Istri Pelopor Hidup Jujur Suami

Istri Pelopor Hidup Jujur. Ya, banyak pejabat korupsi karena dorongan istri. Tidak sedikit pejabat jujur dan hidup sederhana ‘terpaksa’ menyerah pada perilaku konsumtif istrinya sehingga menjadi koruptor. Ada juga pejabat yang awalnya takut-takut untuk korupsi tapi menjadi berani karena motivasi istrinya. Sebaliknya, istri yang hebat, jujur, hidup sederhan, taat agama bisa merubah gaya hidup suami menjadi ke arah yang poisitf.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Ponpes Al-Khoirot Putri Malang

Daftar Isi

  1. Istri Pelopor Hidup Jujur Suami
  2. Perlunya Istri Terdidik
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Istri Pelopor Hidup Jujur Suami

Dalam salah satu perbincangan saya dengan seorang habib, saya mengeluhkan sulitnya menemukan pejabat yang tiak korupsi di negeri ini.  Baik dari tingkat terendah sampai yang tertinggi. Jawaban habib tersebut menarik. Ia mengatakan bahwa mencari pejabat yang jujur itu tidak cukup dengan meneliti latarbelakang dan rekam jejak individu yang bersangkutan,  tapi harus juga meneliti perilaku dan rekam jejak istrinya.  Karena, tidak sedikit orang yang melakukan korupsi karena desakan istrinya.  Baik langsung atau tidak langsung. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Dalam keseharian, perilaku istri yang konsumtif tak jarang dapat merubah idealisme suami. Misalnya, seperti yang dikisahkan oleh salah seorang suami yang berkonsultasi ke saya melalui internet sebagai berikut:

“Satu minggu lalu saya dikagetkan bahwa istri saya mempunyai hutang sebesar 400 juta, tanpa sepengetahuan saya.  Kehidupan saya sehari- hari sebagai pegawai sebuah perusahaan dan istri saya bekerja juga. Setiap bulan gaji saya ditransfer langsung ke ATM saya yang dipegang istri saya.

Awal mulanya cerita istri saya bahwa iya pinjam uang secara diam- diam sebanyak 26 juta dengan alasan bisnis dengan keuntungan 6 juta per dua minggu lalu uang itu sebenarnya untuk membayar hutang adiknya sebesar 10 juta kepada orang yang sama . dalam waktu 2 minggu dibayarlah keuntungan tersebut. Dalam hitungan 4 minggu uang tersebut habis namun hutang pokok tidak habis dan terus berbunga. untuk menutupi hutang sebelumnya. Akhirnya ia pun pinjam uang lagi dengan orang yang sama sebesar 50 juta dengan keuntungan 10 juta per dua minggu untuk menutup hutang 26 juta ditambah 6 juta keuntungannya dan pinjaman berikutnya berkali lipat. Makin lama hutangnya tidak tertutupi lagi sampai pokok modalnya 400 juta dan keuntungan nya 600 juta. orang tersebut mengadu sama saya sebagai suaminya kalau tidak bertanggung jawab ia akan laporkan ke polisi.”

Bayangkan apabila suami adalah seorang pegawai negeri atau swasta yang sebenarnya jujur, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan istri mengalami masalah berat seperti di atas. Pada saat yang sama banyak peluang di kantor untuk melakukan korupsi. Apa yang akan dilakukan suami? Hampir dapat dipastikan ia akan melakukan korupsi karena itulah jalan mudah dan aman baginya untuk menyelesaikan masalah. Tak peduli apakah hal itu merupakan dosa besar dan dapat mengantar suami ke balik jeruji penjara.

Kasus seperti di atas sebenarnya dapat dihindari apabila suami memberikan bimbingan yang intensif pada istri. Seberapapun tingginya level pendidikan seorang istri, ia tetap harus tunduk pada bimbingan suami selagi hal itu tidak bertentangan denan syariah. Namun, faktanya tidak semua suami mampu membimbing istri dengan baik. Walaupun dalam Islam ditegaskan bahwa suami adalah pemimpin rumah tangga (QS An Nisa 4:34).

Oleh karena itu, adalah tugas istri itu sendiri untuk mengevaluasi perilaku dan menempatkan dirinya dalam posisi yang dapat memperkuat dan memperbaiki struktur rumah tangga. Bukan malah merusaknya. Hal itu dapat dilakukan dengan antara lain:

Pertama, tidak melakukan sesuatu perbuatan apapun tanpa seijin dan sepengetahuan suami.  Baik menyangkut transaksi bisnis dan jual beli maupun  yang bersifat aktifitas keseharian.

Kedua,  bertekad untuk hidup sederhana. Tidak konsumtif. Baik dia kaya, apalagi miskin. Dan mendorong suami dan anak untuk melakukan hal serupa. Masalah ekonomi rumah tangga sering dimulai dari kehidupan yang boros tak terkendali. Dan masalah kesulitan ekonomi adalah awal dari ketidakjujuran.

Ketiga, mengingatkan suami apabila melakukan pelanggaran syariah. Walaupun suami berposisi sebagai imam rumah tangga, namun ia tetap wajib diingatkan oleh istri apabila melakukan pelanggaran syariah atau etika sosial.

Apabila ketiga poin ini dilakukan, maka insyaAllah istri akan menjadi penyangga rumah tangga yang kokoh yang diridhai Allah. Amin.[]


Istri Terdidik (Berpendidikan)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Al-Khoirot Putri

Sampai detik ini, masih banyak orang tua terutama di pedesaan yang berfikir bahwa wanita tidak perlu pintar. Tidak perlu memiliki pendidikan yang baik. Toh, ujung-ujungnya akan ke dapur dan menjadi ibu rumah tangga. Karena itu, tidak sedikit orang tua yang mengawinkan anaknya saat usia masih sangat belia antara 14 sampai 16 tahun. Atau, membiarkan anak gadisnya melewatkan masa mudanya tanpa pendidikan yang cukup untuk bekal diri dan keluarganya kelak. Bahkan banyak yang langsung disuruh mencari kerja setelah lulus SD atau SMP. Baik mencari kerja di kota atau pergi ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau Domestic Helper (DH).

Memang benar, bahwa wanita pada akhirnya akan menjadi istri dan ibu rumah tangga. Karena, memang itulah salah satu tugas utama yang harus dijalani seorang wanita yakni sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Namun, mengecilkan kedua peran ini sehingga dianggap tidak perlu bekal pendidikan yang cukup adalah suatu kesalahan besar. Dan persepsi yang salah ini hanya dapat berubah apabila generasi muda muslimah saat ini dan yang akan datang memperbaiki level pendidikan dan wawasan berfikirnya.

Istri yang berpendidikan dan memiliki wawasan keilmuan yang baik adalah dambaan setiap suami yang menginginkan rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Mengapa pendidikan begitu penting bagi seorang istri karena, pertama, dari pendidikan yang dimiliki diharapkan akan mempengaruhi perilaku dan pola berfikirnya menjadi lebih bijaksana dan rasional dalam segala hal. Mulai dari cara bergaul dengan suami, cara mendidik anak, cara berinteraksi dengan mertua dan cara mengelola konflik internal yang acapkali terjadi.

Kedua, hidup berumahtangga bukan hanya soal melakukan hubungan intim, memiliki anak dan mencari makan saja. Karena apabila itu tujuannya, maka terkadang hewan lebih mampu dari manusia. Salah satu tujuan berumah tangga yang paling esensial adalah meningkatkan ketakwaan keluarga (QS At-Tahrim 66:6) dan mencetak generasi muda yang berkualitas dan berakhlak mulia (QS Al-Qalam 68:4). Dua hal ini sulit dapat lahir dari seorang istri dan ibu yang tidak berpendidikan.

Generasi muda Islam berkualitas akan sangat tergantung pada kualitas sang ibunda. Dalam literatur Arab dikatakan: “Al-umm madrasah at-tifli al-ula.” Bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Ungkapan ini sangat tepat untuk menggambarkan bahwa baik dan buruknya seorang anak adalah tergantung dari kualitas ibunya. Tokoh-tokoh besar nasional maupun dunia, muslim dan non-muslim, hampir semua mengakui bahwa mereka menjadi berhasil dalam hidup mereka dikarenakan peran besar seorang ibu. B.J. Habibie dan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ketiga dan keempat Indonesia, Barack Obama presiden ke-45 Amerika Serikat adalah contoh kecil dari sekian banyak figur-figur dunia yang berhasil dalam pendidikan, keilmuan dan jabatan karena jasa besar dari ibu mereka masing-masing yang ditinggal oleh ayah mereka saat mereka masih relatif muda.

Ibu yang berkualitas akan sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Oleh karena itu, Islam mewajibkan setiap individu muslim untuk menghormati orang tua terutama ibu dengan berbagai cara. QS Al-Isra’ 17:23 menyandingkan penghormatan pada orang tua dalam urutan kedua setelah menyembah Allah. Dan QS Al-Isra 17:24 memerintahkan untuk selalu patuh mendoakan orang tua. Ayat-ayat terkait penghormatan pada orang tua juga terdapat dalam QS Al-Baqarah 2: 215 dan 133; Maryam 19:32; dan An-Nisa’ 4:36. Rasulullah juga memerintahkan agar ibulah orang pertama yang paling dihormati dan bahwasanya surga berada di telapak kaki ibu.

Akan tetapi, sosok ibu yang begitu mulia dalam Islam tidak akan mendapat penghormatan yang selayaknya apabila dia salah dalam mendidik anak-anaknya. Dan penyebab paling mendasar adalah apabila kualitas dan pendidikan seorang ibu itu rendah. Tentu, wawasan yang baik tidak harus melalui pendidikan formal yang tinggi. Ia bisa juga dicapai dengan banyak membaca, bertanya pada ahlinya dan mengikuti berbagai kegiatan keilmuan seperti seminar dan ceramah agama yang akan meningkatkan kualitasnya khususnya dalam ilmu agama dan cara mendidik anak.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • Istri yang sedang meningkatkan level pendidikannya setelah S1 memang menguras pikiran & tenaga tetapi semakin tinggi pendidikan si istri…eh semakin sibuk sampai sampai antara kerjanya, studinya, urusan rumah tangga punya tingkat ketegangan ( stressing ) yg tinggi pula, anak sering rewel/ sakit. Yaaaa sekali lagi bijaksana demi waktu.

    ajiOctober 1, 2015
  • betul sekali mas 🙂 sangat logis ceritanya 😀

    istri memang pemantik paling ampuh bagi suami untuk melakukan tindakan apapun termasuk korupsi

    FebriOctober 2, 2013

Leave a Reply