Diperlukan Pendidikan Pencetak Pemimpin

Diperlukan Pendidikan Pencetak Pemimpin. Mengapa sistem pendidikan kita tidak dapat menciptakan pemimpin sejati di berbagai sektor?
Oleh A Fatih Syuhud
Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang

Kualitas istimewa adalah tujuan paling dituntut oleh institusi pendidikan yang mapan maupun baru. Kalangan perencana pendidikan saling memikirkan berbagai jalan dan cara, untuk mencapai kualitas istimewa yang menjadi dasar dari kredibilitas dan akseptabilitas institusi bersangkutan.

Pertimbangan ini sangat esensial bagi peningkatan level performanya dari dalam institusi dan pengakuan yang lebih besar dari luar. Sejumlah besar institusi yang ada di Indonesia, sedang mengalami krisis kredibilitas. Umumnya, yang menjadi ‘kambing hitam’ adalah pengajar atau dosen.Kualitas kepemimpinan juga sering dipertanyakan. Di seluruh dunia, pertanyaan yang sering dimunculkan adalah ‘Kemana perginya para pemimpin?’ Konteks persoalannya, tidak selalu bersifat politis.

Dalam tataran praksis, setiap negara mengeluh bahwa kualitas kepemimpinan di berbagai sektor telah memburuk dalam paro akhir abad ke-20. Keluhan tidak memberikan solusi. Diperlukan analisis yang matang. Ekspansi pendidikan global dan berbagai hal yang
berkaitan dengannya, membutuhkan kepemimpinan yang berkomitmen, berdedikasi dan tahan uji. Tidak setiap bangsa dapat beruntung memilikinya.

Integritas personal termasuk pemahaman diri dan kematangan, akan memotivasi secara berkesinambungan. Seorang pemimpin sejati tidak pernah berbohong pada dirinya sendiri dan tidak pernah bangga dengan pujian kosong yang diarahkan kepadanya oleh kroni dekatnya. Ia sendiri lebih memahami dari apa ia dibuat dan lebih mengerti kemampuan mentalnya yang ia temukan dalam proses yang belum terlatih. Objektivitas dalam membuat
keputusan atas pemikirannya sendiri, pencapaian dan kegagalan akan tampak. Individu semacam itu tidak akan pernah mengorbankan prinsip dan ide personal, hanya demi menyenangkan yang lain. Mereka yang mengompromikan nuraninya, tidak akan pernah bisa
menjadi pemimpin sejati.

Tekanan politik merupakan rintangan terbesar yang hanya dapat dihadapi oleh pemimpin profesional sejati. Mereka yang tumbuh dalam kepemimpinan, juga tumbuh dalam kejujuran dan komitmen. Mereka selalu belajar dengan penuh dedikasi dan memiliki nalar observasi tinggi. Figur yang selalu mempercayai orang lain dan yakin bahwa ‘kepercayaan akan melahirkan kepercayaan’, dapat membawa yang lain untuk menyepakati berbagai ide dan inisiatifnya. Bahkan mereka yang tidak sepakat dengannya, tidak segan untuk memberi apresiasi atas komitmen dan kejujurannya.

Rudy Giuliani, walikota New York yang menangani krisis 11/9 pada 2001 menganalisa transformasi dirinya akibat terjadinya tragedi itu, yang di luar dugaan. Ia berhasil, karena kualitas kepemimpinan yang diasah sebelumnya. Skenario ini dapat dipahami secara lebih tajam dalam konteks pendidikan. Dapatkah kita melupakan peran kepemimpinan Wahidin Sudirohusodo, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari dan banyak lagi yang lain di bidang pendidikan?

Salah satu konsen utama dalam dunia pendidikan adalah menyiapkan orang-orang untuk menjalankan dan memimpin insititusi. Prinsip dasar dari manajemen diajarkan di sekolah bisnis, melalui materi pelajaran populer. Sayangnya, program dan materi kepemimpinan dapat mengembangkan skill, tetapi hanya secara parsial dapat membantu dalam memperkuat karakter dan visi. Sebenarnya, banyak program semacam itu malah tidak
menawarkan usaha ke arah sana.

Memang tujuan mereka yang utama adalah ‘memproduksi manajer multinasional’. Siapa yang akan mempersiapkan pemimpin? Institusi pendidikan tidak begitu memperhatikan aspek ini. Terdapat perbedaan mendasar antara pemimpin dan manajer. Memelihara status quo, mengandalkan pada kontrol, mengikuti aturan secara ketat, mengambil pandangan pendek, mengopi dan meniru strategi serta pendekatan orang lain bukanlah kepribadian seorang pemimpin. Poin ini dapat menjadi poin plus bagi manajer; khususnya bagi mereka yang lebih percaya pada ‘presentasi’ daripada ‘kemajuan’.

Setiap individual memiliki potensi, energi dan kekuatan yang tak terbatas. Mereka yang dapat menyadari, memelihara, memproyeksi dan mengungkap hal ini secara luas akan menjadi pemimpin. Bibit proyeksi, ekspresi dan manifestasi ini dipupuk di sekolah dan
bahkan sebelum itu, di dalam keluarga dan komunitas.

Akan tetapi, peran pendidikan tetaplah kritikal. Ia memerlukan pengertian yang lebih intens pada abad ke-21 ini, di mana pendidikan tidak lagi terbatas pada seperempat pertama kehidupan seseorang. Kebanyakan institusi pendidikan kita yang mempersiapkan tenaga pengajar, sampai saat ini hanya membuat sekolah dan perguruan tinggi untuk pelatihan. Dengan demikian, ini bukanlah ‘mendidik’ anak didik untuk menjadi guru
tetapi hanya melatih mereka.

Mengapa sistem pendidikan kita tidak dapat menciptakan pemimpin sejati di berbagai sektor? Peran seorang guru secara tradisional merupakan pemimpin sebuah komunitas, petunjuk dan mentor. Guru saat ini ‘dilatih’ secara profesional. Pelatihan biasanya tak mempedulikan pendekatan induktif, eksplorasi, inisiatif, fleksibilitas, alternatif dan imajinasi.

Konsekuensinya, ia kurang dalam mendidik keterbukaan, sintesis dan proses. Fokus dalam pelatihan lebih ditekankan pada fakta, arah, stabilitas, kekakuan, aturan dan tujuan jelas. Apabila mereka yang mempersiapkan tenaga pengajar masih sadar akan
perbedaan antara pendidikan dan pelatihan, maka mereka akan mendidik kepemimpinan dengan cara lebih halus dan pelajar akan lebih memahami keperibadian mereka
sendiri.[]

*Tulisan ini pernah dimuat di Banjarmasin Post, Rabu, 02 Juni 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>