Khadijah Al-Kubro Ahlul Bait Nabi

Khadijah Al-Kubro*
Oleh A. Fatih Syuhud

Karena dirundung rasa cemburu pada Khadijah yang selalu dipuji oleh Nabi, Aisyah berkata: “Dia hanyalah seorang perempuan tua. Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik darinya.”

Mendengar hal itu, Nabi pun marah. “Tidak, Aisyah” kata Nabi. “Tidak ada istri yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman padaku ketika semua orang kufur. Dia membenarkanku, saat orang tidak mempercayaiku. Dia korbankan hartanya untukku, takkala tidak ada yang mau melakukan itu. Darinya terlahir anak-anakku, tidak dari istri-istriku yang lain.”[1]

Aisyah pun meminta maaf pada Nabi dan berjanji tidak akan memperbincangkan sesuatu yang buruk tentang Khadijah. Dalam riwayat lain dikisahkan Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Khadijah sama sekali. Dan aku tidak pernah cemburu pada istri-istri Nabi yang lain melebihi kecemburuanku pada Khadijah. Hal itu terjadi karena seringnya Nabi menyebut namanya”.[2]

Empat hal yang diungkapkan Nabi tentang Khadijah di atas memang sangat penting. Sebagai pribadi, seorang suami tentu selalu mendambakan pengabdian, kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan di samping keturunan dari seorang istri.. Sebagai Rasul yang sedang dalam fase-fase awal memperjuangkan Islam, beliau tentu sangat membutuhkan dukungan baik materi maupun moril.  Dan itu semua Nabi dapatkan dari Khadijah yang rela mengorbankan harta benda dan nyawa sekalipun demi tegak dan tersiarnya ajaran Islam di bumi Makkah.

Itulah sebabnya Khadijah menempati posisi istimewa tidak hanya di hati Nabi, tapi juga dalam pandangan Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi menyatakan bahwa ada empat wanita istimewa kelak di surga. Mereka adalah Maryam binti Imran (ibu Nabi Isa), Fatimah binti Muhammad (putri Nabi), Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi), dan Asiyah binti Mazahim (istri Fir’aun).[3]

Siapakah Khadijah yang begitu istimewa? Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay.  Dari Qusay inilah pertemuan kekerabatan Khadijah dengan Nabi Muhammad. Hitungan kekerabatan antara Khadijah dan ayah Nabi, yakni Abdullah bin Abdul Muttalib, adalah empat pupu (Jawa, ping papat; Madura, empak popoh) . Jadi, Nabi termasuk keponakan empat pupu-nya Khadijah. Namun, tentu saja hubungan kekerabatan itu bukanlah alasan yang memotivasi Nabi menikahi Khadijah.

Alasan utama Nabi menikahi beliau adalah akhlak Khadijah yang sangat agung.  Budi pekertinya yang luhur itu tak lepas dari karakter dasarnya dan didukung oleh lingkungannya yang baik. Ayahnya yang bernama Khuwailid bin Asad dan ibunya yang bernama Fatimah binti Zaidah adalah dua pasangan orang tua yang disamping hartawan yang dermawan juga dikenal dengan kemuliaan akhlaknya.

Khadijah yang lahir di Makkah pada tahun 565 Masehi  ini dikenal sebagai sosok wanita pengusaha yang cerdas dan memiliki kepribadian yang kuat.  Walaupun menjadi pengusaha sukses, Khadijah tidak menjalankan sendiri usaha bisnisnya. Ia menggunakan sistem bagi hasil dengan orang-orang yang dipercaya dapat diajak bekerja sama dalam berbisnis yang salah satunya adalah Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi.

Walaupun kaya, Khadijah dikenal sebagai sosok sederhana yang tidak konsumtif menghambur-hamburkan harta untuk kepentingan dan kemegahan  pribadi. Sebaliknya, materi berlimpah yang dimiliki dia gunakan untuk membantu kalangan yang membutuhkan seperti fakir miskin, yatim piatu, orang sakit, dan anak-anak muda yang memerlukan biaya untuk menikah. Itulah sebabnya, di kalangan masyarakat Makkah masa Jahiliyah pun ia mendapat julukan Amirah (Sang Ratu) dan Tahirah (Yang Suci).

Rasulullah sangat mencintai Khadijah. Dan wanita saleh, sabar dan mulia sepertinya memang layak dicintai begitu tinggi. Sehingga selama 25 tahun hidup bersama Khadijah, Nabi tidak pernah menikah dengan wanita lain sampai Khadijah wafat di Makkah pada 575 Masehi dalam usia 58 tahun. Kemuliaan karakter dan perilaku Khadijah membuat dia mendapat julukan Khadijah Al-Kubro (Yang Agung).[]

[1] Ibnul Atsir dalam Al-Istiab, II/721; Asad Al-Ghabah, V/539
[2] Al-Mustadrak alas Sahih, III/186
[3] Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad dan Hakim dalam Al-Mustadrak

*Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PPA Putri Malang

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply