Abdullah bin Umar: Sahabat Ahli Hadits

Abdullah bin Umar: Sahabat Ahli Hadits
Oleh: A. Fatih Syuhud

Abdullah bin Umar, dikenal dengan sebutan Ibnu Umar, adalah putra Umar bin Khattab, Khalifah kedua Islam. Ibnu Umar dikenal sebagai ulama dari kalangan Sahabat dengan dua keahlian: hadits dan fiqih. Dalam bidang hadits ia menduduki ranking kedua sebagai perawi hadits paling produktif setelah Abu Hurairah. Tak kurang dari 2630 hadits Nabi yang telah ia riwayatkan baik langsung dari Rasulullah atau ia terima dari Sahabat lain yang lebih senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar, Utsman bin Affan, Saad, Ibnu Mas’ud, Hafsah, Aisyah, dan lainnya.

Ibnu Umar lahir pada tahun ke-11 sebelum Hijrah atau setahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul.[1] Kelahirannya bertepatan dengan tahun 614 Masehi. Saat itu ayahnya belum masuk Islam. Pada awal kenabian, Umar bin Khattab termasuk salah satu tokoh Quraisy yang sangat menentang risalah Nabi dan Islam.

Ayahnya masuk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun kelima Kenabian bertepatan dengan tahun 616 Masehi. Tidak jelas tercatat sejarah tahun berapa Ibnu Umar masuk Islam. Satu hal yang pasti dia menjadi mualaf pada saat sebelum berusia 10 tahun dan belum baligh.[2]

Lalu faktor apa saja yang membuat Ibnu Umar menjadi seorang ulama ahli hadits tersohor? Hal pertama tentu saja kerajinan dan antusiasme dalam menuntut ilmu. Seperti disinggung di muka, Ibnu Umar sangat rajin belajar kepada banyak guru tidak hanya kepada Rasulullah, tapi juga pada para tokoh senior yang usianya jauh lebih tua darinya dan lebih dulu masuk Islam. Rajin dan antusias dalam menuntut ilmu membuat seseorang fokus untuk belajar dan mencari tahu tanpa mengenal lelah. Fokus yang konsisten akan membuat konsentrasinya tidak tergoda untuk memikirkan yang lain. Ditambah dengan kecerdasan yang dimiliki tiga faktor ini akan menjadi pembeda antara pemuda yang sukses di bidang keilmuan dan tidak.

Kedua, meneladani ahli ilmu. Ibnu Umar dikenal sebagai Sahabat yang berusaha meneladani apapun yang dilakukan oleh Rasulullah. Aisyah, istri Nabi, berkisah: “Tidak ada seorang pun yang mengikuti langkah perbuatan Nabi seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Sampai-sampai ketika Nabi pernah berhenti di dekat pohon, maka Ibnu Umar berusaha menjaga pohon itu dengan menyiraminya agar dia bisa melakukan hal serupa.”[3] Meneladani berarti menaruh hormat, mengagumi dan percaya pada guru.

Ketiga, wara’ [4] dan zuhud.[5] Ibnu Umar dikenal sebagai orang yang sangat wara’ yakni orang yang bersikap dan berperilaku idealis dalam menjalankan ajaran agama. Orang wara’ tidak hanya menjalankan perintah yang wajib dan menjauhi yang haram, tapi lebih dari itu, juga berusaha menjalankan yang sunnah dan menjauhi yang makruh dan syubhat dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan dalam beragama. Salah satu bukti kewaraannya adalah ia menolak permintaan Usman bin Affan ketika Usman menunjuknya menjadi Hakim pada masa kekhalifaan Usman.

Menyikapi penolakan itu, Usman merasa heran dan bertanya, “Mengapa menolak? Apakah menjadi Hakim itu berdosa? Bukankah ayahmu juga suka memutuskan perkara?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak berdosa. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa hakim ada tiga macam hakim yang memutuskan dengan kebodohan maka ia masuk neraka, hakim yang memutuskan dengan hawa nafsunya masuk neraka, dan hakim yang berijtihad dan benar maka dia tidak mendapat pahala dan dosa. Aku mohon maaf padamu tidak bisa menerima tugas ini.” Usman memaafkan Ibnu Umar setelah Ibnu Umar berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun kuatir akan diikuti oleh orang-orang soleh yang lain.[6]

Keempat, tawadhu’. Walaupun namanya dikenal luas sebagai ulama besar dan putra dari Umar bin Khattab, namun ia tetap menjadi sikap tawadhu dan rendah hati. Suatu hari ada orang yang memanggilnya, “Wahai sebaik-baik manusia!” atau “Putra orang terbaik.” Ia berkata, “Aku bukan manusia terbaik juga bukan anak orang terbaik. Tetapi aku hanyalah hamba Allah. Aku berharap pada Allah dan takut padaNya.[7]

Kelima, dermawan dan sederhana. Ibnu Umar adalah seorang yang kaya. Selain sebagai pengusaha sukses ia juga menerima tunjangan dari Baitul Mal. Namun, sebagian besar gajinya diberikan pada fakir miskin.[8] Kesederhanaan dan kedermawanan adalah dua hal yang saling terkait. Kedermawanan tidak bisa dilakukan tanpa pola hidup sederhana. Karena kemewahan identik dengan ketamakan dan tidak adanya empati pada kaum dhuafa.[9]

Beberapa keistimewaan Abdullah bin Umar di atas, di samping banyak kelebihannya yang lain, menjadi faktor keberhasilannya tidak saja dalam menuntut ilmu, tapi juga ketika dia telah menjadi salah satu ulama di bidang hadits dan fiqih yang sangat berpengaruh dan dihormati oleh berbagai kalangan di masanya dan sampai sekarang.[]

FOOTNOTE

[1] Pendapat lain menyatakan ia lahir empat tahun setelah Kenabian (al-nubuwah; al-bi’tsah), lihat Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 3/204.

[2] Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 3/204.

[3] Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 3/214.

[4] Menurut Al-Mu’jam Araby Ammah, makna wara’ adalah ابتعد عن الإثم وكفَّ عن الشّبهات والمعاصي على سبيل التَّقوى “Menjauh dari dosa dan menahan diri dari perkara syubhat dan maksiat dengan jalan takwa.”

[5] Menurut Al-Mu’jam Al-Ghani, zuhud adalah الانْصِرافَ إلَى العِبادَةِ وَتَرْكَ مَلَذَّاتِ الدُّنْيا ، الإِعْراضَ عَنْها احْتِقاراً لَها “Berpaling pada ibadah dan meninggalkan kenikmatan dunia. Berpaling dari dunia dan menganggapnya hina.”

[6] Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 224.

[7] Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 236. Teks atsar dari Nafi: أن رجلا قال لابن عمر : يا خير الناس ، أو : ابن خير الناس . فقال : ما أنا بخير الناس ، ولا ابن خير الناس ، ولكني عبد من عباد الله ، أرجو الله ، وأخافه ، والله لن تزالوا بالرجل حتى تهلكوه .

[8] Sebagaimana dikisahkan oleh Ayyub bin Wail Al-Rasibi dalam Al-Dzahabi, ibid

[9] Al-Dzahabi, ibid.

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply