Disiplin dalam Keluarga

Disiplin dalam Keluarga adalah kunci sukses dalam pendidikan seluruh pihak terkait dalam rumah tangga seperti suami, istri, dan anak. Disiplin adalah konsisten terhadap aturan yang dibuat serta dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus. Aturan hendaknya mempunyai visi yang berdampak jauh ke depan, bukan kebaikan jangka pendek.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri Madin PP Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Keluarga Disiplin
  2. Keluarga Disiplin (2)
  3. Buku Rumah Tangga Bahagia


Keluarga Disiplin (1)

Salah satu hal penting yang membedakan antara keluarga yang berhasil dan rumah tangga gagal adalah dalam soal kedisiplinan. Apa itu disiplin? Secara literal disiplin beraral dari bahasa Inggris yang bermakna praktik melatih diri sendiri atau orang lain untuk menaati peraturan dan tingkah laku yang dibuat dengan menggunakan hukuman atau sangsi untuk mengoreksi pelanggaran.

Disiplin dalam istilah psikologi sosial adalah perilaku yang memiliki tujuan jangka panjang lebih besar dibanding tujuan jangka pendek. Seorang yang disiplin adalah orang yang telah mentargetkan suatu tujuan dan memiliki kemauan kuat untuk mencapai tujuan itu dengan kerelaan untuk mengorbankan kenyamanan jangka pendek.

Orang tua (ayah dan ibu) yang disiplin akan menyadari perlunya memberi tauladan atas aturan yang dibuat. Mereka sadar peraturan hanya akan tinggal rangkaian kata-kata apabila tidak diikuti dengan kemauan semua pihak untuk mentaatinya. Dan ketaatan itu harus dimulai dari pembuat peraturan itu sendiri yaitu kepala keluarga yang dalam hal ini adalah ayah dan ibu.

Dalam konteks orang tua mendisiplinkan anak, maka mereka akan “tega” untuk tidak menuruti semua permintaan anaknya apabila hal itu bersifat tidak mendidik dan akan berpotensi merugikan atau membahayakan masa depan anak. Baik potensi bahaya yang besar atau kecil. Orang tua yang disiplin juga tidak akan ragu untuk memberi hukuman atas kesalahan, atau keteledoran yang dilakukan anak seberapa besar pun rasa sayang mereka pada anak.

Dengan demikian, sikap disiplin dalam rumah tangga adalah kemampuan kepala keluarga dalam merencanakan program jangka pendek dan jangka panjang bagi seluruh keluarga, lalu melaksanakannya, dan mengontrol serta memotivasi diri dan keluarga untuk konsisten berbuat dan berperilaku berdasarkan program yang telah direncanakan tersebut.

Apabila orang tua sudah dapat mendisiplinkan diri sendiri, maka mendisiplinkan anak tidaklah sulit. Thomas W. Phelan dalam bukunya Effective Discipline for Children, (Parentmagic, Inc.:2010) memberi tips berikut untuk mendisiplinkan anak:

Pertama, hargai perilaku yang baik. Orang tua jangan pelit untuk memberikan pujian lisan ataupun dalam bentuk hadiah atas prestasi yang dicapai anak. Yang dimaksud prestasi dapat berupa perilaku yang baik di rumah atau prestasi akademis di sekolah. Namun begitu, harus hati-hati dalam memberikan apresiasi yang berupa materi. Berilah hadiah yang mendidik. Bukan hadiah yang akan mengurangi capaian prestasi anak di masa depan.

Kedua, aturan yang jelas. Buat aturan yang jelas dan siap dikritik bagi yang melanggarnya. Sebagian aturan dibuat khusus untuk anak. Sebagian lagi untuk seluruh keluarga. Untuk yang terakhir, orang tua harus rela dikritik anak apabila melanggar. Maka, anak akan siap mendapat hukuman apabila melakukan pelanggaran serupa.

Ketiga, hindari berdebat dengan anak. Kalau anak protes karena permintaannya tidak dipenuhi, cukuplah dijawab dengan “Iya, ayah mengerti,” atau “Iya, ibu tahu”. Semakin sedikit kata-kata yang dikeluarkan, semakin baik.

Keempat, tunda hukuman saat marah. Apabila anak melakukan pelanggaran dan orang tua merasa sangat marah, maka menunda hukuman adalah lebih baik daripada memberi sangsi pada anak dalam keadaan orang tua sedang emosi. Tunda dulu sampai orang tua teanang sehingga dapat memberi sangsi dalam keadaan lebih stabil sehingga dalam memberikan hukuman betul-betul demi kebaikan anak bukan karena melampiaskan nafsu amarah orang tua.

Kelima, konsisten pada aturan. Inilah bagian tersulit: bagaimana supaya orang tua dapat konsisten atas aturan yang telah dibuat tidak hanya dalam mengawasi perilaku anak, tapi juga dalam memberikan sangsi. Tanpa hukuman yang konsisten, anak akan merasa bahwa aturan yang dibuat tidak serius dan bebas melakukan pelanggaran. Aturan dibuat agar anak tahu batasan perbuatan yang dibolehkan. Namun demikian, menurut kalangan pendidik, aturan dapat dikurangi intensitasnya saat anak sudah memasuki usia 9 sampai 12 tahun.

Keenam, contoh yang baik. Ini prinsip dasar. Teladan yang baik dari orang tua tidak menjamin anak akan ikut baik, tapi setidaknya anak akan percaya dan respek pada orang tua dan menghormati keputusan yang dibuat.[]


Keluarga Disiplin (2)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa keluarga yang sukses adalah keluarga yang disiplin. Dan keluarga disiplin adalah keluarga yang memiliki rencana jangka panjang yang jelas dan rela mengorbankan kenyamanan jangka pendek demi mencapai tujuan jangka panjang yang lebih baik. Merencanakan sebuah pencapaian tidaklah terasa sulit. Apa sulitnya berencana. Yang akan terasa sulit adalah melaksanakan rencana tersebut hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Bayangan kesulitan akan terasa terutama apabila anak sudah mulai memiliki teman, hidup tidak hanya dengan ayah dan bunda. Bagaimana tetap menjaga anak agar tetap komitmen dan taat pada rencana yang telah digariskan orang tua? Dengan kata lain, bagaimana supaya anak tetap taat dan tidak memberontak pada rencana yang ingin dituju? Terasa sulit, namun bukan hal yang mustahil. Masalah terpenting sebenarnya bukan pada anak, akan tetapi pada sanggup atau tidaknya orang tua untuk berdiri di garis terdepan dan memberi contoh terbaik buat anak-anaknya.

Dalam buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an ada sebuah kisah menarik tentang keberhasilan sebuah keluarga yang sukses mendidik kesepuluh anaknya tidak hanya berperilaku baik dan salih, tapi juga taat pada orang tua, berprestasi di kelasnya dan bahkan semuanya hafal Al-Quran. Buku yang ditulis oleh Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah dan terbit pada tahun 2010 ini mengisahkan bagaimana orang tua mereka berhasil mendidik kesepuluh anak ini menjadi sosok-sosok yang menginspirasi. Berikut profil singkat kesepuluh anak pasangan Mutammimul Ula dan Wirianingsih tersebut:

  1. Afzalurrahman (24th): Hafal Alquran 30 juz, Teknik Geofisika ITB, Ketua Umum Majelis Taklim Salman ITB, peraih Pertamina Youth Program;
  2. Faris Jihady Hanifa (22th): Hafal Al Quran 30 juz sejak usia 10 tahun, Fakultas Syariah LIPIA, Juara I Tahfidz Alquran Kerajaan Arab Saudi;
  3. Maryam Qanitat (20th): Hafal Alquran 30 juz sejak usia 16 tahun, Fakultas Dirasat Islamiyah Jurusan Hadits Al Azhar Islamic University Cairo, Lulusan Terbaik Pesantren Khusnul Khatimah;
  4. Scientia Afifah Taibah (18th): Hafal Alquran 26 juz, Fakultas Hukum Universitas Indonesia;
  5. Ahmad Rasikh Ilmi (17th): Hafal Al Quran 15 juz, Lulusan Terbaik SMPIT Al Kahfi;
  6. Ismail Ghulam Halim (15th): Hafal Al Quran 13 juz, Santri Teladan dan Favorit serta Juara Umum SMPIT Al Kahfi;
  7. Yusuf Zaim Hakim (14th): Hafal Alquran 9 juz, Peserta Pembinaan Pra-Olimpiade Nasional;
  8. Muhammad Syaihul Basyir (13th): Hafal Al Quran 30 juz pada saat kelas 6 SD;
  9. Hadi Sabila Rosyad (11th): Hafal Al Quran 2 juz; Juara I Lomba Membaca Puisi;
  10. Himmaty Muyassarah (9th): Hafal Al Quran 2 juz.

Apa rahasianya? Ada sejumlah faktor yang berperan atas keberhasilan orang tua mereka mendidik anak antara lain a) Tidak ada televisi di dalam rumah; b) Hanya mendengarkan musik yang baik; c) Menghindari perkataan yang kotor; d) Pembiasaan dan manajemen waktu; e) Mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah atas presasi yang dicapai.

Dari sejumlah faktor di atas, yang terpenting dan terberat adalah ini: membuang pesawat TV dari rumah. Kalau yang satu ini berhasil dilakukan, maka hal yang lain seperti mengelola waktu akan menjadi mudah. Termasuk sejenis dengan TV bahkan lebih berat adalah games, baik games di komputer, via internet atau langsung seperti Play Station atau Xbox. Keluarga yang suka nonton TV atau main games bukan berarti akan menjadi keluarga yang gagal. Namun yang pasti prestasi mereka tidak akan maksimal. Kalau memang meninggalkan kebiasaan nonton televisi terasa berat, maka setidaknya jadwalnya dikurangi. Misalnya, hanya nonton 2 jam setiap hari. Pertanyaannya, mampukan orang tua melakukan itu demi masa depan anak-anak mereka? Orang tua yang disiplin akan menyatakan sanggup.[]

Comments

Leave a Reply