Pendidikan Islam bagi Remaja

Pendidikan Islam bagi Remaja tidak akan sulit justru akan mudah apabila orang tua telah melakukan seluruh tahapan pendidikan sejak anak masih usia 1 tahun ke atas. Tapi akan sulit apabila anak tidak dilatih disiplin sejak dini. Salah satu jenis pendidikan sejak dini adalah pendisiplinan dan penghargaan (rewards)
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTs dan Madrasah Aliyah (M.A.)
Pondok Pesantren Al-Khoirot
Karangsuko, Malang, Jatim

Daftar Isi

  1. Pendidikan Islam bagi Remaja
  2. Pendisiplinan Anak
  3. Penghargaan Pada Anak


Pendidikan Islam bagi Remaja

Pada usia antara 13 sampai 18 tahun atau saat anak baru memasuki masa studi level SLTP sampai lulus SLTA disebut dengan masa puber. Masa puber adalah masa perubahan drastis. Perubahan hormonal ini disertai dengan pertumbuhan fisik dan kejiwaan.

Istilah remaja (teenager) disebut juga dengan adolescene yang secara psikologis ditandai dengan sejumlah perubahan kognitif, emosional, fisikal dan perilaku yang dapat menjadi penyebab konflik di satu sisi dan perkembangan kepribadian positif di sisi yang lain.

Lingkungan rumah dan orang tua masih memainkan peran penting bagi perilaku dan pilihan hidup yang dilakukan remaja. Artinya, remaja yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya kecil kemungkinan akan terlibat dalam berbagai perilaku yang tidak baik seperti merokok, minum alkohol, berkelahi dan/atau hubungan seksual di luar nikah.

Pemikiran, ide dan konsep yang dikembangkan pada masa remaja ini akan sangat berpengaruh pada kehidupan masa depan anak dan akan memainkan peran besar dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada waktu yang sama, pada sebagian remaja periode ini adalah masa sulit, membosankan, tiada menentu dan tanpa motivasi. Untuk itu memberikan motivasi agar mereka menjadi invididu besar dan diterima secara sosial sangatlah perlu. Memberi bacaan buku-buku biografi orang ternama baik level nasional dan dunia akan sangat membantu menginspirasi and memotivasi mereka. Tentu saja, biografi Nabi Muhammad hendaknya menjadi bacaan pertama.

Al Ghazali mengatakan bahwa salah satu faktor metode pendidikan Islam yang baik adalah dengan memberikan anak suatu lingkungan pertemanan yang baik, bermoral and religius. Kondisi ini menjadi lebih diperlukan saat anak memasuki masa remaja. Karena tidak sedikit dari mereka yang lebih mengasosiasikan diri dengan teman-temannya, dari pada dengan orang tuanya. Karena itu pengaruh lingkungan sangatlah besar dalam membentuk karakter anak.

Pesantren

Dalam hal ini, mengirim anak ke pesantren akan memenuhi anjuran Al Ghazali di atas yakni menempatkan anak remaja dalam lingkungan yang baik dan religius di satu sisi. Sementara keinginan orang tua akan model pendidikan apapun dalam level SLTP SLTA sudah tersedia di pesantren di sisi yang lain.

Saat ini menurut saya pesantren adalah solusi pendidikan terbaik bagi anak usia remaja. Baik pendidikan secara sosial religius maupun pendidikan umum. Apapun keinginan dan harapan orang tua akan masa depan anaknya tidak akan terhalangi dengan mengirim anaknya ke pesantren pada usia remaja.

Berbagai macam model pesantren dengan berbagai fasilitas sudah tersedia saat ini sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi orang tua dengan berbagai level pendidikan yang tersedia dalam satu kompleks pesantren. Mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA dan bahkan perguruan tinggi.

Di saat di mana kenakalan remaja dan seks bebas sudah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan, mengirim anak ke pesantren menjadi kebutuhan natural bagi orang tua untuk memberikan iklim yang baik dalam proses belajar anak. Kecuali apabila orang tua tidak peduli akan masa depan anaknya.[]


Pendisiplinan Anak
Oleh: A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa MTs dan MA Al-Khoirot
Pondok Pesantren Al-Khoirot

Punishment (hukuman atau sanksi) bagi anak bertujuan untuk mendisiplinkan anak. Dan karena itu, ia juga disebut dengan pendisiplinan. Pendisiplinan anak merupakan bagian tersulit dari proses pendidikan anak dalam keluarga. Terutama bagi orang tua yang “tidak tegaan”. Banyak orang tua yang karena saking sayangnya pada anak membiarkan saja apapun yang anak lakukan dengan berbagai macam alasan. Seperti, “Ah, masih kecil. Biar saja.” Atau , “Kalau dilarang menangis terus. Jadi, biarkan saja,” kata orang tua seorang balita yang anaknya perokok berat.

Tidak menuruti keinginan anak, apalagi memberikan sanksi atas perilaku buruk anak, memang terasa berat. Ini terjadi karena pendisiplinan terkesan bertentangan dengan “suara hati” orang tua yang selalu ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya pada anak secara terus menerus. Namun, suara hati tersebut harus dibuang jauh-jauh, kalau orang tua ingin melihat anaknya sukses, mandiri dan menjadi pemimpin—setidaknya pemimpin untuk dirinya sendiri. Pendisiplinan anak adalah keharusan. Dan itu harus dimulai sejak dini. Sejak anak berusia satu hari. Namun demikian, harus diingat bahwa hukuman tidak harus identik dengan kekerasan fisik, bentakan atau hardikan. Sebaliknya, sanksi model ini justru harus betul-betul dihindari apabila kita ingin melihat anak kita tumbuh dengan sehat, cerdas dan percaya diri.

Secara garis besar hukuman terbagi menjadi lima. Yaitu (a) hukuman denda; (b) hukuman lisan; (c) hukuman fisik; (d) menahan tidak memberikan penghargaan; (e) disiplin isolasi.

Hukuman Denda

Anak dikenai denda atas kesalahan yang dia lakukan. Contoh, apabila anak merusak jendela maka ia didenda tidak mendapat uang saku selama seminggu.

Hukuman Lisan (Verbal)

Hukuman lisan hendaknya terkontrol dan tidak terlalu banyak agar efektif. Ia dapat berupa ekpresi marah dengan suara agak keras kalau perlu. Yang terpenting membuat anak sadar atas kesalahannya. Hindari mencemooh dan menghina karena itu akan merendahkan raya percaya dirinya.

Hukuman Fisik

Orang tua yang frustrasi kadang menggunakan pukulan untuk mendisiplinkan anak. Terkadang sampai membuat anak cacat. Hukuman fisik hendaknya menjadi pilihan terakhir. Kalau bisa dihindari sama sekali. Karena pukulan ringan pun akan mengindikasikan pada anak bahwa kekerasan adalah perilaku yang dapat diterima.

Menunda Penghargaan

Ini salah satu metode yang cukup efektif untuk mendisiplinkan anak apabila dia melakukan kesalahan. Sebagai contoh, apabila dia tidak mengerjakan PR-nya maka dihukum dengan tidak boleh menonton tv.

Hukuman Isolasi

Ini tipe hukuman paling ringan tapi sangat efektif dalam pendisiplinan anak. Caranya, dengan mengisolasi anak duduk atau berdiri di dalam kamar atau ruang tengah sendirian dalam waktu tertentu. Tujuannya sama untuk menyadarkan anak bahwa ia telah berbuat kesalahan. Para psikolog sepakat bahwa hukuman tipe ini efektif untuk anak usia 18 sampai 24 bulan tapi dapat juga diberlakukan pada anak di bawah 18 bulan. Jangan lupa menanyakan pada anak mengapa dia diisolasi. Apabila jawabannya kurang jelas, ingatkan apa perilakunya yang salah dan apa yang sebaiknya dilakukan.

Mendidik anak dalam keluarga adalah proses dalam hitungan detik, menit, jam dan hari. Orang tua yang betul-betul sayang tentu akan sangat menikmati proses ini.[]


Penghargaan pada Anak
A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Santri
Ponpes Al-Khoirot

Anak adalah buah hati. Dambaan siapapun yang sedang mengarungi mahligai rumah tangga. Keberadaannya menciptakan nuansa baru kebahagiaan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Tidak ada satupun orang tua yang tidak menyayangi kehadirannya. Tak heran, mereka ingin selalu menyirami anaknya dengan limpahan kasih sayang yang sebesar-besarnya. Limpahan kasih sayang itu dapat berupa apa saja. Dari pujian, sampai berbagai macam hadiah.

Dalam situasi seperti ini, orang tua harus tetap bermawas diri dan terkontrol. Niat baik membahagiakan anak akan dapat berubah menjadi bencana—sekarang atau nanti—apabila ekpresi kasih sayang itu mencapai level yang dapat dianggap berlebihan dan tidak mendidik sehingga merusak mental anak.

Penghargaan, pujian dan ekspresi kasih sayang apapun hendaknya bertumpu pada satu tujuan: untuk membuat anak termotivasi berperilaku lebih baik. Untuk itu penghargaan hendaknya diberikan setelah anak melakukan sesuatu yang baik. Sehingga anak mencapai suatu pemikiran bahwa untuk mencapai segala sesuatu tidak ada yang gratis. Harus selalu diusahakan.

Dr. Bob Myers membagi bentuk tipe penghargaan dalam tiga kategori usia. Yaitu prasekolah, sekolah SD,  SLTP dan SLTA (masa remaja).

Perhatian: bentuk penghargaan di bawah hanya sekedar contoh. Orang tua yang paling tahu penghargaan apa yang terbaik, mendidik dan sekaligus menyenangkan anak.

Iipe Usia Bentuk Penghargaan
Prasekolah Membeli buku cerita bergambar Tambah nonton tv (biasanya sejam, menjadi dua jam) Jalan-jalan ke taman bersama orang tua
Nonton CD/DVD anak (menyewa, membeli, atau yang sudah ada) Menggambar atau mewarnai dengan krayon Main komputer atau game (waktunya
Bernyanyi lagu anak (yang islami atau umum) Piknik sekeluarga ke suatu tempat yang disukai anak Orang tua membacakan cerita menjelang tidur
Usia SD Beli buku bacaan Jalan-jalan ke taman atau tempat wisata Makan-makan di luar bersama keluarga
Bebas dari tugas rumah Boleh pilih acara TV sendiri Nonton CD/DVD pilihan
Berkebun Nonton pertandingan olahraga yang disukai Main game
Usia Remaja (SLTP/SLTA) Beli buku bacaan yang sesuai usianya Teman boleh datang Boleh tidur agak larut
Boleh mendekorasi kamar sendiri Boleh jalan-jalan sendirian (untuk anak laki-laki) Ikut kegiatan bersama teman
Boleh nyetir motor / mobil sehari Dibebaskan sehari dari tugas rumah Memilih menu makanan

Walaupun penghargaan dan pujian pada anak itu baik untuk membentuk perilaku disiplin namun bukan tanpa masalah. Penghargaan bukan hanya satu-satunya cara untuk membentuk perilaku positif anak. Karena pujian adalah motivator eksternal. Sedang tujuan utama dari penghargaan itu adalah motivasi dari dalam yakni self-discipline (disiplin diri sendiri).

Hasil terbaik dari sebuah penghargaan adalah apabila ia dapat membantu anak untuk menyadari kapan dan bagaimana ia dapat menghargai dirinya sendiri.[]

Comments

  • syukron… tau pesantren buat anak remaja yang bagus (dlm pelajaran aqidah dan akhlaknya) ga min? sy mau masuk pesantren tapi saya sudah llus sma.

    ellynepainJanuary 6, 2013

Leave a Reply