Peran Sosial Santri

PERAN SOSIAL SANTRI Sebagai ummat Nabi Muhammad SAW kita selayaknya meniru apa yang beliau perankan dengan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Peran ini akan dapat kita mainkan dengan senantiasa menjadikan diri kita sebagai sesuatu yang baik dan menguntungkan bagi lingkungan di mana kita berada
Oleh : Ja’far Sodiq Syuhud
Dewan Pengasuh PP Alkhoirot Malang

Pendahuluan
Pondok Pesantren adalah merupakan sistem pendidikan khas yang mempunyai tujuan untuk membentuk seorang Mukmin Muslim yang senantiasa taat dalam melaksanakan perintah agama serta menguasai ilmu tentang tata cara dalam melaksanakan perintah agama tersebut. Hal ini adalah sebagai perwujudan dalam upaya menyempurnakan fitrah manusia sebagai hamba Allah SWT di bumiNYA.

Pondok Pesantren juga berusaha untuk mencetak para peserta didiknya menjadi insan yang mandiri, yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat dan kelompoknya, dimanapun dia berada, dan disektor apapun dia berkarya dan bekerja. Hal ini juga berkaitan dengan tugasnya sebagai pelaksana dan pencipta kemakmuran di Bumi Allah, yang senantiasa membuat kebaikan dan kemanfaatan bagi ummat dan lingkungan disekitarnya.
Missi lain Pondok Pesantren adalah membentuk manusia yang mampu berbuat kebajikan untuk tujuan amar makruf dan nahi munkar. Sosok yang diharapkan adalah sosok figur yang peka terhadap apa yang terjadi di masyarakat, serta mempunyai kemampuan dan kemauan untuk merubah hal yang tidak baik di masyarakat yang bersangkutan, sehingga tercipta keadilan, keamanan dan ketertiban di masyarakatnya.

Pendidikan Integral Pesantren
Pondok Pesantren adalah merupakan sistem pendidikan yang mempunyai ciri khas tersendiri. Pondok Pesantren menerapkan sistem pendidikan yang integral yang memadukan antara pendidikan dan pengajaran. Hal ini berkenaan dengan pendidikan agama yang merupakan ciri khas Pondok Pesantren. Berbeda dengan pendidikan lain, pendidikan agama membutuhkan suatu proses yang holistik yang tidak hanya mengutamakan transfer pengetahuan, tapi lebih dari itu juga menanamkan nilai-nilai agama tersebut dalam perilaku sehari-hari, sehingga santri yang bersangkutan bisa membiasakan diri dalam kehidupan yang bernuansa keagamaan yang kental.

Bersamaan dengan sifat ilmu agama yang kompleks maka juga dibutuhkan suatu proses yang panjang yang melibatkan interaksi yang sangat inten antara santri sebagai orang yang menginginkan pendidikan agama yang paripurna, dengan Kyai dan ustads sebagai orang yang dipercayai santri sebagai orang yang mampu mengantarkannya bertransformasi ke dalam suatu identitas baru yang diidamkan.

Sifat proses yang panjang dan intens ini membutuhkan suatu hubungan yang bersifat khusus antara Kyai/Ustad dan santri. Sifat khusus ini adalah berupa kepatuhan yang hampir tanpa reserve dari seorang santri terhadap apa yang telah digariskan Kyai, khususnya dalam masalah-masalah keagamaan. Hal ini dengan didasari keyakinan bahwa segala apa yang digariskan Kyai (baik secara langsung atau tidak) adalah semata-mata untuk kebaikan santri yang bersangkutan, baik dalam kaitannya dengan proses pendidikan agama maupun dalam kaitannya dengan kesempurnaan identitasnya menuju manusia yang paripurna.

Hubungan antara Kyai dan santri tidak hanya sebatas pada hubungan fisikal saja, tapi lebih daripada itu hubungan ini diwarnai oleh hubungan batin yang mendalam antara Kyai dan santri. Dalam tradisi Pondok Pesantren dikenal konsep barokah, yaitu suatu kebahagiaan dan kenikmatan ruhaniah yang merupakan anugerah dari Allah berupa suatu nilai tambah dari apa yang telah diperolehnya di Pondok Pesantren. Hal ini bisa berupa kehidupan yang bahagia, rezeki yang lancar, ilmu yang manfaat dan kemampuan berperan di masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Barakah datangnya dari Allah SWT. yang disebabkan oleh kepatuhan dan giatnya seorang santri selama di Pondok Pesantren dalam mengikuti seluruh proses pendidikan dan ketaatannya dalam mengikuti petunjuk dan aturan dari Kyainya

Peran Sosial Santri
Peran sosial adalah peran yang dimainkan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Peran ini adalah merupakan tuntutan dari masyarakat terhadap individu untuk memberikan sumbangan sosial dari anggotanya dalam rangka menjaga keutuhan sosial dan meningkatkan kebaikan dalam masyarakat tersebut.

Peran sosial bisa berupa aktivitas individu dalam masyarakat dengan cara mengambil bagian dalam kegiatan yang ada di masyarakat dalam berbagai sektor, baik sosial, politik, ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Pengambilan peran ini tergantung pada tuntutan masyarakat dan atau pada kemampuan individu bersangkutan serta kepekaannya dalam melihat keadaan masyarakatnya.

Pendiri dan Pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid Almarhum KH. Zaini Mun’im telah menggariskan beberapa hal mendasar yang harus dipunyai seorang santri dalam proses pendidikannya, dan selanjutnya diharapkan menjadi bekal yang berguna dalam kehidupan santri yang bersangkutan kelak di masyarakat. Dari rumusan KH. Zaini Mun’im ini kita dapat melihat sektor-sektor yang akan dapat menjadi arena pengabdian seorang santri di masyarakat. Kemampuan dasar ini diharapkan akan menjadi lengkap dalam rentang masa pendidikan seorang santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Hal mendasar tersebut disebut dengan Panca Kesadaran (الوعيات الخمس), yaitu :
1. Kesadaran Beragama (الوعي الديني)
2. Kesadaran Ilmiah (الوعي العلمي)
3. Kesadaran Bernegara dan Berbangsa (الوعي الحكومي والشعبي)
4. Kesadaran Bermasyarakat (الوعي الإجتماعي)
5. Kesadaran Berorganisasi (الوعي النظامي)

Panca Kesadaran ini adalah merupakan dasar dari seluruh proses belajar di Pondok Pesantren dan sekaligus merupakan tujuan dari seluruh proses tersebut. Panca Kesadaran ini meliputi seluruh aspek kehidupan dari seorang manusia, baik dalam dimensi vertikal dalam hubungan manusia dengan Sang Penciptanya, maupun dalam dimensi horizontal dalam hubungan antar sesama manusia serta lingkungannya.
Dalam aplikasinya Panca Kesadaran ini diharapkan mengejawantah dalam suatu sosok pribadi Muslim Mukmin yang bertakwa kepada Allah SWT., intelek, mandiri, peduli terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat, mampu memperbaiki keadaan dalam kerangka amar ma’ruf nahi mungkar dan mempunyai semangat perjuangan yang tinggi.

Apabila diurai ke dalam peran sosial di masyarakat maka panca kesadaran ini dapat dirinci ke dalam beberapa aksi sebagai berikut : pertama, kesadaran beragama adalah kesadaran seorang individu bahwa dirinya adalah merupakan hamba Allah yang berkewajiban menyembah dan mengagungkanNYA dalam ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Seorang santri senantiasa tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah dengan cara melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNYA.
Kedua, kesadaran ilmiah berarti seorang santri harus senantiasa memelihara semangat keilmiahan dengan senantiasa belajar dan menambah ilmu dengan berbagai cara dalam setiap kesempatan dan di berbagai tempat. Masa belajar seorang santri tidak berahir hanya karena dia telah keluar dari pesantren dan pulang ke masyarakat, tapi masa belajar tersebut terus berlangsung sepanjang hidupnya. Sedang ilmu yang dipelajari bisa berupa ilmu yang terdapat di kitab dan buku, bisa juga berupa ilmu kauniyah yang bisa dipetik dari keadaan sekelilingnya.

Ketiga, kesadaran berbangsa dan bernegara membuat seorang santri harus mengambil peran dalam percaturan politik dan kemasyarakatan. Seorang santri tidak boleh acuh dan tidak ambil peduli dengan perkembangan yang terjadi di masyarakatnya, tapi harus berusaha mengambil peran dengan cara yang sebaik-baiknya dan dengan mendahulukan akhlakul karimah. Pengambilan peran dalam kancah politik di masyarakat tidak berarti harus aktif dalam partai politik, tapi bisa berupa peran politik kelas tinggi dalam rangka membela kepentingan masyarakat dan menegakkan agama Allah.

Keempat, kesadaran bermasyarakat mendorong seorang santri aktif dalam masyarakatnya dalam bidang-bidang yang luas dengan tujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Sosok ideal seorang santri adalah seorang pengembang dan pembangun masyarakat (society developer) yang mampu membawa perubahan positif pada masyarakatnya.

Kelima, kesadaran berorganisasi adalah kesadaran yang didasarkan pada pemikiran bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan mencukupi seluruh kebutuhannya sendiri. Manusia harus mengorganisasikan dirinya bersama orang lain untuk mencapai suatu tujuan yang diidamkan, baik tujuan ukhrawi maupun tujuan duniawi. Kelemahan utama ummat Islam yang membuatnya terpuruk adalah kelemahan dalam mengorganisasi diri mereka sendiri dalam meraih apa yang menjadi idaman bersama. Ummat Islam sering telah merasa cukup hanya dengan niat yang baik dan ihlas, dan kemudian melupakan pengorganisasian dan manajemen yang memadai. Kelemahan ini lebih tampak lagi dalam masyarakat pesantren dan yang berlatar belakang pesantren.

Untuk mencapai kondisi ideal seorang santri seperti disebutkan di atas dibutuhkan suatu upaya tak kenal lelah dari masing-masing individu sehingga bisa di hasilkan suatu seorang santri yang bisa menjawab tantangan yang mungkin muncul di masarakatnya. Usaha ini sebenarnya dapat di lakukan dengan mudah dalam sistem pendidikan pesantren yang integral. Karena sebenarnya kehidupan pesantren memang ditujukan untuk mendidik santri yang bisa menjawab segala tantangan di masyarakatnya.
Dalam rangka memainkan peran dalam masyarakat seorang santri tidak harus menjadi pemimpin atau merasa tidak bisa memainkan peran apabila tidak menjadi pemimpin. Peran sosial bisa dilakukan dalam posisi manapun seorang santri berada. Apabila keadaanya memang mengharuskan untuk berada di belakang maka dia harus bisa menerima kepemimpinan orang lain, akan tetapi apabila keadaannya mengharuskannya menjadi pemimpin maka dia harus berani mengambil posisi kepemimpinan dan memandangnya sebagai tugas dari Allah serta memainkan perannya sebagai khalifah Allah di bumiNYA.

Penutup

Kita bisa belajar dari pepatah jawa yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karyo, tut wuri handayani. Sebagai ummat Nabi Muhammad SAW kita selayaknya meniru apa yang beliau perankan dengan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Peran ini akan dapat kita mainkan dengan senantiasa menjadikan diri kita sebagai sesuatu yang baik dan menguntungkan bagi lingkungan di mana kita berada, bukan malah menjadi masalah dan kesulitan bagi lingkungan tersebut.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply