Aqidah Asy’ariyah Madzhab Mayoritas Ulama Ahlussunnah

Aqidah asy'ariyah madzhab akidah  mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jamaah
Aqidah Asy’ariyah Madzhab Mayoritas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (1)
Oleh A. Fatih Syuhud

Dalam  kitab Risalatu Ahlissunnah Wal Jamaah, Kyai Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa golongan Ahlussunnah itu adalah mereka yang secara aqidah mengikuti madzhab Abu Hasan Al-Asy’ari, dan dalam berfiqih mengikuti salah satu madzhab empat.[1] Madzhab aqidah yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah ini diikuti oleh mayoritas ulama ahli hadits ternama dan ulama fiqih utama seperti Al-Baihaqi, Al-Baqilani, Al-Qusyairi, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Fakhruddin Al-Razi, Al-Nawawi, Al-Suyuti, Izzuddin bin Abdissalam, Taqiuddin Al-Subki, Ibnu Asakir, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Aqil Al-Hanbali, dan Ibnul Jauzi. Mereka meliputi ulama dari berbagai madzhab fiqih Syafi’i, Maliki, Hanafi dan sebagian Hanbali.[2]

Di kalangan santri pesantren salaf, aqidah Asy’ariyah sudah tidak asing lagi. Kitab tauhid Asy’ariyah dipelajari di madrasah diniyah secara berulang-ulang dari sejak tingkat awal sampai kelas tingkat akhir. Umumnya kitab tauhid Asy’ariyah yang dikaji adalah Aqidatul Awam, Al-Dasuqi, Hushunul Hamidiyah, Al-Sanusiyah, Jawahir Al-Kalamiyah, Al-Luma’, dan lain-lain.

Pelopor Aqidah Asy’ariyah

Konsep dan metode yang terdapat pada aqidah Asy’ariyah pada dasarnya sudah ada dan diikuti oleh generasi salafus soleh, yakni generasi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Namun konsep ini disusun secara lebih terstruktur oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dan para ulama Aswaja setelahnya.[3] Siapa Abul Hasan Al-Asy’ari?

Abul Hasan Al-Asy’ari lahir di Basrah Irak pada tahun 260 H/874 M. Ia memulai belajarnya di kota kelahirannya ini sebelum melanjutkan studi ke Bagdad dan tinggal di kota ini sampai wafatnya pada tahun 324 H/936 M.

Pada awal hidupnya ia mengikuti madzhab Muktazilah, lalu bertaubat dan kembali ke madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yakni madzhab Salaf dan membebaskan diri dari pandangan yang dianut Mu’tazilah seperti pendapat bahwa Al-Quran itu makhluk dan bahwa pelaku dosa besar itu berada di tempat di antara dua tempat (surga dan neraka).

Abul Hasan Al-Asy’ari dikenal luas ilmunya dan dalam wawasannya. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya karya tulisnya di berbagai bidang studi Islam. Abu Ishaq Al-Isfirayini, seorang ulama madzhab Syafi’i yang masyhur, menyatakan: “Aku dibanding  Syekh Abul Hasan Al-Bahili bagaikan setitik buih di lautan. Aku mendengar Abul Hasan Al-Bahili berkata, ‘Aku dibanding Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari bagaikan setitik buih di pantai.”[4]

Imam Ahlussunnah Wal Jamaah

Ketinggian ilmunya juga bisa dimaklumi dari banyaknya ulama dari berbagai generasi yang mengikuti madzhabnya. Dan itu menjadi bukti atas kebenaran aqidah Asy’ariyah. Dalam sebuah hadits yang masyhur, Rasulullah bersabda: “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan”[5] Dalam mengomentari hadits ini, Al-Sindi menjelaskan: “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan maksudnya dalam kekufuran, atau kefasikan atau kesalahan dalam berijtihad.”[6] Dengan kata lain umat Islam tidak akan bersepakat dalam suatu pandangan  aqidah atau ijtihad hukum yang salah. Justru, apabila umat sepakat atas suatu ijtihad maka kesepakatan itu menjadi dalil atas kebenarannya karena umat tidak akan sepakat dalam kesesatan. Lanjutan hadits ini menyatakan: “Apabila kalian melihat perbedaan, maka ikutilah al-sawad al-a’zham.”[7]

Nabi bersabda dalam lanjutan hadits ini: “Apabila kalian melihat perbedaan, maka ikutilah al-sawad al-a’zham.” Siapa yang dimaksud al-sawad al-a’zham? Al-Sindi menjelaskan: Yaitu golongan muslim yang banyak. Kesepakatan mereka mendekati pada ijmak. Imam Suyuti mengatakan yang dimaksud as-sawad al-a’zham adalah mayoritas umat yang sepakat pada jalan yang lurus. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk mengamalkan pandangan mayoritas (ulama).[8]

Dengan demikian, maka Abul Hasan Al-Asy’ari sebagai pelopor dari konsep aqidah tauhid Asy’ariyah sudah sewajarnya disebut sebagai Imam Ahlussunnah Wal Jamaah dan bahwa aqidah Asy’ariyah adalah aqidah yang benar. Karena, aqidah ini diikuti oleh mayoritas para ulama (as-sawadul a’zham) yang memiliki otoritas tinggi dalam berbagai bidang dan dari berbagai madzhab fikih seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Ulama Pengikut Asy’ariyah Berdasarkan Senioritas

Ibnu Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib Al-Muftari menyebut sejumlah ulama besar yang mengikuti madzhab Asy’ariyah. Ia membagi pada lima kategori berdasarkan faktor senioritas. Ulama yang disebut di bawah hanya sebagian kecil untuk sekadar contoh. Menurut Tajuddin Al-Subki, seandainya disebut semua, niscaya hampir semua ulama madzhab empat mengikuti manhaj aqidah Asy’ariyah.[9]

Generasi pertama yang menganut Asy’ariyah adalah para ulama abad Keempat Hijriyah antara lain: Abu Bakar Al-Baqilani (wafat, 403 H), Abu Bakar bin Faurak (w. 406 H), Abu Hamid Al-Isfirayini (w. 406 H), Abu Ishaq Al-Isfirayini (w. 418 H), Abdul Qahir Al-Baghdadi (w. 429 H), Abul Qasim Al-Isfirayini (w. 452 H), Abu Bakar Al-Baihaqi (w. 458 H), Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H), Abul Qasim Al-Qusyairi (w. 465 H), Abul Muzhoffar Al-Isfirayini (w. 471 H), Abul Walid Al-Baji (w. 474 H), Abu Ishaq Al-Syairazi (w. 476 H), Abul Ma’ali Al-Juwaini (w. 478 H).

Ulama generasi kedua yang menganut Asy’ariyah adalah para ulama yang hidup pada abad kelima hijrah (abad ke-11 masehi) antara lain: Abu Hamid Al-Ghazali (wafat, 505 H), Abul Qasim Al-Anshari (w. 511 H), Ibnu Rusydi (w. 520 H), Abu Bakar Ibnul Arobi (w. 543 H), Al-Qadhi Iyadh (w. 544 H), Abul Fath Al-Syahrastani (w. 548 H), Ibnu Asakir (w. 571 H).

Ulama generasi ketiga yang mengikuti madzhab aqidah Asy’ariah adalah para ulama yang hidup pada abad keenam hijriyah ( abad ke-12 masehi) antara lain: Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H), Abul Qasim Al-Rofi’i (w. 623 H), Saifuddin Al-Amadi (w. 631 H), Ibnul Hajib (w. 646 H), Al-Izz bin Abdissalam (w. 660 H), Muhyiddin Al-Nawawi atau Imam Nawawi (w. 676 H), Nasiruddin Al-Baidhawi (w. 691 H).

Ulama generasi keempat yang mengikuti madzhab aqidah Asy’ariah adalah para ulama yang hidup pada abad ketujuh hijriyah ( abad ke-13 masehi) antara lain: Ibnu Daqiq Al-Id (w. 702 H), Kamaluddin Al-Zamlakani (w. 727 H), Badruddin bin Jamaah (w. 733 H), Aduddin Al-Iji (w. 757 H), Taqiuddin Al-Subki (w. 771 H), Syamsuddin Al-Kirmani (w. 786 H), Sa’duddin Al-Taftazani (w. 793 H).

Ulama generasi kelima yang mengikuti madzhab aqidah Asy’ariah adalah para ulama yang hidup pada abad kedelapan hijriyah ( abad ke-14 masehi) antara lain: Sirajuddin Al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin Al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu Khaldun (w. 808 H), Al-Syarif Al-Jurjani (w. 816 H), Taqiuddin Al-Hishni (w. 829 H), Ibnu Hajar Al-Asqolani (w. 852 H), Muhammad bin Yusuf Al-Sanusi (w. 895 H).

Ulama generasi keenam yang mengikuti madzhab aqidah Asy’ariah adalah para ulama yang hidup pada abad kesembilan hijriyah ( abad ke-15 masehi) antara lain: Syamsuddin Al-Sakhawi (w. 902 H), Jalaluddin Al-Suyuti (w. 911 H), Syihabuddin Al-Qastalani (w. 923 H), Zakariyah Al-Anshari (w. 926 H), Abdul Wahab Al-Sya’roni (w. 973 H), Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H).

Ulama generasi ketujuh yang mengikuti madzhab aqidah Asy’ariah adalah para ulama yang hidup pada abad kesepuluh hijriyah ( abad ke-16 masehi) antara lain: Syamsuddin Al-Ramli (w. 1004 H).[10]

Ulama Pengikut Asy’ariyah Berdasarkan Keilmuan

Dari nama-nama ulama yang disebutkan di atas, dapat diketahui bahwa pengikut Asy’ariyah adalah kalangan ulama papan atas yang berasal dari berbagai bidang keilmuan Islam. Untuk lebih memudahkan dalam memahami, berikut kategorisasi ulama pengikut aqidah Asy’ariyah berdasarkan keahlian mereka dalam bidang ilmu tertentu.

Dalam bidang tafsir dan ilmu Al-Quran terdapat sejumlah nama terkenal antara lain, Al-Jashash, Abu Amr Al-Dani, Al-Kayya, Al-Harasi, Ibnul Arabi, Al-Razi, Ibnu Atiyah, Al-Mahalli, Al-Baidhowi, Al-Tsa’alibi, Abu Hayyan, Ibnul Jazari, Al-Samarqandi, Al-Wahidi, Al-Zarkasyi, Al-Suyuthi, Al-Alusi, Al-Zarqani, Al-Nasafi, Al-Qasimi, Ibnu Asyur, dan banyak lagi yang lain.

Dari kalangan ahli hadits dan ilmu hadits terdapat sejumlah nama masyhur berikut: Al-Daruqutni, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Khatib Al-Baghdadi, Ibnu Asakir, Al-Khattabi, Abu Nuaim Al-Isbahani, Al-Sam’ani, Ibnul Qattan, Al-Qadhi Iyadh, Ibnus Sholah, Al-Mundziri, Al-Nawawi, Al-Haitsami, Al-Muzi, Ibnul Hajar, Ibnul Munir, Ibnu Battal, mayoritas pensyarah kitab Bukhari dan Muslim, mayoritas pensyarah kitab hadits (kutub as-sunan). Juga, Al-Iraqi, putra Al-Iraqi, Ibnu Jamaah, Al-Aini, Al-Ala’i, Ibnul Mulqin, Ibnu Daqiq Al-Id, Al-Zamlakani, Al-Zaila’i, Al-Suyuthi, Ibnu Allan, Al-Sakhawi, Al-Manawi, Ali Al-Qori, Al-Jalal Al-Dawani, Al-Baiquni, Al-Laknuwi, Al-Zubaidi, dan banyak lagi yang lain.

Dari ulama ahli sejarah antara lain: Qadhi Iyadh, Al-Tabari, Khatib Al-Baghdadi, Abu Nuaim Al-Isbahani, Ibnu Hajar, Al-Muzi, Al-Suhaili, Al-Solihi, Al-Suyuthi, Ibnul Atsir, Ibnu Khaldun, Al-Tilmasani, Al-Qasthalani, Al-Shafdi, Ibnu Khalakan, Qadhi Syuhbah, Ibnu Nasiruddin, dan lain-lain.

Dari ulama ahli bahasa antara lain: Al-Jurjani, Al-Qazwini, Abul Barakat Al-Anbari, Al-Suyuthi, Ibnu Malik, Ibnu Aqil, Ibnu Hisyam, Ibnu Manzhur, Al-Fairuzabadi, Al-Zubaidi, Ibnul Hajib, Khalid Al-Azhari, Abu Hayyan, Ibnul Atsir, Al-Hamudi, Ibnu Faris, Al-Kafawi, Ibnu Ajurum, Al-Hattab, Al-Ahdal, dan lain-lain.[11]

Dari kalangan penguasa muslim, terdapat nama-nama tenar seperti Salahuddin Al-Ayubi, Muzhafar, Nizham Al-Muluk, Sultan Al-Fatih Turki dan para sultan Turki Usmani yang lain.[12]

Pengikut Asy’ariyah Berdasarkan Madzhab Fiqih

Dari kalangan ahli fiqih dan ilmu ushul fiqih terdapat nama-nama besar antara lain:

  1. a) Dari madzhab Hanafi: Ibnu Najim, Al-Kasani, Al-Sarakhsi, Al-Zaila’i, Al-Haskafi, Al-Mirghanani, Al-Kamal bin Al-Hamam, Al-Syaranbalali, Ibnu Amir Al-Haj, Al-Bazdawi, Al-Khadimi, Abdul Aziz Al-Bukhari, Ibnu Abidin Al-Tahtawi, dan mayoritas ulama India, Pakistan dan Bangladesh.
  2. b) Dari madzhab Maliki: Ibnu Rusydi, Al-Qarafi, Al-Syatibi, Ibnul Hajib, Khalil, Al-Dardir, Al-Dasuqi, Zuruq, Al-Laqqani, Al-Zarqani, Al-Nafrawi, Ibnu Jazi, Al-Adwi, Ibnul Haj, Al-Sanusi, Ulaisy, mayoritas ulama Maroko, dan lain-lain.
  3. c) Dari madzhab Syafi’i: Al-Juwaini, Al-Razi, Al-Ghazali, Al-Amidi, Al-Syairazi, Al-Isfirayini, Al-Baqilani, Al-Mutawalli, Al-Sam’ani, Ibnus Sholah, An-Nawawi, Al-Rofi’i, Al-Iz Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiq Al-Id, Ibnur Rif’at, Al-Adzra’i, Al-Asnawi, Al-Subki, Al-Baidhawi, Al-Hishni, Zakariya Al-Anshari, Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Romli, Al-Syarbini, Al-Mahalli, Ibnul Muqri, Al-Bujairami, Al-Baijuri, Ibnul Qasim Al-Ibadi, Qalyubi, Umairah, Ibnu Qasim Al-Ghazzi, Ibnu Naqib, Al-Attar, Al-Bannani, Al-Dimyati, Al-Ahdal, dan lain-lain.[13]

Ahlussunnah Wal Jamaah Identik dengan Aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah

Dari banyaknya ulama yang mengikuti aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah sehingga Al-Yafi’i menyimpulkan bahwa seandainya dihitung jumlah ulama yang tidak ikut kedua akidah ini, maka niscaya akan bisa dihitung dengan jari.[14] Ini semakin meyakinkan kita bahwa aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah aqidah yang benar dan harus menjadi pedoman dan panutan seluruh umat Islam. Karena, kebenaran aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah berdasarkan pada ijmak ulama yang tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan seperti disebut dalam hadits Nabi di atas. Juga, hal ini didukung oleh kaidah fiqih bahwa “ijmak ulama adalah dalil yang pasti, sedangkan perbedaan mereka menjadi rahmat yang luas.”[15]

Oleh karena itu, maka tidaklah berlebihan apabila para ulama mengidentikkan label Ahlussunnah Wal Jamaah hanya pada mereka yang mengikuti akidah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Al-Murtadho Al-Zabidi (w. 1205 H/1732 M) dalam syarah Ihya Ulumuddin menyatakan: “Apabila disebut Ahlussunnah Wal Jamaah, maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti paham Asy’ariyah dan Maturidiyah.”[16][]

Catatan Akhir:

[1] Hasyim Asy’ari, Risalatu Ahlissunnah Wal Jamaah, hlm. 4.

[2] Hamad Sinan dan Fauzi Al-Anjari, Ahlussunnah Al-Asyairah: Syahadatu Ulama Al-Ummah wa Adillatihim, hlm. 7, 248-258.

[3] Pernyataan Imam Abu Bakar bin Faurak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzib Al-Muftari, hlm. 127.

[4] Abdul Qadir Muhammad Al-Husain, Imam Ahl Al-Haq Abul Hasan Al-Asy’ari, hlm. 75. Teks asal: كنت في جنب الشيخ أبي الحسن الباهلي كقطرة في البحر، وسمعت الشيخ أبا الحسن الباهلي، قال: كنت أنا في جنب الشيخ الأشعري، كقطرة في جنب البحر

[5] Hadits riwayat Tabrani dan Ibnu Majah. Teks hadits: لا تجتمع ولا تتفق أمتي على ضلالة  Ibnu Hajar dalam Al-Talkhis menyatakan bahwa ini hadits masyhur dari berbagai sanad. Ulama muashirin menganggap hadits hasan.

[6] Abul Hasan Al-Hanafi, Hasyiyah Al-Sindi ala Ibni Majah, hlm. 7/320.

[7] Teks hadits: فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم

[8] Abul Hasan Al-Hanafi, op.cit.

[9] “Al-Asy’ariyah fi Kharitati Al-Fikr Al-Islami”, aktab.ma.

[10] Ibnu Asakir, Tabyin Kadzib Al-Muftari, hlm. 177-331.  Lihat juga, Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, Al-Manhajiyah Al-Ammah fi Al-Aqidah wa Al-Fiqh wa Al-Suluk wa Al-I’lam Bianna Al-Asy’ariyah wa Al-Maturidiyah min Ahl Al-Sunnah, (Maktabah Al-Jil Al-Jadid, Yaman, 2007), hlm. 22-26.

[11] Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, Al-Manhajiyah Al-Ammah fi Al-Aqidah wa Al-Fiqh wa Al-Suluk wa Al-I’lam Bianna Al-Asy’ariyah wa Al-Maturidiyah min Ahl Al-Sunnah, (Maktabah Al-Jil Al-Jadid, Yaman, 2007), hlm. 22-26.

[12] Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, ibid, hlm. 25.

[13] Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, ibid,  hlm. 22-26.

[14] Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, ibid, hlm. 23.

[15] Ibnu Qudamah, Al-Mughni.  Hlm. 1/4. Teks asal:

[16] Murtadha Al-Zabidi dalam Ithaf Al-Sadah Al-Muttaqin bi Syarh Ihya Ulumiddin, 2/6. Teks asal:  إذا اطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply