<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FatihSyuhud.Net</title>
	<atom:link href="http://www.fatihsyuhud.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.fatihsyuhud.net</link>
	<description>Compilation of Fatih Syuhud Essays in English and Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 06:10:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Menentukan Jodoh Berdasar Weton</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-jodoh-berdasar-weton/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-jodoh-berdasar-weton/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 03:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1939</guid>
		<description><![CDATA[Menentukan Jodoh Berdasar Weton Oleh A. Fatih Syuhud Salah satu tradisi orang tua di sebagian masyarakat Jawa dan Madura terutama di pedesaan adalah dalam menentukan jodoh calon pasangan anaknya mereka masih tergantung pada weton. Weton adalah penjumlahan hari-hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu) dengan hari-hari dalam pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menentukan Jodoh Berdasar Weton<br />
Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Salah satu tradisi orang tua di sebagian masyarakat Jawa dan Madura terutama di pedesaan adalah dalam menentukan jodoh calon pasangan anaknya mereka masih tergantung pada weton. Weton adalah penjumlahan hari-hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu) dengan hari-hari dalam pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).  Dengan mengotak-atik hitungan tersebut maka akan ditemukan hasilnya apakah anaknya apabila menikah dengan yang melamarnya akan bernasib sial, atau beruntung. Dari situ, orang tua akan membuat keputusan apakah akan menerima pinangan seseorang atau menolaknya.<br />
<span id="more-1939"></span><br />
Sikap seperti ini sama dengan lebih mempercayai tukang ramal daripada syariah Islam yang sudah jelas aturannya dalam Quran dan hadits.  Rasulullah bersabda: مَنْ أِتى كاهِناً أو عرافاً، فَصَدّقَهُ بما يقول، فقد كَفَرَ بما أَنزَل على محمد . Artinya, barangsiapa yang datang ke dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka itu berarti dia telah kufur pada ajaran Muhammad  (HR Imam Ahmad). Berdasarkan hadits ini,  Imam Suyuthi mengharamkan percaya pada ramalan. Dan berdosa bagi yang mempercayainya.</p>
<p>Hadits di atas merupakan teguran keras pada orang muslim yang keislamannya tidak total alias masih setengah-setengah. Percaya pada Allah dan Rasulnya dalam arti melaksanakan rukun Islam yang lima, tapi di sisi lain masih mempertahankan tradisi nenek moyangnya yang masih percaya pada ramalan yang jelas tidak benar baik dari perspektif syariah maupun analisa dan logika keilmuan modern.</p>
<p>Pada dasarnya Islam tidak menolak tradisi atau ilmu tertentu yang berasal dari luar Islam. Dalam sejarahnya kita melihat banyak sarjana Islam yang mempelajari berbagai macam keilmuan yang berasal dari budaya dan peradaban non-Islam. Seperti ilmu filsafat, matematika, kedokteran, sufisme dan lain-lain. Tidak sedikit dari sarjana Islam itu bahkan menonjol di bidang keilmuan baru yang mereka tekuni. Seperti Ibnu Khaldun di bidang ilmu politik, Al-Khawarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran. Islam memberi ruang yang cukup luas bagi umatnya untuk mengembangkan kemampuan dan kapasitas dirinya secara maksimal sepanjang hal itu dapat membawa kemajuan dan bernilai positif, serta tidak berlawanan dengan prinsip aqidah Islam. Nabi menegaskan bahwa kita boleh “menuntut ilmu walaupun di negeri China” di mana negeri China saat itu bukanlah negara Islam dan tidak ada satupun orang muslim di sana. Itu artinya, ilmu non-Islam boleh dipelajari kalau memang membawa kebaikan dan manfaat bagi diri dan orang lain.</p>
<p>Kepercayaan kepada dukun ramal atau pada hitungan weton, primbon dan semacamnya secara tegas dilarang oleh Rasulullah karena mempelajari dan mempercayai ilmu ramalan merupakan suatu langkah mundur bagi seorang muslim karena itu bertentangan dengan prinsip Islam dan logika akal sehat keilmuan.</p>
<p>Bayangkan, orang tua menolak putrinya dilamar  seorang pria yang salih dan menerima pinangan seorang laki-laki preman hanya gara-gara ramalan dukun atau hitungan weton menganjurkan demikian. Bayangkan seorang santri tidak disetujui orang tuanya untuk melamar seorang santriwati dan menganjurkan untuk menikah dengan perempuan  nakal hanya gara-gara ramalan menganggap itulah yang baik.</p>
<p>Padahal jelas dan tegas Nabi menyatakan فاظفر بذات الدين تربت يداك, bahwa standar memilih jodoh menurut Islam hanya satu: carilah pasangan yang agamis, salih atau salihah “agar supaya kamu beruntung.” Ini pedoman bagi orang tua, dan bagi laki-laki dan perempuan yang sedang memilih calon pasangan.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-jodoh-berdasar-weton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menerima Lamaran</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menerima-lamaran/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menerima-lamaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1937</guid>
		<description><![CDATA[Menerima Lamaran Oleh A. Fatih Syuhud Kedatangan keluarga dari pihak laki-laki yang bertujuan hendak melamar seorang wanita merupakan salah satu peristiwa penting yang sangat dinanti-nanti tidak hanya oleh wanita itu sendiri tapi juga oleh ayah dan ibunya. Betapa tidak, dipinang seseorang merupakan sesuatu yang membahagiakan. Apalagi kalau yang meminang adalah seorang pria yang memang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menerima Lamaran<br />
Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Kedatangan keluarga dari pihak laki-laki yang bertujuan hendak melamar seorang wanita merupakan salah satu peristiwa penting yang sangat dinanti-nanti tidak hanya oleh wanita itu sendiri tapi juga oleh ayah dan ibunya. Betapa tidak, dipinang seseorang merupakan sesuatu yang membahagiakan. Apalagi kalau yang meminang adalah seorang pria yang memang menjadi impian keluarga pihak perempuan. Dari senangnya sehingga terkadang orang tua lupa untuk meminta persetujuan putrinya. Atau kalaupun diminta persetujuan, tidak jarang dengan setengah memaksa.<br />
<span id="more-1937"></span><br />
Di sebagian daerah di Jawa dan Madura terdapat suatu kepercayaan di kalangan orang tua di mana adanya pinangan pertama itu ibarat penjual barang di pasar yang kedatangan pembeli pertama dalam arti sama-sama pantang untuk ditolak. Tak peduli apakah putrinya masih belum cukup umur untuk ditunangkan . Tak penting apakah yang melamar itu pria yang pantas menjadi pasangan abadi putrinya atau tidak.</p>
<p>Ada juga kepercayaan di sebagian masyarakat Jawa dan Madura di mana keputusan menerima atau menolak lamaran seseorang itu berdasarkan hitungan <em>weton </em>kelahiran pria dan wanita. Apabila hitungan wetonnya tidak cocok, maka pinangan pria itu akan ditolak. Tidak peduli betapapun idealnya pria yang meminang putrinya tersebut.</p>
<p>Di kalangan masyarakat yang cara berfikirnya relatif lebih “rasional” seperti masyarakat perkotaan yang pendidikannya relatif lebih baik, menerima atau menolak lamaran biasanya lebih disebabkan oleh alasan yang bersifat materi. Seperti jabatan yang disandang atau kekayaan yang dimiliki. Pria bujangan yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) paling mudah mendapat persetujuan calon mertua untuk meminang putrinya. Disusul oleh pegawai bank, pegawai BUMN, dan pegawai perusahaan asing (PMA). Kelompok para pegawai ini akan mudah mendapat persetujuan calon mertua saat mengajukan lamaran karena ada kepastian masa depan ekonomi. Pertimbangan lain seperti kepribadian atau kejujuran ada di nomor kesekian.</p>
<p>Adanya variasi cara pandang di kalangan orang tua dalam mengambil keputusan menerima atau menolak pinangan itu sebenarnya berasal dari tujuan yang sama: yaitu untuk mendapatkan calon terbaik bagi putri mereka. Penilaian tentang siapa figur pria terbaik tentu saja berbeda sesuai dengan tradisi, kepercayaan, dan latarbelakang pendidikannya.</p>
<p>Bagi orang tua muslim yang baik, pandangan tentang siapakah pria terbaik untuk pendamping abadi putrinya hendaknya berpegang pada ajaran Islam.  Begitu juga, bagi seorang wanita salihah yang memiliki komitmen keislaman hendaknya ia menyandarkan penilaian sosok pendamping ideal berdasarkan hanya pada tuntunan Islam. Bukan pada kepercayaan dan tradisi nenek moyang; bukan pada materi dan jabatan; bukan pula pada tampilan fisik luar.</p>
<p>Pria yang baik yang dapat menjadi pendamping yang baik dan bertanggung jawab dunia dan akhirat adalah laki-laki yang paling bertakwa. Karena dialah yang menurut Allah merupakan sosok paling mulia di sisi-Nya (Al-Hujurat 18:13). Secara sederhana, pribadi yang takwa dapat digambarkan sebagai sosok yang komplit kepribadiannya: komitmen keislamannya tidak diragukan, kepribadiannya menyenangkan terhadap sesama manusia dan figur yang bertanggung jawab kepada keluarga.</p>
<p>Tidak mudah melihat sosok kepribadian yang memenuhi standar takwa. Seorang yang teratur shalat fardhu dan puasa Ramadan-nya belum tentu paling takwa kalau dia seorang pemarah yang suka melayangkan tangannya pada yang lemah. Namun setidaknya, ketaatan dalam beragama dapat dijadikan sebagai tolok ukur pertama dalam menilai kepribadian seorang pria idaman. Tentu dibutuhkan waktu untuk melihat apakah sikap agamisnya itu juga tergambar dalam perilaku kesehariannya. Dari sinilah orang tua hendaknya tidak terburu-buru memutuskan suatu lamaran sebelum mengadakan investigasi yang cukup terhadap calon menantunya.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menerima-lamaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kriteria Calon Mertua</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-mertua/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1935</guid>
		<description><![CDATA[Kriteria Calon Mertua Oleh A. Fatih Syuhud Seorang pria muslim yang baik tidak hanya mempertimbangkan kriteria calon istri ideal dalam sosok kepribadian calon istri itu sendiri. tapi juga melihatnya dalam diri calon mertua. Begitu juga seorang perempuan muslim ketika hendak mengambil keputusan menerima atau menolak pinangan seorang pria sebaiknya tidak hanya kualitas pria  itu saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kriteria Calon Mertua<br />
Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Seorang pria muslim yang baik tidak hanya mempertimbangkan kriteria calon istri ideal dalam sosok kepribadian calon istri itu sendiri. tapi juga melihatnya dalam diri calon mertua. Begitu juga seorang perempuan muslim ketika hendak mengambil keputusan menerima atau menolak pinangan seorang pria sebaiknya tidak hanya kualitas pria  itu saja yang jadi pertimbangan, tapi juga sosok orang tua calon pasangan. Jadi, calon pasangan dan calon mertua hendaknya menjadi satu paket dalam penilaian. Hal ini harus dilakukan karena beberapa faktor.<br />
<span id="more-1935"></span><br />
Pertama, dalam sistem rumah tangga di Indonesia umumnya  pasangan pengantin tinggal bersama salah satu orang tua mempelai. Tidak langsung pisah dalam rumah tersendiri. Bahkan terkadang kumpul dengan mertua ini terjadi selamanya sampai mertua meninggal Tanpa adanya kecocokan yang tulus antara menantu dan mertua, keadaan ini tentu akan menyebabkan konflik-konflik kecil yang akan berakumulasi menjadi konflik besar di kemudian hari. Ketika konflik antara mantu dan mertua terjadi, biasanya sedikit banyak akan berpengaruh pada keharmonisan hubungan suami-istri.</p>
<p>Kedua, mertua adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu. Dalam Islam, mertua disamakan statusnya dengan kerabat terdekat seperti orang tua dan saudara kandung dalam arti sama-sama berstatus <em>mahram muabbad </em>atau orang yang tidak boleh dinikahi selamanya, boleh bersalaman tanpa membatalkan wudhu, boleh bepergian berdua, dan kebolehan yang berlaku antara orang tua dan anak. Seorang muslim tentunya harus selektif betul dalam memilih calon “kerabat baru”-nya.</p>
<p>Ketiga, pada kasus tertentu di mana orang tua kandung meninggal dunia, maka mertua dapat menjadi figur pengganti orang tua tidak hanya dalam segi ekonomi—kalau menantunya miskin—tapi juga secara emosional sebagai tempat curhat dan berkonsultasi.</p>
<p>Keempat, kepribadian calon pasangan sebagian besar berasal dari dua hal (a) bersifat genetis artinya turunan dari orangtuanya. Dan (b) dari pendidikan dalam rumah. Calon mertua itu ibarat <em>cover</em> (kulit muka) sebuah buku. Kalau ada ibarat “Lihatlah buku dari kulitnya” maka pantaslah dikatakan “Lihatlah kepribadian calon pasangan dari orang tuanya.” Kalau ternyata ada ketidaksesuain antara karakter calon pasangan dan orang tuanya, maka perlu diinvestigasi lebih lanjut adakah ketidaksamaan itu asli atau dibuat-buat.</p>
<p>Kelima, hubungan pernikahan bukan hanya hubungan antara suami dan istri. Lebih dari itu dalam kitab <em>At-Tafakkuk al-Usra </em>dikatakan bahwa hubungan suami istri itu termasuk di dalamnya hubungan di antara dua keluarga dari kedua mempelai. Karena itu, hubungan yang harmonis antara kedua keluarga mutlak diperlukan. Dan untuk mencapai itu diperlukan kecocokan di antara dua keluarga terkait.</p>
<p>Oleh karena itu, memilih mertua yang berkualitas tak kalah pentingnya dengan memilih calon pasangan yang berkualitas. Bagi seorang muslim, istilah berkualitas tentunya berbeda dengan nonmuslim. Dalam sebuah hadits, Nabi mewanti-wanti kita agar tidak memilih wanita <em>khadra’ ad-adiman. </em>Saat ditanya siapa wanita itu, Nabi menjawab: “Wanita cantik yang hidup di lingkungan yang buruk” Lingkungan buruk, seperti disingung di muka, adalah kedua orang tuanya.</p>
<p>Ini bukan berarti Islam itu ajaran yang anti kecantikan, anti ketampanan, anti status sosial tinggi, anti jabatan terhormat. Namun, Islam ingin menekankan bahwa keislaman dan kepribadian yang luhur hendaknya menjadi prioritas dasar pertama mengalahkan yang lain dalam menilai calon pasangan dan calong mertua. Karena dari kedua nilai luhur inilah pasangan suami-istri akan dapat mengarungi rumah tangga yang dibangun dengan fondasi yang kuat dan tidak mudah goyah. Dari situ diharapkan terbangunnya keluarga yang <em>sakinah, mawaddah wa rahmah.</em>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menentukan Calon Pasangan</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-calon-pasangan/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-calon-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1932</guid>
		<description><![CDATA[Menentukan Calon Pasangan Oleh A. Fatih Syuhud Salah satu proses natural kesinambungan eksistensi umat manusia adalah adanya keinginan untuk menikah. Bagi laki-laki, keinginan itu timbul dari beberapa faktor, seperti timbulnya syahwat (sexual drive) , keinginan untuk berbagi hidup bersama pasangan (suami/istri), keinginan untuk memiliki keturunan dan untuk mengikuti sunnah Rasul. Jadi, jelas, dorongan syahwat hanyalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menentukan Calon Pasangan<br />
Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Salah satu proses natural kesinambungan eksistensi umat manusia adalah adanya keinginan untuk menikah. Bagi laki-laki, keinginan itu timbul dari beberapa faktor, seperti timbulnya syahwat <em>(sexual drive)</em> , keinginan untuk berbagi hidup bersama pasangan (suami/istri), keinginan untuk memiliki keturunan dan untuk mengikuti sunnah Rasul. Jadi, jelas, dorongan syahwat hanyalah salah satu motivasi bagi seseorag untuk sebuah pernikahan yang ideal. Oleh karena itu, seorang laki-laki yang menikah hanya karena faktor dorongan syahwat semata, maka perkawinannya tidak akan lama. Atau, setidaknya akan sulit merasakan kedamaian dalam mengarungi dinamika rumah tangganya yang biasa disebut dengan rumah tangga <em>sakinah mawaddah wa rahmah.</em><br />
<span id="more-1932"></span><br />
Oleh karena tujuan suatu pernikahan bukan hanya untuk melampiaskan syahwat, maka Rasulullah memerintahkan agar seorang pria lebih memprioritaskan calon pasangan yang salihah. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Muslim, Nabi menegaskan bahwa seorang perempuan yang salihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.[1] Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyatakan bahwa dalam menentukan pilihan calon istri, seorang laki-laki hendaknya memilih seorang wanita yang agamis. Bukan karena harta, kecantikan fisik atau darah keturunan.[2]</p>
<p>Dalam kitab <em>Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah </em>(Ensiklopedi Fiqih) dikatakan bahwa wanita salihah adalah “wanita yang membuat suami senang saat melihatnya, taat pada suami, tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai suami, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.”[3]</p>
<p>Hadits-hadits dan ucapan ulama di atas walaupun konteksnya adalah petunjuk bagaimana sebaiknya seorang lelaki dalam memilih calon istri, namun tentu saja berlaku juga untuk seorang wanita dalam memutuskan apakah ia akan menerima lamaran seorang pria.  Karena, wanita juga mempunyai hak untuk menerima atau menolak pinangan seseorang, maka keputusan apapun yang akan diambil hendaknya berdasarkan petunjuk agama. Yakni, dengan menjadikan kesalihan pria sebagai prioritas utama.</p>
<p>Secara insting awal, seorang pria akan lebih memilih wanita yang cantik fisiknya, dari keluarga hartawan dan keturunan bangsawan sebagai calon pasangan hdiup. Begitu juga, seorang wanita akan lebih cenderung memilih pria yang tampan tampilan fisiknya, dan kaya raya serta keturunan bangsawan. Kalau tidak bisa semuanya, wanita akan cenderung memilih seorang pria yang kaya atau tampilan fisik yang meyakinkan.</p>
<p>Pola pikir seperti itu pada level tertentu adalah wajar dan manusiawi. Akan tetapi, dengan bantuan ilmu, akal budi dan lingkungan yang baik manusia diberi kemampuan untuk meningkatkan daya fikirnya  untuk melihat jauh ke depan.  Dengan kemampuan ini, maka kita akan melihat dengan jelas dan terang benderang bahwa seseorang dengan kecantikan atau ketampanan akhlak adalah jauh lebih penting dan paling cocok sebagai calon pasangan seumur hidup kita dibanding calon pasangan yang hanya memiliki ketampanan dan kecantikan lahiriah.</p>
<p>Bagi yang belum mampu melihat kebenaran anjuran Nabi di atas, cukuplah dengan mengikuti anjuran beliau dengan keikhlasan, ketaatan dan keyakinan. Karena sabda Nabi adalah kebenaran. Kalau akal kita tidak dapat menembus logika kebenaran itu sekarang, pasti kita akan dapat memahaminya nanti saat kita melihat dan mengalaminya sendiri.[]</p>
<p>[1] الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة<br />
[2] تُنْكحُ الْمَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لمالها ولِحَسَبها ولِجَمَالها وَلدينها: فَاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ تَربَتْ يَدَاكَ<br />
[3] أفضل النساء المرأة الصالحة التي تسره إذا نظر إليها، وتطيعه إذا أمرها، ولا تخالفه في نفسها ومالها بما يكره، وتفعل ما أمرها الله به، وتجتنب ما نهى الله عنه</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/menentukan-calon-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kriteria Calon Istri</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-istri/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1930</guid>
		<description><![CDATA[Kriteria Calon Istri Oleh A. Fatih Syuhud Secara faktual seorang pria yang sedang memilih calon istri dambaan umumnya dipengaruhi dua pertimbangan. Yaitu, pertimbangan pribadi dan pertimbangan calon anak. Umpamanya, yang ingin mempunyai anak tampan dan cantik, cenderung memilih istri yang memiliki tampilan fisik sempurna. Yang ingin mempunyai anak cerdas akan mencari istri yang ber-IQ tinggi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kriteria Calon Istri<br />
Oleh A. Fatih Syuhud</p>
<p>Secara faktual seorang pria yang sedang memilih calon istri dambaan umumnya dipengaruhi dua pertimbangan. Yaitu, pertimbangan pribadi dan pertimbangan calon anak. Umpamanya, yang ingin mempunyai anak tampan dan cantik, cenderung memilih istri yang memiliki tampilan fisik sempurna. Yang ingin mempunyai anak cerdas akan mencari istri yang ber-IQ tinggi. Yang ingin memiliki anak salih akan mencari istri yang salihah, dan seterusnya. Tentu saja kalau memungkinkan ingin memilih semuanya. Tetapi manusia mempunyai sejumlah keterbatasan dan karena itu harus melakukan kompromi dalam melakukan pilihan.<br />
<span id="more-1930"></span><br />
Memilih calon istri berdasarkan calon anak yang diinginkan memang bukan prioritas utama bagi kebanyakan pria. Namun, hal itu perlu menjadi pertimbangan yang tidak kalah pentingny karena kesalahan memilih calon istri akan berakibat fatal pada calon anak kita. Misalnya, istri yang ber-IQ rendah dapat menular pada anak. Memiliki anak yang bodoh tentunya bukan harapan kita, bukan?</p>
<p>Menurut pakar biologi genetika karakter genetika berikut akan menular pada anak. Pertama, <strong>k</strong>arakter fisik yang dimiliki anak merupakan turunan dari orang tua. Termasuk tinggi badan, jenis rambut (kriting atau lurus) bahkan tahi lalat.</p>
<p>Kedua, masalah medis dan kesehatan. Tidak semua masalah medis menurun ke anak, tetapi kebanyakan dapat menurun. Seperti penyakit jantung, astma, alergi, dan lain-lain. Kendatipun begitu, sistem kekebalan tubuh, faktor lingkungan, pola makan, kecelakaan dan faktor eksternal lain juga memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan seseorang.</p>
<p>Ketiga,  problema genetika seperti<em> sickle cell anemia, muscular dystrophy </em>dan<em> cystic fibrosis</em> dapat menurun pada anak. Namun demikian, suatu penyakit genetika dapat menurun pada anak apabila kedua orang tua mengidap problema genetika tersebut.</p>
<p>Keempat, kecerdasan. Walaupun para ahli sepakat bahwa kecerdasan tidak hanya dipengaruhi oleh keturunan, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia yang berasal dari satu keluarga cenderung memiliki nilai kecerdasan yang tidak berbeda jauh antara satu dengan yang lain. Itu artinya, bahwa pada level tertentu, kecerdasan adalah bawaan lahir. Selebihnya tinggi rendah kecerdasan banyak juga dipengaruhi oleh nutrisi dan lingkungan. Seperti kebiasaan membaca dapat meningkatkan kecerdasan.</p>
<p>Selain keempat faktor turunan di atas yang merupakan bawaan lahir seorang anak, faktor kelima yang juga tak kalah pentingnya dalam memengaruhi masa depan anak adalah lingkungan dalam rumah. Di sinilah pentingnya mengapa seorang pria muslim harus mencari istri yang salihah yaitu seorang wanita yang memiliki ketaatan inheren terhadap Islam dan memiliki wawasan yang cukup dalam hal <em>parenting</em> (pengasuhan anak) .</p>
<p>Oleh karena itu,  Nabi Muhammad menganjurkan agar seorang muslim hendaknya mencari istri yang agamis agar ia beruntung.  Beruntung bukan hanya dalam arti akan terjadi keharmonisan hubungan suami-istri, tapi juga beruntung karena istri religius akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk dapat berkembang dengan sehat, salih, cerdas dan tumbuh sesuai potensi maksimal dirinya.</p>
<p>Tentu saja, hidup ini bersifat resiprokal. <em>Take and give.</em> Menerima dan memberi. Jangan mengharap istri salihah, cerdas dan sehat, kalau diri sendiri tidak memiliki kriteria tersebut. Memulai dari diri sendiri adalah langkah yang tepat, baru kemudian mengharapkan orang lain, yakni calon istri kita, memiliki kualitas yang sama.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/05/kriteria-calon-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matured Women</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/03/matured-women/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/03/matured-women/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 00:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatihsyuhud.net/?p=1925</guid>
		<description><![CDATA[By A. Fatih Syuhud Director of Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jatim From Islamic law (shariah) point of view a woman is considered mature when they are entering a period of menstruation, usually at the age of 13-14 years. After entering this period, prohibition and obligations of religion are applicable to her such as praying five [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By A. Fatih Syuhud<br />
Director of Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang Jatim</p>
<p>From Islamic law (shariah) point of view a woman is considered mature when they are entering a period of menstruation, usually at the age of 13-14 years. After entering this period, prohibition and obligations of religion are applicable to her such as praying five times and restrictions on associating with men who are not mahram. According to state law, the new woman is considered an adult at the age of 17 years time when she began to have the rights and obligations of full citizenship rights to an education, participate in the elections, the right to marry, have ID cards or driver&#8217;s license and the obligation to comply with government regulations.</p>
<p>Mature in the sense above is a formal definition of an adult associated with a particular law both Islamic law and state law.</p>
<p>Mature in a general view, including the review of psychology, is the perfect physical and mental growth. Normal physical growth is easy to determine because it can be seen by the senses. But the perfect mental growth is a different thing .</p>
<p>A grown-up mental attitude can be seen from the way ones behaves in making judgments, in attitude, in addressing the problem themselves or other people problems. If physical growth will stop at around the age of 20 years, then the maturity is a process that develops over time.</p>
<p>Therefore, one who physically mature does not guarantee a person becomes mentally grown up in terms of thought and behavior. Al Quran calls it the perfect maturity of attitude by the term al-akhlak al-karimah or morality or manners of a noble (Surat al-Qalam 68:4)</p>
<p>Akhlak al-Karimah is the perfect attitude of woman and is a long-winding process, although not impossible to achieve. It combines the perfect attitude of woman from the socio-ethical attitude as well as from Islamic point of view. And more importantly it is a strong willingness to undergo the process and the desire to achieve it that will matter. Here are some initial steps that need to be done:</p>
<p>1. Responsible for what it does. If that fails, one should not lie or blame others.<br />
2. Admit mistakes made and encouraged to apologize. Ask what you can do to correct it. Remember what happened, so that similar mistakes do not happen again.<br />
3. Find an adult friend to mingle. Make friends with a woman you think is a more mature in attitude who want to criticize you. Ask for advice and suggestions &#8211; and listen to the advice they give.<br />
4. Note the lack of adult attitudes you have been doing, either from yourself or other people who say it. Practice to eradicate them one by one.<br />
5. Respect your parents, close family and your spiritual teachers. Because they are most likely to make time for you when you really need help.<br />
6. Note and record any actions of any friends that you like and you hate. Imitate actions of your friends are fun, and do not emulate their bad attitude.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/03/matured-women/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simple Life</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2012/01/simple-life/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2012/01/simple-life/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 04:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatihsyuhud.net/?p=1917</guid>
		<description><![CDATA[If I were being asked to mention two words that can eradicate corruption in Indonesia, then the answer is a simple life. The majority of cases of official corruption are mainly caused by the desire to live in luxury that exceeds the salary received by lawful and legal means. Therefore, the simple life is the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If I were being asked to mention two words that can eradicate corruption in Indonesia, then the answer is a simple life. The majority of cases of official corruption are mainly caused by the desire to live in luxury that exceeds the salary received by lawful and legal means. Therefore, the simple life is the most effective and efficient way not only to eradicate corruption, but also to remove the intention to commit corruption of each officials who are in power.</p>
<p>Ideally a simple life becomes the lifestyle of all Muslims. Not only the lifestyle of those in power. And this mindset must be instilled early on in the family environment in order to internalize the traditions and patterns of thinking  so that the simple life really become a way of life throughout the Muslim family.<br />
<span id="more-1917"></span><br />
There is no strict definition of the meaning of simple life. But someone can be considered living in a simple life behavior if not caught up in consumerism. Consumerism is a person lifestyle who think that personal happiness can only be achieved by consuming, buy whatever you want and have exceeded the limits of basic needs.</p>
<p>There are many positive factors why the simple life must be a Muslim lifestyle. First, Islam strictly prohibits lavish or excessive behavior (Surah al-Furqan 25:68).</p>
<p>Secondly, Islam emphasizes the importance of a Muslim to be the philanthropist. Help the poor not only by charity, but also with infak, sadakah (alms) and grants. A command that will be hard done by someone who has lavish lifestyle and consumptive. Because someone who used to live like that will feel always &#8220;deficiencies.&#8221; How can someone who is busy with himself will think to help others?</p>
<p>Islam&#8217;s urge for the simple life does not mean banning a Muslim to work hard and become rich. Instead, Allah praised the richness as something laudable and implicitly stated that the rich are better than the poor (Surah Ad Dhuha 93:8). In Sura 71:12 Noah also plainly asserted that God multiply the wealth of a Muslim as a &#8220;reward of the world&#8221;.</p>
<p>Dr. Yusuf Qaradawi in his book <i>Musykilatul Faqr Kaifa Alajaha al-Islam</i> (Poverty&#8217;s Problems and its Solutions According to Islam) claimed that &#8220;Islam considers wealth as a blessing and gift from God. And poverty as a misfortune to be overcome.&#8221; Qaradawi In the present study found that none of the verses in the Qur&#8217;an and authentic Hadith of the Prophet who qualified to be called sahih that praise poverty or encourage a Muslim to deliberately choose a life of poverty.</p>
<p>Thus, what is desired by Islam is clear: be diligent to find the treasure of your ability. At the same time, choose a simple lifestyle. So it is we who control the property, not property that controls us. This is one of the Islamic solution how to achieve a happy life.</p>
<p>In America, the simple life also begin the echo and become a choice of many lives of the millionaires and billionaires. Stanley &#038; Danko in <i>The Millionaire Next Door</i> (1998) said:</p>
<p>&#8220;The Americans millionaires who are living glamorous lives actually represent a small minority of wealthy Americans. The majority of U.S. tycoon chose simple lifestyle. Their distinctive lifestyle, among others, are they keep their old cars that are still functioning well. They do not wear expensive clothes and watches. And their house is relatively simple compared to the status of their wealth. &#8221;</p>
<p>If the American millionaire ara able to enjoy the simple life, why do not we? []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2012/01/simple-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Your Adsense Account Disabled</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2011/11/why-your-adsense-account-is-disabled/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2011/11/why-your-adsense-account-is-disabled/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 07:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[adsense]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1912</guid>
		<description><![CDATA[The most logical answer being: you have violated the Adsense&#8217;s TOS (terms of service). And when violation of TOS is found by Adsense team, it&#8217;s called invalid activity and hence your account has to be disabled. When one or two Adsense&#8217;s TOS violation are found from your Adsense embedded sites, sooner or later you&#8217;ll get [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The most logical answer being: you have violated the Adsense&#8217;s TOS (terms of service). And when violation of TOS is found by Adsense team, it&#8217;s called invalid activity and hence your account has to be disabled. When one or two Adsense&#8217;s TOS violation are found from your Adsense embedded sites, sooner or later you&#8217;ll get a warning at best or a banned account at worst. During these last three months &#8212; September Oktober November 2011 &#8212; the latter is what many Adsense publishers had experienced.<br />
<span id="more-1912"></span><br />
The Adsense letter used to be like this:</p>
<p>***</p>
<p>Title of the email: Your Google AdSense account has been disabled<br />
Content of email vary. Some are as follows: </p>
<p>We continually review all publishers according to our program policies ( link here ) and Terms and Conditions ( link here ). During a recent review of your account, our specialists found that it was not in compliance with our policies.</p>
<p>WEBMASTER GUIDELINES: Our program specialists regularly review sites in the AdSense program.</p>
<p>It is important for a site displaying AdSense to offer significant value to the end user by providing unique and relevant content, and not to place ads on sites with little to no original content. Additionally, Google ads may not be placed on non-content-based pages.</p>
<p>Your site should also provide a good user experience through clear navigation and organization. Users should be able to easily click through your pages and find the information they are seeking.</p>
<p>Because your sites violate the spirit of our policies, we have disabled ad serving.</p>
<p>For more information, please review our program policies ( https://www.google.com/adsense/support/as/bin/answer.py?answer=48182 ) and Google&#8217;s Webmaster Quality Guidelines ( http://www.google.com/support/webmasters/bin/answer.py?answer=35769#quality ).</p>
<p>WEBMASTER GUIDELINES: Publishers may not place Google ads on pages that violate Google’s webmaster quality guidelines (http://www.google.com/support/webmasters/bin/answer.py?answer=35769#quality). While we&#8217;ve included the following excerpts from these guidelines, we recommend that you take the time to review them in their entirety.</p>
<p>* <strong>Make pages for users, not for search engines.</strong><br />
* Don&#8217;t employ cloaking or sneaky redirects.<br />
* Don&#8217;t load pages with irrelevant words.<br />
* <strong>Don&#8217;t create multiple pages, subdomains, or domains with substantially duplicate content.</strong><br />
* Don&#8217;t participate in link schemes designed to increase your site&#8217;s ranking or PageRank.<br />
* Avoid &#8220;doorway&#8221; pages created just for search engines, or other &#8220;cookie cutter&#8221; approaches such as affiliate programs with little or no original content.<br />
* Avoid tricks intended to improve search engine rankings. A good rule of thumb is whether you&#8217;d feel comfortable explaining what you&#8217;ve done to a website that competes with you. Another useful test is to ask, &#8220;Does this help my users? Would I do this if search engines didn&#8217;t exist?&#8221;<br />
* If your site participates in an affiliate program, make sure that your site adds value. Provide unique and relevant content that gives users a reason to visit your site first.</p>
<p><strong>As a result, your AdSense account has been disabled.</strong></p>
<p>Additionally, as stated in our Terms and Conditions, publishers who have breached this agreement may not receive further payment. The earnings on your account will be returned to the affected advertisers. Please note that this step was taken in an effort to protect the interests of our AdWords advertisers, and to maintain the quality of the AdSense program.</p>
<p>Thank you for your understanding.</p>
<p>Sincerely,</p>
<p>The Google AdSense Team</p>
<p>***</p>
<p>Once an Adsense account has been disabled it&#8217;s unlikely to be reinstated unless in an unusual circumstances where your account was disabled by Adsense team by mistake.</p>
<p>Now, what to do when your Adsense account being disabled? Share your experience with us here.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2011/11/why-your-adsense-account-is-disabled/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google Panda Penalty</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2011/10/google-panda-penalty/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2011/10/google-panda-penalty/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 06:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[SEO Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1898</guid>
		<description><![CDATA[If you see your website or blog performed well previously and now the visitors start to decline on regular basis, that might be the Google Panda at work. You may escape the rage of Google Sandbox. But this time around it&#8217;s very hard to escape the Google Panda. It detects your site very fast and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.fatihsyuhud.net/files/downloads/google-panda.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1899" title="google panda" src="http://www.fatihsyuhud.net/files/downloads/google-panda-150x138.png" alt="" width="150" height="138" /></a>If you see your website or blog performed well previously and now the visitors start to decline on regular basis, that might be the Google Panda at work.</p>
<p>You may escape the rage of Google Sandbox. But this time around it&#8217;s very hard to escape the Google Panda. It detects your site very fast and punish the &#8220;low qualite sites&#8221; accordingly.</p>
<p>Panda penalises not only a website which has a suspected scrape content from other websites. More than that, it also takes action to a similar contents within the same sites. Even if those contents not 100% similar. It&#8217;s not clear though how many percentage a two artcles would be called similar which deserve Panda punishment.</p>
<p>So, if you have two or three or more articles which seems more than 60% similar, it&#8217;s strongly advised to remove all those articles but one. Merge all those three into one as suggested by Amit Singhal, the Google Panda team, in a <a href="http://googlewebmastercentral.blogspot.com/2011/05/more-guidance-on-building-high-quality.html" target="_blank">blog post here</a>.</p>
<p>If you still enjoy the Google juice now, do whatever it can to avoid the Panda penalty. The reason is clear, no search engine can give you the most traffic other than Google. Thus, you have to &#8220;listen and obey&#8221; of whatever Google say about quality website guideline.</p>
<p>Year 2011 is a year of Google Panda. This means a year of quality and serious articles do matter to Google. It&#8217;s not about the number of how many articles you have posted to your website. It&#8217;s about how quality your articles are. So, write a few quality articles is a lot better than many low quality ones.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2011/10/google-panda-penalty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google+ Impact on SEO</title>
		<link>http://www.fatihsyuhud.net/2011/07/google-impact-on-seo/</link>
		<comments>http://www.fatihsyuhud.net/2011/07/google-impact-on-seo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 02:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>A. Fatih Syuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Facebook Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fatihsyuhud.net/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Ilie Mitaru of PCWorld has an interesting on how Google+ could effect your website&#8217;s SEO The social network is Google&#8217;s attempt to change the quasi-monopoly Facebook has enjoyed in the social media space for the past five years. But Google+ will also have far-reaching implications for search. And while some of the details of how [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilie Mitaru of PCWorld has an interesting on how Google+ could effect your website&#8217;s SEO</p>
<p>The social network is Google&#8217;s attempt to change the quasi-monopoly Facebook has enjoyed in the social media space for the past five years. But Google+ will also have far-reaching implications for search. And while some of the details of how Google + will ultimately affect search remain unclear, here are the key areas to watch below. F<a href="http://www.pcworld.com/businesscenter/article/235141/how_google_will_affect_seo_for_your_website.html" target="_blank">ull story</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fatihsyuhud.net/2011/07/google-impact-on-seo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching using disk: basic
Object Caching 603/698 objects using disk: basic

Served from: www.fatihsyuhud.net @ 2012-05-20 00:22:44 -->
