Pengorbanan dalam Islam

Pengorbanan dalam Islam. Pengorbanan itu identik dengan ujian (QS As Shaffat 37:106). Dan dalam proses menuju pendewasaan sikap sebagai persiapan menjadi seorang pemimpin yang matang,
Oleh A Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Edisi November 2009
PP Alkhoirot Putri

Saat Hari Raya Idul Adha tiba, ada satu hal yang memaksa kita untuk merenung: pengorbanan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail, salah satu putranya. Allah menganggap pengorbanan Nabi Ibrahim itu sangat penting sehingga Allah mengabadikan kisah itu dalam Al Qur’an Surah As Shaffat (37) ayat 100 sampai 113.

Pentingnya kisah pengorbanan Nabi Ibrahim and Nabi Ismail ini karena di dalamnya terkandung pelajaran yang tinggi akan nilai-nilai kebajikan universal yang berlaku sepanjang masa.

Pertama, kepercayaan mutlak (absolut) pada Allah, dan sebagai konsekuensinya rela melakukan apa saja yang diperintahkan olehNya, termasuk apabila perintah itu terkesan tidak menyenangkan (QS As Shaffat 37: 102-103).

Kedua, bahwa setiap pengorbanan yang benar tidak akan pernah sia-sia. Akan selalu ada balasan setimpal atas jerih payah kita (QS As Shaffat 37:105 dan 107). Baik balasan untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain; baik kita harapkan atau tidak.

Ketiga, pengorbanan itu identik dengan ujian (QS As Shaffat 37:106). Dan dalam proses menuju pendewasaan sikap sebagai persiapan menjadi seorang pemimpin yang matang, adanya ujian itu menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Besar kecilnya ujian dan pengorbanan akan menentukan besar kecilnya perubahan perilaku kepemimpinan dan kearifan kita (QS As Shaffat 37:110).

Keempat, bahwa untuk menuju ke level yang lebih tinggi dalam kualitas keimanan dan kepribadian, diperlukan suatu proses yang harus dilalui. Sebagai contoh, untuk mencapai kelas enam SD, seorang siswa harus melalui proses melewati lima jenjang kelas di bawahnya. Selain itu, seorang siswa harus melewati beberapa ujian untuk menuju satu level keilmuan di atasnya. Proses-proses menuju naik kelas bagi siswa SD itu memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga dan kesabaran dalam menghadapi ketidakenakan dan mungkin kejenuhan.

Seberapa besar pengorbanan yang diperlukan akan sangat ditentukan dari seberapa besar “kenaikanpangkat” yang diinginkan. Semakin tinggi tujuan yang kita capai, maka akan semakin besar pengorbanan yang diperlukan. Siswa yang sekedar ingin naik kelas tentu lebih kecil pengorbanannya dibanding siswa yang bertujuan tidak hanya naik kelas tapi juga ingin menjadi juara kelas atau bintang pelajar.

Hal yang sama juga berlaku dalam proses meningkatkan kualitas iman kepada Allah dan perilaku (akhlakul karimah) kepada sesama umat manusia. Ujian, pengorbanan, kesabaran dan keberanian dalam menghadapinya merupakan empat poin penting yang harus dilalui dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menuju kualitas keimanan dan kepribadian yang par excellence (QS Al Qalam 68:4), suatu kepribadian yang akan memberi cahaya berkah tidak hanya pada sesama muslim, tapi juga bagi seluruh alam (QS Al Anbiya’ 21:107). Dan apabila itu terjadi, sudah wajar kalau orang tersebut mendapat predikat sebagai individu terbaik yang berhak untuk menjadi pemimpin ideal yang menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) (QS Ali Imron 3:110).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>