Cara Mendidik Anak Agar Percaya Diri

Mendidik Anak Agar Percaya Diri dan tidak minder itu penting karena percaya diri menjadi penggerak utama kesuksesan seseorang. Tidak ada satupun pencapaian yang dapat dilakukan tanpa adanya rasa percaya diri dalam diri si anak. Harus dibedakan antara percaya diri dan sombong. Pede berada di antara sombong dan rendah diri. Salah satu caranya adalah dengan tidak mengeritik kekurangan fisik anak tapi jangan segan mengeritik kekurangan karakternya.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Daftar Isi

  1. Cara Mendidik Anak Agar Percaya Diri
  2. Kritik Karakter Buruk Anak, Bukan Kekurangan Fisiknya


Cara Mendidik Anak Agar Percaya Diri

Pola pikir dan perilaku percaya diri (confidence atau self-esteem) merupakan salah satu karakter yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin menjadi orang sukses di bidang apapun yang diinginkan. Dan sebagaimana kemampuan-kemampuan yang lain, perilaku percaya diri harus dipupuk sejak dini. Sejak masih anak-anak. Mengapa percaya diri itu perlu?

Self-esteem (baca, self-estim) itu penting karena ia menjadi penggerak utama seseorang untuk dapat mengimplementasikan sesuatu yang direncanakan dengan sukses. Seperti diketahui, dalam setiap tindakan diperlukan dua unsur yaitu niat (rencana) dan aksi untuk merealisir niat tersebut. Niat dapat dimiliki oleh semua orang. Akan tetapi, tindakan hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki karakter percaya diri yang baik. Percaya diri juga identik dengan kemandirian. Orang yang memiliki percaya diri yang stabil cenderung akan memiliki sikap mandiri yang stabil pula.

Persoalannya, bagaimana cara menumbuhkan karakter percaya diri pada anak agar dia dapat dewasa dengan self-esteem yang stabil? Menurut Sarah Henry, seorang ahli parenting dari AS, ada delapan langkah dasar yang harus dilakukan orang tua untuk menumbuhkan sikap percaya diri anak.

Pertama, unconditional love (rasa sayang tak terbatas). Kepercayaan diri seorang anak akan tumbuh subur manakala mendapat siraman rasa sayang yang tak terbatas dari orang tua. Jangan malu untuk menumpahkan rasa sayang dalam berbagai bentuknya seperti pujian, pelukan, dan lain-lain. Namun demikian, jangan ragu untuk mengoreksinya apabila perlu. Pastikan anak tahu bahwa yang dikoreksi adalah perilakunya yang salah. Bukan dirinya.

Kedua, perhatian. Meluangkan waktu untuk memperhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan anak akan memberi perasaan dihargai (self-worth). Itu akan memberi pesan bahwa ia penting dan berharga bagi orang tua. Intinya, jangan terkesan Anda bosan mendengar ceritanya.

Ketiga, beri batasan yang jelas. Unconditional love bukan berarti tanpa aturan. Dan berusahalah menjalankan aturan itu secara konsisten sebagai penanaman disiplin.

Keempat, dukung pengambilan resiko yang wajar. Dorong anak untuk mencoba sesuatu yang baru seperti makan makanan berbeda, teman baru atau belajar naik sepeda. Walaupun ada kemungkinan gagal, tanpa resiko akan kecil kemungkinan sukses. Dan biasakan anak mengakui kesalahan yang dilakukannya. Dengan cara orang tua memberi contoh menyalahkan diri sendiri saat membuat kesalahan.

Kelima, jangan membandingkan. Tahan godaan untuk membandingkan anak dengan siapapun. Baik dengan saudara, tetangga atau teman kelas. Seperti, “Mengapa kamu tidak berani seperti adikmu?” Bahkan perbandingan yang positif sekalipun seperti, “Kamu pemain bola terbaik di dunia,” akan berpotensi merusak pada anak karena dia akan merasa sulit dan tertekan untuk memenuhi harapan itu. Jadi, biarkan anak tahu bahwa orang tua menghargainya apapun yang dia miliki. Maka, kemungkinan besar dia akan tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri.

Keenam, bersikap empati. Apabila anak membandingkan kelemahan dirinya dengan kelebihan anak lain, tunjukkan sikap empati dengan penekanan bahwa dia juga punya kelebihan di samping kekurangan. Dan bahwa anak yang baik tidak harus sempurna di segala bidang.

Ketujuh, memberi dorongan (encouragement). Setiap anak memerlukan dukungan dari figur-figur tersayang, yakni orang tua. Dorongan dan motivasi bermakna mengakui adanya kamajuan, sekecil apapun itu, bukan hanya menghargai pencapaian. Jadi, hargai proses, walaupun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan harapan.

Kedelapan, bercanda dan tertawalah bersama anak Anda. Dan jangan pernah menertawakan dia.[]


Kritik Karakter Buruk Anak, Bukan Kekurangan Fisiknya
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri Malang

Kelahiran sang buah hati membawa suasana baru dalam rumah tangga. Ia begitu lucu dan menggemaskan. Tak heran kalau kehadirannya menggembirakan hati tidak hanya kedua orang tua, tapi juga tetangga dan sanak saudara.

Kelucuan perilaku dan keimutan fisik anak mengundang banyak komentar dari orang dewasa. Ada yang memuji, namun tak sedikit yang secara tak sengaja mencela kekurangannya. Seperti, kulitnya yang hitam, hidungnya yang pesek, posturnya yang pendek, atau giginya yang tidak rata. Kritikan pada fisik itu diucapkan dengan tanpa memperhitungkan perasaan si kecil. Mereka berfikir anak kecil tidak akan mengerti apa yang dikatakan. Sayangnya, mereka mengerti betul apa yang diucapkan orang dewasa. Mereka memahami pujian dan celaan yang diucapkan.

Akibatnya, kritikan terhadap fisik akan menjadi catatan yang tak terlupakan di hati anak. Dan apabila kritikan fisik itu dikatakan secara terus menerus, ia akan mengurangi self-esteem (rasa percaya diri) anak secara signifikan di bidang-bidang lain. Khususnya dalam soal tampilan fisik (physical appearance). Dan menghambat atau bahkan menghalangi anak untuk tumbuh normal secara mental dan emosional. Jadi, biarkan anak merasa nyaman dengan keadaan fisik yang dia miliki.

Mengkritisi perilaku anak dengan kata-kata kasar juga akan berakibat tidak sehat pada perkembangan mental anak. Kata-kata seperti, “Dasar anak idiot!” atau “Dasar anak pengecut!” akan membuat anak betul-betul menilai dirinya sebagai anak idiot atau penakut.

Mengkritisi atau merendahkan kondisi fisik anak harus betul-betul dihindari. Sedangkan mengkritisi perilaku dan karakter buruk anak harus dilakukan. Namun demikian, diperlukan cara dan waktu yang tepat untuk melakukannya. Anthony Kane MD, seorang ahli parenting dari AS, menyarankan beberapa langkah sebagai berikut:

Hal pertama yang harus diingat adalah anak juga punya perasaan seperti halnya orang dewasa. Hal ini yang sering dilupakan oleh orang tua saat marah. Orang tua harus menahan diri untuk tidak meluapkan segala emosinya di depan anaknya. Apalagi, kalau sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan pukulan.

Mereka punya perasaan yang dapat sakit dan rasa percaya diri yang berpotensi hancur apabila kita mengeritik mereka dengan cara meremehkan dan tidak membangun.

Kedua, singkat dan jelas. Tujuan dari sebuah kritik yang tepat adalah pesan yang ingin disampaikan dimengerti anak. Tujuan mengeritik adalah untuk mendidik, bukan untuk menghukum atau mempermalukan atau membalas dendam pada anak. Saat mengeritik orang tua harus punya sesuatu untuk diajarkan. Yang tak kalah penting, kritik harus singkat dan jelas.

Ketiga, kritik perilakunya bukan anaknya. Ini penting. Arahkan kritik Anda pada perilaku anak. Pastikan bahwa perilaku salah anak yang membuat orang tua kurang suka, bukan anak itu sendiri.

Keempat, jangan memberi julukan negatif pada anak. Anak akan memahami jati diri mereka dari apa yang orang lain katakan tentang dia. Saat orang tua memberi julukan negatif, seperti “anak penakut”, maka julukan itu akan melekat padanya dengan konsekuensi yang membahayakan.

Kelima, ungkapkan kemarahan secara privat. Jangan ekspresikan di depan umum. Sangat berat bagi anak untuk menanggung kritikan orang tua. Dan akan lebih berat saat kritikan tersebut diungkapkan di depan orang lain.

Keenam, kritik untuk masa depan. Kritikan orang tua bertujuan untuk perbaikan perilaku anak ke depan. Bukan untuk mengingat kesalahan masa lalu. Orang tua boleh saja menyebut kesalahan yang telah dilakukan anak tapi agar supaya anak tidak mengulangi kesalahannya lagi.[]

Comments

  • i like it,,, bagaimana saya sanga tidak punya kepercayaan diri,, tapi saya tidak ingin anak saya nanti tumbuh tanpa rasa percaya diri,,

    yougiaiOctober 8, 2012

Leave a Reply