Copyright © 2010 Indonesia. Snowblind theme by c.bavota & Juan Gordillo. Powered by WordPress.
Posts Tagged ‘Muslim’
Amerika dan Islam Liberal
Harian Pelita, 17 Juli 2005Oleh A. Fatih SyuhudKebijakan Amerika terhadap dunia Islam saat ini pada dasarnya ditentukan oleh apa yang digambarkan neokonservatif Pentagon sebagai perang melawan teror. Pendekatan yang menuntun kebijakan ini adalah untuk mempromosikan apa yang dianggap sebagai kepentingan AS, walaupun hal ini diungkapkan dalam retorika yang manis seperti demi melindungi demokrasi, nilai-nilai universal dan hak-hak asasi manusia (HAM). Hal ini terlihat jelas dalam dokumen tebal yang baru-baru ini dirilis oleh think tank sayap kanan yang sangat berpengaruh, RAND Corporation, yang disiapkan khusus untuk angkatan udara (AU) AS.Dokumen setebal 525 halaman, berjudul The Muslim World After 9/11, itu menggarisbawahi strategi AS yang akan mengurangi kondisi yang dapat menciptakan ekstremisme politik dan agama dan sikap anti-AS di kalangan komunitas Muslim dunia.Dokumen ini cukup jelas dalam mengidentifikasi dan memaparkan adanya perbedaan etnik, ideologi, sektarian dan kultur di kalangan Muslim; sebuah lompatan dari sikap standar barat selama ini yang selalu melihat Islam dan Muslim sebagai homogen dan monolitik. Selain itu, ia juga membahas secara detail sejumlah faktor ekonomi, sosial dan politik yang cukup kompleks yang telah mengakibatkan ekstremisme Islam di sejumlah negara Muslim dan menekankan bahwa ekstremisme tidaklah intrinsik hanya pada Islam. Pembahasan soal ini cukup menarik, walaupun penyebutan peran kunci Barat, dan khususnya Amerika, atas bangkitnya ekstremisme Islamis tampak sengaja dihindari.Sayangnya dokumen ini kurang komprehensif dalam menawarkan solusi menghadapai tantangan ekstremisme Islam dan memperbaiki hubungan antara dunia Islam dan Barat. Dikatakan bahwa kebijakan Amerika di dunia Islam tidak ada yang salah. Hampir semua kesalahan atas terjadinya keretakan hubungan antara Barat dan dunia Islam dibebankan pada umat Islam, khususnya kelompok ekstremis dan teroris, yang digambarkan sebagai sosok yang inheren jahat dan anti-Amerika. Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan AS adalah mencari jalan untuk menetralisir kalangan ekstremis dengan bantuan Muslim moderat, tanpa perlu membuat perubahan struktrual apapun dalam segi kebijakan ekonomi, politik dan strategi.Hal ini menjelaskan, sebagai contoh, mengapa dokumen ini tidak menyebut perlunya solusi adil atas konflik Irael-Palestina atau mengakhiri pendudukan atas Irak sebagai keharusan menuju perbaikan hubungan antara Amerika dan dunia Islam serta untuk mengalahkan pengaruh ekstremis.Dengan menganggap problema ekstremisme sebagai murni diciptakan oleh Islamis jahat, maka dokumen ini hanya terfokus pada isu ekstremisme atas nama Islam sementara tak satupun menyebut ekstremisme lain yang tidak kecil yang dilakukan oleh fundamentalis Yahudi dan Kristen. Laporan ini juga tidak menyebut sama sekali dukungan Amerika atas Islamis radikal pada masa lalu (seperti di Afghanistan untuk melawan Soviet) atau atas kelompok Muslim konservatif dalam upaya mengalahkan pengaruh kalangan kiri, nasionalis dan anti-imperialis.Dokumen ini cukup gamblang mengakui bahwa rezim otoritarian di sejumlah besar negara Muslim telah memberikan kondisi subur bagi tumbuhnya Islamis radikal untuk bangkit dan berkembang sebagai gerakan oposisi. Namun demikian, ia tidak memberikan satu kritik pun atas dukungan konsisten AS pada rezim-rezim otoritarian tersebut. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa ketergantungan tinggi kalangan diktator pada dukungan Amerika untuk bisa bertahan justru membuat mereka lebih dapat diandalkan sebagai aliansi AS dibanding tokoh populer terpilih.Dokumen ini menganjurkan agar AS membangun hubungan militer yang erat dengan negara-negara kunci, karena militer akan tetap menjadi garis depan dalam perang kontraterorisme. Ia memberi contoh Indonesia, Pakistan dan Turki sebagai bukti. Kalangan elit pro-Amerika di ketiga negara ini terkenal dengan pelanggaran HAM-nya, namun mereda dipuji AS karena berhasil menciptakan kondisi sekular. Begitulah retorika AS dalam mempromosikan demokrasi di dunia Islam.Dokumen ini juga menganjurkan AS agar menciptakan dan mendukung jaringan Islam liberal yang terdiri dari Muslim moderat internasional yang nantinya dapat menantang legitimasi klaim kalangan Islamis radikal untuk berbicara atas nama Islam, dan menawarkan sebuah pemahaman agama yang liberal.Dokumen ini mengingatkan bahwa kelompok Islam liberal mungkin kekurangan sumber dana yang diperlukan untuk membentuk jaringan besar dan karena itu meminta AS untuk mendanai berbagai aktivitas kalangan ini.Tentu saja kalangan Islam liberal yang hendak dibantu tersebut diharapkan untuk memfokuskan kritik mereka pada kalangan Islamis radikal, dan mungkin, diminta untuk tetap diam manis dalam berbagai kesalahan kebijakan luar negeri AS, atau kehilangan bantuan dana sebagai taruhannya.Perlunya menghancurkan jaringan radikal dan sistem pendukungnya secara konstan ditekankan, walaupun tidak membuat perbedaan jelas antara gerakan pembebasan yang berjuang melawan diktator lokal atau Amerika atau imperialisme Israel di satu sisi, dan kelompok radikal murni di sisi lain. Seluruh gerakan dan kelompok yang tampak anti-Amerika atau anti-Israel secara kolektif dicap sebagai teroris.Dengan menutup mata pada isu kunci ekonomi dan politik yang melibatkan ketidakmesraan hubungan kompleks antara AS dan dunia Islam, dan dengan membebankan seluruh kesalahan hanya pada ekstremis Muslim, maka dokumen itu menghadirkan perspektif berat sebelah. Paket yang ditawarkan dokumen itu tampaknya tidak mungkin dapat membuat hubungan Barat dan dunia Islam menjadi mesra.[]* Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, IndiaIndonesia Islam Liberal Liberal Islam amerika
Continue Reading »Eropa dan Spektrum Politik AS
Harian Pelita, 4 Juli 2004Oleh A Fatih SyuhudMahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, IndiaSalah satu mitos dominan dalam hubungan transatlantik adalah bahwa kedua belah pihak memiliki persamaan kultur dan nilai dan karena itu akan tetap menjadi sahabat dan aliansi. Sebagaimana terbukti dari hasil muhibah Presiden George W. Bush ke Eropa, kultur dan nilai AS dan Eropa ternyata sangatlah berbeda. Apa yang mengikat mereka dalam kebersamaan pada level tertentu adalah pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan di atas segalanya, jaringan hubungan perdagangan dan ekonomi.Bagi George Bush, kunjungan resmi ini merupakan usaha rujuk setelah terjadinya krisis akibat keputusan AS menginvasi Irak, Eropa pun tampak tidak ingin terlihat tak ramah sebagai tuan rumah. Tetapi, apa yang kita lihat adalah pihak AS tidak memberikan apa-apa begitu juga Eropa. Yang signifikan justru kejutan intervensi Kanselir Jerman Gerhard Schroeder yang mengisyaratkan bahwa NATO tak lagi berfungsi sebagai forum untuk pembuatan keputusan tentang isu-isu besar transatlantik. Ini semacam tamparan pada sebuah organisasi yang selama ini menjadi instrumen AS untuk menancapkan pengaruhnya di Eropa. Memang, kalangan skeptik Eropa pun menawarkan diri untuk melatih aparat keamanan Irak, walaupun kebanyakan berlokasi di luar Irak, dan membuat kontribusi finansial lumayan sambil dengan enggan menerima persetujuan NATO (Prancis akan mengirim satu pejabat ke Irak). Akan tetapi, suara kalangan Eropa yang berpengaruh – Prancis dan Jerman—bernada keramahan semu, yang menggambarkan adanya ketegangan. Bush melakukan lip service pada Eropa yang bersatu, dengan tidak lagi membagi benua itu dengan gelar Eropa muda dan tua, seperti yang pernah dikatakan Menhan AS Donald Rumsfeld.Status AS dalam sejarah digambarkan sebagai Imperium Romawi Kedua, akan tetapi tidak pernah terjadi sebuah bangsa yang mengklaim memiliki hak sakral untuk mengatur dunia guna menyebarkan demokrasi dan kebebasan seperti AS. Argumen Bush adalah karena kelompok teroris telah melukai negerinya pada 11/9/01, maka AS tidak hanya akan menyatakan perang pada terorisme tetapi juga berkewajiban untuk memikul beban penyebaran demokrasi di Timur Tengah, lahan subur terorisme, untuk mengamankan negaranya. Dan seperti ditunjukkan di Afghanistan dan, lebih kontroversial lagi, di Irak, satu metode dalam melakukan perang baru harus melalui invasi dan serangan preventif. Serangan-serangan semacam itu tidak akan terbatas pada memerangi terorisme tetapi juga meluas maknanya dengan mencegah negara manapun yang berani menantang supremasi keadidayaan AS saat ini dan di masa datang.Di sisi lain, Eropa pada paruh kedua abad 20 dalam proses menjauh dari peperangan dan penjajahan. Eropa disibukkan dengan eksperimen penyerahan kedaulatan setiap negara-bangsa untuk menjalankan sebuah organisasi unik yang melarutkan konflik menjadi penyatuan Jerman ke dalam jaringan hubungan kerja sama. Lebih signifikan lagi, reunifikasi Jerman dicapai tanpa huru hara.Harus diakui perpecahan juga terjadi dalam tubuh Eropa dalam level tahapan benua ini ke depan. Tetapi yang terpenting adalah sejauh mana Uni Eropa (UE) saat ini telah melangkah.Selama Perang Dingin, Eropa dan dunia harus mengikuti logika MAD (mutual assured destruction). Eropa berada di bawah payung proteksi AS sambil membangun jaringan ekonominya sendiri. Akan tetapi, begitu Uni Soviet lenyap dan tembok Berlin ambruk, Eropa bernapas bebas dan ingin keluar dari kontrol AS. Reunifikasi Jerman tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dan dukungan AS. Kesalahan fatal Eropa yang terjadi atas dorongan AS adalah ketika menyepakati pemecahan kembali Eropa dengan memperluas NATO, yang mengganggu kepentingan Moskow. Bagi Presiden Bill Clinton, hal itu merupakan tindakan logis karena NATO menjadi instrumen utama menancapkan pengaruh AS di Eropa; bagi Eropa sendiri, langkah tersebut telah membahayakan prospek memasukkan Rusia dalam kerangka yang seperti pernah digambarkan Mikhail Gorbachev sebagai rumah bersama bangsa Eropa.Konsep negara egalitarian Eropa Barat yang dikembangkan setelah bertahun-tahun proses rekonstruksi menyusul puing-puing Perang Dunia II merupakan titik mula signifikan dalam model pemerintahan di seluruh dunia. Ia mencapai apa yang gagal dicoba dan lakukan oleh negara-negara komunis. Dan setelah akhir Perang Dingin, UE menikmati era damai dengan kalangan yang dulunya musuh bebuyutan, walaupun benua ini masih bergumul dengan warisan masa lalu seperti kekerasan dan perpecahan di Yugoslavia di mana Eropa meminta bantuan AS. Kelemahan Eropa dalam menangani krisis Balkan di kemudian hari menjadi pendorong pembentukan pasukan Eropa di luar NATO.Tragedi 11/9 mengagetkan Eropa karena tragedi ini dianggap mewakili bahaya bersama bagi Barat dan peradaban itu sendiri. Waktu itu Eropa tidak begitu menyadari sampai sejauh mana AS telah melangkah dalam visinya untuk mendominasi dunia. Awalnya, Eropa berusaha keras menerima kenyataan itu. Akan tetapi, akhirnya ia tak lagi mampu menerima arogansi luar biasa AS yang secara unilateral melancarkan perang atas Irak.Adalah jaringan perdagangan dan hubungan ekonomi yang menyelamatkan aliansi transatlantik. Terdapat sejumlah negara Eropa “baru” versi deskripsi AS yang hendak menyenangkan pemerintahan Bush, baik karena ketakutan historik mereka atas Rusia atau demi alasan oportunistik semata. Akan tetapi senyum dingin yang menyambut Bush di Eropa – satu-satunya negara yang menampakkan kehangatan adalah Slovakia “baru” – bermakna cukup mendalam. Apakah akan muncul titik temu antara Eropa dan AS akan tergantung pada sejauh mana warisan sikap Bush bertahan dalam spektrum politik AS ke depan. Tidak semua rakyat AS terdiri dari neokonservatif atau kelompok kanan Kristen evangelist. Tetapi, tampaknya mereka, semuanya, terpedaya dengan sikap takabur dan keyakinan bahwa Amerika tidak hanya yang terhebat dalam sejarah peradaban umat manusia tetapi juga memiliki anugerah kebesaran dan keadidayaan sepanjang zaman.[]Indonesia
Continue Reading »Misi AS: Demokratisasi atau Fundamentalisasi?
06 Sep 04 11:49 WIB WASPADA OnlineOleh A Fatih Syuhud *Pesan dari Kovensi Partai Demokrat di Boston bulan lalu sangat jelas.Demokrat Amerika murni tidak lagi eksis. Capres John Kerry mencobasebisanya bersikap seperti Republikan baru. Mengatasi soal Irakdengan tegang dan detail. Kita akan berperang di Irak dengan lebihbaik.Perilaku Partai Demokrat tidak mengejutkan – kalangan konservatif danliberal memiliki asumsi yang sama. Mereka yang membenci George Bush,menyukai Michael Moore dan terperanjat menyaksikan skandal pelecehandi penjara Abu Ghuraib juga percaya bahwa walaupun mungkin salahmenginvasi Irak, “perang ide” jelas sedang terjadi antara Baratyang “beradab” dan peradaban “lain” (Islam di antaranya) yangterbelakang.Pertama dipromosikan oleh neokonservatif setelah 11/9, teori perangide menyatakan bahwa Barat bertempur melawan ortodoksi abadpertengahan, keimanan buta dan fanatisme agama. Pertempuran iniberdasarkan logika, pemisahan sekuler antara Gereja dan Negara,demokrasi, kebebasan dan kehidupan modern dua atau tiga ratus tahunlalu. Islam dan masyarakat oriental lain (India dan China) belumbertempur dengan peradaban dari dalam; mereka belum menciptakanseorang Voltaire, Diderot atau Rousseau.Dilema yang terjadi memang ada – ia menyangkut bagian besar pemikiranpopulasi Barat dan bahkan kalangan intelektual modernis sekulerTimur. Kelompok ini lupa satu poin penting: peradaban-peradaban Timurtidak pernah mengalami kehidupan seperti yang terjadi pada agamaKristen abad pertengahan. Yakni, pemberontakan kalangan puritanmelawan kepausan (papacy) dan kalangan rasionalis melawan purist yangmenciptakan perubahan revolusioner di Eropa dan Amerika Utara.Kristen abad pertengahan bagaikan pasar takhayul dan dekadensi dimana hanya ada sedikit ruang bagi terjadinya inovasi dari dalam.Sebaliknya, Islam memiliki sistem ijtihad (pemikiran independen).India dan China kuno juga memiliki sistem filosofi rasional danperilaku sosial dalam tubuh keyakinan agama. Lagi pula, pergulatanantara ortodoksi dan inovasi progresif adalah tema yang konstan.Islam memiliki Muktazilah (rasionalis) pada abad ke-10. EmpiriumIslam menciptakan banyak saintis, sarjana dan filosof seperti IbnuSina (980-1037), Ibnu Rushdi (1126-1198), Al Farabi (870-950) dan AlKindi. Dikenal sebagai Avicenna di Barat, Ibnu Sina menjadi peletakdasar kedokteran modern. Ibnu Rushdi menemukan kembali mutiara Platodan Aristotle; Al Kindi dan Al Farabi membuat terobosan baru dibidang hidrolik dan menemukan simfoni, tonggak dasar musik klasikbarat.Keempat sarjana ini hanya mewakili spektrum kecil kalanganintelektual yang menciptakan kebangkitan dan pencerahan Islam.Masyarakat barat waktu itu masih barbar, penuh takhayul dan fanatik.Kebangkitan Islam menjadi peletak dasar kebangkitan Barat – hal yangdiakui oleh Dante, bapak kebangkitan barat.Setiap orang tahu bahwa sains modern berkembang melalui konsep helio-sentrik alam. Seandainya Galileo tidak menentang ide geosentrikalamnya Kristen, niscaya Barat masih berkutat dengan anggapan absurdbahwa matahari berputar mengitari bumi. Tetapi apakah Galileo helio-sentris pertama? “Bumi berotasi di porosnya (QS 27:48); bumi berotasimengelilingi matahari (QS 7:54). Kutipan ayat Quran ini mendahuluiteori Galileo delapan ratus tahun. Quran juga menyebutkan: “Langititu melebar (QS 51:47)”. Sejumlah gambar yang diambil oleh EdwinHubble di observatorium Mount Wilson pada 1929 menunjukkan terjadinyapelebaran alam, yang mengarah pada teori Bing Bang. Quranmengantisipasi hal ini 14 abad lalu. Tidak sebagaimana Quran, Injilmelawan interpretasi sekuler. Oleh karena itu, kalangan rasionalisBarat harus memutuskan diri dari agama. Kalangan liberal baratkontemporer mendesak muslim moderat untuk melakukan hal yang sama.Tetapi mengapa mesti memecah agama sedangkan Islam tidak sepertiKristen dan justru mendorong penggunaan akal? Begitu pula, IndiaBrahma, bahkan sebelum Islam, sudah mengenal bahw alam bersifat helio-sentrik. Kalangan avonturir Arab dan Iran menyaring pengetahuan yangpada dasarnya didapat dari India, Cina dan peradaban pagan baratklasik. Berbeda dengan Barat, orang Arab dan Iran tidak pernahmenyembunyikan sumber-sumber asal mereka. Aljabar (algebra) disebutAl Hind (India) dan resep Arab disebut pengobatan Yunani. Selama eraabad pertengahan adalah Bhava Misra yang mengajukan teori sirkulasidarah, jauh sebelum William Harvey. Ide demokratik dalam bentuk yangkita kenal sekarang sebenarnya diekspresikan pertama kali oleh KaisarIslam India dalam karyanya Sulh-I-Kul (damai dan persaudaraan untuksemua). Ide persamaan sosial, kebebasan individual dan revolusipetani semuanya pernah dibahas dalam bahasa lokal oleh reformissosial India semacam Shah Waliullah, Pandit Jagannath dan lain-lain.Permainan yang dimainkan oleh Barat adalah untuk menolak Timur darisains dan rasionalitasnya sendiri. Ia juga semakin terlibat dalammenciptakan fundamentalisme Islam modern dan berbagai bentuk fasismelain, yang membuat Timur terus tak peduli pada masa lalu dankontemporernya. Kelompok konservatif Barat sebenarnya inginmembangkitkan kembali fanatisme Kristen yang “tercerahkan” ke Timur.Apabila George Bush hendak memerangi tirani dan praduga di TimurTengah, megnapa pasukan AS di Irak dipaksa membawa Injil dan bukankarya-karya Muktazilah, Ibnu sina atau bahkan karya rasionalissemacam Benjamin Franklin atau Thomas Paine?Saat ini, modernis Timur yang setengah jadi muncul sebagai tokoh pro-Barat. Kekuatan anti-Barat, sebagai tanggapan, menggunakan fanatismebuta. Skenario yang akan terjadi sungguh menakutkan. Apabila Barattidak menggunakan jalan dan cara lokal menuju pencerahan Asia danTimur, maka yang akan terjadi adalah kemenangan barbarisme baik diTimur maupun di Barat.**** Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,India.indonesia
Continue Reading »Kebebasan yang Membebaskan
WASPADA Online 06 Sep 04 11:42 WIBOleh A Fatih Syuhud *Idealnya, setiap orang memiliki kebebasan personal plus tuntunanmanual untuk menggunakannya secara diskriminatif. Lingkungan sosialhendaknya diciptakan guna mendorong orang untuk berpikir dan memahamibahwa kebahagiaan abadi bukan terletak pada kenikmatan sensual danpeningkatan level konsumsi, tetapi dari pengertian mendalam akankebutuhan nurani dan berperilaku sejajar dengan kebutuhan nuranitersebut.Kebebasan personal dalam kondisi semacam ini adalah kebebasan yangmembebaskan. Tetapi apa yang harus dilakukan apabila kita mestimemilih antara “lingkungan diskriminatif” dan “kebebasan personal?”Apakah kondisi diskriminatif harus didahulukan dari kebebasanpersonal atau sebaliknya? Pertanyaan inilah yang sekarang lagi ramaidiperdebatkan menyusul kontroversi film BCG (Buruan Cium Gue).Kebebasan personal dapat dikategorikan dalam dua tipe – kebebasan takbermoral (licentiousness) dan kebebasan diskriminatif. Orang yangberperilaku asusila atau tak pantas tanpa memikirkan kepentinganjangka panjangnya masuk dalam kategori pertama. Orang semacam ini,atas nama kebebasan ekspresi, menggunakan kebebasannya untukberperilaku asusila – minum alkohol dan narkoba, berzina, mencuri,berbaju tidak layak di depan umum, dan lain-lain. Sebaliknya, orangyang memikirkan konsekuensi jangka panjang sebelum berbuat dikatakanperilaku kebebasan diskriminatif. Tipe kedua ini akan berpikirmengapa ia tak bahagia mengendarai mobil, sementara yang lain sudahpuas dengan memakai motor; mengapa ia tak puas mengendarai motorsementara yang lain bahagia naik bis kota. Atau, mengapa mabuk-mabukan di diskotik di suatu malam membuatnya tidak enak tidur. Jelasdi sini, bahwa kebebasan personal itu merugikan sedang kebebasandiskriminatif dan selektif membebaskan. Kondisi sosial mempunyaidampak menentukan pada sikap kita dalam menggunakan kebebasanpersonal. Seperti dua putri kembar yang menikah dengan dua keluargayang berbeda dan tumbuh dalam karakter yang berbeda setelah 20 tahun.Yang satu menikah dengan seorang ulama atau pendeta aktif dalamberbagai aktivitas keagamaan. Sedang yang lain menikah dengan seorangpebisnis selalu ingin memamerkan kekayaan dalam setiap pertemuansosial dengan mengenakan baju dan perhiasan mahal. Kedua putri kembaritu mewarisi kedua tendensi, tetapi perkembangan mereka tidak samakarena ditempatkan dalam kondisi sosial yang berbeda.Setiap individu ingin berbahagia dan memiliki hak kebebasan dasaruntuk mencari kebahagiaan sesuai dengan keinginannya. Akan tetapimasyarakat memiliki tanggung jawab untuk membantunya menggunakankebebasan itu dengan benar. Kondisi sosial harus mendorong oranguntuk menggunakan kebebasan mereka secara selektif dan diskriminatifdaripada hanya digunakan untuk memenuhi keinginan asusilanya.Produser film dan sinetron memiliki hak dan kebebasan untukmemproduksi film apapun. Akan tetapi, apabila kebebasan itu digunakanuntuk mempromosikan nilai-nilai vurgar dan amoral di kalangangenerasi muda, maka hal ini hanya akan menggiring generasi mendatangpada kebebasan yang tidak bertanggung jawab; kebebasan artifisialyang dampak negatifnya sudah mulai kita lihat dan saksikan bersama.Benar, setiap orang hendaknya mendapatkan hak dan kebebasan untukmemilih gaya hidup yang dia suka, yang akan membuatnya bahagia. Iniartinya bahwa ia harus diberi kebebasan personal dan kondisidiskriminatif-selektif. Dari dua hal tersebut, kondisi diskriminatifjauh lebih penting. Seseorang yang hidup dalam lingkungan semacamitu, dengan kebebasan personal agak terbatas, akan tetap bergerakmaju -walau agak lambat. Akan tetapi, seseorang yang memilikikebebasan personal dalam lingkungan asusila akan merugikan dirinyasendiri dengan berperilaku yang berlawanan dengan kepentingan jangkapanjangnya. Kemajuan yang lambat akan lebih baik dari pada bergerakmundur. Jadi, kondisi diskriminatif dan selektif hendaknya lebihdidahulukan daripada kebebasan personal.Memang, United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan dalamedisi terbaru Human Development Report (HDR) bahwa kebebasan personalmerupakan nilai final. Sayangnya, HDR tidak menyinggung peranlingkungan. Ia memberi contoh Mahatma Gandhi yang menggunakankebebasan personalnya, setelah melakukan refleksi mendalam, untukmemperjuangkan Kemerdekaan India bukan mencari profesi hukum diInggris yang lebih menjanjikan. UNDP mengatakan bahwa setiap individuharus memiliki kebebasan itu guna dapat hidup menurut konsepsinyasendiri sebagaimana Gandhi memiliki kebebasan memilih aktivitas yangdia suka.Argumen UNDP ini tentu saja sangat valid. Akan tetapi perlu adajaminan bahwa kondisi sosial juga sudah mapan. Gandhi hidup dalamlingkungan sosial yang membuatnya termotivasi melakukan pemikirandiskriminatif-selektif. Seorang anak besar kemungkinan akan menjadipencuri apabila ia dibebaskan hidup dalam lingkungan pencopet.Kebebasan itu membebaskan dalam suatu lingkungan diskriminatif-selekif dan akan merusak dalam lingkungan sosial asusila. UNDP lupapoin krusial ini. Sementara UNDP membuat contoh seorang Gandhi, ialupa mencatat bahwa Gandhi menggunakan kebebasannya setelah refleksimendalam. Kebebasan personal memang membebaskan dalam lingkungandiskriminatif-selektif. Tetapi UNDP mengacuhkan peran krusiallingkungan sosial dan menekankan kebebasan sebagai nilai yang berdirisendiri. Akibatnya, pendekatan UNDP ini sejajar dengan seseorang yangmenggunakan kebebasan personalnya untuk tujuan kesenangan sensual,vulgarisme dan berbagai aktivitas anti-sosial lainnya.UNDP memberi label pada kultur yang tidak memberikan kebebasanpersonal sebagai tidak manusiawi (inhuman). Kultur Timur secaratipikal lebih memfokuskan “Realitas” dalam diri dari pada memperlebarkesenangan sensual. Ajaran Islam mendorong wanita untuk mengenakanjilbab agar tidak menciptakan daya tarik seksual dalam perkumpulansosial. Tradisi Budha menganjurkan pemeluknya untuk mengikuti jalantengah guna mencegah eksesivitas pada apapun. Tradisi Hindumenganjurkan kalangan muda untuk memilih pekerjaan seperti orangtuanya agar supaya ia tidak membutuhkan banyak waktu untukmempelajari cara baru untuk mendapatkan uang yang sama yang dapat iacapai lebih mudah dengan mengikuti tradisi keluarganya.Agama lebih memberikan prioritas pada lingkungan diskriminatif-selektif dan, dengan demikian, kebebasan personal yang agak terbatas.Agama menolak kebebasan personal guna mendorong, bahkan memaksa,pemeluknya untuk melakukan kebebasan diskriminatif-selektif; persisseperti badan sensor film membatasi kebebasan pada film-filmtertentu. Dus, lingkungan sosial diskriminatif harus lebihdiprioritaskan walaupun musti mengorbankan kebebasan personal.UNDP mengatakan bahwa restriksi pada kebebasan personal tidak baik,karena kebebasan personal merupakan nilai yang sudah terbukti (self-evident). Seseorang harus dibebaskan menonton film vulgar. Tidak adabukti bahwa kebebasan personal semacam itu akan merusak ataumerugikan. Implikasi dari pandangan UNDP ini adalah bahwa kebebasanasusila lebih baik daripada kebebasan restriktif-diskriminatif. UNDPmendorong kebebasan asusila dengan tidak membahas masalah lingkungansosial. Ia menjustifikasi hubungan homoseksual dan lesbian (hal.19).UNDP mengatakan bahwa globalisasi harus diikuti total karena iamemberikan keuntungan ekonomi walaupun dapat berdampak kerusakankultural (hal.20). Bahwa perkembangan kultural hendaknya tidakterlalu dipandang penting karena akan menghalangi kemajuan ekonomi(hal.41).Jadi jelas, tujuan dari UNDP adalah mempromosikan konsumerisme danasusila. Kesejahteraan jangka panjang individu dan masyarakatdikorbankan demi pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan kebebasanpersonal. Pendapat yang sama juga dianut oleh kalangan pro-kebebasanberekspresi total yang memprotes himbauan Aa Gym dan MUI terhadapfilm BCG.* Penulis adalam mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra Universitydan Research Associate Zakir Hussein Institute of Islamic Studies NewDelhi, India.indonesia
Continue Reading »