Agar Anak Biasa Berterima Kasih dan Meminta Maaf

Agar Anak Biasa Berterima Kasih. Berterima kasih adalah etika luhur universal artinya ia dianggap baik menurut perspektif sosial maupun Islam (QS Ibrahim 14:7). Terima kasih tanda orang yang mau bersyukur. Dan bersyukur adalah syarat menjadi bahagia. Begitu juga meminta maaf saat melakukan kesalahan adalah pendidikan untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatan salah yang dilakukan bukan malah lari darinya dan mencari kambing hitam.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SISWA
MTS & MA Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Agar Anak Biasa Berterima Kasih
  2. Biasakan Anak Minta Maaf


Agar Anak Biasa Berterima Kasih

Berterima kasih atas kebaikan yang dilakukan seseorang pada kita adalah kewajiban etika dan hak yang pantas diterima oleh pemberi kebaikan. Namun, tidak sedikit orang yang tidak hanya lupa berterima kasih, tapi juga merasa bahwa kebaikan seseorang adalah hak yang pantas dia terima sehingga dia tidak pantas menghargai apalagi berterima kasih pada yang telah berbuat baik padanya. Lebih buruk lagi, orang yang tak tahu berterima kasih biasanya juga diikuti oleh perilaku buruk lain, seperti banyak menuntut dan cerewet pada sesuatu yang bukan haknya.

Berterima kasih adalah etika luhur universal artinya ia dianggap baik menurut perspektif sosial maupun Islam (QS Ibrahim 14:7). Dalam agama, kata syukr yang berarti berterima kasih atau mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan kepada hamba-Nya menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah (QS An Nahl 16:79). Sebaliknya, lupa mensyukuri kebaikan Allah akan membuat seseorang kufr dan itu membuat Allah sangat murka (QS Ibrahim 14:7).

Berterima kasih antar umat manusia, pada orang yang telah berbuat kebaikan, itu penting karena (a) menambah semangat orang yang berbuat baik; (b) merasa kebaikannya diapresiasi; (c) hubungan harmonis dan sayang antara keduanya semakin tertanam. Bagi yang menerima kebaikan, berterima kasih itu wajib karena (a) itu etika orang yang beradab; (b) berharap kebaikan si penolong akan menular padanya.

Ungkapan terima kasih tentu saja tidak harus selalu dengan kata-kata. Ungkapan secara perilaku juga dapat dikategorikan sebagai ungkapan terima kasih. Misalnya, yang dibantu menampakkan sikap yang lebih baik pada yang membantu. Namun demikian, ungkapan verbal adalah yang paling dapat dipahami.

Karena begitu pentingnya sikap berterima kasih ini, maka ia perlu dibiasakan sejak kecil. Karena, anak kecil yang tidak tahu diuntung umumnya akan menjadi orang dewasa yang selalu cerewet menuntut hak dan lupa kewajiban. Untuk itu, pertimbangkan langkah-langkah berikut untuk melatih anak:

Pertama, memberi contoh. The golden rule (aturan utama) dalam mendidik anak adalah teladan orang tua. Ucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilakukan anak. Ucapkan terima kasih saat anak memeluk atau menyalami orang tua. Ucapkan terima kasih ketika anak melakukan tugas yang diperintahkan orang tua, walaupun mungkin tidak sempurna atau malah berantakan. Begitu juga, ucapkan terima kasih pada kebaikan yang dilakukan orang lain pada kita. Dengan demikian, anak akan tahu, kebaikan apa saja yang layak mendapat ucapan terima kasih.

Kedua, biasakan makan bersama seluruh keluarga setidaknya seminggu sekali. Dan minta pada anak supaya memberi “kata sambutan” yang intinya ucapan terima kasih pada siapa saja yang telah berjasa pada si anak pada minggu ini, termasuk yang berperan telah memasak untuk mereka (ibu, ayah atau pembantu). Atau, bisa juga kata sambutan terima kasih tersebut diganti dengan kartu ucapan terima kasih. Dengan demikian, anak akan terbiasa mengidentifikasi hal-hal yang dilakukan orang lain yang mungkin tampak kecil tapi berperan besar dan patut diapresiasi.

Ketiga, biasakan menolak permintaan anak. Orang tua harus “tega” menolak berbagai macam permintaan anak yang tidak penting seperti nonton tv, main game, nonton cd/dvd, dan lain-lain. Dan penuhi sebagian permintaan itu sesekali. Dengan demikian, anak akan merasa berterima kasih saat mendapat ijin. Menuruti segala permintaan anak hanya akan mematikan rasa apresiasi anak.

Keempat, sabar. Orang tua tidak bisa mengharapkan hasil mendidik anak dalam sekejap. Yang penting, lakukan latihan secara konsisten.[]


Biasakan Anak Meminta Maaf
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
PP Al-Khoirot Malang

Meminta maaf pada kesalahan yang dilakukan adalah langkah komunikasi yang sangat tepat sebagai salah satu cara terbaik menghindari konflik dan berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Namun meminta maaf lebih mudah dikatakan daripada melakukan. Dan karena itu dibutuhkan pembiasaan sejak kecil. Seorang yang tidak terlatih untuk meminta maaf sejak kecil, akan sangat berat untuk melakukan hal yang tampak sepele ini pada saat dewasa kelak. Selain itu, ketidakmampuan meminta maaf juga erat kaitannya dengan ketidakmauan mengakui kesalahan dan kecenderungan melempar tanggung jawab pada pihak lain.

Dengan demikian, ada dua hal mendasar yang harus ditanamkan pada anak agar terbiasa meminta maaf. Yaitu, (a) biasakan anak mengakui kesalahan diri sendiri; dan (b) biasakan tidak menyalahkan orang atau hal lain atas kesalahan sendiri. Misalnya, saat anak jatuh menimpa batu, jangan menyalahkan batunya. Ingatkan si anak bahwa itu kesalahan dia karena kurang hati-hati. Begitu juga, saat anak dicubit atau dipukul temannnya karena merebut mainan teman. Jangan menyalahkan temannya. Tapi ingatkan si anak bahwa dia yang menjadi penyebab pertama terjadinya pertengkaran. Ini langkah awal bagaimana supaya anak berfikir jernih. Apabila anak sudah terbiasa melihat penyebab suatu masalah dengan lebih jernih (tidak selalu mencari kambing hitam), maka mulailah langkah kedua, yaitu, membiasakan anak meminta maaf baik secara verbal (kata-kata) maupun secara fisikal seperti menyalami atau memeluk teman atau saudara yang disalahinya. Melatih anak meminta maaf dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Pertama, contoh orang tua. Teladan yang baik adalah guru terbaik (QS Al Ahzab 33:21). Dan pemberi teladan terbaik adalah orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus “memberanikan diri” untuk meminta maaf pada siapapun, termasuk pada anak, apabila melakukan kesalahan. Permintaan maaf orang tua harus “dipamerkan” di depan anak, supaya anak tahu, bahwa meminta maaf itu adalah hal terbaik yang dilakukan seseorang apabila berbuat kesalahan.

Kedua, tanamkan pemahaman bahwa dalam hidup selalu ada peraturan. Dan peraturan terpenting adalah tepo seliro: perlakukan orang lain sebagaimana engkau menginginkan mereka memperlakukanmu. Aturan ini dan banyak aturan-aturan yang lain bertujuan untuk membantu kita dapat menjalani hidup harmonis dan bahagia.

Ketiga, berlakukan sanksi secara konsisten apabila aturan dilanggar. Ketaatan pada aturan dipelajari melalui ketidakenakan melanggar peraturan. Sanksi yang konsisten akan membangun rasa etika dan budi pekerti untuk memahami yang benar dan yang salah. Yang etis dan yang tidak bermoral. Akan ada hasil yang baik dari perilaku yang baik. Dan ada dampak negatif akibat perilaku buruk. Rasa beretika inilah yang akan membantu anak memahami perlunya meminta maaf.

Keempat, yakinkan anak pada pemahaman bahwa meminta maaf itu sangat penting untuk memelihara hubungan yang baik dan harmonis dengan orang lain. Apabila anak menyakiti orang lain dengan kata-kata atau perilaku, maka berarti dia telah membangun tembok pembatas antara dia dan orang yang disakiti. Apabila dia tidak meminta maaf, maka tembok pembatas itu akan terus ada dan hubungannya dengan orang itu akan rusak.

Salah satu cara memberi pemahaman yang mudah pada anak tentang pentingnya meminta maaf adalah dengan menceritakan bagaimana orang tua meminta maaf saat mereka melakukan kesalahan.[]

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • Harus dibiasakan sejak kecil sehingga menjadi perilaku anak sampai ia dewasa

    Koko NataApril 22, 2016
  • Anak sekarang beda dengan anak jaman saya sekolah mas, sekarang tidak harus berbekal sabar saja….kita harus menjadi seperti mereka kalau ingin tahu seperti apa keinginan mereka. Kalau boleh bilang, kualitas dari nilai2 moral Pancasila sepertinya sudah mengalami penurunan akhir2 ini. Dulu ada penataran P4 untuk anak2 sekolah, dan hasilnya sangat luar biasa dirasakan sampai sekarang (sehingga kita yang sudah gede2 bisa menilai ini)….Moral anak2 saat itu lebih “Santun” dari anak2 jaman sekarang yang kadang terlihat “Nglamak” (red: Berani sama Orang tua)…Oke, apapun itu, namanya perkembangan zaman, mungkin….Thanks mas Fatih,…(Saya adalah salah satu penggemar artikel blog anda 2-3 tahun yg lalu)….Semoga sukses selalu mas.

    mazdodotSeptember 13, 2012
  • September 3, 2012

    […] Sumber Motivasi bagi Aming Telah Pergi untuk SelamanyaAgar Anak Biasa Berterima Kasih […]

Leave a Reply