Rumah Tangga Dewasa

Rumah Tangga Dewasa adalah suami istri yang mengetahui hak dan kewajiban masing-masing dan disiplin melaknakannya. Memang ada kalangan suami istri lupa hak dan kewajibannya. Dalam situasi seperti ini, maka yang salah harus minta maaf dan yang lainnya terbuka hati untuk memaafkan kesalahan pasangannya. Inilah rumah tangga yang dewasa dan akan hormanis sepanjang masa.
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Rumah Tangga Dewasa
  2. Minta Maaf dan Memaafkan


Rumah Tangga Dewasa

Kedewasaan bersikap dalam mengatasi setiap permasalahan merupakan salah satu kunci sukses sebuah rumah tangga yang bahagia. Kedewasaan bersikap tentu saja harus dimiliki oleh kedua belah pihak yang menjadi figur sentral rumah tangga yaitu suami dan istri. Kedewasaan tidak ditentukan oleh usia atau level pendidikan seseorang walaupun kedua faktor ini dapat memberi kontribusi signifikan untuk membuat seseorang bertambah dewasa. Dewasa atau tidaknya seseorang lebih banyak ditentukan oleh watak dasar, lingkungan sosial dan pendidikan khususnya dalam rumah dan kemauan serta komitmen individu terkait untuk bersikap dewasa. Rumah tangga yang dewasa itu sangat penting karena selain demi kelangsungan dan kebahagiaan perkawinan juga karena hal itu akan menular pada sikap dan perilaku anak.

Perilaku dewasa dapat ditengarai dari beberapa hal, pertama,  memuji kelebihan dan menapresiasi usaha yang dilakukan pasangan. Istri atau suami yang sudah berusaha untuk tampil menarik baik secara fisik maupun kepribadian tentu patut mendapat pujian dari pasangannya. Begitu juga, setiap usaha yang baik hendaknya selalu disyukuri oleh pasangan. Pujian dan sikap terima kasih tidak harus diucapkan dengan kata-kata, walaupun itu juga perlu, tapi bisa juga diungkapkan dengan cara lain seperti bermuka cerah penuh kehangatan dan memakai bahasa tubuh  yang menunjukkan bahwa Anda menyukai apa yang telah dilakukan pasangan. Individu yang suka mengapresiasi akan mudah mendapat apreasiasi balik dari pasangannya. Sebaliknya, sikap kurang bersyukur dan kurang apresiatif, akan membuat pasangan kecewa. Dan ini menjadi titik-titik kecil yang akan memicu konflik yang lebih besar. Pada saat yang sama, hindari kritik. Kalau terpaksa dilakukan, maka lakukan dengan cara yang halus dan momen yang tepat.

Kedua, tidak banyak menuntut. Sikap tidak menghargai pasangan biasanya timbul dari terlalu banyak menuntut. Sehingga berbagai macam usaha positif yang dilakukan pasangannya selalu dianggap kurang dan tidak pernah memuaskan dirinya. Dalam banyak kasus hal ini sering dilakukan oleh pihak istri. Itulah sebabnya sampai Nabi bersabda dalam sebuah hadits riwayat Bukhari: “Aku melihat ke surga, ternyata mayoritas penghuninya adalah orang faqir. Dan aku melihat ke Neraka ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita.” Siapa wanita tersebut? Mereka, menurut hadits yang lain, adalah para istri yang tidak pernah bersyukur dan terlalu banyak menuntut pada suaminya. Sehingga seandainya mereka diberi segunung emas pun, akan tetap mengeluh.

Ketiga, saling memberi. Masing-masing suami dan istri harus memiliki komitmen dan niat yang besar untuk saling memberi. Bukan saling menerima. Keinginan untuk saling memberi akan membuat kedua pihak akan berlomba-lomba untuk memberi kontribusi sebanyak mungkin pada keutuhan, kebahagiaan dan kesejahteraan rumah tangga; termasuk berkontribusi pada suksesnya pendidikan anak.

Keempat, saling mengalah. Termasuk pengertian saling mengalah adalah kemauan untuk saling berkorban ego. Ini termasuk pengorbanan yang sangat berat terutama bagi yang sudah terbiasa hidup dimanja oleh lingkungannya. Berkorban ego adalah kesediaan untuk mengalah dan kelapangan untuk meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Terjadinya konflik, pertengkaran dan perceraian sering disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengalah dan meminta maaf dari kedua belah pihak.

Kelima,  jadikan Islam sebagai petunjuk yang membimbing hidup rumah tangga. Salah satu cara untuk memperdalam Islam adalah dengan meminta bimbingan pada mereka yang ahli di bidang Islam. Teruslah berkonsultasi pada ulama baik saat normal atau ketika mengalami kesulitan dalam rumah tangga. Allah berfirman dalam QS An-Nahl 16:43 “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”[]


Minta Maaf dan Memaafkan
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot Malang

Pasangan suami-istri yang harmonis sekalipun tidak akan luput dari kesalahan. Itu wajar dan manusiawi. Yang terpenting adalah yang merasa bersalah memiliki rasa sensitivitas untuk mengakui kesalahannya, dan memiliki niat dan komitmen untuk meminta maaf pada pasangannya. Meminta maaf itu indah kendati terasa sulit terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dan memiliki ego tinggi.

Namun apabila sikap meminta maaf ini dijadikan kebiasaan, maka ia akan menjadi mata air yang menyejukkan dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Karena di dalam perilaku meminta maaf itu terkandung banyak karakter kepribadian yang sangat positif seperti rendah hati, mengakui kesalahan, menerima tanggung jawab atas kekeliruan yang dilakukan, tidah mudah menyalahkan orang lain. Sifat-sifat positif ini tidak hanya akan membuat Anda disukai oleh pasangan, tapi juga akan disayang, dikagumi dan disegani oleh orang-orang di sekitar Anda. Hal yang perlu disadari adalah bahwa meminta maaf itu adalah kekuatan bukan kelemahan. Sebaliknya, keengganan meminta maaf adalah kelemahan yang fatal.

Meminta maaf yang umum adalah ungkapan secara lisan seperti “Maaf, saya salah”. Namun, kalau Anda sulit meminta maaf dengan cara tersebut Anda dapat memakai salah satu cara ungkapan minta maaf ala Gary D. Chapman. Gary D. Chapman dan Jennifer M. Thmas dalam bukunya The Five Languages of Apology: How to Experience Healing in All Your Relationships (Northfield Publishing:2006) menulis bahwa ada lima bahasa dan cara ekspresi permintaan maaf pada pasangan yang ringkasannya sebagai berikut:

Pertama, mengungkapkan penyesalan. Sebutkan perilaku-perilaku Anda yang menyakitkan pasangan. Tampakkan penyesalan mendalam. Dan ungkapkan permintaan maaf secara lisan. Kalau perlu tanyakan juga apakah ada kesalahan lain yang mungkin Anda lupa.

Kedua, menerima tanggung jawab. Sebut kesalahan yang Anda lakukan dan menerimanya sebagai kesalahan (tanpa meminta maaf). Adalah lebih mudah mengatakan “Kamu benar” daripada “Saya salah”, walaupun uangkapan yang terakhir lebih baik.

Ketiga, Perbaiki Kesalahan: Apa yang Bisa Aku Lakukan? Ketika meminta maaf, jangan hanya mengekspresikan penyesalan saja. Tunjukkan juga kalau Anda memang ingin memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

Keempat, Penyesalan: Aku tidak akan mengulanginya lagi Penyesalan di sini berarti Anda benar-benar menunjukkan kalau sikap yang Anda lakukan tersebut tidak akan diulangi lagi. Kalau memang sikap atau perkataan Anda menyebabkan masalah, terlibatlah dalam mencari solusi untuk mengatasinya. Jangan mencari alasan atas kesalahan Anda misalnya dengan mengatakan, ‘aku baru saja melalui hari yang buruk’. Berikan solusi bagaimana agar apa yang Anda lakukan itu tak terulang lagi di masa depan.

Kelima, minta Dimaafkan: Apakah kamu mau memaafkanku? Saat mengajukan permintaan maaf dan berdamai, Anda harus bersabar. Pasangan bisa saja butuh waktu atau klarifikasi lebih jelas, meski Anda sudah menunjukkan empat tahapan sebelumnya.

Apapun cara ekspresi meminta maaf yang Anda lakukan adalah baik asal dilakukan dengan hati tulus untuk memperbaiki hubungan dengan pasangan serta untuk melatih diri sendiri. Saya ingin menambahkan bahwa permintaan maaf secara lisan akan lebih baik apabila dibarengi dengan jabat tangan karena sabda Rasulullah dalam sebuah hadits bersalaman akan menghilangkan rasa marah, benci dan dengki dari hati.

Kalau sudah meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan, maka menjadi tugas pasangannya untuk memaafkan.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply