Perlunya Kompromi dalam Rumah Tangga

Solusi Konflik (4): Perlunya Kompromi. Kompromi adalah sikap jalan tengah antara kalah dan menang dalam suatu perbedaan. Tidak ada orang yang mau kalah. Semua orang ingin menang, dan menang total dan telak. Tapi, untuk menang harus ada yang kalah. Siapa yang mau kalah kalau masing-masing pihak ingin menang? Solusinya: masing-masing harus mau kalah untuk mencapai kemenangan. Itulah kompromi.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Madrasah Diniyah Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Solusi Konflik (3): Sabar dan Marah yang Islami
  2. Solusi Konflik (4): Perlunya Kompromi
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Solusi Konflik (4): Perlunya Kompromi

Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga dan cara jitu menghindari konflik adalah kedua belah pihak harus melakukan kompromi. Apa itu kompromi? Kata ini berasal dari bahasa Inggris compromise yang menurut kamus Merriam-Webster memiliki beberapa makna seperti (a)  penyelesaian perbedaan dengan cara arbitrasi atau konsesi bersama; (b) dua pihak saling menyesuaikan diri dengan cara saling mengalah; (c)  mencapai kesepakatan dengan cara saling mengalah (mutual concession).

Setiap manusia memiliki sifat ego yang tampil pada diri seseorang dalam bentuk persepsi tentang diri sendiri yang merasa lebih baik, lebih pintar, lebih benar dari orang lain.  Pada gilirannya, dia akan menganggap orang lain lebih bodoh, lebih salah dan lebih buruk dibanding dirinya. Kalau perasaan ini dibiarkan lepas begitu saja tanpa ada kontrol diri yang sehat, tepat dan bijaksana, maka dia akan menolak segala bentuk kritik kepadanya karena dia merasa selalu benar. Dan akan marah ketika ada yang menyalahkannya karena dia merasa orang lain yang salah.

Kalau sikap ini dimiliki oleh pasangan suami istri, maka mereka akan menjadi pasangan yang lebih sering bertengkar daripada berdamai. Lebih banyak saling benci daripada saling sayang.  Dan jalan keluar satu-satunya adalah dengan melakukan kompromi.

Sikap kompromistis dapat dilakukan dengan mengubah pola pikir antara lain (a) dengan membalik persepsi asal manusia atas dirinya sendiri dan orang lain. Yakni, dengan cara menganggap bahwa diri sendiri mungkin saja benar tapi orang lain belum tentu salah; (b) dengan mengontrol keinginan diri untuk menyalahkan orang lain dan lebih menekankan pada introspeksi diri. Siapa tahu masalah itu timbul karena akibat sikap diri baik langsung atau tidak. Kalau setiap pasangan suami-istri saling menyalahkan dirinya masing-masing, bukan menyalahkan pasangannya, maka setiap konflik akan berakhir dengan damai atau bahkan tidak akan ada konflik.

Dua pola pikir di atas dalam impementasi keseharian antara suami dan istri dapat dijabarkan sebagai berikut, pertama, dengarkan argumen suami atau istri anda. Setelah menyatakan pendapat Anda tentang suatu hal yang diperselishkan, maka Anda harus memberi kesempatan yang sama pada pasangan untuk memberi respon. Biarkan dia berbicara tanpa diinterupsi atau dipotong di tengah jalan. Dan biarkan dialog berjalan tanpa saling menyalahkan orang lain atau membenarkan diri sendiri. Dan diamlah saat tidak bisa melakukan itu.

Kedua, letakkan diri Anda dalam posisi pasangan Anda. Memahami pasangan secara penuh adalah sulit, khususnya ketika keinginan Anda berbeda dengannya. Itulah sebabnya mengapa bersikap empati itu penting. Sikap empati adalah sikap yang berusaha memahami orang lain.

Ketiga, bersikap fair dan adil. Walaupun dalam Al Quran disebutkan bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah tangga (QS An-Nisa’ 3:34), namun itu bukan berarti dia boleh seenaknya memimpin secara otoriter tanpa mempertimbangkan suara dan perasaan dari istri. Begitu juga sebaliknya, walaupun istri adalah ibu bagi anak-anak yang mendapat posisi sangat mulia dalam Islam tiga kali lipat dibanding ayah, tapi itu hendaknya tidak dijadikan alat untuk melawan suami.

Sikap adil dalam kehidupan rumah tangga bermakna bahwa suami istri harus rela mengorbankan separuh kemauannya dan membiarkan masing-masing pasangannya “memenangkan” pertandingan. Win-win solutin atau solusi sama-sama menang artinya keduanya sama-sama mengalami separuh kekalahan. Tidak apa-apa. Itulah konsekuensi hidup berumah tangga sebagaimana konsekuensi hidup dalam pergaulan yang lebih luas. Jangan cari menang sendiri tapi juga jangan mau untuk selalu jadi pecundang yang selalu berada di pihak yang kalah. Karena, kehidupan… []


Solusi Konflik (3): Sabar dan Marah yang Islami
Oleh: A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri Malang

Saat sedang marah, betapa inginnya kita menyalahkan semua orang. Terutama orang-orang terdekat di sekitar kita. Dalam konteks rumah tangga, suami atau istri akan menjadi sasaran utama kemarahan pasangannya. Dalam kondisi seperti itu, maka biasanya kontrol diri berkurang sehingga sangat besar kemungkinan dia akan mengeluarkan perilaku dan kata-kata kurang baik yang selama ini tersimpan rapi di alam bawah sadarnya. Dalam konteks inilah antara lain relevansi dari pesan Nabi, “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim). Ibnu Mas’ud, salah seorang Sahabat Nabi, mengatakan: فقل خيرا تغنم، واسكت عن شر تسلم (Katakan yang baik maka kamu akan beruntung dan diamlah dari perkataan buruk, maka kamu akan selamat).

Apakah banyak bicara itu dilarang dalam Islam? Tentu saja tidak. Bahkan berbicara banyak itu diperlukan asal pada waktu dan saat yang tepat. Begitu juga diam itu diperlukan pada momen yang sesuai seperti pada saat seseorang ingin marah, apapun penyebab kemarahannya. Banyak bicara pada saat hati sedang galau dan dilanda emosi akan menyebabkan banyak hal yang negatif keluar dari mulut kita. Menurut Imam Ghazali setidaknya ada 20 keburukan yang ditimbulkan dari perkataan seseorang saat gundah seperti bohong, menghina, menyalahkan, mencaci-maki, dan lain-lain.

Kalau dalam kehidupan sehari-hari yang normal kita diperintahkan untuk menjaga perkataan, maka perintah untuk menjaga lisan dari perkataan yang buruk saat sedang emosi justru lebih penting dan mendesak diamalkan terutama antara pasangan suami istri. Ibnu Rojab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hukm menyatakan: “Banyak kata-kata haram dapat dengan mudah meluncur dari mulut suami yang marah seperti tuduhan zina dan cacian, dan bahkan bisa mengarah pada kekufuran.”

Marah yang Dibolehkan

Namun demikian, tidak semua marah itu dilarang dalam Islam. Kemarahan itu dilarang apabila menyangkut masalah pribadi. Misalnya, suami disakiti istri atau sebaliknya atau juragan kesal melihat pekerja yang malas, dan sebagainya. Namun apabila terkait dengan pelanggaran agama yang dilakukan oleh pasangan atau anak kita, maka Islam membolehkan bahkan mewajibkan seorang muslim untuk marah dan bertindak tegas (QS At Taubat 9:14-15). Inilah salah satu sifat dan sikap Rasulullah. Beliau tidak pernah menunjukkan sikap marah karena persoalan pribadi baik kepada istri-istrinya maupun pada pembantunya atau siapapun. Akan tetapi apabila hukum Allah dilanggar, maka Nabi tidak ragu menujukkan sikap yang tegas.

Sahabat Anas pernah menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun. Menurut penuturannya, tidak pernah sekalipun Rasulullah mengekspresikan rasa kesal atau berkata padanya yang bernada menyalahkan seperti kata “Ah!” atau “Mengapa kamu lakukan ini?” atau “Mengapa kamu tak melakukan itu?” dan semacamnya. Dalam sebuah riwayat hadits diceritakan bahwa apabila ada salah satu istri Nabi yang kesal pada beliau, maka Nabi meninggalkannya tanpa berkata apapun. Sehingga tidak pernah terdengan ada cekcok antara Nabi dan istri-istri beliau.

Aisyah, istri Nabi, pernah ditanya tentang akhlak Nabi dalam berrumah tangga. Aisyah menjawab, akhlak Nabi adalah Al-Quran. Menurut Ibnu Rajab, dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hukm, maksudnya adalah Al-Quran sebagai standar utama dalam bersikap pada keluarganya. Nabi senang, ridho dan memuji mereka apabila mereka bersikap sesuai Quran. Dan marah apabila ada sikap keluarganya yang bertentangan atau kurang sesuai dengan spirit ajaran Al-Quran.

Batasan ini penting agar seorang muslim tidak bersikap ekstrim dalam menunjukkan sikap sabar atau marahnya.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • Clear, inmrfoative, simple. Could I send you some e-hugs?

    VijayNovember 10, 2015

Leave a Reply