Islam Ideal dan Realitas Umat

islam ideal dan relatias umat

Islam Ideal dan Realitas Umat. Islam adalah agama terbaik dan mengandung panduan hidup terbaik yang pernah ada. Akan tetapi umat Islam saat ini adalah umat terburuk dalam aspek pencapaian dan perilaku keseharian. Baik dalam aspek pendidikan, inovasi, penelitian maupun dalam segi pengamalan nilai-nilai universal yang merupakan bagian inheren dari ajaran Islam. Saat ini waktunya untuk evaluasi diri untuk kembali pada ruh dan spirit ajaran Islam yang benar.
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Islam Ideal dan Realitas Umat
  2. Malu dan Harga Diri


Islam Ideal dan Realitas Umat

لا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا ولا يحل لمسلم أن يحجر أخاه فوق ثلاثة أيام رواه البخاري

Artinya: Janganlah kalian membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan karena semua hamba Allah adalah bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim tidak saling bertegur sapa lebih dari tiga hari.

Visi utama Islam sebagai agama dan sebagai konsep tatanan sosial ideal adalah untuk menjadi rahmat atau berkah bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya’ 107). Keluruhan konsep nilai Islam yang tak tertandingi oleh konsep-konsep tatanan sosial buatan manusia seperti sosialisme, komunisme, dan kapitalisme diakui oleh banyak kalangan yang sebelumnya menjadi pendukung fanatik ketiga aliran tersebut. Jeffrey Lang, seorang mantan penganut Atheisme, dalam bukunya Struggling to Surrender menegaskan hal ini.

Kalau ajaran Islam begitu luhur, mulia dan tinggi nilai kebenarannya dan Al-Quran dianggap sebagai kitab suci terbaik sepanjang masa bahkan oleh kalangan non muslim, maka semestinya sebagai penganut dari ajaran Islam menjadi umat terbaik di berbagai bidang. Sayang kenyataannya tidak demikian.

Konflik antar umat, saling membenci, saling hujat dan mendengki antar sesama muslim, bahkan saling bunuh antar golongan yang berbeda aliran masih menjadi kenyataan dan kejadian sehari-hari; walupun jelas dan tegas tersurat dalam hadits sahih di atas bahwa semua itu merupakan pelanggaran besar pada ajaran Islam.

Kejujuran dan sikap amanah merupakan perintah Allah yang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku keseharian seorang muslim (QS Al-Baqarah 2:283), namun kenyataan membuktikan sebaliknya: negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia justru dikenal sebagai negara nomor 1 paling korup di dunia.

Negara yang mengklaim dirinya sebagai negara Islam dan undang-undangnya berdasarkan negara Islam seperti Pakistan justru menjadi salah satu negara yang paling tidak aman di dunia. Sunni – Syiah yang saling berbunuh-bunuhan, pembunuhan antargolongan antar kelompok Sunni sendiri seperti terbunuhnya Benazir Bhutto, seorang muslim Sunni, baru-baru ini yang konon dilakukan oleh kalangan Sunni juga.

Semua itu membawa kesan yang beragam di kalangan nonmuslim. Bagi nonmuslim yang memahami inti ajaran Islam (Quran dan Sunnah), mereka berkesimpulan bahwa “Islam adalah agama terbaik, namun umat Islam adalah penganut agama terburuk.”

Bagi yang sama sekali tidak tahu Islam, mereka berkesimpulan bahwa “kalau umat Islam berperilaku begitu tidak beradab, tentunya itu karena ajaran Islam yang mengajarkan demikian.”

Semua kesan buruk di atas disebabkan oleh satu hal: kita mengaku seorang muslim hanya sebatas sebagai simbol identitas, sama halnya ketika kita mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa atau Madura.

Islam tidak lagi kita anggap sebagai pemandu kehidupan (way of life) perilku keseharian kita. Islam hanya kita pakai ketika kata ini akan menguntungkan kita secara materi. Kita mungkin masih melakukan shalat, naik haji, menghadiri acara pengajian, dan lain-lain; namun inti ajaran Islam yang harus menjadi bagian urat nadi kita, seperti kejujuran, amanah, kerja keras, bersifat toleran, dan lain-lain sama sekali kita lupakan.

Agama bagi sebagian umat Islam saat ini hanya diamalkan di masjid saat shalat. Tapi kita tidak berperilaku agamis saat kita di kantor, saat kita mendapat kepercayaan, saat kita menyikapi perbedaan, saat kita mendidik anak istri kita.

Tidaklah kita berfikir, bahwa sudah saatnya kita untuk berislam yang sebenarnya. Islam yang selalu kita bawa kemanapun kita pergi; sehingga perilaku kita mencerahkan orang di sekitar kita; mencerahkan alam; dan memberkahi bumi?[]


Malu dan Harga Diri
Oleh A. Fatih Syuhud

الحياء من الإيمان

Artinya: Malu itu salah satu unsur keimanan.

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Sahabat Ibnu Umar ini menjadi salah satu hadits “wajib” di kalangan santri, ustadz dan mubaligh. Dalam arti, tak seorang pun yang tidak mengenalnya setidaknya semua orang mendengar bunyi hadits ini dikumandangkan baik dalam versi Arabnya atau terjemahnya. Sayangnya, tidak semua orang menghayati kandungan dan kedalaman isinya.

Iman yang memiliki konotasi tauhid menjadi tema sentral Islam dan yang menjadi standar utama keislaman kita. Dalam Islam, setiap perbuatan baik tidak akan memiliki nilai relijius tanpa didasari kepercayaan (keimanan) pada Allah yang satu. Seorang nonmuslim bisa saja memiliki amal baik, namun tanpa menyandarkan pada Yang Satu, maka perbuatan baiknya hanyalah bersifat duniawi semata. Sebaliknya, seorang muslim yang berbuat baik akan memiliki keuntungan dua dimensi; dimensi duniawi dan ikhrowi (keakhiratan). Ini pada gilirannya akan menciptakan rasa tawadhu (rendah hati) di hati seorang muslim, bukan sikap sombong dan pongah, karena ia sadar bahwa amal baiknya semata karena timbul dari keimanannya pada Allah, bukan karena dirinya sendiri. Dan karenanya, seorang muslim tidak patut berbangga diri apalagi sombong atas segala perbuatan baiknya.

Haya’ yang secara literal positif bermakna “rasa malu, rasa segan, dan tidak sopan”[1] oleh Rasulullah disebut sebagai bagian dari keimanan. Ini artinya, seorang muslim sangat dianjurkan memiliki sifat haya’. Haya’ dalam arti rasa malu adalah identik dengan harga diri (muruah). Ketika kita mengatakan, “dia tak tahu malu” hampir dapat dipastikan maksudnya adalah “dia tak punya harga diri.”

Rasa malu dan harga diri dengan demikian adalah sifat mulia apabila dikaitkan dengan sifat mulia yang lain seperti kejujuran, kedermawanan, kesederhanaan dan kepedulian sosial. Kita merasa malu dan merasa tak punya harga diri apabila kita tidak jujur, tidak dermawan, tidak hidup sederhana dan tidak atau kurang peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan kita.

Orang Jepang terkenal dengan sikap ini. Sering kita dengar berita di media seorang pejabat tinggi yang mengundurkan diri karena dituduh korupsi sekalipun belum terbukti. Orang India terkenal dengan sikap sederhana dan kepedulian sosialnya[2]. Orang Eropa terkenal dengan rasa malu untuk korupsi, bangga hidup sederhana dan merakyat.[3] Bangsa Eropa Barat terkenal dengan sikap disiplin dan bersihnya.

Sikap haya’ semacam tersebut di atas tampak kurang mendapat perhatian kita, umat Islam Indonesia. Padahal, seperti tersebut dalam hadits di atas, ia harus menjadi bagian dari keimanan kita. Way of life (jalan hidup) kita.

Sudah waktunya kita menata dan meninjau ulang; sejauh mana kita telah menjalankan ajaran Islam yang benar. Serta mana ajaran-ajaran mulia Islam yang perlu kita prioritaskan. Haya’ menurut penulis adalah salah satu nilai Islam yang harus menjadi prioritas utama kehidupan keseharian seorang muslim.[]

CATATAN AKHIR

[1] Pemahaman haya’ lebih detail lihat Lewis Maluf El-Yasui, Al-Munjid, Maktabah Syarqiyah (Beirut: 1986); J. M. Cowan (at.), Arabic-English Dictionary, Spoken English Services, Inc. (New York: 1976); J. G. Hava, Arabic English Dictionary, Goodwords (New Delhi: 2001).
[2] Lihat, A. Fatih Syuhud, “Hidup Sederhana sebagai Pilihan” dalam Akhlakul Karimah, Malang (Pustaka Alkhoirot:2011).
[3] Bangsa Skandinavia seperti Finlandia dan Norwegia terkenal sebagai negara yang pemerintahannya paling bersih dari korupsi. Presiden dan pejabat-pejabatnya sangat merakyat. Sering mereka keliling kota dengan menyetir sendiri tanpa pengawal pribadi. Mobil-mobil diparkir di pinggir jalan tanpa dikunci dan bahkan kunci mobil dibiarkan di tempatnya tanpa ada yang mencuri.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • setiap kata di blog ini sangat inspiratif sekali, semoga sukses mas fatih

    Ikhsan HafiyudinDecember 11, 2014

Leave a Reply