Maimunah binti Haris dan Juwairiyah binti Harits

Maimunah binti Al-Harits adalah istri ke-12 Rasulullah ia adalah perempuan terakhir yang dinikah oleh Rasulullah. sedangkan Juwairiyah binti Haris adalah istri ke-8 Nabi Muhammad. Ia seorang wanita dari suku Bani Musthaliq. Dia seorang perempuan yang berpendidikan dan ahli sastra Arab.

Daftar Isi

  1. Maimunah binti Haris
  2. Juwairiyah binti Harits


Maimunah binti Haris
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri PPA Putra

Maimumah binti Harits Al-Hilali adalah perempuan terakhir yang dinikah oleh Rasulullah. Saat Nabi menikahinya usia Nabi 59 tahun, sedang Maimunah berusia tidak lebih dari 26 tahun. Oleh karena itu, Maimunah hidup bersama Nabi tidak begitu lama, sekitar tiga tahun.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Maimunah sudah pernah menikah dua kali. Yang pertama dengan Mas’ud bin Amr Al-Tsaqafi sebelum datangnya Islam. Setelah dicerai oleh suami pertamanya, ia kemudian menikah dengan Abu Rahm bin Abdul Izzi. Tak lama kemudian suami keduanya pun meninggal dunia.

Pada tahun ke-7 hijrah, Rasulullah bersama para Sahabat melakukan ibadah umroh ke Makkah. Saat itu Maimunah juga sedang berada di Makkah dan melihat Nabi ketika sedang umrah. Saat itulah ia dipenuhi keinginan yang mendalam untuk menjadi istri Rasulullah dan menjadi ummul mukminin (ibunya kaum beriman).

Keinginannya yang mendalam untuk menjadi istri Nabi itu ia ceritakan pada saudara perempuannya yang bernama Ummul Fadhal yang lalu menceritakan hal itu pada suaminya, Abbas bin Abdul Muttalib. Abbas lalu menceritakan hal itu pada Nabi. Rasulullah lalu mengutus sepupunya yang bernama Ja’far bin Abu Thalib untuk meminang Maimunah untuk Nabi. Maka, pada saat itu juga Mainumah datang menghadap Rasulullah dan memasrahkan dirinya untuk dinikah oleh Nabi. Kisah Maimunah ini diabadikan dalam Al-Quran dan menjadi sebab turunnya Surah Al-Ahzab ayat 50.

Setelah selesai melaksanakan ibadah Umrah, Nabi dan Maimunah melangsungkan akad nikah di suatu tempat di luar Makkah yang bernama Sarif. Di tempat itu pula, Maimunah yang nama asalnya adalah Barrah diganti menjadi Maimunah. Sebagaimana disebut di atas, pernikahan ini terjadi pada tahun ke-7 hijrah atau 629 masehi. Pernikahan ini tidak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, pada tahun ke-10 hijrah atau 632 masehi, Rasulullah wafat.

Sepeninggal Rasulullah, Maimunah menyibukkan dirinya dalam aktivitas ibadah, dakwah dan keilmuan agama. Ia menghafal cukup banyak hadits Nabi dan meriwayatkannya pada para Sahabat dan Tabi’in dan para imam hadits. Tak kurang dari 76 hadits yang ia dengar langsung dari Rasulullah dan lalu disebarkan oleh para ulama hadits dan sampai pada kita.

Maimunah juga dikenal sangat kukuh memegang aturan syariah Islam baik pada dirinya sendiri atau pada orang lain. Pada suatu hari seorang kerabatnya datang ke rumahnya. Tercium aroma bau alkohol dari mulutnya. Dengan tegas Maimunah mengusirnya sembari berkata: “Jangan pernah engkau datang ke sini lagi.” Sikap ini menunjukkan betapa ia sangat memegang teguh perintah syariah dan mengamalkannya. Itulah sebabnya Rasulullah pernah membuat testimoni atas kesuciannya.[1]

Maimunah dianugerahi umur cukup panjang. Ia meninggal pada usia 80 tahun. Dengan demikian ia menjadi saksi hidup penyebaran Islam yang begitu cepat dari zaman Khulafaur Rasyidun sampai Khalifah Muawiyah. Ia meninggal pada sekitar tahun 61 hijrah atau 680-681 masehi[2] saat Islam berada di bawah pemerintahan Yazid bin Muawiyah dan dikebumikan di tempat ia melakukan pernikahan dengan Nabi yaitu Sarif, dekat Makkah. Saat kematiannya, Aisyah bersaksi: “Demi Allah, Maimunah adalah istri Rasulullah yang paling bertakwa dan berdedikasi penuh pada keluarganya.”[3][]

[1] Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

لأخوات المؤمنات: ميمونة زوج النبي صلى الله عليه وسلم، وأم الفضل زوج العباس، وسلمى امرأة حمزة، وأسماء بنت عميس أختهن لأمهن

[2] Muhammad ibn Jarir Al-Tabari, Tarikh al-Rasul wal-Muluk, vol. 39. Adapun menurut Ibnu Katsir, Maimunah wafat pada tahun 51 hijrah atau 671 masehi.

[3] Ibn Hajar, Al-Isabah vol. 8 hlm. 192.

______________________


Juwairiyah binti Harits
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa
MTS & MA Al-Khoirot Malang

Juwairiyah binti Al-Harits adalah seorang wanita dari suku Bani Musthaliq. Dia seorang perempuan yang berpendidikan dan ahli sastra Arab. Ayahnya bernama Al-Haris bin Abi Dirar adalah kepala suku Bani Mustaliq.Berbeda dengan perkawinan-perkawinan Nabi sebelumnya, pernikahan kali ini bermula dari peperangan antara umat Islam dengan Bani Mustaliq.

Perang Bani Mustaliq terjadi pada 2 Sya’ban tahun 6 hijrah atau Desember 627 Masehi. Umat Islam mencapai kemenangan gemilang dan maksimal dengan korban yang minmal. 200 keluarga kafir ditahan, 200 unta dan 5000 kambing serta sejumlah besar barang rampasan diperoleh. Salah satu yang ditahan adalah putri kepala suku Bani Mustaliq yang bernama Juwairiyah. Tahanan perang akan otomatis menjadi budak.

Aisyah dalam sebuah riwayat menuturkan bahwa Juwairiyah menjadi tahanan dari Sahabat Tsabit bin Qais yang berarti menjadi budaknya Tsabit. Juwairiyah lalu berusaha menebus dirinya sendiri agar menjadi merdeka. Dalam proses untuk menebus dirinya, ia meminta bantuan Rasulullah untuk memerdekakan dirinya dari status sebagai budak Tsabit bin Qais. Nabi bertanya: “Apakah engkau bersedia atas hal itu?” Juwairiyah berkata: “Apa itu ya Rasulullah?” Kata Nabi: “Aku akan menebus pembebasanmu dan aku akan menikahimu.” Juwairiyah berkata: “Saya bersedia.” Maka, terjadilah pernikahan antara Nabi dan Juwairiyah yang merupakan pernikahan Juwairiyah yang kedua. Suami pertamanya adalah sepupunya sendiri yang bernama Musafik bin Sofwan.

Mendengar kabar pernikahan Nabi dengan Juwairiyah, maka para Sahabat yang lain ramai-ramai membebaskan 100 keluarga dari suku Bani Mustaliq yang mereka jadikan tawanan.[1]

Nama asli Juwairiyah adalah Barrah yang lalu diganti oleh Nabi menjadi Juwairiyah. Setelah itu, ayah Juwairiyah datang menghadap Nabi dan mengumumkan masuk Islam. Juwairiyah menikah dengan Nabi pada usia 20 tahun sedangkan Nabi berusia 58 tahun.

Juwairiyah dikenal sebagai sosok yang memiliki sejumlah kualitas yang khas dan istimewa antara lain, pertama, ahli ibadah. Selain ibadah shalat fardhu, dan shalat sunnah, Juwairiyah juga suka bertasbih (membaca subhanallah) sepanjang hari. Rasulullah pernah datang pada pagi hari dan melihat dia sedang bertasbih, dia pergi dan kembali pada siang harinya. Ternyata ia masih tetap dalam posisi yang sama. Nabi lalu memberi bacaan pada Juwairiyah yang keutamaannya sama dengan bacaan tasbih sepanjang hari. Bacaan itu adalah Subhanallah adada kholqihi. Subhanallah zinata arsyihi. Subhanallah ridho nafsihi. Subhanallah midada kalimatihi. Masing-masing bacaan dibaca tiga kali.[2]

Kedua, keilmuan. Juwairiyah juga menghafal sejumlah hadits dari Rasulullah. Ada dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan ada banyak hadits lain yang diriwayatkan oleh para imam hadits seperti Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah. Para Sahabat yang meriwayatkan hadits dari Juwairiyah antara lain Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin Sibaq, Mujahid dan lainnya.

Juwairiyah wafat pada usia 65 tahun pada tahun ke-50 hijrah dan dimakamkan bersama istri-istri Nabi yang lain di Jannatul Baqi dekat Masjid Nabawi Madinah. Walaupun Juwairiyah dikenal sebagai perempuan yang cantik jelita, namun kekhusyu’an dan keilmuannya-lah yang menjadi salah satu pertimbangan utama Nabi untuk menikahinya.[]

[1] Sirah Ibnu Hisyam, 2/295

[2] Hadits riwayat Muslim. Teks asal:

ألا أعلمك كلمات لو عدلن بهن عدلنهن, ولو وَزن بهن وزنتهن -يعني جميع ما سبحت-: سبحان الله عدد خلقه, ثلاث مرات, سبحان الله زنة عرشه, ثلاث مرات, سبحان الله رضا نفسه, ثلاث مرات, سبحان الله مداد كلماته, ثلاث مرات

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply