Saudah binti Zamah dan Rayhanah binti Zaid

Istri kedua setelah meninggalnya Khadijah binti Khuwailid adalah Saudah binti Zam’ah. Ia termasuk perempuan dari suku Quraish yang masuk Islam sejak pertama risalah Nabi Muhammad. Sedangkan Rayhanah binti Zayd adalah salah satu dari dua istri Nabi yang berasal dari bangsa Yahudi; istri satunya bernama Sofiyah binti Huyay.

Daftar Isi

  1. Saudah binti Zam’ah
  2. Rayhanah binti Zayd


Saudah binti Zam’ah
Oleh A. Fatih Syuhud

Sepeninggal Khadijah binti Khuwailid, Nabi membutuhkan seorang pendamping di samping untuk mengurus rumah tangga juga untuk mengasuh Fatimah, putri Nabi yang masih kecil. Maka, ketika Saudah binti Zam’ah ditawarkan pada Nabi, beliau tidak menolak walaupun Saudah bukanlah perempuan yang cantik. Siapakah Saudah binti Zam’ah?

Ayahnya bernama Zam’ah bin Qais berasal dari klan Amir bin Luay yang termasuk dari suku Quraish di Makkah. Sedangkan ibunya Shamus binti Qais berasal dari klan Najjar yang termasuk dari suku Khazraj di Madinah.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Zam’ah menikah dengan As-Sakran bin Amr dan memiliki enam putra. Ketika Saudah masuk Islam dan berbaiat pada Nabi, suaminya juga ikut masuk Islam. Saudah dan suaminya lalu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia). Ia adalah perempuan pertama yang hijrah ke negera Raja Najasyi ini. Namun beberapa tahun kemudian ia kembali ke Makkah. Setelah suaminya wafat di Makkah, Saudah hanya tinggal dengan ayahnya yang sudah sangat tua.

Nabi menikahi Saudah pada bulan Ramadhan tahun ke-10 setelah kenabian atau bulan April/Mei 620 masehi, beberapa tahun setelah wafatnya Khadijah. Menurut satu pendapat pada tahun ke-8 hijrah . Usia Saudah saat itu sekitar 27 atau 37 tahun, sedangkan Nabi berusia 50 tahun. Adapun maskawinnya sekitar 400 dirham atau 1190 gram perak atau sekitar Rp. 13.000.000 (tiga belas juta rupiah) . Nabi lalu hijrah dengan Saudah ke Madinah.

Saudah meriwayatkan lima hadits Nabi. Kalangan perawi hadits yang meriwayatkan hadits langsung darinya antara lain Abdullah bin Abbas, Yahya bin Abdullah Al-Anshari. Sedangkan perawi hadits yang meriwayatkan hadits untuknya adalah Abu Daud, Nasai dan Bukhari. Ayat hijab juga turun karena Saudah. Ia dikenal sebagai perempuan dermawan yang banyak memberikan sedekah. Ia juga dikenal baik hati terhadap istri Nabi yang lain. Misalnya, ia rela memberikan waktu kunjungan Nabi untuknya pada Aisyah.

Saudah wafat pada akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Satu pendapat menyatakan ia wafat di Madinah pada bulan Syawal tahun 54 hijrah pada masa khilafah Muawiyah. Ketika Saudah wafat, Abdullah bin Abbas bersujud. Saat ditanya kenapa dia lakukan itu, Ibnu Abbas menjawab: Rasulullah bersabda, “Apabla kamu melihat suatu peristiwa besar, maka bersujudlah!” Maksudnya adalah bahwa wafatnya istri Nabi adalah peristiwa yang besar.

Hikmah yang dapat diambil dari pernikahan Rasulullah dengan Saudah adalah, pertama, seorang lelaki yang ditinggal mati istrinya hendaknya segera menikah kembali untuk menjaga keteraturan hidup dan mengurus rumah tangga dan putra-putri yang ditinggalkan istri sebelumnya.

Kedua, calon istri yang dipilih hendaknya memprioritaskan pada kesalihan, kepribadian dan kedewasaan, bukan pada kecantikan.

Ketiga, menjadi istri seorang ulama hendaknya dijadikan kesempatan untuk lebih memperdalam ilmu agama dan meningkatkan ketakwaan dengan banyak belajar dari suaminya. Sehingga suami tidak hanya dijadikan sebagai teman hidup, tapi juga sebagai guru, imam dan teladan untuk meningkatnya keimanan dan ketakwaannya.

Keempat, perempuan hendaknya memilih calon suami dengan prioritas utama kebaikan pribadi, taat agama, pekerja keras. Tampilan fisik hendaknya menjadi kriteria terakhir dalam rangka mencapai kenyamanan dan keharmonisan rumah tangga dan kemasalahan keluarga.[]

__________________________


Rayhanah binti Zayd
Oleh A. Fatih Syuhud

Rayhanah binti Zayd adalah seorang wanita Yahudi yang berasal dari suku Bani Quraidzah atau Bani Nadir. Perbedaan pendapat tentang asal usul Rayhana ini terjadi karena ia berasal dari suku Bani Nadhir yang menikah dengan seorang pria dari Bani Quraidza. Setelah Bani Quraidza kalah dalam peperangan dengan umat Islam, Rayhanah berada di antara kaum wanita yang ditahan sementara kaum lelakinya dieksekusi mati karena mengkhianati perjanjian damai dengan Islam. Sebagai tahanan perang, maka Rayhanah berstatus sebagai hamba sahaya[1] yang kemudian diambil dan dinikah oleh Rasulullah.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli sejarah Islam tentang hubungannya dengan Nabi. Syibli Nukmani menyatakan bahwa Nabi telah memerdekakannya dan ia kembali pada keluarganya, pendapat ini senada dengan pendapat Hafidz bin Mindah.[2] Sementara Ibnu Ishaq menyatakan bahwa Nabi menjadikan Rayhanah sebagai hamba sahaya dan menikahinya sebagai milkul yamin.[3]

Nama lengkap Rayhanah ada beberapa versi. Versi pertama,

Royhanah binti Syam’un bin Zaid. Versi kedua, Royhanah binti Zaid bin Amr bin Qonafah atau Khonafah. Versi ketiga menurut Ibnu Saad, Rayhanah binti Zaid bin Amr bin Khanafah bin Syam’un bin Zaid dari Bani Nadir. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Rayhanah pernah menikah dengan seorang Yahudi dari Bani Quraidzah yang bernama Al-Hakam.

Menurut Ibnu Ishaq, saat Rasulullah sedang bersama para Sahabat ia mendengar suara sandal di belakangnya. Nabi berkata: “Ini adalah Tsa’labah bin Saiyah memberi kabar gembira padaku atas keislaman Raihanah.” Nabi lalu memerdekakan Raihanah dan menikahinya. Lalu Nabi mewajibkan Raihanah memakai hijab, tapi Raihanah menolak dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, sebaiknya engkau biarkan aku sebagai milkul yamin. Ini akan lebih ringan bagiku dan bagimu.” Nabi menuruti kemauan Raihanah. Menurut Ibnu Ishaq, kendati Raihana masuk Islam di kemudian hari, ia meninggal sebagai hamba sahaya.[4]

Namun, Ibnu Saad mengutip dari Al-Waqidi bahwa Raihanah dimerdekakan oleh Nabi dan kemudian dinikah.[5] Menurut Al-Halabi, Nabi menikahinya secara resmi dengan mahar. Ini diperkuat oleh deskripsi Ibnu Hajar atas rumah yang diberikan Nabi kepada Rayhanah setelah pernikahan.[6] Apabila demikian, maka Rayhanah merupakan wanita Yahudi kedua yang menjadi istri Rasulullah setelah Sofiyah binti Huyay.[7]

Rayhanah meninggal muda beberapa saat setelah haji terakhir Rasulullah. Ia dikebumikan di pemakaman Jannatul Baqi'[8]. Ia meninggal setahun sebelum wafatnya Nabi.[9] Walaupun meninggal lebih awal dibanding sebagian besar istri-istri Nabi yang lain, namun secara kronologis Raihanah adalah istri yang paling akhir dinikah oleh Rasulullah.[]

FOOTNOTE

[1] Hamba sahaya atau budak perempuan (Arab: amat atau jariyah) adalah perempuan kafir yang ditahan oleh umat muslim dalam peperangan yang dimenangkan tentara Islam. Istilah amat terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 221. Lihat, Adwaul Bayan 3/387.

[2] Syibli Nu’mani, Hayatun Nabi, 2/125-126.

[3] Milkul Yamin adalah istilah untuk wanita non-muslim hamba sahaya yang dikawin oleh pemiliknya dan statusnya tetap sebagai budak. Apabila dimerdekakan maka dia tidak lagi disebut milkul yamin. Istilah milkul yamin terdapat dalam Al-Quran QS Al-Ma’arij ayat 29 dan An-Nur ayat 32.

[4] Alfred Guillaume. The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, hlm. 466. Oxford University Press, 1955

[5] Ibn Saad, Tabaqat, 8/92-93.

[6] Ibnu Hajar, Isabaha, 4/309.

[7] Lihat, A. Fatih Syuhud, “Sofiyah binti Huyay”.

[8] Nur al-Din al-Halabi, Sirat-i-Halbiyyah, 2/90. Uttar Pradesh: Idarah Qasmiyyah Deoband, Terjemah dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Aslam Qasmi.

[9] Ada pendapat yang menyatakan ia meninggal 16 tahun sebelum wafatnya Nabi. Lihat Ibnu Hajar, ibid.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply