Mengatasi Anak Bandel

Mengatasi Anak Bandel. Umumnya, anak bandel disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif seperti orang tua yang sering bertengkar di depan anak, atau sibuk di pekerjaan masing-masing atau lingkungan tetangga dan teman sekolah  yang buruk. Solusinya adalah dengan menghilangkan penyebabnya dan pindahkan ke tempat yang lebih kondusif. Cara terbaik dan termudah adalah mengirim anak ke pesantren karena di pesantren anak akan memperoleh setidaknya tiga hal positif: pendidikan formal seperti umumnya anak sekolah, pendidikan agama, dan pendidikan budi pekerti.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa
MTs dan MA Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Mengatasi Anak Bandel
  2. Anak Miskin yang Kaya Hati


Mengatasi Anak Bandel

Bawaan anak sejak lahir tidak sama. Ada yang cenderung patuh. Ada yang agak bandel. Namun, kalau orang tua mendidiknya secara intensif dan konsisten, maka kebandelan anak tidak akan mencapai tahap yang tidak terkontrol.

Umumnya, anak bandel disebabkan oleh lingkungan yang kurang mendukung. Seperti, (a) orang tua kurang peduli atau peduli tapi melakukan pembiaran karena dianggap masih kecil; (b) lingkungan teman-teman sebaya yang kurang baik; dan (c) pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada orang lain seperti kakek atau nenek atau pembantu.

Pada dasarnya semua anak dapat dan mudah diatur. Tetapi adanya pembiaran oleh orang tua terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan saat balita apalagi lingkungan yang kurang mendukung telah menstimulasi kebandelan-kebandelan kecil itu menjadi kenakalan besar. Ujung-ujungnya, anak sulit diatur. Bandel dan keras kepala. Repotnya lagi, saat orang tua sudah kehabisan akal dan merasa tidak mampu mendidik anaknya, mereka lalu menyerahkannya pada lembaga pendidikan atau pesantren.

Apa yang harus dilakukan orang tua pada anak-anak yang salah urus dan bandel seperti itu? Pada usia masuk sekolah, anak dapat dikualifikasikan menjadi dua: pra-remaja (preadolescene atau preteen) dan remaja (adolescene atau teenager). Pra-remaja adalah anak yang usianya berkisar antara 10 sampai 12 tahun. Sedangkan remaja adalah anak dengan usia 12 sampai 21 tahun.

Tangani Sejak Dini

Seorang anak usia di bawah 10 tahun yang bandel akan menjadi anak praremaja yang semakin bandel. Demikian juga seterusnya, anak praremaja yang bandel akan menjadi anak remaja yang lebih bandel lagi kalau dibiarkan. Intinya, tangani kebandelan anak sejak dini. Jangan menunggu waktu sedikitpun sampai kebandelan itu mencapai puncaknya. Namun, apabila sudah terlanjur, maka berikut beberapa tips untuk menangani anak yang bandel atau keras kepala.

Pertama, buka hubungan komunikasi. Kunci dari hubungan yang sehat dan bahagia antara orang tua dan anak remajanya adalah komunikasi. Baik dengan ayah maupun ibu. Dan tanda dari hubungan yang harmonis adalah apabila anak mau berbagi atau melaporkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah pada orang tuanya.

Kedua, dengarkan. Orang tua terbiasa memberi pendapat atau memberi perintah. Coba sesekali menjadi pendengar. Dengarkan apa yang dinginkan anak dan setelah itu beri respons yang semestinya. Keras kepala anak akan berkurang apabila dia merasa didengar. Namun, pada saat yang sama, orang tua harus membatasi perdebatan. Jangan biarkan anak berbicara terlalu lama dan mendominasi. Dengarkan secukupnya dan ambil keputusan. Anak harus tahu bahwa orang tualah yang berkuasa dan punya otoritas tertinggi di rumah.

Ketiga, selektif berdasarkan skala prioritas. Kalau anak melakukan banyak pelanggaran dari aturan yang telah dibuat, maka prioritaskan menangani pelanggaran besar yang harus ditangani lebih dulu. Biarkan pelanggaran kecil dilakukan anak, setidaknya untuk sementara. Pelanggaran besar dapat bersifat universal atau hanya internal dalam keluarga. Tindakan kriminal adalah salah satu contoh pelanggaran besar yang bersifat universal. Utamakan mengatasi hal ini lebih dulu, dibandingkan pelanggaran besar yang bersifat internal.

Keempat, beri kesibukan positif. Ikutkan pelatihan atau kursus keterampilan yang sesuai dengan bakatnya. Jangan biarkan anak bersantai dengan lingkungan yang kurang kondusif.

Kelima, berdoa kepada Allah setiap selesai solat lima waktu. Apabila mungkin lakukan solat berjamaah di rumah setiap hari minimal sekali. Dan ajak anak untuk solat tahajjud setiap malam. Bagi seorang muslim, usaha yang maksimal adalah usaha nyata yang diikuti dengan doa kepada yang Maha Kuasa.[]


Anak Miskin yang Kaya Hati
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTs MA Al-Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Malang

Lalu Abdul Hafiz adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya Mamiq Syamsul Hadi, berusia 67 tahun, adalah seorang pria tua yang sesekali bekerja sebagai buruh lepas. Ibunya bernama Baiq Sakyah, seorang ibu rumah tangga. Rumah orang tuanya berdinding gedek (anyaman bambu) dan beratap ilalang.

Jelas, Lalu Abdul Hafiz termasuk anak keluarga yang sangat miskin harta. Namun, untungnya hati dan jiwa Hafiz tidak ikut miskin. Hafiz termasuk dari kalangan anak-anak miskin yang memiliki kekayaan hati. Hafiz tidak mengeluh dengan kemiskinannya. Ia juga memiliki kepercayaan diri yang besar. Dalam salah satu wawancara yang ditayangkan di Metro TV pada 7 Agustus 2011 ia mengatakan, “Kunci sukses dalam belajar adalah sungguh-sungguh. Apapun yang kita pelajari akan dapat dipahami kalau sungguh-sungguh. Anak SD akan mampu mempelajari pelajaran SMP, atau pelajaran SMA atau pelajaran perguruan tinggi asal dipelajari dengan tekun dan sungguh-sungguh,” katanya dengan yakin.

Hafiz tidak mengada-ngada. Ia melakukan apa yang ia katakan. Setiap hari ia belajar paling sedikit 9 jam pada siang hari dan 4 jam pada malam harinya. Semua buku yang ada di perpustakaan sekolahnya habis dibacanya. Terutama buku-buku sains. Tak heran pada saat masih SMP dia sudah berhasil meraih medali perunggu alias juara tiga pada olimpiade astronomi internasional di Kyrgiztan tahun 2009.

Kemenangan itu membawa berkah baginya. Tawaran beasiswa pun datang dari berbagai penjuru. Sejak memasuki SMAN 1 Praya Kab. Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat pada tahun 2010, Hafiz sudah mendapat beasiswa dari Bupati setempat.

Hafiz bukan remaja egois. Ia mencintai keluarganya, terutama ayah ibunya dan kakak perempuannya yang sedang kuliah di IKIP, melebihi yang lain, termasuk dirinya sendiri. Hadiah yang diterima dari kemenangannya di Kyrgiztan dan beberapa hadiah lainnya ditabungnya dan dibuat merenovasi rumah gedek-nya plus untuk membiayai kuliah kakaknya. Padahal ingin sekali ia memiliki laptop sendiri agar dia tidak perlu meminjam pada temannya saat dia ingin akses internet. Kendati uang yang dia miliki hanya cukup untuk merenovasi rumah beratap genting dan berdinding bata tanpa kulit, namun ia bersyukur dengan rumah yang jauh lebih baik dari dulu. Sekarang ia dapat belajar lebih tenang tanpa memikirkan atap yang bocor saat hujan.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Lalu Abdul Hafiz, seorang anak miskin yang saat ini baru duduk di kelas XI di sebuah SLTA di NTB.

Pertama, tetaplah berfikir positif dan optimis walaupun keadaan ekonomi sangat memprihatinkan. Kemiskinan hendaknya tidak membuat seseorang putus asa dan malas belajar. Sebaliknya, keadaan ini harus dijadikan motivasi untuk semakin rajin belajar melebihi mereka yang hidup mapan. Allah mengingatkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (atau individu) sampai mereka merubahnya sendiri (QS Ar Ra’d 13:11).

Kedua, tetap berperilaku santun, peduli dan eling saat kita berada dalam posisi yang lebih baik. Tidak sedikit orang miskin yang “bagaikan kacang lupa kulitnya.” Saat sudah berhasil perilaku dan gaya berubah, menjadi lupa diri pada orang-orang yang telah membantunya atau pada orang-orang yang nasibnya seperti dirinya dulu. Sukses tidak hanya diukur oleh keberhasilan materi dan pencapaian prestasi, tapi juga oleh seberapa stabil mental seseorang baik saat dalam situasi prihatin maupun ketika nyaman. Sebab, cobaan Allah tidak hanya datang saat prihatin, tapi juga saat hidup kita sejahtera (QS Al Anbiya 21:35). []

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply