Gaya HIdup Sederhana Nabi Muhammad

Pola Hidup Sederhana Nabi Muhammad *
Oleh A. Fatih Syuhud

Orang yang menganut gaya hidup sederhana ada dua macam. Pertama, orang miskin yang memang memiliki kemampuan finansial terbatas. Umumnya, kemiskinan yang mereka derita bukan karena kemauan sendiri tetapi karena keterpaksaan yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan (skill), lemahnya pendidikan, dan sedikitnya pilihan dan kesempatan. Orang miskin otomatis harus hidup sederhana dan apa adanya karena itulah satu-satunya cara yang harus dia lakukan. Namun demikian, belum tentu mereka akan tetap hidup sederhana seperti itu ketika suatu hari mereka menjadi orang yang kaya dan memiliki sarana untuk hidup mewah. Ini adalah kecenderungan kebanyakan orang miskin di dunia. Mereka hidup sederhana karena memang miskin dan tidak memiliki sarana untuk hidup mewah. Di antara mereka ada yang cukup mensyukuri hidupnya dan tawakal dengan apa yang diterima. Namun tidak sedikit yang selalu mengeluh dan merasa tidak puas atas keadaan yang mereka anggap kurang nyaman.[1]

Kedua, orang yang secara finansial berkecukupan, bahkan termasuk kaya raya, namun ia memilih untuk tidak hidup berfoya-foya dan bergelimang kemewahan walaupun mereka mampu melakukan itu. Bagi kelompok ini, kekayaan hanyalah buah dari kerja keras dan tidak harus dihambur-hamburkan untuk kepentingan dan kemegahan pribadi. Mereka lebih suka memanfaatkan kelebihan materi yang dimiliki untuk membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkannya. Orang seperti ini ada walaupun tidak banyak.[2]

Karena, kebanyakan manusia akan memanfaatkan kekayaan berlimpah yang dimiliki untuk kemegahan pribadi yang dapat ditandai dengan kepemilikan benda-benda yang dianggap mewah sebagai simbol status sosial. Seperti mobil, rumah, perabot rumah tangga, dan atribut yang dipakai semua harus mewah dan sesuai dengan standar kalangan sosialita modern. Sekedar contoh kecil, banyak kalangan hartawan kita yang memiliki jam tangan seharga 1 milyar; tas tangan wanita seharga 100 juta, dan seterusnya. Ironisnya, sebagian ulama kaya yang senang dipanggil dengan sebutan kehormatan seperti Ustadz, Kyai, Abuya, dan Tuan Guru, tak segan-segan mengikuti gaya hidup hedonis ini. [3]

Seperti disebutkan di muka, orang kaya yang hidup sederhana itu ada walaupun sedikit. Di antara yang sedikit itu tersebut nama-nama seperti Azim Premji, seorang muslim asal India. Dia menempati peringkat nomor 61 sebagai individu terkaya sedunia versi Majalah Forbes edisi 2014 dengan kekayaan senilai USD 15 miliar atau sekitar Rp. 150 triliun rupiah. Dengan kekayaan sebesar itu, dia tetap hidup sederhana. Kekayaannya dibuatnya untuk membantu pendidikan siswa miskin. Dia mendirikan yayasan beasiswa dengan nama Azim Premji Foundation yang sejak berdirinya pada tahun 2001 telah membiayai pendidikan lebih dari 2.5 juta siswa di seluruh India.[4] Di Indonesia, kita mengenal Joko Widodo, mantan Walikota Solo dan saat ini Gubernur DKI Jakarta yang berpola hidup sangat sederhana walaupun memiliki kekayaan senilai Rp. 23 miliar. Joko Widodo atau Jokowi menolak naik mobil mewah walaupun itu mobil dinas yang legal. Dalam kesehariannya sebagai Gubernur DKI, Jokowi hanya mengendarai Toyota Innova, berpakaian putih jahitan tanpa merek yang harganya sekitar Rp. 50.000 dan memakai sepatu seharga Rp. 100.000. Para ulama hartawan dan politisi partai Islam yang bergaya hidup mewah harus merasa malu pada kesederhanaan Jokowi.

Ketiga, figur yang sebenarnya memiliki kesempatan untuk kaya dengan cara yang halal, tapi ia dengan sengaja meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih menjadi miskin dan hidup sederhana dan pas-pasan. Rasulullah termasuk dalam kategori ini. Rasulullah memiliki kemampuan, kesempatan dan kekuasaan untuk menjadi kaya raya. Sebagai Rasul dan sekaligus kepala negara, beliau selalu mendapatkan harta berlimpah dari berbagai arah. Dari rampasan perang, dan berbagai hadiah yang diterimanya dari berbagai pihak baik dari umat Islam maupun dari raja-raja non-muslim. Namun, Nabi selalu membagi setiap hadiah atau harta yang diterimanya pada orang lain dan hanya menyisakan bagian sangat sedikit untuk Nabi dan keluarganya. [5]

Kemiskinan dan kesederhanaan hidup yang dipilih sekaligus kedermawanan Nabi dapat dilihat dalam sejumlah riwayat hadits berikut:

Nabi Hanya Memiliki Satu Mantel

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah saw, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah saw berhenti sejenak dan berseru, ”Berilah mantelku ini! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian (HR. Bukhari)

Bersedekah Sampai Harta Habis

Umar bin Khattab bercerita: Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.” Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah saw tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Ummu Salamah, istri Rasulullah saw bercerita: Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. “Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?” tanyaku. Rasulullah menjawab,”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR Al-Haitsami).

Memberi dari Harta Hadiah yang Disukai

Sahl bin Sa’ad bertutur: Suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi saw sepotong syamlah yang ujungnya ditenun (syamlah adalah baju lapang yang menutup seluruh badan). Perempuan itu berkata, “ Ya Rasulullah, akulah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkan kepada Engkau.” Rasulullah saw pun sangat menyukainya. Beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasih kepada wanita itu. Rasulullah saw betul-betul sangat membutuhkan dan menyukai syamlah tersebut.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta syamlah tersebut. Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki-laki tersebut. Mereka berkata, “Hai Fulan, Rasulullah saw sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa kau memintanya? Kau kan tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?” Laki-laki itu menjawab, “Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya. (HR Bukhari)

Diikuti Abu Bakar, Umar dan Ali

Sikap Rasulullah yang lebih memilih hidup miskin, walaupun mampu untuk hidup kaya secara halal, ditiru oleh sejumlah Sahabat, antara lain Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib.

Pada saat Rasulullah mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah.[6] Sejak saat itu Abu Bakar menjadi orang yang hidup dengan sangat sederhana.[7] Kesederhanaan itu terus terjadi kendatipun dia menjadi Khalifah pertama setelah Rasulullah wafat.[8]

Umar bin Khattab juga memilih hidup sederhana dan apa adanya walaupun saat dia menjadi Khalifah kedua telah menjadi kepala negara yang luas dan disegani. Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.[9]

Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang memang berasal dari keluarga miskin dan sederhana sejak masa mudanya. Dan kesederhanaan itu tetap menjadi pilihannya walaupun di kemudian hari dia terpilih menjadi Khalifah Islam keempat yang kekuasaannya meliputi banyak kawasan luas dan kaya melebihi kekuasaan Umar bin Khattab.[10]

Pelajaran yang dapat Diambil

Manusia dianjurkan oleh Islam untuk belajar rajin selagi muda dan bekerja keras ketika dewasa. Dengan kerja keras sebagian orang akan dapat memenuhi kebutuhannya walaupun dengan sederhana dan pas-pasan. Dalam situasi seperti ini, langkah terbaik adalah dengan tawakal dan ungkapan syukur atas setiap rezeki yang diperoleh. Sebagian lagi dapat memetik hasil kerja kerasnya dalam bentuk gelimang harta yang berlimpah. Ini merupakan ujian. Dan sikap terbaik dalam situasi ini adalah tetap menjaga pola hidup sederhana dan memilih gaya hidup sederhana sebagai pilihan terbaik untuk mengasah kepedulian pada sesama dan mengerem nafsu konsumtif dan pola hidup mewah yang dilarang agama. []

*Ditulis untuk Buletin Al-Khoirot

CATATAN AKHIR

[1] A. Fatih Syuhud , Pribadi Akhlakul Karimah dalam “Hidup Sederhana”, Pustaka Al-Khoirot, 2010.
[2] A. Fatih Syuhud, Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam dalam “Hidup Sederhana sebagai Pilihan”, Pustaka Al-Khoirot, 2008.
[3] Loc.cit
[4] Spider Books dalam Azim Premji: A Biography, Spider Books, 2012.
[5] Abul Bakhtari Wahab bin Wahab Al-Asadi dalam Sifatun Nabi.
[6] Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, “Kitab az-Zakat” no. 1679. Menurut Tirmidzi hadits ini Hasan Sahih; Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, “Kitab al-Manaqib”, no. 3829. Menurut Hakim dalam Al-Mustadrak, I/573: “Hadits ini sahih dengan syarat Muslim. Teks asal hadits selengkapnya:

عن عمر رضي الله عنه قال أمَرَنا رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم – يومًا أن نتصدَّق، فوافَق ذلك مالاً عندي، فقلت: اليوم أسْبِق أبا بكر إن سبقتُه يومًا، فجِئْت بنصف مالي، فقال رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ما أبقيتَ لأهلك؟، فقلت: مثلَه، قال: وأتَى أبو بكر بكلِّ ما عنده، فقال له رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم -: ما أبقيتَ لأهلك؟، قال: أبقيت لهم الله ورسوله، قلتُ: لا أُسابقك إلى شيءٍ أبدًا

[7] Tindakan Abu Bakar yang mendermakan seluruh hartanya ini menjadi perdebatan ulama fiqih tentang apakah tindakan sunnah dilakukan oleh seluruh muslim atau khusus bagi orang-orang tertentu saja? Ibnu Abidin & Muhammad Amin dalam Hasyiyah Raddul Mukhtar alad Durril Mukhtar II/371 menyatakan: Barangsiapa yang hendak mensedekahkan seluruh hartanya dan dia yakin bahwa dirinya akan mampu untuk tawakal dan sabar dari masalah kesulitan ekonomi, maka dia boleh melakukan itu. Apabila tidak yakin, maka hendaknya tidak melakukannya. Dan makruh hukumnya bagi orang yang tidak bisa sabar dalam kesulitan ekonomi untuk mengurangi nafkah dirinya dari kecukupan yang sempurna.

[8] Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah dalam Al Mushonnaf, hlm. VIII/559.
[9] Muhammad bin Jarir Thabari dalam Tarikhur Rusul wal Muluk yang lebih dikenal dengan Tarikh Thabari, II/554
[10] Ibnu Khaldun dalam Tarikh Ibnu Khaldun, dalam “Baiatul Imam Ali”.

http://itom.100uswebhosting.net/

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply