Abu Ubaidah bin Jarrah

Abu Ubaidah bin Jarrah adalah seorang Sahabat Nabi yang selalu menjaga pola hidup sederhana walaupun kaya raya baik saat menjadi panglima perang tertinggi maupun setelah menjadi Gubernur Islam untuk kawasan Suriah.
Oleh: A. Fatih Syuhud

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah adalah Sahabat Nabi yang dikenal sebagai panglima perang yang taktis sekaligus sebagai negarawan yang ulung. Itulah sebabnya ia pernah dinominasikan Umar bin Khattab sebagai salah satu Sahabat yang ditunjuk untuk menggantinya sebagai Khalifah ketiga setelah Umar. Ia juga termasuk di antara 10 Sahabat yang dipastikan masuk surga oleh Nabi (al-mubasyarin bil jannah).

Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah, kemudian lebih dikenal dengan Abu Ubaidillah Al-Jarrah, adalah putra dari pasangan Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal dan Umaimah binti Usman bin Jabir. Ia lahir di Makkah pada tahun ke-40 sebelum hijrah atau 584 masehi. Ayahnya, Abdullah bin Al-Jarrah adalah seorang pengusaha dan secara garis keturunan berasal dari klan Banul Haris bin Fihr salah satu klan utama dalam suku Quraisy. Itulah sebabnya Abu Ubaidah dianggap salah satu dari bangsawan Quraisy dan dikenal sebagai sosok yang sederhana, santun namun tegas dan berani.

Pada tahun 611, Nabi mulai berdakwah menyebarkan agama tauhid pada penduduk Makkah. Nabi memulai dengan mengajak sahabat dan keluarga terdekat secara rahasia agar masuk Islam. Atas pengaruh dari Abu Bakar, Abu Ubaidah masuk Islam selang satu hari setelah keislaman Abu Bakar. Abu Ubaidillah menjadi satu-satunya muslim saat ini yang berasal dari klan Banul Haris bin Fihr.

Masuk golongan orang yang masuk Islam pertama tidaklah membawa keuntungan materi bagi Abu Ubaidah. Sebaliknya, justru hal itu membuatnya mengalami berbagai kesulitan karena diboikot oleh kalangan kafir Makkah. Di satu sisi, ini menjadi momen ujian atas kekuatan iman dan Islamnya. Namun di sisi yang lain, solusi harus segera dicari bagaimana agar supaya kesulitan ekonomi dan sosial ini segera berakhir. Akhirnya, bersama dengan pemeluk Islam yang lain, atas saran Rasulullah Abu Ubaidillah hijrah ke Habasyah atau Ethiopia. Ia hijrah ke Habasyah bersama 83 laki-laki dan 20 perempuan muslim.[1]

Pada tahun 622 masehi, Abu Ubaidah mengikuti Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah. Selama setahun di Madinah, umat Islam berada dalam kondisi damai tanpa gangguan dan tekanan dari manapun sebelum akhirnya kaum Quraisy Makkah mengangkat senjata untuk menyerang Madinah.

Pada tahun 624 masehi atau tahun ke-2 hijrah, Abu Ubaidah berpartisipasi dalam pertempuran besar pertama antara muslim dan Quraisy pada perang Badar. Dalam pertempuran ini, ia diserang oleh ayahnya sendiri yakni Abdullah bin Al-Jarrah, yang bertempur bersama tentara Quraisy. Abu Ubaidah berusaha menghindari bertempur melawan ayahnya akan tetapi ayahnya berhasil menutup jalan sehingga Abu Ubaidah tidak mempunya pilihan lain kecuali menghadapinya dan menewaskan ayahnya. Tindakan Abu Ubaidillah yang lebih mementingkan kepentingan Islam daripada kepentingan pribadi ini dipuji dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah 58:22.[2]

Setahun kemudian pada tahun 625 masehi atau tahun ke-3 hijrah, kembali terjadi pertempuran antara muslim dan kafir Quraisy yang disebut Perang Uhud. Dalam peperangan fase kedua ini, berkat kecerdikan Khalid bin Walid yang waktu itu menjadi panglima perang kafir Quraisy, umat Islam mengalami kekalahan. Pasukan Islam kocar kacir kecuali sebagian kecil yang tetap bertahan menemani Nabi di medan pertempuran. Salah satunya adalah Abu Ubaidillah yang terus melindungi Nabi sampai kehilangan dua gigi depannya.[3]

Keberanian dan kedalaman strategi tempurnya membuat ia dipercaya menjadi panglima perang baik pada zaman Rasulullah, maupun pada era Khalifah Abu Bakar dan Umar. Pada era Khalifah Umar, ia menjadi panglima perang tertinggi dan kemudian menjadi Gubernur di Suriah yang saat itu sudah jatuh ke tangan kekuasaan Islam.

Abu Ubaidah wafat pada tahun 639 M atau 18 hijriah. Ia meninggal disebabkan oleh serangan wabah penyakit menular saat berada di lembah Yordania. Ia pun dimakamkan di tempat tersebut.

Gaya Hidup Sederhana

Seperti disinggung di muka, Abu Ubaidah saat muda memiliki gaya hidup yang sederhana, santun dan agak pemalu namun sangat pemberani dan tegas apabila diperlukan. Gaya hidup sederhana itu tetap menjadi pola hidupnya bahkan setelah ia menjadi Gubernur Islam di Syam (sekarang Suriah dan sekitarnya).

Sebagai jenderal perang tertinggi tentu ia mendapat banyak bagian harta hasil rampasan perang (ghanimah), dan sebagai gubernur ia pasti mendapat fasilitas yang cukup memadai kalau ia mau. Namun itu semua tidak merubah gaya hidupnya yang sederhana. Dan itu bahkan mengagetkan Khalifah Umar sendiri.

Khalifah Umar yang juga dikenal sangat sederhana bahkan terkejut ketika melihat keadaan rumah Abu Ubaidah yang tidak ada isinya kecuali satu tempat tidur, sebuah pedang dan perisai. Umar yang saat itu sedang berkunjung ke Suriah berkata: “Wahai Abu Ubaidah, engkau dapat memiliki yang lebih baik dari ini di rumahmu.” Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Umar, ini sudah cukup bagiku.”

Umar sangat mengagumi dan mencintai Abu Ubaidah. Ia pernah berkata: “Kalau aku boleh berharap, aku ingin punya sebuah rumah yang dipenuhi oleh orang-orang seperti Abu Ubaidah.”

Banyak umat Kristiani Suriah yang masuk Islam di masa Abu Ubaidah menjadi Gubernur Suriah. Mereka umumnya terinspirasi dengan kesederhanaan dan kebijaksanaannya dalam memimpin. Mereka yang masuk Islam antara lain seluruh suku pemeluk Nasrani dari Banu Tanukh dan Banu Salij.

Kesederhanaan saat orang berada dalam posisi mampu hidup mewah merupakan keluhuran budi dalam level tertinggi. Dengannya, semua kebaikan akan mengikuti. Kejujuran, tidak korupsi, peduli sesama, peduli kamu dhuafa, tidak punya kepentingan pribadi, tahan godaan, dan lain-lain. Kesederhanaan dan bangga dalam kesederhanaan adalah sebuah perilaku yang tidak dimiliki oleh kebanyakan umat Islam saat ini mulai dari pejabat, tokoh agama dan masyarakat awam. Akan sangat ideal kalau muslim kembali mengambil inspirasi dari Abu Ubaidah.[]

[1] Tabaqat ibnu Saad, I/138

[2] Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

[3] Tabaqat ibnu Saad, “Al-Maghazi”, hlm. 62.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply