Hak Suami dan Kewajiban Istri

Hak Suami dan Kewajiban Istri. Suami istri hendaknya memahami lebih dulu kewajiban masing-masing dalam rumah tangga dan berusaha melaksanakannya. Setelah itu barulah berfikir tentang apa hak-hak masing-masing. Rumah tangga yang sering konflik karena masing-masing lebih memikirkan hak dari kewajiban.
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. Hak Suami dan Kewajiban Istri
  2. Kerja Keras dan Hidup Sederhana Kunci Hidup Bahagia
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Hak Suami dan Kewajiban Istri

Dalam QS Al-Baqarah 2:228 Allah berfirman “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa masing-masing pihak suami dan istri sama-sama memiliki hak dan kewajiban pada yang lain, namun hak yang dimiliki oleh suami memiliki sedikit kelebihan.  Menurut Ibnu Arabi ayat di atas menyatakan bahwa suami mempunyai hak yang tidak dimiliki oleh istri. Hak suami artinya kewajiban yang harus dilakukan istri. Dari berbagai ayat Quran dan hadits Nabi, hak-hak suami secara garis besar adalah sebagai berikut:

Pertama, hak untuk ditaati. Allah menjadikan suami sebagai pemimpin untuk ditaati keinginan dan perintahnya selagi hal itu tidak bertentangan dengan syariah (QS An-Nisa 4:34). Sebuah hadits yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir (1/492) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kata “qawwam” adalah amir (kepala negara) dalam arti suami harus ditaati layaknya taat pada kepala negara. Termasuk dari taat pada suami adalah beperilaku yang dapat membina keluarga dan menjaga harta suami agar dipakai untuk hal yang bermanfaat.

Kedua, hak untuk berhubungan intim. Suami berhak untuk melakukan hubungan intim (istimtak) dan adalah kewajiban istri untuk menyetujui perimtaan suami. Apabila istri menolak maka hukumnya berdosa besar kecuali ada alasan yang dapat diterima syariah seperti haid, puasa wajib, sakit, dan semacamnya. Hal ini berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim di mana Nabi bersabda: “Apabila suami mengajak istrinya untuk berhubungan intim pada malam hari lalu istrinya menolak dan membuat suaminya marah, maka ia akan dilaknat Malaikat sampai pagi hari tiba.”

Ketiga, hak untuk menolak seseorang yang tidak disukai. Istri berkewajiban untuk tidak memasukkan seseorang yang tidak disukai suami ke dalam rumah. Berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim Nabi bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada di rumah kecuali atas izin suaminya,  dan tidak boleh memasukkan seseorang ke rumah kecuali atas izin suaminya.”

Keempat,  hak suami untuk dimintai ijin apabila istri hendak keluar rumah.  Istri wajib meminta ijin pada suami apabila hendak keluar rumah. Dan suami boleh menolak permohnan ijin istri. Bahkan walaupun kepergiannya itu hendak menjenguk orang tuanya sendiri yang sedang sakit. Demikian menurut pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbali. Karena, taat suami adalah wajib sedang mengunjungi orang tua itu sunnah.

Kelima, hak untuk mendapat perlakuan yang baik (muasyaroh bil makruf). Istri wajib memperlakukan suami dengan hormat layaknya seorang imam mendapatkan penghormatan yang pantas dari makmumnya (QS Al-Baqarah 2:228).

Keenam, hak untuk mendidik istri. Apabila istri tidak menaati permintaan yang wajar dari suami dan tidak menaati perintah syariah seperti shalat dan puasa, maka suami berhak untuk memberi didikan pada istri berupa nasihat, dan memberlakukan sanksi hukuman yang wajar dan bahkan boleh dipukul asal tidak sampai menyakiti (QS An-Nisa’ 4:34;  At-Tahrim 66:6). Ulama madzhab Hanafi menyatakan ada empat situasi di mana suami boleh memberi sanksi pada istrinya yaitu (a) menolak berhubungan intim tanpa alasan logis; (b) meninggalkan shalat; (c) keluar rumah tanpa ijin suami; (d) tidak mau berdandan saat diminta.

Seperti disebut di atas ada enam hak yang dimiliki suami yang menjadi kewajiban istri untuk melaksanakannya. Di balik suatu hak selalu ada kewajiban yang harus dipenuhi. Demikian juga bagi suami. Suami memiliki sejumlah kewajiban yang menjadi hak istri seperti memberi nafkah istri dan anak, memberlakukan istri dengan baik, dan menyayanginya (QS An-Nisa’ 4:19; Al-Baqarah 2:233, At-Talaq 65:7).[]


Kerja Keras dan Hidup Sederhana Kunci Hidup Bahagia
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Al-Khoirot Putri Malang

Salah satu penyebab ketidakbahagiaan dalam sebuah keluarga adalah karena adanya keinginan untuk hidup mewah. Pola pikir hidup mewah tidak harus dimiliki oleh orang kaya. Orang miskin pun tidak sedikit yang menganut cara berfikir mewah itu. Bedanya, kalau orang kaya dapat melaksanakan keinginannya, sedang orang miskin hanya terbatas pada angan-angan belaka. Namun akibatnya sama: mereka sama-sama menjadi makhluk yang tidak akan pernah bisa bersyukur. Karena pola pikir mewah tidak mengenal batas akhir dan tidak akan pernah terpuaskan. Yang ada adalah keluh kesah karena perasaan kurang yang terus menghinggapi hati. Oleh karena itu, hal pertama untuk mencapai hidup yang bahagia dan selalu mensyukuri yang ada adalah dengan mengamalkan pola pikir dan pola hidup sederhana.

Mengamalkan pola pikir dan pola hidup sederhana bukan berarti menolak menjadi kaya. Karena, memiliki harta yang berlimpah itu tidak dilarang dalam Islam bahkan Allah memuji orang yang bekerja keras dan kaya asal membayar zakat dan sedekah dan terkadang mengingatkan orang miskin yang malas. Yang dilarang dalam Islam adalah pola hidup mewah dan konsumtif seperti disinggung dalam QS Saba 34:34 di mana Allah berfirman: ‘Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. ‘

Dalam ayat di atas secara implisit Allah menyebutkan dampak lain dari gaya hidup mewah bahwa kecenderungan hidup mewah akan mengakibatkan kita menjadi sosok pribadi yang keras kepala, keras hati dan pembangkang serta suka taklid buta pada ajaran nenek moyang dan menutup diri dari kebenaran hidayah Islam sebagaimana juga disinggung dalam ayat QS Al-Isra’ 17:16 dan Az-Zakhruf 43:23.

Bagaimana standar pola hidup sederhana dan apa batasan hidup mewah? Hidup sederhana adalah gaya hidup berdasar apa yang benar-benar dibutuhkan. Sedangkan hidup mewah adalah pola hidup berdasarkan apa yang diinginkan. Misalnya, bagi penganut hidup sederhana, pesawat televisi dan perabotan rumah tangga yang ada tidak perlu diganti yang baru selagi yang lama masih bisa dipakai dan berfungsi dengan baik. Sebaliknya, bagi kalangan hedonis yang memuja materi memiliki pandangan menggunakan harta yang ada untuk dibelanjakan semaksimal dan sesering mungkin agar orang tahu level kekayaannya. Bagi orang kaya tapi sederhana, membeli mobil tidak perlu mewah walaupun mampu. Bagi pemuja materi, mobil adalah lambang gengsi dan martabatnya, kalau mampu membeli mobil termahal, mengapa harus membeli yang murah? Begitu juga perhiasan emas yang dimiliki, bagi kelompok pertama tidaklah perlu dipamerkan. Perhiasan emas yang dimiliki cukuplah menjadi investasi tabungan dan dipakai seperlunya. Bagi kelompok kedua, buat apa memiliki banyak perhiasan emas kalau tidak dipamerkan di seluruh tubuh sehingga kelihatan oleh semua orang?

Pola hidup sederhana dapat dimulai oleh kedua pemimpin rumah tangga yaitu suami dan istri dan hendaknya ditanamkan dan dibiasakan pada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari..

Kerja keras dan hidup sederhana merupakan dua kombinasi yang akan menjamin hidup bahagia sebuah rumah tangga karena, pertama, orang yang suka bekerja keras pasti akan mendapat rizki dari Allah dan dia akan merasa cukup atas apa yang diperoleh walaupun tidak banyak karena sudah terbiasa dengan gaya hidup yang seadanya.

Kedua, kalau dari kerja kerasnya membuat dia menjadi kaya raya, maka kelebihan hartanya tidak akan membuat dia lupa diri. Dengan komitmennya pada hidup sederhana membuat dia memiliki banyak kelebihan harta. Hal itu menjadi kesempatan baginya untuk berbagi dengan sesama: membantu kalangan fakir miskin, memberi beasiswa pada anak muda yang putus sekolah, menyantuni anak yatim, membantu lembaga pendidikan dan pesantren yang membutuhkan. Kebahagiannya akan semakin bertambah melihat begitu banyak orang lain yang menjadi bahagia karena hartanya.

Kerja keras hendaknya dilakukan tidak hanya oleh suami, tapi juga oleh istri. Adanya kesibukan dan harapan mendapatkan hasil adalah salah satu jalan menuju bahagia di dunia.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • Terima kasih, sangat bermanfaat, semoga bisa dijalankan, amiiiin

    Sabung Ayam OnlineJuly 31, 2017
  • Assalamualaikum.pembaca yg dirahmati Allah SWT sungguh benar jika kita bisa menjlnkn dan melaksanakan hak dan kewajiban tsb niscaya apa yg kita bs mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat, semoga kita bs menunaikan hak dan kewajiban kpd sesama pasangan kita amin. Semoga berkah utk kita semua, wassalam.

    nurul fauziSeptember 13, 2014

Leave a Reply