Abdullah bin Abbas: Ahli Hadits dan Lautan Ilmu

abdullah bin abbasAbdullah bin Abbas: Ahli Hadits dan Lautan Ilmu
Oleh: A. Fatih Syuhud

Abdullah bin Abbas termasuk Sahabat yang tidak lama bersama Nabi. Hanya dua tahun setengah. Ia baru berusia 15 tahun ketika Rasulullah wafat.[1] Namun demikian, Ibnu Abbas berhasil meriwayatkan 1660 hadits Nabi. Dari segi jumlah hadits, ia menduduki peringkat kelima sebagai Sahabat yang paling banyak merawikan hadits Rasulullah setelah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik dan Aisyah. Dari segi waktu kebersamaannya dengan Rasulullah yang tergolong singkat, hanya 30 bulan, maka pencapaiannya ini termasuk fenomenal.[2] Ibnu Abbas meninggal pada tahun 68 Hijriah atau 687 Masehi dan dimakamkan di Thaif, Arab Saudi. Ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 72.[3]

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttolib bin Hasyim. Dari nama ayah dan kakeknya, dapat diketahui bahwa ia sepupu Nabi (Arab: ibnul amm) karena ayahnya, Abbas bin Abdul Muttalib, adalah saudara kandung ayah Rasulullah dan memiliki nama yang sama dengannya. Keduanya juga memiliki kakek yang sama pada diri Abdul Muttalib. Ia lahir pada tahun 619 Masehi atau tiga tahun sebelum hijrah. [4]

Abdullah bin Abbas muda adalah sosok yang memiliki dasar kuat untuk menjadi seorang ulama besar: ia genius, tekun belajar, antusias mencari ilmu, ulet menghadapi rintangan dan rendah hati. Rasulullah sudah memprediksi bahwa sepupunya ini akan menjadi seorang ulama besar di berbagai bidang ilmu agama. Itulah yang tersurat dari doa beliau, “Ya Allah, berilah Ibnu Abbas keahlian dalam ilmu agama dan kemampuan menafsiri Al-Quran.”[5] Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah juga mendoakan Ibnu Abbas agar diberi ilmu hikmah.[6]

Keuletannya dan kerajinannya dalam mencari ilmu ia tunjukkan antara lain dengan banyak bertanya pada ahlinya. Suatu hari ia ditanya bagaimana ia bisa mendapat anugerah begitu banyak ilmu? Ibnu Abbas menjawab, “Dengan banyak bertanya dan memahami.”[7]

Salah satu bukti keuletan dan keseriusan Ibnu Abbas dalam belajar dan mengumpulkan hadits adalah setelah wafatnya Rasulullah, ia terus belajar menuntut ilmu agama dari para Sahabat Nabi, khususnya yang mengenal Nabi paling lama. Ia akan bertanya pada sejumlah Sahabat untuk memvalidasi kesahihan sebuah hadits. Untuk satu hadits saja ia bisa bertanya pada 30 Sahabat sebagai langkah verifikasi dan kehati-hatiannya. Dengan ketekunan dan keuletannya yang luar biasa, maka tidaklah aneh kalau ia mendapat banyak pujian dari kalangan Sahabat dan Tabi’in atas ketinggian ilmunya di berbagai bidang. Sejumlah gelar kehormatan pun diperolehnya seperti habrul ummah (pakarnya umat), faqih al-ashr (ahli fiqih zaman ini), imam al-tafsir, tarjuman al-Quran (penafsir Al-Quran) , al-bahr (lautan ilmu).

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Sahabat Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas ini, pertama, bahwa walaupun dia keluarga dekat Nabi (ahlul bait), namun hal itu tidak menjadikannya besar kepala dan gila hormat. Ia tetap dikenal sebagai orang yang rendah hati dan menghormati orang lain berdasarkan pada keilmuan dan senioritas. Sebagai contoh, saat mencari informasi tentang suatu hadits ia selalu datang sendiri pada Sahabat senior yang dianggap mengetahui akan hal tersebut. Padahal Sahabat tersebut berkali-berkali mengatakan bahwa kalau Ibnu Abbas ingin menanyakan sesuatu padanya, maka cukuplah mengutus orang untuk memanggilya dan ia akan datang menghadap.

Kedua, walaupun dikenal jenius dan pernah didoakan Nabi menjadi ahli tafsir Quran dan luas ilmunya, namun doa itu tidak dianggapnya sebagai “tiket gratis” menuju sukses. Ia tetap bekerja keras menuntut ilmu sebagaimana para ulama lain pada zamannya. Doa itu dianggapnya sebagai motivasi untuk mencapai cita-cita yang ingin dicapainya, yakni menjadi ulama Islam. Namun, keberhasilan itu tetap harus dicapai dengan usaha nyata dan kerja keras karena itulah sunnatullah yang berlaku (QS Ali Imron 3:137).

Ketiga, sikapnya yang bijaksana dalam menghadapi konflik antar umat Islam di masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abu Thalib terutama dalam menghadapi sikap kaum Khawarij yang ekstrim patut dijadikan teladan bagi kita semua saat ini dalam menghadapi kalangan yang tidak kalah ekstrimnya dengan Khawarij di masa Sahabat. Dalam arti, mencari titik temu itu lebih bermanfaat daripada memperlebar perbedaan.

Keempat, bimbingan yang baik dan lingkungan yang kondusif. Bimbingan yang baik dari orang yang lebih dewasa adalah salah satu faktor keberhasilan dalam pendidikan Ibnu Abbas. Malaikat Jibril berpesan pada Rasulullah bahwa Ibnu Abbas akan menjadi habrul ummah (ulama besar umat) namun harus dibimbing dengan baik.[8]

Footnote

[1] Sebagian riwayat menyatakan ia berusia 13 tahun saat Nabi wafat. Lihat, Dr. Amin Al-Syaqawi dalam “Muqtatofat min Sirat Tarjuman Al-Quran”, alukah.net.

[2] Al-Dzahabi, Siyar A’lam Al-Nubala, hlm. 3/332

[3] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, hlm. 12/87.

[4] Al-Dzahabi, op.cit.

[5] Hadits sahih riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad, 4/225. Teks hadits:

عن ابنِ عَبَّاسٍ رضي اللهُ عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي أَوْ عَلَى مَنْكِبِي، – شَكَّ سَعِيدٌ – ثُمَّ قَالَ: “اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

[6] Ibnul Qoyyim, I’lam Al-Muwaqqi’in, hlm. 1/16.

[7] Ibid. Teks asal: وقال مكحول : قيل لابن عباس : أنى أصبت هذا العلم ؟ قال : بلسان سئول وقلب عقول

[8] Al-Dzahabi, op.cit, hlm. 339. Teks hadits: عن ابن بريدة ، عن ابن عباس : انتهيت إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – وعنده جبريل ، فقال له جبريل : إنه كائن هذا حبر الأمة ، فاستوص به خيرا

Sharing, Yuk!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Comments

  • Syukran jazilan ‘ala khidmatikum ila diinirrahman… sangat kagum dan bahagia membaca tulisan anda.. semoga ini menjadi inspirasi bagi putera-puteri muslim

    Daftar Hotel di BukittinggiNovember 27, 2015

Leave a Reply