10 Cara Agar Istri Disayang Suami

10 Cara Agar Istri Disayang Suami yang intinya adalah istri memberikan sesuatu yang lebih dari kewajiban yang harus dilakukan sebagai seorang istri. Sebab, kalau pengabdian dan ketaan istri hanya berdasarkan kewajiban saja, maka suami akan merasa ada sesuatu yang kurang. Istri juga harus memberikan hal positif yang sebenarnya tidak wajib dilakukan namun kalau dilakukan akan sangat menyenangkan suami dan menambah rasa sayang suami semakin mendalam padanya.
Oleh A. Fatih Syuhud

Daftar Isi

  1. 10 Cara Agar Istri Disayang Suami
  2. Agar Istri Disayang Suami
  3. Wanita Santri Kunci Sukses dalam Rumah Tangga


10 Cara Agar Istri Disayang Suami

Seorang istri yang disayang suami sebagian besar tidak ditentukan oleh seberapa lama suami dan istri saling mengenal sebelum menikah. Karena begitu banyak perceraian terjadi dilakukan oleh pasangan yang sudah pacaran cukup lama. Rasa sayang suami pada istri lebih banyak ditentukan oleh perilaku istri selama menjalin rumah tangga. Berikut 10 (sepuluh) hal yang akan membuat rasa sayang suami terus bertambah.

Pertama, perawan. Ini hal pertama dan terpenting. Bagi perempuan yang statusnya belum pernah menikah, menjaga keperawanan itu maha penting. Semua calon suami menginginkan calon istrinya masih perawan. Banyak sebab yang melatarbelakangi sikap ini, tapi yang terpenting keperawanan itu berarti belum pernah berzina. Islam melarang laki-laki muslim menikahi wanita yang pernah berzina (QS An-Nur 24:3).

Kedua, setia. Kesetiaan paling mendasar adalah tidak berzina dengan pria lain.  Termasuk dalam makna setia adalah tidak melakukan hubungan komunikasi apapun dengan lelaki lain tanpa seijin dan sepengetahuan suami. Baik dalam bentuk hubungan komunikasi langsung atau hanya melalui telpon, SMS, chatting via Facebook, Twitter, BBM (Blackberry Messenger), YM (Yahoo Messenger) dan alat komunikasi apapun yang ada.

Ketiga, sabar. Istri yang tidak sabaran akan kehilangan aura di mata suami karena akan terlihat wajahnya yang tidak cerah, bersikap dingin dan bahasa tubuh yang tidak menyenangkan..

Keempat, apresiatif. Selalu memberi apresiasi atau penghargaan pada pekerjaan yang dilakukan suami. Berapa pun hasilnya itu tidak penting. Suami adalah kepala keluarga dan ia ingin diperlakukan seperti itu. Walaupun seandainya penghasilan istri lebih tinggi itu bukanlah alasan bagi istri untuk merendahkan suami baik secara lisan atau dalam perilaku.

Kelima, minta ijin dan minta maaf. Selalu meminta ijin suami saat akan keluar atau melakukan sesuatu dan meminta maaf saat melakukan kesalahan  akan membuat suami merasa dihargai dan dihormati. Itu semua akan menyejukkan hati suami.

Keenam, terbuka dan transparan. Selalu terbuka dan tidak pernah menyembunyikan sesuatu rahasia di belakang suami adalah cara terbaik untuk menanamkan rasa kepercayaan (trust) suami pada istri. Salah satu pemicu konflik adalah tipisnya kepercayaan.

Ketujuh , tidak membandingkan. Jangan membandingkan suami dengan siapapun dalam bidang apapun sekiranya hal itu akan merendahkan suami atau menyinggung perasaanya.. Terutama menyangkut soal fisik, rezeki atau perilaku. Baik perbandingan secara langsung atau tidak. Contoh, memuji pria lain di depan suami itu sama dengan perbandingan secara tidak langsung.

Kedelapan, diam saat marah. Kata sebuah hadits qul khairan aw liyasmut. Katakan yang baik-baik tentang suami atau diam. Saat emosi sedang tinggi, jangan keluarkan sepatahkata pun pada suami. Dalam situasi seperti ini, diam itu emas. Dan berbicara itu penyakit yang bisa sangat berbahaya.

Kesembilan, mejadi solusi. Saat suami dalam kesulitan ekonomi, istri tidak banyak menuntut. Sebaliknya, justru mencari alternatif untuk mengatasi kesulitan secara bersama-sama dengan  membuka usaha atau bekerja. Istri hendaknya menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Kesepuluh, nasihat dan kritik pada waktunya. Suami juga manusia, ada kalanya salah dan khilaf. Saat suami salah, ia juga butuh nasihat istri. Tapi ingat, jangan Yang harus diingat, janan menasihati atau menegur kecuali pada  momen yang tepat, tempat yang pantas dan dengan cara yang pas pula. Gunakan sependek mungkin kata-kata, yang penting pesan sudah sampai.[]


Agar Istri disayang suami Agar Istri Disayang Suami
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Putri Al-Khoirot Malang

Ada anggapan bahwa menikah dengan orang yang sudah dikenal dan dicintai melalui proses pacaran adalah jalan menuju perkawinan yang bahagia. Sebaliknya, perkawinan yang tanpa perkenalan mendalam terlebih dahulu dianggap sebagai kuno, out of date, dan era Siti Nurbaya. Anggapan ini adalah persepsi yang salah yang dipengaruhi oleh kisah-kisah fiksi murahan di berbagai cerpen, novel dan sinetron. Salah ditinjau dari sudut pandang universal dan lebih salah lagi apabila ditinjau dari sudut pandang agama.

Karena, yang membuat sebuah perkawinan itu sakinah, langgeng, damai, nyaman dan tenteram tidak ada hubungannya dengan pernah pacaran atau tidak; akan tetapi oleh seberapa jauh kedua pasangan dapat saling mengerti, saling memberi, dan saling berusaha untuk membahagiakan pasangannya dengan landasan keimanan dan ketaatan pada syariah Allah. Tanpa itu, pasangan yang awalnya saling mencintai pun akan berakhir dengan perceraian atau menjadi rumah tangga yang penuh siksaan baik fisik maupun mental.

Dalam tataran praktis, berikut langkah-langkah bagaimana agar seorang istri dapat selalu disayang suami. Dan bagaimana cinta suami tidak hanya langgeng, tapi juga semakin tumbuh subur dan berkembang.

Pertama, niat ibadah. Seorang muslim hendaknya menggantungkan setiap perbuatan baiknya sebagai ibadah, termasuk perkawinan. Perkawinan tidak hanya bertujuan mengikuti sunnah Rasul, menjaga kesinambungan generasi islami, memelihara diri dari maksiat mata dan farji, tapi juga untuk memperbaiki kualitas diri untuk menjadi individiu muslim yang lebih baik yang berguna untuk diri sendiri, suami, anak dan orang lain.

Kedua, taat pada suami. Taat pada suami adalah fondasi dasar rumah tangga yang akan membuat suami menyayangi istrinya. Mentaati suami juga merupakan kewajiban syariah.. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita shalat lima waktu setiap hari, berpuasa Ramadan, menjaga farjinya (tidak selingkuh), dan taat pada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu manapun ia suka.” Nabi Muhammad bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada di rumah kecuali atas izin suaminya.” Dalam hadits lain dikatakan, “Apabila suami memanggil istrinya untuk hubungan intim kemudian istrinya tidak datang dan itu membuat suaminya marah, maka malaikat melaknatnya sampai pagi hari tiba.”

Hadits–hadits di atas menjelaskan secara eksplisit wajibnya seorang istri mentaati suaminya. Tentu saja ketaatan itu selagi apa yang diinginkan suami tidak melanggar syariah. Apabila suami menyuruh agar melakukan maksiat, maka wajib bagi istri untuk menolak perintah tersebut karena taat pada Allah itu lebih penting.

Ketiga, bersyukur dan ceria. Istri yang bersyukur adalah istri yang selalu dapat melihat keberuntungan dirinya memiliki pasangan hidup seperti suaminya. Seorang suami merasa sangat beruntung memiliki istri yang bersyukur karena dari sikap positif ini akan memancarkan keceriaan dan kegembiraan pada wajah, tutur kata dan bahasa tubuh (body language) istri. Keceriaan ini pada gilirannya akan mengalirkan energi positif pada suami, anak dan seisi rumah. Sebaliknya, istri yang kurang bersyukur akan selalu mengalirkan energi negatif kesuraman dalam rumah tangga, terutama pada suami. Tunjukkan sikap ceria dan rasa syukur, maka seisi rumah dan dunia akan ceria bersama.

Keempat, bersabar. Ada saatnya rumah tangga tertimpa musibah. Baik musibah ekonomi berupa kemiskinan atau musibah penyakit berupa kesakitan atau kecelakaan, maka di saat seperti itu, istri harus berupaya menujukkan sifat sabar, tawakal dan membantu suami mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Inilah sosok istri impian yang akan membuat rasa sayang suami tumbuh subur dari waktu ke waktu.[]


Wanita Santri Kunci Sukses dalam Rumah Tangga
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot

Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih), Nabi bersabda: “Wanita dinikah karena salah satu dari empat (pertimbangan): harta, keturunan, kecantikan fisik, agama (kecantikan batin). Maka pilihlah yang agamis (dzatiddin) supaya kamu beruntung.”

Pada kalimat pertama, Nabi hanya mengungkapkan fakta sosiologis yang dijadikan pertimbangan seorang lelaki dalam menikahi seorang wanita. Pada kalimat kedua, Nabi menganjurkan agar laki-laki memilih wanita agamis agar beruntung dalam membina keluarga. Itu artinya bahwa kecantikan batin hendaknya menjadi prioritas pertama dan utama sebelum pertimbangan yang lain. Wanita agamis dalam konteks Indonesia adalah wanita santri yaitu perempuan yang pernah belajar di pesantren dan komitmen dalam mengamalkan ajaran agama Islam.

Pertanyaan yang sering dikemukakan sebagian orang adalah apakah menikahi wanita santri akan menjamin terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah? Tentu saja tidak sembarang santri. Ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang wanita santri agar dapat membawa biduk rumah tangga menjadi sukses dalam konteks hubungan suami istri maupun dalam pendidikan keluarga.

Pertama, taat dan komitmen pada syariah. Ketaatan pada syariah pada gilirannya akan membuat seorang istri taat pada suami dan tidak pernah menentang selagi perintah suami benar dan tidak berlawanan dengan syariah. Rasulullah pernah ditanya tentang “siapa wanita terbaik?” Nabi menjawab, “Wanita yang dapat menyenangkan suami, menaati perintah suami, dan tidak pernah melawan suami dengan perilaku yang tidak menyenangkannya.” Dari hadits sahih riwayat Nasai ini Nabi membuat tiga kriteria wanita salehah yaitu (a) dapat menyenangkan suami karena perilaku, cara berinteraksi dan tampilannya yang agamis; (b) apabila suami sedang pergi, istri selalu menjaga diri dari fitnah dan menjaga harta suami dari konsumsi yang tidak perlu; (c) menaati perintah suami selagi bukan perinah maksiat.

Kedua, membantu suami dalam meningkatkan kualitas agamanya. Mendorong suami untuk selalu menaati perintah dan anjuran syariah dan melarang suami dengan tegas untuk tidak melakukan perbuatan yang haram. Ini merupakan poin krusial. Banyak suami yang asalnya baik kemudian menjadi jahat karena dorongan istri atau karena ketidakpedulian istri atas perilaku suami yang menyimpang. Istri agamis berfungsi tidak hanya mendidik anak, tapi juga “mendidik” suami terutama apabila suami memiliki wawasan dan komitmen keagamaan yang lemah. Abul Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakpuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi (8/390) menyatakan “seorang istri yang santri hendaknya membantu suaminya untuk meningkatkan kualitas iman dan Islam-nya dengan cara mengingatkan suami untuk shalat, berpuasa dan ibadah wajib lain dan mencegahnya dari perbuatan zina dan perbuatan haram yang lain.

Ketiga, memiliki akhlak yang baik. Istri yang mengamalkan kewajiban agama dan menjauhi larangannya belum menjamin memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik sama pentingnya dengan ketaatan pada syariah. Wanita santri yang memiliki akhlak yang baik akan selalu membuat senang suami, pintar dalam mendidik anak, pandai berinteraksi dengan mertua, tetangga, kerabat dan manusia yang lain. Karena wanita santri yang berakhlak memiliki kemampuan yang baik bagaimana cara bergaul dengan santun dan beretika. Untuk menjadi wanita santri yang berakhlak diperlukan pembelajaran dan pelatihan secara terus menerus dengan banyak bertanya, berkonsultasi, membaca dan mencoba. Salah satu caranya adalah belajar pada orang yang memiliki akhlak yang baik.

Jadi, pengertian agamis tidak hanya pintar agama tapi juga mencakup perilaku yang memenuhi standar etika universal.[]

Leave a Reply