Menghindari Poligami

Menghindari Poligami. Bolehnya poligami dalam Islam hendaknya tidak dijadikan celah bagi laki-laki untuk menjadikan wanita sebagai permainan belaka. Karena kalau itu yang dilakukan, maka agama hanya dijadikan sebagai tempat mencari legalitas minimal dan melupakan legalitas  dan etika ideal.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri PP Al-Khoirot Malang Edisi November 2013

Daftar Isi

  1. Menghindari Poligami (1)
  2. Menghindari Poligami (2)
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Menghindari Poligami (1)

Dalam QS An-Nisa’ 4:3 Allah berfirman “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,” Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa poligami itu dibolehkan dalam Islam. Walaupun di akhir ayat terdapat larangan berpoligami kalau kuatir tidak adil, namun menurut ulama fiqih itu tidak mempengaruhi keabsahan pernikahan.

Walaupun boleh secara syariah, namun bukan berarti harus dilakukan. Poligami tidak sunnah. Bahkan, kalau bisa dihindari kecuali karena sebab-sebab khusus dan atas ijin istri pertama. Karena, pada dasarnya kebolehan tersebut bersifat dispensasi dan itupun suami harus yakin dapat berbuat adil. Ulama menyatakan bahwa hukumnya makruh menikahi dua wanita apabila istri pertama sudah memenuhi segala kebutuhan suami dan dapat menjaga kehormatannya dengan dasar QS An-Nisa’ 4:129 di mana Allah berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” Dalam sebuah hadits Nabi bersabda: “Barangsiapa beristri dua lalu cenderung pada salah satunya, maka pada hari kiamat separuh tubuhnya akan miring” (HR Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah).

Adapun apabila suami tidak mampu memberi nafkah pada istri kedua atau takut tidak berbuat adil padanya, maka hukumnya haram seperti tersebut dalam akhir ayat QS An-Nisa 4:3 yaitu “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” Yang dimaksud dengan adil di sini menurut ulama adalah kesamaan dalam segi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, giliran dan nafkah. Tidak termasuk sama dalam segi cinta.

Dengan demikian, maka sseorang uami yang menikah dengan hanya satu istri merupakan pilihan utama yang lebih menjamin tercapainya cita-cita suatu perkawinan yaitu sakinah, mawaddah wa rahmah (tentram, kasih sayang dan berkah) dan lebih dianjurkan oleh Islam.

Poligami baru dapat menjadi pertimbangan apabila dalam kasus-kasus khusus seperti (a) istri mandul berdasarkan diagnosa medis sedangkan suami normal; atau (b)  suami memiliki hasrat syahwat (sexual drive) yang tinggi sedangkan istri tidak dapat melayani dengan maksimal karena menderita low libido (tidak ada atau kecil nafsunya), atau sering sakit-sakitan, atau masa haidnya lama sehingga suami tidak bisa menahan diri untuk menunggu masa “liburan” yang terlalu panjang.

Kalau aturan syariah saja cukup ketat dalam mengatur poligami, maka demikian juga menurut aturan hukum negara.  Apalagi bagi mereka yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) terlebih lagi yang bekerja di militer sebagai tentara atau kepolisian. Dari sudut etika sosial kemasyarakatan di Indonesia juga cenderung negatif terhadap orang yang berpoligami terutama di kalangan para wanita.

Di samping itu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan saat seorang suami ingin berpoligami yaitu perasaan istri pertama dan anak-anaknya. Seandainya diadakan survei apakah seorang istri rela suaminya menikah lagi, maka hampir pasti jawabannya adalah tidak setuju. Begitu juga anak-anak dari istri pertama. Pertanyaan yang sama tentu dapat diajukan pada suami itu sendiri: sendainya Islam membolehkan istri melakukan poliandri (memiliki lebih dari satu suami) apakah suami pertama akan menyetujui? Tentu jawabnya tidak.  Oleh karena itu, dalam situasi yang normal di mana kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik, istri salehah, dan punya anak-anak yang taat, maka tidak ada alasan bagi suami untuk menikah lagi. Namun dalam situasi yang tidak normal, seperti disebutkan di atas, maka dibolehkan bagi seorang suami untuk menikah lagi dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.[]


Menghindari Poligami (2)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTS & MA Al-Khoirot Malang

Seperti telah diuraikan, poligami harus dihindari sebisa mungkin—kecuali dalam situasi khusus– karena akan berdampak besar pada keharmonisan rumah tangga, pada keikhlasan istri untuk menerima dan berbagi suami dengan wanita lain. Padahal keharmonisan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah adalah tujuan utama sebuah perkawinan (QS Ar Rum 30:31). Di samping itu, permasalahan lain yang akan timbul adalah terkait pendidikan anak. Karena, dengan kurangnya interaksi anak dengan sang ayah karena ayah harus berbagi waktu dengan istri-istri yang lain, maka hal itu berarti tanggung jawab pendidikan dan pengawasan anak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya. Sementara, sang ibu sendiri dengan suasana mental yang kurang stabil sulit memikul beban berat tersebut sendirian. Maka, terjadilah situasi yang disebut dengan disfunctional family atau keluarga yang kurang berfungsi.

Disfunctional familiy adalah sebuah keluarga di mana konflik, perilaku menyimpang, dan pembiaran anak atau pelecehan oleh orang tua sering terjadi yang berakibat anak akan menganggap bahwa hal-hal buruk yang terjadi di sekitarnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, anak akan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang akan terasing dari pergaulan yang normal. Anak yang tumbuh dalam situasi disfunctional family umumnya akan menjadi beban masalah di masyarakat.

Dwight Lee Wolter dalam bukunya Forgiving Our Parents: For Adult Children from Dysfunctional Families (1995) menyatakan bahwa disfunctional family akan berakibat buruk pada karakter anak di antaranya:

  • Anak menjadi kurang lincah, terlalu cepat atau terlalu lambat dewasa; atau terkadang berperilaku baik tapi tidak mampu untuk menjaga diri.
  • Memiliki masalah dengan kesehatan mental, termasuk kemungkinan depresi, dan pemikiran untuk bunuh diri.
  • Kecanduan merokok, alkohol, narkoba, terutama apabila ada keluarga atau teman yang melakukan hal serupa.
  • Suka mengganggu / menghina yang lain atau mudah menjadi korban hinaan.
  • Sulit mengakui kenyataan buruk kondisi keluarga.
  • Sulit bergaul dengan teman seusia yang disebabkan karena pemalu atau kerusakan karakter.
  • Suka menyendiri, menggunakan banyak waktu sendirian menonton televisi, bermain game, browsing internet, mendengarkan musik dan aktivitas lain yang kurang dalam segi interaksi sosial.
  • Merasa marah, putus asa, depresi, terasing dari yang lain, atau merasa tidak disukai.
  • Tidak percaya pada siapapun atau menderita paranoia (rasa takut yang berlebihan).
  • Terlibat kenakalan remaja dan suka tawuran dan bisa jadi anggota geng.
  • Minim berprestasi di sekolah atau performa akademis menurun drastis.
  • Rasa percaya diri rendah dan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan.
  • Suka memberontak pada otoritas orang tua, atau sebaliknya, membela nilai-nilai keluarga secara membuta saat menghadapi tekanan temannya.
  • Sulit berperilaku disiplin apabila tidak ada orang tua.
  • Mudah terjerumus pada pergaulan bebas.
  • Punya perilaku yang berpotensi merusak diri sendiri.

Memang, suami yang melakukan poligami tidak otomatis mengakibatkan keluarganya akan mengalami disfunctional family atau broken home. Contohnya seperti presiden Amerika ke-44, Barack Obama, di mana ayahnya menikah dengan sejumlah wanita. Bahkan, ayah Obama selalu menceraikan istri tua setiap dia menikah dengan wanita yang lebih muda. Namun, Obama merupakan pengecualian karena kehebatan dari sang ibu dan neneknya yang berpendidikan tinggi dan sangat solid dalam mendidiknya.

Secara syariah poligami itu halal asal bisa adil (QS An-Nisa 4:3). Namun, tidak semua yang halal harus diamalkan terutama apabila ia berpotensi menjadi haram.[]

Comments

  • ALLAAHU AKBAR
    udh jelas siapa kalian
    Yg jelas bathil (syirik, kafir dll) kalian bela
    Sedangkan yg halal kalian manipulasi jd seolah2 jelek dan wajib dihindari

    Jgn2 kalian besok bakal bikin artikel bahwa Shalat itu g perlu dilaksanakan???

    abu hamzahFebruary 4, 2018
  • Kalau tujuan suami menikah untuk mendapatkan hidup yang lebih layak, dikarenakan pekerjaan suami yg tdk pasti sedangkan isteri kedua lebih kaya dan hidupnya lebih mapan, hukumnya bagaimana ustad…???

    Ny. AtikJuly 15, 2014
  • Mau nanya pak, jika istri tdk bisa memberikan anak atau blum bisa memberikan anak krn rahim lemah bgmn pak? Saya dekat dgn pria beristri tidak sengaja. Saya mencintainya.. namun dia sudah menikah selama 10 tahun. Umurnya baru 35tahun dan saya sndiri 26 tahun. Dia sudah talak 2 dengan istrinya.. dia pernah mengajak saya menikah pas saya kenal menjelang 2 bulan, tetapi tentu saja saya bingung memjawabnya.. saya butuh saran bapak, makasih..

    diniJanuary 5, 2014
    • Kalau Anda yakin dia pria yang baik, taat beragama dan bertanggung jawab, menikah adalah lebih baik daripada berhubungan tanpa status yg jelas karena kalau terjadi khalwat (berduaan dalam ruang tertutup) haram hukumnya apalagi kalau sampai bercumbu.

      FatihJanuary 6, 2014

Leave a Reply