal di sejumlah negaraBarat, khususnya AS. Banyak yang dilecehkan dandiperlakukan tidak manusiawi hanya karena memakai namaMuslim dan memelihara jenggot dan jilbab. Di atassemua itu, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dan Irakplus peningkatan serangan Israel pada rakyat Palestinasemakin mempersulit masalah dan semakin menjauhkandiri dari skenario kerukunan global antaragama.Banyak kalangan yang anti “fundamentalisme Islam” disatu sisi mengklaim dirinya komitmen pada demokrasi.Akan tetapi, pada waktu yang sama mereka tidaksegan-segan menyerukan untuk melakukan segala caradalam memberantas fenomena “Islam fundamentalis”,termasuk dalam hal ini, dengan cara kekerasan yangjelas-jelas tidak demokratik. Ann Coulter, umpamanya,menyerukan: “Kita hendaknya menginvasi negara-negaramereka (Muslim), membunuh pemimpin mereka danmengkonversi mereka dalam pelukan Kristiani”; RichLowry menyerukan AS supaya “mengebom Mekkah”. Senadadengan seruan kedua kolumnis konservatif AS ini,berbagai tulisan Salman Rushdi yang menentang Islam,Nabi Muhammad dan umat Islam dipandang sebagai bentukkebebasan berekspresi, tetapi berbagai kritikan padabuku kontroversialnya “Satanic Verses” (Ayat-ayatSetan) dianggap sebagai manifestasi dari fanatisisme.Tidakkah wajar dan logis kalau kita anggap bahwa sikapsemacam itu sebagai contoh konkrit standar ganda danhipokrisi?Harus diakui, kelompok radikal dan militan di antarapemeluk Islam itu ada. Dalam tubuh agama lain jugaterdapat elemen-elemen ekstrim semacam itu. Akantetapi, secara faktual mereka, kalangan ekstrimis diberbagai agama ini, adalah bagian kecil dari populasidunia dan secara bulat ditolak keberadaannya olehbangsa-bangsa pecinta damai dan penegak keadilan,termasuk oleh negara-negara Islam. Seluruhnegara-negara dunia, dengan pengecualian Afghanistandi bawah rezim Taliban, mengecam serangan teroris 11/9di Amerika. Bahkan Abdullah Awad, kakak kandung Osamahbin Laden, mengecam serangan itu sebagai “pelanggaranmendasar pada prinsip-prinsip utama Islam.” Apalagi,sejak itu seluruh negara Muslim meningkatkan usahamereka untuk memerangi dan mencegah terorisme. Denganadanya fakta-fakta tak terbantahkan ini, apakahmenghubungkan Islam dengan fundamentalisme danterorisme masih relevan?Sayangnya, istilah fundamentalisme dan terorismesecara eksklusif selalu diidentikkan dengan Islamtanpa memandang realitas di lapangan. Apakah iniberarti bahwa tidak ada individu atau kelompok dalamagama Kristen, Yahudi, Hindu dan non-Muslim lain yanglebih berhak menyandang “gelar” itu? Tidakkahmenghakimi Islam dengan hanya berdasarkan kebijakanopresif Taliban di Afghanistan dan tindakan brutal AlQaidah itu bagaikan menghakimi Kristen dengan aksibarbar Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini diItalia dan Slobodan Milosovic di Bosnia? Karenatindakan ekstrimisme yang dilakukan Ariel Sharon tidakmembuat umat Yahudi disebut sebagai “fundamentalisZionis”, maka sudah logis kiranya kalau tindakanradikal Mullah Umar dan Usamah bin Ladin tidakmenjadikan 1.3 milyar Muslim sebagai “Islamfundamentalis”. Begitu juga, apabila jaringan radikalIslam semacam Al Qaidah atau kelompok pemberontak diFilipina seperti Abu Sayyaf disebut sebagai “terorisIslam”, maka julukan yang sama hendaknya dilekatkanpada tindakan terorisme yang dilakukan oleh TimothyMcVeigh di Amerika dan kultus Aum Shimrikoy di Jepang.Di era sekarang di mana dunia dipenuhi dengan berbagaiproblem dan konflik ini, sangat dibutuhkan adanyaberbagai usaha maksimum untuk mempromosikan perdamaiandan keamanan. Namun demikian, hal ini akan tetapmenjadi mimpi sampai perpecahan agama dapatdijembatani dan harmoni antaragama terbentuk.Menyudutkan satu agama tidak akan membuat bertambahnyaprestise dan keamanan agama lain. Begitu juga,fenomena patologis seperti fanatisisme, kebencian,irasionalitas, ketakutan yang berakar dariketidakpedulian dan pikiran picik, hanya akanmemperlebar polarisasi agama.Idealnya, isu sulit seperti ekstremisme dan terorismehendaknya didekati dengan pikiran terbuka dan tanpabias agama. Diperlukan juga memperhatikan akarpenyebab, bukan hanya gejala dari fenomena tersebut.Karena, tidak ada negara atau sekelompok negara,bagaimanapun kuatnya, dapat memerangi danmenyelesaikan tantangan ini secara efektif sendirian.Dengan demikian, tidak ada alternatif dalam mengatasihal ini kecuali dengan kerja sama global.* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu PolitikAgra University, India.indonesia

Continue Reading »
0 Comments

Antara Tragedi Darfur dan Palestina

Jun 30th, 2005 by Indonesia

WASPADA Online, 13 Aug 04 Oleh A Fatih Syuhud *Dunia luar mungkin tidak menganggap perlu untukberkunjung ke kawasan Darfur, Sudan bagian barat, yangumumnya tandus dan terputus dari pandangan dunia.Tetapi kenyataan itu tidak menghentikan komunitasinternasional untuk mengetahui tragedi apa yang sedangterjadi di kawasan itu.Tindakan yang awalnya dimaksudkan sebagai usaha untukmencegah aktivitas pemberontakan itu ternyata berubahmenjadi bencana kemanusiaan yang menyedihkan. Ketikaetnis Afrika yang tinggal di kawasan itu mulaimengadakan aktivitas pemberontakan, melancarkanberbagai serangan pada garnisun aparat kepolisian danbandar udara di daerah itu, mereka berhadapan denganpasukan bersenjata berkuda Arab nomad, yang dikenaldengan Janjaweed, yang diperkirakan menjadikepanjangan tangan dari pemerintahan di Khartoum.Akibatnya, warga sipil yang tinggal di sekitar daerahitu terperangkap di tengah-tengah dua kekuatan yangsedang bertempur.Sebagaimana dilaporkan, berdasarkan foto udaraAmerika, terdapat 300 desa, dari 576 perkampungan yanghancur total. Kisah tragis tentang pemerkosaan olehmilisi yang menang dilaporkan oleh kalangan pengungsiyang berhasil melarikan diri. Sekitar satu juta orangdikabarkan terusir dari rumah mereka, 150.000 ataulebih melarikan diri ke sepanjangperbatasan negaraChad. Pemerintah Sudan mengatakan situasi yang terjadisudah dilebih-lebihkan oleh kalangan luar, dan menolaktuduhan bahwa pemerintah mendukung milisi Janjaweedatau bahwa sedang terjadi pembunuhan masal di kawasanitu.Tetapi Sekjen PBB, Kofi Annan, dan Menlu AS, ColinPowell, yang mengunjungi perkemahan para pengungsi,tampak tidak yakin. Keduanya memperingatkan Sudahbahwa waktu sudah habis bagi pemerintah Sudan untukmembalik situasi di Darfur atau kalau tidak, Sudanakan menghadapi reaksi keras komunitas internasional,yang dapat bermakna berbagai sangsi atau bahkanmungkin tindakan militer. Pemerintah Sudan tampaknyamemahami betul ancaman itu. Menlu Sudan pun akhirnyaberjanji untuk bekerja sama.Dalam suatu jumpa pers di Ethiopia (13/7), Usman AlSaid, duta besar Sudan untuk Uni Afrika (UA)menyatakan, “Sudah tidak sepakat dengan resolusi DewanKeamanan (DK) PBB, tetapi kami akan mentaati resolusiitu. Sebab, seandainya tidak, kami tahu musuh-musuhkami tidak akan ragu untuk mengambil langkah melawannegara kami.”Dalam kesempatan yang sama, Al Said menambahkan,”Sudan menerima keputusan DK PBB dalam soal Darfur,karena ia anggota PBB dan tidak ada pilihan lain.Sudah tidak akan menjadi Israel kedua, yang tidakpunya respek pada keputusan badan dunia.”Pernyataan Al Said soal ketidakrespekan Israelterhadap PBB itu sebenarnya juga menghinggapi pikiranbanyak orang di dunia. Namnun, yang menjadi pertanyaankita adalah mengapa Kofi Annan dan Colin Powell tidakdapat menunjukkan ketegasan dan keberanian yang samadalam kasus tragedi kekejaman yang dilakukan olehIsrael? Baru beberapa minggu yang lalu InternationalCourt of Justice (ICJ) mengeluarkan keputusan yangmenyatakan bahwa “pagar keamanan” yang sedang dibangunoleh Israel di kawasan Palestina yang diduduki, denganmemotong perkotaan dan ladang warga Palestina, adalahilegal dan harus dirobohkan. Di PBB, sebuah resolusitelah disepakati di Majelis Umum dengan 150 suara,dengan hanya enam yang menentang dan 10 abstain,meminta Israel agar mentaati keputusan ICJ tersebut.Situasi di lapangan di kawasan Palestina yang didudukidan penderitaan yang dialami warga Palestina tidakhanya bisa dilihat melalui foto udara atau melaluikisah para pengungsi. Setiap hari, tentara Israelmenghancurkan rumah-rumah, ladang dan kebunbuah-buahan warga Palestina, dan membunuhi mereka.Namun demikian, mereka tidak mampu sedikitpun untukmengajukan draft resolusi ke Dewan Keamanan PBB karenapasti akan diveto oleh Amerika Serikat yang berartipekerjaan yang sia-sia.Karena keputusan ICJ dan resolusi Majelis Umum PBBsama-sama tidak mengikat, maka Israel bebas meneruskanproyek pagar keamanan-nya, yang pada akhirnya, menurutpara analis, akan merubah kawasan Palestina menjadikota-kota yang terkepung musuh.Rakyat di Darfur tampaknya dapat mencapai dalam 17bulan apa yang tidak dapat dicapai oleh rakyatPalestina dalam tiga dekade: dukungan bulat komunitasinternasional termasuk, yang terpenting, dukungan AS.* Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Ilmu PolitikAgra University,India.indonesia

Continue Reading »
1 Comment

Senjata Terakhir Bush

May 12th, 2005 by Indonesia

Koran Tempo, Kamis, 8 April 2004 A. Fatih Syuhud * Segalanya tampak semakin suram buat George W. Bush. Sejumlah argumen yang dibuat olehnya dan kalangan pejabatnya dalam menginvasi Irak dan mempertahankan negara melawan aksi teror Hal ini jelas sangat mengganggu ketenangan seorang Presiden yang telah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menahan dan mengalahkan musuh-mush negara melalui penggunaan instrumen militer yang agresif sebagai perhiasan dalam usaha terpilihnya kembali dalam pemilu mendatang. Pada 25 Maret, mantan ketua kontraterorismenya, Richard Clarke, membuat pernyataan yang sangat mengagetkan dan merusak ketika bersaksi dihadapan komisi bipartisan yang menginvestigasi serangan teroris ke Amerika Serikat (AS) pada 11 September 2001. Dia menyatakan dengan tegas bahwa ia telah mengirim sebuah memo pada Condoleezza Rice, Penasihat Keamanan Nasional, memperingatkan bahwa berbagai usaha yang dilakukan untuk menghadapi ancaman terorisme belum mencukupi. Ia mengirim memo ini pada 4 September 2001 – seminggu sebelum serangan pada gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Virginia utara. Problema semakin berat bagi pemerintahan Bush karena Clarke juga menulis sebuah buku, Against All Enemies, di mana dia dengan penuh semangat berpendapat bahwa pemerintahan Bush telah gagal memfokuskan diri pada ancaman Al Qaidah yang dihadapi AS dan kepentingan globalnya. Lebih buruk lagi, Clarke menambahkan dalam bukunya bahwa obsesi pemerintahan Bush pada Irak dan Saddam Hussein secara signifikan telah mengurangi kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada ancaman Al Qaidah yang lebih berbahaya dan mendesak. Gedung Putih, tentu saja, berusaha menggambarkan Clarke sebagai individu partisan dan pegawai yang tidak puas. Akan tetapi, strategi ini tidak mungkin berhasil.Kritik Clarke atas obsesi berlebihan pemerintahan Bush atas Irak terjadi pada saat yang sangat tidak tepat. Baru beberapa minggu lalu, David Kay, mantan pejabat Central Intelligence Agency (CIA) dan inspektur senjata di Irak, secara publik mengungkapkan bahwa bukti tentang ambisi Irak memiliki senjata penghancur masal (weapons of mass destruction – WMD) sungguh sangat tipis. Dihadapkan dengan kesimpulan Kay yang tak diinginkan itu dan ketidakmampuan menemukan bukti kredibel adanya WMD, pemerintahan Bush mencoba taktik berbeda guna menjustifikasi invasinya ke Irak. Di satu sisi, juru bicaranya, khususnya Wakil Presiden Dick Cheney beralasan bahwa pencarian WMD belumlah tuntas dan suatu saat nanti mereka akan berhasil. Di sisi lain, Presiden Bush sendiri mencoba menjual proposisi bahwa dunia toh menjadi lebih baik tanpa adanya diktator Saddam yang telah menyiksa rakyatnya dan mengancam negara-negara tetangga. Lenyap sudah berbagai usaha pemerintahan Bush menghubungkan rejim Saddam Hussein dengan Al Qaidah dan organisasi militan Islam yang lain. Tak perlu dikatakan lagi, klaim kosong ini pun rusak antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, kendati tidak kurang usaha pasukan pendudukan Amerika, tidak ditemukan satupun bukti substantif adanya hubungan antara rejim Saddam dengan kelompok militan Islam manapun. Kegagalan ini semakin jelas setelah ditemukannya kumpulan dokumen rahasia dari ruangan besi rejim Saddam di Irak. Kedua, sekitar dua bulan lalu, mantan Menteri Keuangan Bush, Paul O’Neill, seorang aktivis partai Republik yang setia, mengungkapkan dalam biografinya, The Price of Loyalty, bahwa kalangan anggota kunci dari pemerintahan Bush telah lama memutuskan untuk menyerang Irak – jauh sebelum terjadinya tragedi 11 September 2001. Tokoh-tokoh ini tidak peduli sedikitpun tentang apakah Irak mempunyai hubungan dengan jaringan teror atau tidak atau apakah memiliki WMD. Mereka hanya ingin menjatuhkan rejim Saddam Hussein dengan berbagai cara dengan tujuan yang tidak disebutkan. Justifikasi final yang dilakukan pemerintahan Bush saat ini dalam upayanya menyelematkan klaim kosongnya atas invasi Irak adalah bahwa Irak akan tampil menjadi sebuah negara demokrasi sejati di Timur Tengah. Mereka beralasan, apabila Irak berhasil melakukan transisi menuju demokrasi, maka ia dapat berfungsi sebagai kekuatan untuk proses demokratisasi di seluruh kawasan. Kemungkinan munculnya demokrasi dari sebuah negara yang didominasi kekacauan dan anarki semacam Irak tampaknya akan sangat sulit. Kesulitan akut dalam membentuk konstitusi interim, mengemukanya sejumlah pertanyaan menyangkut reputasi dan kredibilitas klien utama AS di Irak, Ahmad Chalabi, dan sikap permusuhan populer yang meningkat atas pendudukan Amerika di Irak telah membuat orang bertanya-tanya apakah Irak saat ini pantas disebut negara, apatah lagi bersistem demokrasi. Lebih buruk lagi, bagi sebuah pemerintahan yang diharapkan berkomitmen mempromosikan demokrasi di Irak, taktik yang ditunjukkan tampak tidak demokratik. Sejumlah laporan terbaru di media Amerika menunjukkan bahwa pemerintah pendudukan, khususnya pasukan militer Amerika, sangat menampakkan ketidaksukaannya pada satu-satunya jaringan televisi berita independen di kawasan itu, Al Jazeera. Wartawannya banyak yang di zalimi dan ditahan; saat ini sejumlah tuduhan penyiksaan juga mencuat. Klaim mempromosikan demokrasi di Irak, yang notabene bukan justifikasi serius untuk invasi ke Irak, saat ini terdengar semakin tidak bermakna. Kendati demikian, dihadapkan dengan sedikit pilihan dan tidak mau mengakui justifikasi artifisialnya yang begitu banyak, klaim-klaim palsu dan keputusan-keputusan yang dipertanyakan, pemerintahan Bush mulai mencari strategi untuk keluar dari Irak. Mengingat tanggal penarikan mundur yang direncanakan pada musim panas ini tampak akan gagal, maka sebuah pemilu dengan hasil yang meragukan mungkin akan menjadi taktik keluar dari pemerintahan Bush. Setelah itu, apakah PBB akan menggantikan posisi AS atau tidak guna memperbaiki situasi kacau-balau yang ditinggalkan AS masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun demikian, isu yang lebih penting adalah apakah Presiden Bush akan mampu menyemir reputasinya atas “jasanya” telah menjatuhkan Saddam Hussein dari kekuasaannya; kendati berbagai serangan teroris terus berlanjut di seluruh dunia dan Irak terperangkap dalam sebuah pusaran penderitaan yang entah kapan akan berakhir.[]* MAHASISWA PASCASARJANA ILMU POLITIK AGRA UNIVERSITY, INDIAindonesia

Continue Reading »
0 Comments