Abu Hurairah: Sahabat Ahli Hadits

Abu Hurairah *
Oleh: A. Fatih Syuhud

Bagi santri yang sedang atau pernah belajar hadits, nama Abu Hurairah merupakan sosok yang tidak asing, karena ia merupakan Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi. Ia lahir pada tahun 19 sebelum hijrah atau 599 masehi. Kalangan ulama ahli hadits sepakat bahwa selain terbanyak meriwayatkan hadits Abu Hurairah adalah Sahabat Nabi yang paling banyak hafal hadits. Sahabat lain yang dikenal banyak meriwayatkan hadits adalah Abdullah bin Umar (Ibnu Umar), Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Said Al-Khudri dan Aisyah binti Abu Bakar.. Nama aslinya pada masa Jahiliyah adalah Abdu Syams. Saat ia masuk Islam, Rasulullah merubah namanya menjadi Abdurrahman.

Ia dipanggil Abu Hurairah bukan karena anak pertamanya bernama Hurairah seperti umumnya julukan orang Arab. Dalam Sunan Tirmidzi 5/350 ia berkisah: “Aku pernah menggembala domba milik keluarga. Saat itu aku punya kucing kecil (Arab, hurairah) yang saat malam aku letakkan di sebuah pohon dan kala siang kucing kecil itu pergi dan bermain-main bersamaku. Karena itu aku dijuluki Abu Hurairah.”

Abu Hurairah termasuk salah satu ulama dan tokoh utama dari kalangan Sahabat Nabi. Banyak para Sahabat Nabi yang lain yang menjadi muridnya dan meriwayatkan hadits darinya. Begitu juga dari kalangan Tabi’in. Menurut Imam Bukhari ada lebih dari 800 orang yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Selain itu, banyak dari kalangan ahli hadits yang datang padanya untuk bertanya dan meminta fatwa terkait hadits yang mereka dapatkan dari Sahabat yang lain.

Abu Hurairah wafat pada tahun 681 masehi atau 59 hijrah pada usia 78 tahun dan dimakamkan di Al-Baqi’, sebuah pemakaman para Sahabat yang terletak di dekat masjid Nabawi, Madinah.

Dari segi filosofi hidup, Abu Hurairah meyakini bahwa kunci sukses dari apapun yang ingin dicapai adalah kombinasi dari kerja keras dan doa, baik doa sendiri maupun doa dari orang soleh. Dua kisah berikut adalah buktinya:

Kisah pertama, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, terkait dengan kekuatannya menghafal begitu banyak hadits. Daya ingatnya yang luar biasa itu sebenarnya adalah berkah dari doa Nabi. Abu Hurairah berkata: Wahai Rasulullah, saya mendengar banyak hal darimu tetapi aku mudah melupakannya.” Nabi bersabda, “Hamparkan kainmu.” Akupun menghamparkan kainku lalu Nabi menggerakan kedua tangannya seakan-akan mengambil sesuatu dan memasukkannya di kain sambil berkata, “Bungkuslah.” Aku membungkus kain itu di seputar tubuhku. Sejak saat itu aku tidak pernah melupakan satu hadist pun.

Kisah kedua, sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi 5/350 dan Mustadrok Hakim 3/506, terkait dengan keislaman ibunya. Suatu hari, untuk kesekian kalinya ia mengajak ibunya yang bernama Maimunah binti Sufaih untuk masuk Islam. Ibunya menjawab dengan berkata kasar tentang Nabi. Abu Hurairah lalu pergi menghadap Nabi dengan sedih. “Mengapa menangis, Abu Hurairah?” tanya Nabi. “Saya selalu mengajak ibu saya masuk Islam, tapi dia selalu menolak,” kata Abu Hurairah. “Saya mengajaknya lagi hari ini tetapi dia mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu ini yang membuatku sedih. Bisakah engkau berdoa pada Allah supaya ibuku masuk Islam?”

Rasulullah lalu berdoa agar ibu Abu Hurairah masuk Islam. Dan tak kala ia pulang, ia melihat pintunya tertutup. Ia mendengar gemericik air. Ia mencoba memasuki rumah, tetapi ibunya berkata, “Tunggu sebentar. Jangan masuk dulu.” Setelah dibolehkan masuk, Abu Hurairah sangat terkejut saat ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

Kedua kisah yang dialami Abu Hurairah di atas menunjukkan bahwa belajar rajin, kerja keras, sabar, tidak mudah putus asa, dan selalu berdoa pada Allah adalah kunci keberhasilan dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pemahaman bahwa selalu berdoa bertujuan agar usaha yang kita ingin capai mendapat ridha Allah dan menjadi pembawa kebaikan dan kemaslahatan bagi kita dan orang lain.

Sebenarnya kerja keras dan fokus pada tujuan merupakan 90% dari kesuksesan. Namun demikian kesuksesan itu belum tentu membawa kebaikan dan kebahagiaan pada kita apabila tanpa adanya ridho Allah. Itulah sebabnya banyak orang yang sukses karirnya belum tentu berbahagia hatinya. Islam mengajarkan bahwa usaha yang keras dan doa dengan penuh kerendahhatian pada Allah adalah kunci sukses dan bahagia dunia dan akhirat.[]

*Ditulis untuk Buletin Santri Ponpes Al-Khoirot Malang

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply