Hidup Bahagia: Bersyukur, Tawakal, Taubat

Hidup bahagia di dunia pada dasarnya dapat dicapai dengan cara mensyukuri apapun yang dimiliki baik tampilan fisik, kondisi keluarga, kepemilikan harta. Pada waktu yang sama selalu bekerja keras untuk berusaha mencapai yang terbaik sambil tak lupa untuk tawakal pada saatnya dan bertaubat apabila melakukan dosa.
Hidup Bahagia Dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
Ponpes Alkhoirot Putri

Daftar Isi

  1. Hidup Bahagia
  2. BerSyukur
  3. Tawakkal
  4. Taubat


Hidup Bahagia

Tidak ada satu tujuan yang paling dicari oleh umat manusia kecuali kebahagian. Semua orang ingin hidup bahagia. Bahkan kalau ditelusuri, hampir setiap perbuatan yang dilakukan seseorang bertujuan langsung atau tidak langsung untuk mencapai kebahagiaan. Baik itu perbuatan baik, seperti menuntut ilmu, maupun perbuatan yang jahat sekalipun seperti mencuri atau mencopet. Tanya pada pencuri, apa alasan dia mencuri, ujung dari jawaban pasti untuk mencari kebahagiaan.

Banyak filosof dan ilmuwan psikologi yang membuat ulasan panjang menawarkan konsep bahagia dan bagaimana mencapai kebahagiaan. Aristotle, misalnya, mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah kehidupan yang tentram dan itu terjadi apabila seseorang dapat mencapai potensi diri secara maksimal.

Dalam Islam, konsep kebahagiaan itu secara garis besar terbagi menjadi dua: bahagia di dunia dan bahagia di akhirat (QS Al Baqarah 2:201).

Bahagia di Dunia adalah Kerja Keras

Berbeda dengan kebahagiaan di akhirat yang digambarkan dalam Al Quran sebagai tempat yang tenang, nyaman dan “penuh fasilitas” serta keabadian (QS Al Baqarah 2:25), bahagia di dunia baru dapat tercapai oleh adanya tiga faktor yang sama sekali berbeda yakni, pertama adalah kerja keras (QS Al Anfal 8:60; Al Jum’ah 62:9-10; Al Ankabut 29:69; Al Balad 90:4-17).

Kedua, rasa syukur atas apapun yang telah dihasilkan dari kerja keras tadi (QS Ibrahim 14:7; An Naml 17:40) . Bahwa buah yang dihasilkan itu sedikit atau banyak tidaklah begitu penting.

Ketiga, tawakkal. Saat kerja keras maksimal dengan pengerahan segala daya dan pikiran telah dilakukan, maka langkah akhir adalah berserah diri (tawakkal) pada-Nya (QS Ar Ra’d 13:88). Langkah ketiga ini perlu dan harus dilakukan terutama di saat kerja keras kita tidak membuahkan hasil yang diinginkan.

Ketiga unsur kunci untuk mencapai kebahagiaan di dunia (fid- duniya hasanah) di atas harus dilakukan secara terus menerus sampai akhir hayat. Kerja keras demi kerja keras selalu diperlukan untuk menciptakan harapan-harapan baru. Karena adanya harapan membuat manusia termotivasi untuk hidup lebih baik (QS Yusuf 12:87) . Dan karena vitalitas dan kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh besarnya harapan yang dia ciptakan dari kerja kerasnya.

Bersyukur menjadi unsur kedua yang tak kalah pentingnya. Di samping untuk menikmati “panen” dari hasil kita kerja keras “bercocok-tanam”, ia menjadi saat yang tepat untuk berkontemplasi dan berintrospeksi atas apa yang sudah dilakukan serta untuk membuat rencana apa lagi yang perlu dijalankan untuk menciptakan harapan baru yang lain.

Ada saat di mana hasil kerja keras kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, di sinilah fungsi tawakal sangatlah penting (QS Al Buruj 85:71). Ia dapat menjadi rem dari keputusasaan. Tanpa rem ini tidak sedikit orang yang mengakhiri hidupnya hanya karena kekecewaan kecil yang menderanya. Sebaliknya banyak orang dapat bertahan dan bahkan bangkit dari kejatuhan karena adanya rem tawakal dan timbulnya harapan baru lain yang diciptakannya.

Jadi, bahagia di dunia bukanlah hidup dengan bermalas-malasan atau bersenang-senang yang semu. Alih-alih bahagia, hidup seperti ini adalah hidup tanpa harapan dan tujuan yang justru identik dengan derita dan keputusasaan.[]


Syukur dalam Islam.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Alkhoirot Putri

Bersyukur itu penting dan merupakan bagian dari pola berfikir (mindset) dan perilaku kehidupan yang sehat. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk bersyukur (QS Ibrahim 14:7). Karena pada dasarnya, bersyukur itu untuk kepentingan dan kemaslahatan diri kita sendiri (QS An Naml 27:40). Bersyukur dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas keuntungan yang kita dapatkan atau hilangnya kesulitan yang menimpa.

Ungkapan rasa syukur tentu saja tidak terbatas pada ekspresi untaian kata karena ungkapan verbal hanyalah salah satu bentuk rasa syukur. Setidaknya ungkapan syukur dapat dilakukan dalam tiga ekspresi.

Pertama, syukur dengan hati (bil qalbi). Yaitu dengan menikmati anugerah Allah yang sudah dan sedang kita peroleh. Kesalahan umat manusia yang kurang bersyukur adalah karena kekurangmampuan mereka dalam mengingat dan mendata serta menikmati pemberian-pemberian Allah yang sudah dan sedang dalam genggaman atau yang sudah kita raih. Plus dibarengi dengan rasa tamak atas apa yang belum kita dapat yang kebetulan sudah dimiliki orang-orang di sekitar kita.

Bercita-cita untuk mencapai apa yang belum kita raih adalah manusiawi bahkan dianjurkan. Yang tidak wajar dan tidak boleh adalah ketika keinginan itu menghalangi kita untuk mensyukuri nikmat yang ada serta menutup mata kita atas anugerah yang kita miliki..

Kedua, syukur dengan kata-kata (bil lisan). Adalah dengan mengucapkan kata syukur secara verbal. Diungkapkan dalam kesendirian atau di depan orang lain (QS Adh Dhuha 93:11). Baik dengan sepatah kata “alhamdulillah” atau kata-kata ungkapan senada yang lain.

Ketiga, syukur dengan perilaku (bil hal). Yaitu dengan cara belajar lebih rajin dan membagi ilmu yang diperolehnya bagi yang dianugerahi ilmu pengetahuan. Bekerja lebih keras dan bersedekah lebih banyak bagi yang mendapat limpahan rezeki. Serta semakin mawas diri dalam bertindak bagi yang terlepas dari himpitan masalah.

Kebahagiaan dan ketenangan hati kita sangat tergantung, salah satunya, pada kemampuan kita dalam mensyukuri nikmat yang sudah dan sedang kita capai. Dan ini tidaklah mudah. Karena memang kecenderungan awal dari manusia adalah memikirkan dan menginginkan apa yang belum dimiliki dan ini sering berakibat pada lupanya kita untuk menikmati dan mensyukuri yang ada. .

Sekedar contoh kecil, berapa banyak dari kita yang bersyukur saat kita sehat? Tidak banyak. Yang sering terdengar adalah keluhan saat kita sakit. Berapa banyak dari kita yang bersyukur atas kenyataan bahwa kita dianugerahi fisik yang normal dan tidak cacat? Sedikit. Yang banyak adalah nada tidak puas atas bentuk fisik yang kita miliki; merasa kurang cantik atau kurang tampan: hidung yang kurang mancung atau terlalu panjang, kulit yang kurang putih atau terlalu putih, badan yang terlalu pendek atau ketiggian, terlalu kurus atau kegemukan.

Kemudian, dari ketiga ekspresi syukur di atas mana yang paling dianjurkan? Ketiga-tiganya. Ungkapan syukur bil qalb dan bil lisan itu perlu karena akan membuat hati kita tenang dan selalu berbahagia. Merasa hidup penuh berkelimpahan. Ungkapan syukur bil hal juga tak kalah penting karena selain akan membuat kita bahagia juga dapat menularkan kebahagiaan itu pada orang lain di sekitar kita. Baik yang mendapat manfaat langsung dari syukur bil hal kita atau tidak.

Keharmonisan sosial juga ditentukan oleh, antara lain, seberapa besar kita melakukan ungkapan rasa syukur bil hal ini.[]


Tawakkal dalam Islam
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
PP Alkhoirot Putri

Dalam suatu Hadits diriwayatkan Rasulullah menanyakan pada seorang Badui mengapa dia tidak mengikat untanya. “Aku tawakkal (pasrah) pada Allah,” jawab si Badui itu. Rasulullah berkata: “Ikatlah dulu untamu. Lalu tawakallah pada Allah.”

Hadits di atas oleh banyak ulama dipakai sebagai landasan tentang urutan (kronika) sikap menuju tawakkal: berusaha dulu baru berpasrah diri padaNya. Hadits tersebut sebenarnya memperkuat apa yang secara eksplisit dinyatakan dalam Al Quran Surah Ali Imron 3:159. Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa usaha kita hendaknya sebuah usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh (QS Al Anfal 8:60) bukan sekedar berusaha tanpa dibarengi dengan energi tinggi dan perencanaan yang matang.

Tidak sedikit kita umat Islam yang menyalahgunakan kata tawakkal untuk menutupi kelemahan dan kemalasan diri. Berusaha yang asal-asalan sama dengan tidak berusaha dan karena itu tidak berhak untuk menuju level tawakkal. Karena kalau ini dilakukan, kesuksesan jelas tidak akan tercapai. Karena hanya dengan kesungguhan maksimal (mujahadah) suatu usaha akan menampakkan hasilnya (QS Al Ankabut 29:65). Dan suatu usaha dapat disebut maksimal kalau setidaknya melewati tiga proses.

Pertama, rasa percaya diri (confident). Percaya bahwa kita dapat berhasil melakukan apa yang hendak kita lakukan itu sangat penting. Untungnya, Islam memberi ruang yang lebar bagi kita untuk bersikap percaya diri. Dalam QS Ar Ra’d 13:11 dengan tegas dinyatakan bahwa “Allah tidak (akan) merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Tanpa percaya diri, bagaimana seseorang berani berencana dan bertindak?

Kedua, perencanaan yang matang.. Ibarat insinyur yang hendak membangun jembatan, usahanya akan gagal tanpa ada rancang bangun yang detail terlebih dahulu dari jembatan yang hendak dibangunnya. Apabila Anda bingung dalam membuat perencanaan yang baik, konsultasi pada ahlinya atau pada orang yang dianggap relatif lebih mengetahui (QS Ali Imron 3:159). Termasuk dalam perencanaan adalah mengadakan penelitian atau survei atas kemungkinan berhasil atau tidaknya apa yang akan dilakukan.

Ketiga, kerja keras dan fokus. Kerja keras untuk mencapai apa yang direncanakan. Termasuk dari bagian kerja keras adalah disiplin, konsisten, tahan uji (resilience) dan fokus.

Fokus atau mengerahkan segala pikiran dan tenaga pada satu titik merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kita boleh memiliki banyak rencana, tapi fokus pada satu rencana dalam satu waktu adalah kunci menuju kemungkinan sukses yang lebih besar.

Apabila tiga proses di atas sudah dilakukan, dan ternyata kegagalan jua yang didapat, maka kita sudah mencapai pada level di mana tawakkal atau berserah diri pada Allah bukan hanya dibolehkan tapi juga diperlukan. Sebab tanpa tawakkal pada momen seperti ini hanya putus asa yang masuk ke sanubari. Dalam Islam, putus asa merupakan salah satu tindakan yang sangat tidak etis seperti tersurat dalam QS Yusuf 12:87. Jadi tawakkal adalah kekuatan manusia untuk terus hidup, bukan kelemahan.

Momen tawakkal juga momen yang tepat untuk berkontemplasi (introspeksi diri atas kesalahan yang mungkin dilakukan), dan untuk menenangkan hati sambil memikirkan rancangan-rancangan baru menuju usaha berikutnya. Hidup itu dinamis yang selalu bergerak. Apabila kita diam, kita akan ditinggal waktu dan sudah tidak lagi layak disebut hidup.[]


Taubat dalam Islam.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ukhuwah
Ponpes Alkhoirot Putri Karangsuko, Malang

Taubat bermakna kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat atau dosa sambil menyesali kesalahan yang dilakukan dan berjanji sepenuh hati untuk tidak melakukannya lagi. Pada perkembangan berikutnya, taubat juga berarti menyesali kesalahan yang dilakukan tidak hanya pada Allah, tapi juga pada sesama manusia.

Secara kontekstual, ada tiga macam kesalahan yang dilakukan seseorang, pertama, kesalahan kepada Allah, seperti mengabaikan ibadah shalat lima waktu, berzina, dan lain-lain.

Kedua, kesalahan pada Allah dan sesama manusia, seperti membunuh, mencuri, dan lain-lain. Ketiga, kesalahan pada sesama manusia (haqqul adami).

Menebus kesalahanan pada Allah dilakukan dengan cara bertaubat (QS Al Baqarah 2:222; Ali Imron 3:133) dengan taubat nasuha yaitu sikap penyesalan atas kealpaan yang dilakukan dan komitmen yang tulus untuk tidak mengulangi (QS At Tahrim 66:8). Taubat nasuha, dengan demikian, adalah perilaku penyesalan diri yang konsisten antara janji dan perilaku serta berkesinambungan.

Taubat nasuha juga harus dilakukan saat kita menyesali kesalahan pada sesama manusia (haqqul adami). Hal ini disebabkan karena Allah tidak akan mengampuni dosa antara sesama manusia (haqqul adami ) sampai yang bersangkutan memaafkan kesalahan kita. Dalam suatu Hadits diriwayatkan, Rasulullah menjelang wafatnya mengumumkan pada para Sahabat bahwa apabila beliau punya salah, beliau minta maaf. Apabila tidak dimaafkan, silahkan yang bersangkutan membalasnya sesuai dengan kesalahan yang dilakukan Nabi.

Meminta maaf pada sesama manusia bagi banyak orang terasa lebih berat dibanding bertaubat pada Tuhan. Padahal, seperti disinggung di muka, ia tak kalah pentingnya karena dalam Islam keharmonisan hubungan antarmanusia (hablun minan nas) sama prioritasnya dengan kaharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan-nya (hablun min Allah).

Apabila kita berbuat salah yang merugikan orang lain, permintaan maaf yang tulus sangatlah perlu. Yakinkan bahwa kesalahan Anda itu tidak akan terulang lagi.

Permintaan maaf diperlukan bukan hanya untuk mengobati hati orang yang disakiti. Tetapi, yang lebih penting, untuk kebaikan diri kita sendiri. Untuk mengembalikan kepercayaan (trust) orang itu pada kita. Kehidupan antarmanusia baru bisa dikatakan harmonis dan saling menguntungkan kalau dibangun dari rasa saling percaya.

Seseorang yang bermartabat dan ingin dihargai orang lain harus dapat menjaga kepercayaan (amanah) yang diberikan padanya. Saat ketika amanah itu dilanggar, ia telah menghancurkan dirinya sendiri di mata orang lain. Sama dengan saat dia melanggar amanah yang diberikan Allah dengan tidak mematuhi perintah dan mengabaikan larangan-Nya.

Allah Maha Tahu apakah taubat kita itu nasuha atau cuma main-main. Akan tetapi, manusia tidak tahu, apakah permintaan maaf kita berkualitas nasuha atau cuma di bibir saja. Untuk itu diperlukan pembuktian terus-menerus untuk mengembalikan kepercayaan yang telah kita hancurkan sendiri.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

Leave a Reply