Pendidikan Anak Bajingan

Yang dimaksud bajingan adalah orang tua muslim yang Islamnya hanya sebatas KTP. Ia bisa saja seorang koruptor, penjudi, pezina, perampok atau siapapun yang banyak melakukan dosa dan tidak taat pada ajaran agama Islam. Dapatkah mereka mempunyai anak yang soleh dan salehah? Tentu bisa dengan sejumlah syarat.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SANTRI
Ponpes Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Pendidikan Anak Bajingan
  2. Pendidikan Bahasa Asing untuk Anak


Pendidikan Anak Bajingan

Bajingan adalah sebuah istilah populer di sebagian kalangan orang Madura. Istilah ini merujuk pada orang yang berperilaku tidak salih alias menyimpang dari nilai-nilai agama dan tradisi. Dengan kata lain, mereka adalah pelaku salah satu dari lima dosa besar yang dalam bahasa Jawa umum disingkat dengan molimo atau 5M yang merupakan singkatan dari main (judi), madon (berzina), madat (narkoba), minum (minuman keras), dan maling (korupsi, merampok, dll). Dalam kultur Jawa, kalangan ini kerap disebut dengan wong nakal atau wong blater.

Namun, se-bajingan bagaimanapun seseorang, dia tetap memiliki hati nurani. Terbersit dalam hatinya untuk menjadi seorang muslim yang baik walaupun terkadang sulit melepaskan kebiaasaan buruk. Senang hatinya melihat orang yang baik. Dalam masyarakat Madura, kalangan bajingan ini bahkan sangat hormat pada kyai.

Bajingan juga manusia yang memiliki mimpi dan idealisme walau sering kalah dengan kenyataan. Seorang bajingan juga menginginkan memiliki keturunan yang salih dan salihah. Tidak seperti dirinya. Masalahnya, dapatkah hal itu terjadi? Apakah watak dan perilaku wong nakal-nya tidak menular pada sang anak?

Menurut sebuah Hadits, semua anak terlahir dalam keadaan suci ( كل مولود يولد علي الفطرة). Itu artinya, tidak ada unsur “penularan” perilaku berdasarkan genetika seperti menularnya penyakit HIV/AIDS dari seorang ibu pada anak yang dikandungnya. Yang ada adalah penularan keteladanan dan itu terjadi setelah anak dilahirkan.

Artinya, anak seorang bajingan bisa saja menjadi anak yang salih apabila setelah si anak lahir sang bapak menyatakan “pensiun” dari segala perilaku tercela. Sebaliknya, anak yang terlahir dari keluarga santri yang salih bisa menjadi bajingan apabila ternyata bapak yang santri berubah menjadi bajingan saat anak lahir dan tumbuh dewasa.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk berputus asa bagi seorang bapak yang dulunya perampok, pemabuk, koruptor ataupun pezina. Asalkan mereka mau bertobat dan memberi keteladanan yang baik pada putra-putrinya, insyaallah akan memiliki putra-putri salih dan salihah. Tentu saja, walaupun keteladanan orang tua adalah kunci utama keberhasilan mendidik anak, namun hal-hal mendasar dalam parenting (mengasuh anak) berikut harus juga diperhatikan:
Pertama, disiplin. Anak harus dididik dengan disiplin yang konsisten. Ada aturan yang berupa perintah dan larangan; baik aturan agama maupun etika sosial. Ada sanksi bagi setiap pelanggaran. Ada apresiasi untuk pencapaian prestasi, sekecil apapun prestasi itu. Inilah standar dasar penanaman nilai-nilai.

Kedua, keteladanan lingkungan. Tidak sedikit anak kyai atau anak orang baik-baik yang menjadi nakal karena pengaruh buruk lingkungan di sekitarnya, salah satu bukti bahwa buruknya lingkungan akan berakibat fatal pada perkembangan perilaku anak. Oleh karena itu, menjauhkan anak dari lingkungan yang buruk merupakan suatu keharusan.

Salah satu cara untuk menjauhkan anak dari lingkungan yang buruk adalah dengan memberinya kegiatan ekstra yang bersifat life-skill (kemampuan keterampilan). Seperti les mengaji, les bahasa asing, les matematika, les menjahit, les komputer, dan lain-lain yang sekiranya sesuai dengan minat dan bakat anak. Adanya kesibukan tambahan akan memberi kemampuan lebih pada anak yang pada gilirannya akan membekalinya dengan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh rekan sebanyanya. Pada saat yang sama, adanya kesibukan tambahan akan membuat anak terbiasa dengan hidup yang enerjik dan dinamis. Bukan hidup yang bermalas-malasan.
Jadi, semua anak dengan latarbelakang orang tua apapun memiliki peluang yang sama untuk menjadi anak yang baik dan sukses asal orang tua yang bersangkutan memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan cita-cita tersebut yakni dengan memulai dari keteladanan diri dan konsistensi dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.[]


Pendidikan Bahasa Asing untuk Anak
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Edisi Agustus 2011
Ponpes Putri Al-Khoirot Malang

Di era teknologi komunikasi di mana hubungan antar-negara dan antar-bangsa semakin mudah dan tak terhindarkan seperti saat ini, menguasai bahasa asing akan memiliki keuntungan tersendiri bagi siapapun yang ingin memiliki kemampuan kompetitif. Saya kira semua orang tua sepakat bahwa anak yang memiliki kemampuan bahasa asing akan lebih diuntungkan dalam tujuan apapun. Baik itu untuk mencari kerja atau da’wah Islam.

Dan kesadaran akan pentingnya mempelajari bahasa asing itu bukan hanya ada saat ini. Nabi Muhammad menyuruh Sahabat Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Tirmidzi, Zaid bin Tsabit mengatakan demikian:

“Rasulullah SAW pernah memerintahkan aku agar mempelajari tulisan bahasa Yahudi untuknya .. Setelah aku dapat menguasainya dan Nabi SAW bermaksud berkirim surat kepada orang Yahudi, maka akulah yang menuliskannya buat mereka, dan apabila mereka berkirim surat kepada Nabi SAW maka akulah yang membacakan surat mereka kepada beliau.” Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani (Syriac language).

Alasan utama Rasulullah meminta Zaid bin Tsabit mempelajari kedua bahasa tersebut sudah jelas seperti penuturan Zaid bin Tsabit yaitu mempelancar komunikasi. Mengapa kedua bahasa itu yang dipilih Nabi untuk dipelajari karena kedua bahasa tersebut termasuk dua bahasa yang sangat berpengaruh pada saat itu. Sehingga memahami kedua bahasa tersebut akan sangat menguntungkan bagi dakwah Islam. Tentu, mempelajari bahasa tidak harus bertujuan dakwah semata. Untuk tujuan-tujuan lain seperti ekonomi dan keilmuan juga diperbolehkan.

Lalu, pelajaran bahasa asing apa yang harus diberikan pada anak pada zaman ini? Sebaiknya salah satu dari bahasa asing yang paling berpengaruh saat ini. Menurut George Weber dalam majalah Language Today edisi Mei 2008 10 bahasa yang paling berpengaruh di dunia adalah sebagai berikut: 1. Inggris 2. Prancis 3. Spanyol 4. Rusia 5. Bahasa Arab 6. China 7. Jerman 8. Jepang 9. Portugis Brasil 10. Hindi/Urdu.

Tentunya setiap orang tua memiliki pilihan tersendiri bahasa asing apa yang paling penting dipelajari anak dari antara 10 bahasa asing di atas. Untuk anak saya yang saat ini baru berusia 2.5 dan 1.5 tahun, saya berencana mengajarkan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Alasannya jelas, Bahasa Inggris adalah bahasa paling berpengaruh saat ini dan paling luas dipakai sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahasa komunikasi antarbangsa di samping bahasa dakwah. Bahasa Arab menjadi keharusan karena ia bahasa Al Quran, bahasa Hadits dan mayoritas ilmu-ilmu Islam klasik dan modern ditulis dalam bahasa Arab.

Pendidikan bahasa asing sejak dini pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya:

Pertama, diajarkan di rumah. Baik dengan mendatangkan guru privat ke rumah atau diajari sendiri oleh orang tua. Kalau orang tua mampu tentunya.

Kedua, disekolahkan sejak TK sampai SLTA di tempat yang mengajarkan bahasa asing. Atau kalau tidak memungkinkan, anak diikutkan kursus bahasa asing.

Alternatif lain adalah dengan cara mengirim anak ke pesantren yang mengajarkan bahasa asing sambil sekolah SLTP dan SLTA. Cara terakhir ini termasuk paling efektif karena pendidikan bahasa asing di pesantren dilakukan selama 24 jam setiap hari bersama anak-anak lain yang memiliki kemampuan serupa dan setara. Itu kalau bahasa asing yang dipilih adalah bahasa Inggris dan Arab. Sedang untuk bahasa lain, seperti bahasa Jepang, Korea atau Prancis harus mengikuti kursus di luar.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply