Pendidikan Islam Anak Usia 10 Tahun

Cara memberikan pendidikan Islam pada anak usia 10 tahun, 11 tahun dan 12 tahun. Dalam usia ini anak sudah semakin tampak “dewasa” dan pergaulan tambah luas. Kalau orang tua tidak konsisten dalam penegakan disiplin apalagi orang tua tidak memberi teladan yang baik, maka anak akan cenderung untuk lebih dekat pada peer group atau gengnya. Ini sangat berbahaya karena cenderung negatif. Teladan dan konsistensi orang tua akan menentukan sukses gagalnya pendidikan anak baik. Dalam usia ini anak harus shalat wajib lima wkatu dan harus mendapat sanksi apabla meninggalkannya.
Oleh: A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SISWA MTS & MA
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jatim

Daftar Isi

  1. Pendidikan Islam Anak Usia 10 Tahun
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 11 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 12 Tahun


Pendidikan Islam Anak Usia 10 Tahun

Usia 10 tahun merupakan usia yang stabil, baik secara psikologis, intelektual dan sosial. Mereka periang, mudah bergaul dan tenang. Anak usia ini tahu bagaimana cara menikmati hal sederhana semaksimal mungkin.

Namun berbeda dengan saat usia 9 tahun yang ingin menjadi lebih baik berdasar hati nurani, anak usia 10 tahun melihat agama dan moralitas sebagai hal yang harus berdasar fakta. Ia tidak terlalu peduli dengan nuraninya atau ajaran moral agama yang diajarkan guru dan orang tua kalau tidak diimbangi dengan fakta.

Lalu bagaimana cara mengajarkan akhlak secara faktual? Kata-kata nasihat tentu harus terus disampaikan. Namun, suri tauladan yang baik dari orang tua, guru dan lingkungan hendaknya menjadi prioritas. Karena anak usia ini lebih melihat apa yang dilakukan, daripada apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya.

Dalam penanaman doktrin agama, khususnya keesaan dan keberadaan Allah sebagai Maha Pencipta, orang tua dapat merujuk pada Al Quran Surah Ali Imran 3:190 sebagai rujukan cara pembelajaran. Yakni, dengan menjadikan keberadaan alam semesta, termasuk umat manusia itu sendiri, adanya perubahan siang dan malam, sebagai bukti keberadaan dan ke-esaan-Nya. Pada waktu yang sama, shalat lima waktu sudah harus menjadi rutinitas keseharian seperti perintah Nabi Muhammad bahwa anak usia 10 tahun harus dikenai sanksi apabila tidak melakukan shalat lima waktu.

Nilai-nilai moral universal seperti kepedulian sosial dan kedermawanan, kejujuran dan anti-korupsi, kesederhanaan dan kerja keras, dan lain-lain dapat ditanamkan dengan memberikan contoh nyata dari kejadian dan fakta kehidupan sehari-hari.

Anak usia 10 tahun juga suka menulis, membaca dan memakai buku referensi. Beri dia kesempatan untuk melakukan hal-hal positif ini, dengan tidak terlalu membebani. Bagi orang tua, kesukaan menulis dan membaca dapat dibuat kesempatan untuk memberikan bacaan yang diinginkan sesuai dengan harapan orang tua. Termasuk bacaan buku-buku Islam sebagai upaya penanaman nilai-nilai spiritual sejak dini.

Disiplin

Apabila anak usia 10 tahun melakukan pelanggaran, maka penanaman disiplin terbaik adalah dialog dan perencanaan. Ajak dia berdiskusi, karena ia butuh diajari cara mengekspresikan perasaan dan pikirannya untuk mengatasi konflik internal dan eksternal. Karena apabila orang tua bersikap tertutup sehingga anak berfikir bahwa adalah tidak baik mendiskusikan hal yang mengganggunya, maka ia akan mengatasi persoalannya dengan fantasi dan pikirannya sendiri. Dan ini berbahaya. Karena ia belum memiliki kedewasaan internal yang terstruktur untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Ia butuh mencurahkan problemanya pada orang tua dan guru untuk mengatasi masalahnya secara riil.

Perencanaan perlu dilakukan karena anak usia 10 tahun sudah membentuk kemampuan berencana. Dan pendekatan disiplin yang paling efektif hendaknya fokus pada rencana dan ekspektasi yang tegas, jelas dan konkret pada anak untuk berperilaku baik. Dalam hal ini, orang tua harus tetap hangat tapi juga tegas dan konsisten.[]


Pendidikan Islam untuk Anak Usia 11 Tahun
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
Pondok Pesantren Alkhoirot Putri

Apabila masuk SD pada usia 6 tahun, maka berarti ia sekarang berada di kelas 5. Itu artinya, sudah relatif banyak pengalaman kehidupan yang sudah dilewati. Dan tentunya semakin bertambah kecakapan, baik dari segi sosial dan emosional maupun intelektual. Pada usia ini, anak lelaki mulai memasuki masa puber yang disebut juga dengan pra-remaja (pre-teen). Istilah ini walaupun tidak dikenal dalam Islam, tapi perlu juga dipakai sebagai identifikasi bagi orang tua.

Secara sosial dan emosional anak usia 11 tahun agak membutuhkan ketelatenan. Ia mudah kuatir, takut, suka menunjukkan kemarahan secara fisik, dan suka keluyuran. Namun ada juga sisi positifnya, seperti suka menolong dan berperilaku baik.

Secara intelektual, ia mampu menggunakan logikanya dalam berargumen dan mengaplikasikan logika tersebut dalam situasi yang konkret. Kemampuan dalam mengambil keputusan dan kecakapan menulis, dan berbicara juga meningkat.

Yang lebih menggembirakan, sikap dewasa mulai tampak. Ia mulai sadar bahwa orang lain dapat memiliki pendapat yang berbeda dengan dirinya. Orang tua tentu patut menjadikan hal ini sebagai momentum untuk menanamkan pentingnya toleransi, kebersamaan dan penyelesaian segala perbedaan dengan dialog, bukan dengan kekerasan. Dan bahwa keragaman adalah rahmat, bukan musibah (QS Al Hujurat 49:13), karena itu memungkinkan kita untuk saling belajar dan berkompetisi menjadi yang terbaik (QS Al Maidah 5:48).

Disiplin

Tidak ada pendidikan yang dapat sukses tanpa adanya disiplin: reward and consequences (penghargaan dan sangsi). Mendisiplinkan anak usia ini, apalagi yang keras kepala, akan sedikit meyulitkan orang tua. Yang terpenting, jangan putus asa. Dan yang tak kalah penting, konsisten dengan peraturan yang dibuat dan sangsi yang diberlakukan. Jangan lupakan juga dialog yang baik dengan anak. Berikut beberapa langkah untuk memudahkan proses pendisiplinan anak.

Pertama, buat aturan yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Yang baik dan tidak baik. Plus cantumkan juga sangsi atas pelanggaran yang dilakukan. Tanpa itu mana mungkin anak tahu perbuatan yang melanggar dan tidak.

Kedua, tulis aturan-aturan tersebut di kertas karton. Kalau perlu minta si anak yang menulis. Tempel di dinding rumah di posisi yang paling menyolok. Saat anak melanggar salah satu aturan, bawa anak ke depan tulisan dan ingatkan aturan mana yang dilanggar.

Ketiga, buat sangsi yang logis dan masuk akal. Aturan jarang diikuti kalau tanpa sangsi. Buat sangsi yang relevan dan mendidik. Sangsi hendaknya berbeda-beda sesuai pelanggaran. Contohnya, apabila anak tidak hormat pada yang lebih tua, hukumannya berupa menulis surat permohonan maaf pada yang bersangkutan. Apabila tidak salat fardhu, harus mengulangi salat plus shalat sunnah, dan seterusnya. Usahakan sangsinya tidak terlalu keras sehingga mudah diberlakukan..

Keempat, konsisten. Orang tua harus konsisten memperhatikan dan memberlakukan peraturan dan sangsi yang dibuat. Tanpa itu, aturan dan pembuat aturan, yakni orang tua, tidak akan mendapat respek dari anak. Apalagi anak usia pra-remaja cenderung membuat pelanggaran.

Kelima, jangan marah pada pelanggaran yang dilakukan anak. Setidaknya jangan menampakkan kemarahan. Anak akan cenderung senang membuat orang tua marah. Karena itu menampakkan kemarahan tidaklah efektif..[]


Pendidikan Islam bagi Anak Usia 12 Tahun
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri Edisi Agustus 2010
Pondok Pesantren Alkhoirot, Malang Jatim

Usia 12 tahun, biasanya kelas 6 SD, adalah awal permulaan seorang anak memasuki masa remaja. Tidak sedikit orang tua yang merasa sulit memahami bahwa anak usia ini semakin membutuhkan kemandirian yang bahkan terkadang cenderung dipahami sebagai pemberontakan.

Pada dasarnya, keinginan untuk mandiri anak tidak harus dimaknai sebagai sikap sulit diatur. Kalau toh kenyataannya demikian, itu tidak lain merupakan akumulasi dari kesalahan-kesalahan kecil orang tua dalam proses pendidikan anak sejak awal. Perlu juga diingat, pendidikan tidak hanya menyangkut kata-kata dan disiplin, tapi juga contoh perilaku sehari-hari orant tua yang terkadang justru sangat penting. Oleh karena itu, pertama dan terutama, orang tua harus menjadi contoh panutan etika dan perilaku yang positif kalau orang tua menginginkan perilaku yang sama dimiliki anak.

Yang tak kalah penting, lingkungan di sekitar rumah dan di sekolah harus pula menjadi perhatian karena ia memainkan peran penting dalam perkembangan mental dan pola perilaku anak. Kalau orang tua merasa sudah maksimal dalam memberi pendidikan di rumah, tapi toh anak masih tampak sulit dikendalikan, maka tentu ada faktor lain yang mesti diwaspadai. Termasuk pengaruh dari tontonan di TV dan akses internet.

Sebab, dari survei yang diadakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) antara tahun 2007 sampai dengan 2010 dengan sampel siswa dari kelas 4, 5, dan 6 SD menghasilkan temuan mengejutkan: 67 persen pelajar di bawah umur ini sudah pernah menonton atau mengakses film porno baik dari hand phone (HP) atau internet. Dan dari tayangan TV yang tidak mendidik, timbul cara berfikir yang salah tentang apa itu yang disebut anak gaul atau kuper (Radar Malang, 12 Agustus 2010).

Berdasarkan dari hasil temuan tersebut KPAI memberikan kesimpulan dan rekomendasi bahwa kenakalan remaja dan seks bebas di kalangan ini adalah diakibatkan oleh dua hal: tidak adanya pelajaran budi pekerti dan moral di sekolah dan minimnya porsi pendidikan agama. Dalam hemat saya, yang justru penting adalah perlunya kedua faktor tersebut—moral dan agama—diajarkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Anak usia 12 tahun, lebih dari usia sebelumnya, juga memerlukan sikap orang tua yang mudah memberi apresiasi, pujian, dan dukungan pada hal baik yang dilakukan anak. Memberi ruang kemerdekaan relatif untuk mendorong sikap mandiri yang positif. Kemerdekaan bukan berarti kebebabasan. Pengawasan tetapi perlu dilakukan, bahwkan apabila orang tua sedang tidak di rumah, jangan lupa untuk meminta bantuan orang lain untuk mengawasi anak.

Komunikasi intensif antara anak dan orang tua juga diperlukan. Orang tua harus menyediakan waktu bukan hanya untuk berbicara, tapi juga untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan anak.

Kesempatan berkomunikasi ini merupakan momen yang baik untuk mengkomunikasikan aturan-aturan yang jelas dan konsekuensi bagi anak apabila melanggar. Namun demikian, jangan membiasakan diri terlalu sering memberi peringatan atau ancaman. Cukup ikuti aturan yang sudah disepakati bersama dan konsisten dalam memberikan konsekuensi, disiplin dan sangsi.

Yang terakhir, do’a kepada Allah. Apabila segala daya dan upaya sudah dilakukan, yang tersisa adalah berdo’a pada setiap usai salat. Baik salat lima waktu maupun salat malam agar kita semua dituntun ke jalan yang lurus (QS 1:6-7), dan mendapat anugerah putra putri yang menjadi penyejuk hati (QS Al Furqan 25:74).[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • This is the straight Sao Showbiz Vie1bb‡t: Nge1bbb1c khe1bba7ng vc3a0 bniiki bc3a9 xc3adu, que1baa7n lc3b3t lc3b4ng bc3adm tua te1bba7a | Clip sex phim 18+ Phim ngc6b0e1bb9di le1bb›n Video khoe hc3a0ng gc3a1i xinh le1bb™ hc3a0ng diary for anyone who wants to assay out out some this topic. You notice so some its almost tiring to discourse with you (not that I really would want…HaHa). You definitely put a new rotate on a substance thats been written some for geezerhood. Fastidious block, but zealous!

    WakarNovember 10, 2015
  • insaallah……

    suhendiJanuary 16, 2015

Leave a Reply