Halimatus Sa’diah Ibu Susuan Nabi

Halimatus Sa’diah Ibu Susuan Nabi*
Oleh A. Fatih Syuhud

Sudah menjadi tradisi bangsa Quraish mengirim anak yang baru lahir pada suku pedalaman (qabail al badiyah) di sekitar Makkah untuk disusui oleh perempuan suku tersebut. Suku pedalaman yang terkenal antara lain seperti Bani Said bin Bakar dari Hawazin dan Bani Laits bin Bakar dari Kinanah. Hal ini disebabkan karena kabilah-kabilah pedalaman tersebut dikenal dengan memiliki kemampuan bahasa Arab yang murni dan orisinil serta belum tercampur pengaruh bahasa lain. Jadi, salah satu tujuan menyusukan anak bayi pada pedalaman adalah untuk mengajari bayi tersebut bahasa Arab yang baik. Karena, bangsa Quraish waktu itu memang sangat mengagungkan sastra Arab.

Biasanya para perempuan tukang menyusui (murdhiat) tersebut datang ke kota Makkah dari daerah pedalaman menawarkan jasa pada orang tua yang baru punya anak bayi yang mau disusui. Umumnya mereka akan mengutamakan memilih anak yang ayahnya masih hidup. Hanya saja, karena Muhammad adalah anak yatim, karena ayahanda Abdullah sudah wafat, maka tidak ada yang memilih Muhammad kecuali Halimah As-Sa’diyah. Ia meminta pada ibunda Aminah binti Wahab untuk dibawa ke kampungnya dan tinggal di daerah Bani Saad di Hudaibiyah; dan setelah selesai Muhammad di bawa kembali pada ibunya saat usia 6 tahun. Dengan demikian, maka Halimatus Sa’diyah adalah ibu susuan (radha’ah) Nabi di mana menurut syariah Islam memiliki hubungan kekerabatan yang diakui dan menjadi mahram layaknya ibu kandung seperti tersurat dalam firman Allah QS Al-Baqarah 2:233 dan An-Nisa’ 4:23.

Mengapa ibunda Nabi memilih Halimatus Sa’diyah sebagai ibu susuan putranya? Ada beberapa faktor dan menurut Sirah Ibnu Hisyam salah satunya adalah karena Halimah masih memiliki hubungan kekerabatan jauh dengan Nabi yaitu pada kakek buyut Nabi yang bernama Adnan. Silsilah Halimah selengkapnya adalah sebagai berikut: Halimah binti Abu Dzuaib bin Abdullah bin Al-Harits bin Syajnah bin Jabir bin Razam bin Nasirah bin Qasiyah bin Nashr bin Sa’d bin Bakar bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khasfah bin Qais bin Ailan bin Mudhar bin Nazar bin Maad bin Adnan.

Namun, dalam Sahih Ibnu Hibban hadits no. 6441 diriwayatkan bahwa Halimah sebenarnya tidak berminat mengambil Muhammad sebagai anak susuannya karena dia tidak punya ayah. Tapi karena anak-anak bayi yang lain sudah diambil oleh wanita murthiat yang lain, maka tidak ada pilihan selain bayi Muhammad. Di luar dugaan, ternyata bayi Muhammad membawa berkah bagi keluarga Halimah sejak awal mula Halimah memutuskan untuk mengambilnya sebagai anak susuan. Keberkahan yang terjadi segera setelah Halimah mengambil Muhammad sebagai anak susuan antara lain berupa:

  • Unta betina tua yang dibawa Halimah yang asalnya tidak mengeluarkan susu yang dapat diminum, jadi banyak mengeluarkan susu sehingga cukup bahkan melebihi untuk dikonsumsi oleh Halimah, suaminya dan anaknya sendiri selama dalam perjalanan dari kota Makkah sampai pulang dan seterusnya.
  • Air susu ibu (ASI) Halimah yang asalnya seret dan sulit keluar menjadi lancar kembali.

Pertemuan setelah Nabi Dewasa

Setelah 6 tahun berkumpul bersama antara Halimah dan Nabi, mereka baru bertemu kembali setelah Nabi menikah dengan Khadijah Al-Kubro. Saat Halimah datang pertama kali setelah Nabi menikah, Khadijah memberinya 40 ekor kambing. Halimah bersama suaminya datang lagi menemui Nabi setelah menjadi Rasul, dan keduanya pun masuk Islam.

Pertemuan ketiga antara Nabi dan Halimah terjadi pada saat perang Hunain di mana saat itu Nabi sedang berada di kawasan Jikranah. Nabi menghormati ibu susuannya dengan patut. Beliau menyambut kedatangannya dengan berdiri, dan menghamparkan selendang Nabi di tanah untuk dipakai Halimah duduk. Walaupun saat itu Nabi sedang sibuk membagikan daging pada para Sahabat yang ikut dalam pertempuran.[1] Inilah pertemuan terakhir Nabi bersama Halimatus Sa’diyah.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari masa kecil Nabi dan interaksinya dengan ibu susuannya Halimah as-Sa’diyah ini, antara lain (a) selalu bersikap empati dan peduli pada anak yatim kendatipun kita sendiri berada dalam kekurangan, maka insyaAllah Allah akan membantu kita; (b) pentingnya pendidikan anak sejak ia masih bayi; (c) memberi penghormatan yang tinggi pada ibu, walaupun ia hanya ibu radha’ah (susuan) kapanpun, di manapun, dan setinggi apapun jabatan kita.[]

*Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Ponpes Putri Al-Khoirot

[1] Berdasarkan riwayat dalam Musnad Al-Bazzar, hadits no. 2781.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply