Rumah Tangga Agamis (4): Prioritas Pendidkan Anak

Rumah Tangga Agamis (4): Prioritas Pendidkan Anamalk Membekali anak dengan pendidikan yang agama dan umum yang baik, formal dan infor adalah mutlak diperlukan. Anak dan istri juga harus dididik cinta ibadah dan suka beramal agar terjadi keseimbangan hidup dan kebahagiaan hakiki.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa OSIS
MTS dan MA Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Rumah Tangga Agamis (4): Prioritas Pendidkan Anak
  2. Rumah Tangga Agamis (5): Cinta Ibadah
  3. Rumah Tangga Agamis (6): Suka Beramal


Rumah Tangga Agamis (4): Prioritas Pendidikan Anak

Sebuah rumah tangga yang sudah memenuhi tiga syarat utama untuk disebut agamis akan kurang lengkap kalau syarat yang keempat belum terpenuhi: yaitu pendidikan yang tinggi sebagai prioritas utama bagi anaknya. Kalau sebuah keluarga berasal dari keluarga yang kaya, maka menyekolahkan anak sampai setinggi mungkin hendaknya menjadi tujuan utama yang harus menjadi cita-cita kedua orang tua dan harus ditanamkan pada anak sejak dini sehingga menjadi harapan dan idealisme anak itu sendiri.

Kalau kita termasuk keluarga yang berlatarbelakang ekonomi menengah ke bawah, maka siapkanlah bekal untuk pendidikan anak sejak mereka masih kecil dengan cara menabung sedikit demi sedikit sehingga akan terpenuhi kebutuhan biaya pendidikan anak kelak saat diperlukan.

Banyak orang muslim yang secara ekonomi mampu menyekolahkan anaknya sampai level tertinggi tapi tidak melakukannya karena dianggap tidak perlu. Atau, karena kurangnya pemahaman anak akan pentingnya pendidikan sehingga mereka sendiri yang menolak untuk menempuh jalur pendidikan yang lebih tinggi.

Untuk tercapainya pendidikan yang setinggi mungkin bagi anak memang diperlukan tiga hal yaitu (a) motivasi orang tua yang terus menerus sejak dini pada anak akan pentingnya pendidikan; (b) dukungan penuh dari orang tua; dan (c) lingkungan luar rumah yang kondusif baik di sekolah maupun teman bergaul.

Teman bergaul (peers) anak akan sangat memengaruhi aspirasi anak ke depan karena pada usia remaja anak lebih suka mendengar nasihat atau lebih suka meniru perilaku temannya dari pada orang tua mereka.  Oleh karena itu mencari lingkungan pergaulan dan lingkungan sekolah yang baik itu sangat penting. Salah satu tempat terbaik untuk pendidikan anak di usia remaja (SLTP SLTA) adalah pondok pesantren karena beberapa faktor:

Pertama, pendidikan pesantren menyediakan pendidikan formal tingkat SLTP dan SLTA dengan jurusan yang sesuai dengan bakat siswa. Sehingga siswa dapat melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai dengan bakat dan cita-citanya. Perlu diketahui, bahwa sistem pendidikan formal yang tersedia di pesantren berbeda-beda, karena itu pastikan putra Anda dididik di pesantren yang memiliki pendidikan formal sesuai keinginan.

Kedua, pendidikan agama. Hampir semua pesantren mengajarkan pendidikan agama setidaknya pelajaran membaca Al-Quran dan ilmu fiqih dasar. Dapat membaca Al-Quran dan memahami ilmu syariah dasar adalah wajib bagi setiap muslim. Dengan mengirimkan anak ke pesantren, maka orang tua terbebas dari kewajiban memberi pendidikan agama. Sebaliknya, orang tua berdosa apabila membiarkan anak tidak memahami ilmu agama dasar.

Ketiga,  pendidikan akhlak. Akhlak atau budi pekerti dipelajari di pesantren secara intensif setiap hari. Baik secara teori maupun praktek.  Yakni dalam interaksi keseharian santri bersama para santri yang lain. Suatu hal yang tidak akan didapatkan dalam pendidikan luar pesantren.

Keempat, pendidikan bahasa asing dan kitab kuning. Pada sebagian pesantren bahasa asing seperti bahasa Arab dan Inggris dipelajari secara intensif. Begitu juga kemampuan memahami literatur klasik atau kitab kuning yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu agama tingkat advanced.

Kelima, pada sebagian pesantren life skill atau keterampilan praktis juga dipelajari yang memungkinan seorang anak memiliki kemampuan lebih untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Dari sejumlah faktor positif yang disebut di atas, maka mengirimkan anak ke pesantren adalah cara terbaik untuk pendidikan anak pada usia remaja pada level pendidikan SLTP dan SLTA. Suatu kesalahan besar apabila orang tua menitipkan anaknya ke pesantren setelah ada kasus kenakalan remaja itu hanya menunjukkan bahwa orang tua memang tidak punya keinginan melihat anaknya berhasil dan memiliki kepribadian agamis.[]


Rumah Tangga Agamis (5): Cinta Ibadah
Oleh A. Fath Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri Madin Al-Khoirot

Ada empat kriteria penting yang sudah dibahas tentang sebuah keluarga agamis yaitu (a) taat syariah; (b) memahami ilmu agama dasar; (c) prioritas pendidikan anak dan (d) berakhlak mulia. Satu lagi yang tak kalah penting adalah keluarga agamis juga harus cinta ibadah. Artinya, rajin melakukan ibadah mahdah (murni) yang sunnah. Diharapkan dengan itu tidak hanya akan semakin mendekatkan dirinya dengan Allah, dan menjauhkan diri dari perilaku munkar tapi juga untuk menguatkan hati dan mental (QS QS Al-Haj 22:11) saat dalam keadaan diuji oleh Allah baik berupa ujian anugerah seperti kekayaan dan kesehatan maupun oleh kesengsaraan duniawi seperti kemiskinan dan musibah lain (QS Al-Anbiya 21:35).

Ibadah mahdah yang dimaksud di sini adalah ibadah yang sunnah, karena ibadah fardhu sudah menjadi kewajiban seluruh individu muslim. Sebuah keluarga yang agamis atau ingin menjadi agamis hendaknya membiasakan diri untuk melaksanakan ibadah-ibadah nawafil (sunnah) dalam kehidupan sehari-hari yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Ibadah sunnah dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu ibadah shalat, dzikir dan doa, dan ibadah puasa.

Pertama, ibadah shalat sunnah. Shalat sunnah adalah ibadah yang paling disukai Rasulullah. Beliau selalu melaksanakannya setiap hari siang dan malam. Mulai dari shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu, shalat Dhuha, shalat Witir setelah Isya dan shalat tahajud pada sepertiga akhir malam.

Kedua, ibadah dzikir dan doa. Berdzikir dan berdoa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah. Seorang muslim dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa minimal setelah selesai shalat. Baik setelah shalat sunnah maupun shalat fardhu. Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar membahas secara detail bacaan dzikir dan doa yang sebaiknya dibaca pada momen-momen tertentu. Baik setiap hari atau secara berkala saat ada kejadian khusus.

Dalam Al-Quran QS Al-Baqarah 2:152 Allah berfirman “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Ayat ini dengan terang mengingatkan kita agar rajin berdzikir dan bersyukur agar diingat dan disayang oleh Allah. Dalam QS Al-Ahzab 33:35 Allah menjanjikan pengampunan dan pahala besar bagi orang yang suka berdzikir. Dzikir juga menjadi kebiasaan para malaikat seperti tersebut dalam QS Al-Anbiya 21:20 di mana Allah mengisahkan tentang para malaikat yang “selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.”

Menurut Imam Nawawi dzikir dapat dilakukan dengan lisan atau dalam hati. Namun yang ideal dilakukan secara bersamaan antara lisan dan hati. Dalam makna yang lebih luas, dzikir tidak hanya terbatas pada wiridan dengan menyebut nama Allah, ia juga mencakup pada seluruh perilaku taat syariah adalah termasuk dalam kategori dzikir, demikian menurut Said bin Jubair dan sejumlah ulama lain. Bahkan Atha’ mengatakan bahwa “majelis dzikir itu adalah majelis halal dan haram bagaimana Anda melakukan jual beli, shalat, puasa, haji, menikah, dan lain-lain“ Dalam pemahaman ini berarti seluruh perilaku yang sesuai dengan syariah disebut dengan dzikir.

Ketiga, ibadah puasa sunnah. Ada dua macam puasa sunnah, pertama, puasa mutlak yaitu puasa sunnah yang tidak terikat dengan hari tertentu. Puasa mutlak sunnah dilakukan kapan saja selain hari-hari yang dilarang untuk puasa seperti hari Raya dan hari Tasyrik. Kedua, puasa sunnah muqayyad yaitu puasa sunnah yang terikat dengan hari tertentu seperti puasa Senin Kamis, puasa hari Asyura pada hari kesepuluh bulan Muharram; puasa Arafah pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah, puasa Syawal 6 hari setelah Idul Fitri, dan lain-lain.

Tahap awal agar cinta ibadah adalah menyukai dan ada keinginan untuk mengamalkannya. Tahap kedua adalah mengamalkannya walaupun sekali seumur hidup. Yang ideal adalah melakukannya secara istiqamah walaupun sedikit. Dari semua ibadah sunnah di atas, setidaknya kita dapat melakukan shalat tahajud secara rutin seperti yang dilakukan Rasulullah.[]


Rumah Tangga Agamis (6): Suka Beramal
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTS & MA Al-Khoirot

Yang dimaksud dengan beramal adalah mengeluarkan harta di luar zakat. Baik itu berupa sedekah atau hibah. Hikmah beramal dengan harta adalah untuk menunjukkan kepedulian pada sesama yang secara ekonomi kurang mampu dan membutuhkan uluran tangan kalangan berada. Adanya perilaku ini, yakni kepedulian yang kaya pada yang miskin, akan menciptakan suatu harmoni dalam msyarakat dan menghilangkan rasa iri, dengki dan saling menjatuhkan. Pada akhirnya akan terjadi suasana kondusif di mana setiap individu dalam masyarakat akan saling memiliki kepedulian menjalin kekuatan dan soliditas umat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Karena pentingnya beramal, maka Allah dan Rasulnya sangat mendorong dan memuji mereka yang dengan ikhlas melakukannya. Misalnya, dalam QS At-Taghabun 64:16 Allah menyebut orang yang berinfak sebagai orang yang beruntung; sebagai orang yang benar (shadiqun) QS Al-Hujurat 49:15. akan menjadi orang yang bahagia (QS Al-Baqarah 2:262).

Dalam kitab Sahih At-Targhib dinyatakan bahwa sedekah memiliki banyak manfaat bagi pelakunya antara lain, pertama, sedekah dapat memadamkan murka Allah seperti disebut dalam hadits Nabi: “Sedekah secara siri dapat memadamkan murka Allah.”

Kedua, sedekah menghapus kesalahan. Seperti disebut dalam hadits, “Sedekah dapat menghapus kesalahan sebagaimana air mematikan api.”

Ketiga, sedekah dapat menyelamatkan diri dari api neraka. Nabi bersabda, “Takutlah pada api neraka, walaupun hanya dengan sedekah sebiji kurma.”

Keempat, sedekah akan menjadi tempat berlindung yang akan menolongnya pada hari kiamat. Nabi bersabda, “Ada tujuh orang yang akan mendapat perlindungan pada hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang bersedekah dan merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya.”

Kelima, dapat mengobati penyakit fisik. Nabi bersabda: “Obatilah orang yang sakit dengan sedekah.”

Keenam, obat penyakit hati. Sedekah dapat mengobati keras hati yang sulit menerima nasihat dan kebenaran. Nabi bersabda pada seseorang yang mengeluh kekerasan hatinya demikian, “Apabila kamu hendak melunakkan hatimua berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”

Ketujuh, penolak bala. Sedekah dapat menolak berbagai macam musibah sebagaimana wasiat dari Nabi Yahya pada Bani Israil.

Adapun sedekah yang paling utama dilakukan adalah dalam beberapa kondisi sebagai berikut: (a) Dilakukan secara rahasia; (b) sedekah dalam keadaan masih hidup dan sehat lebih utama daripada berwasiat sedekah setelah meninggal; (c) sedekah dilakukan setelah melakukan hal yang wajib (QS Al-Baqarah 2:219); (d) sedekah pada anak. Memberi nafkah pada keluarga dengan diniati sedekah akan mendapat pahala; (e) sedekah pada kerabat atau keluarga dekat; (f) sedekah pada tetangga dekat seperti tersebut dalam QS An-Nisa 4:36.

Yang tak kalah penting lagi adalah sadaqah jariyah yaitu infaq yang tetap ada dan terus berlanjut sampai ia meninggal dunia. Sebagaimana sabda Nabi yang terkenal: “Apabila seseorang meninggal, maka putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakannya.” Dari hadits ini pula maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa beramal jariyah tidak harus dilakukan dengan menafkahkan harta saja, tapi juga dengan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada sebanyak mungkin orang. Artinya, bagi yang secara ekonomi tidak mampu, ada jalan lain yang sama derajatnya dengan sedekah yaitu infaq dengan ilmu.

Kebiasaan suka beramal bermula dari niat yang harus ditanamkan pada seluruh keluarga untuk selalu peduli pada sesama. Niat itu kemudian dilanjutkan dengan penerapan pola hidup sederhana dan tidak konsumtif karena akan sulit beramal bagi orang yang bergaya hidup mewah dan berlebihan.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply