Wanita ber-Jilbab, Agamis dan Idaman

Wanita ber-Jilbab umumnya bermakna perempuan yang memakai jilbab atau hijab untuk menutup aurat. Makna ideal aalah perempuan yang tidak hanya menutup aurat, tapi juga salihah, bertakwa dan berkepribadian islami. Tidak semua wanita jilbab pantas menyandar predikat perempuan agamis yang taat apalagi menjadi wanita idaman.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Alkhoirot Putri Malang

Daftar Isi

  1. Perempuan Berjilbab
  2. Perempuan Agamis
  3. Wanita Idaman


Perempuan Berjilbab dan Berhijab

Sheikh Yusuf Qardhawi, ulama asal Mesir yang diakui kepakarannya dalam bidang hukum Islam, menegaskan wajibnya berjilbab bagi wanita Muslimah hal ini antara lain berdasarkan pada pengertian dari QS An Nur:31. Yang dimaksud berjilbab di sini adalah menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan. Menurut Qardhawi wajibnya wanita Muslimah berjilbab adalah ijmak—konsensus ulama dari berbagai bidang keahlian (Tafsir, Hadits, fiqh, tasawuf) dan kurun waktu dari dulu sampai sekarang.

Berdasarkan sebuah Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Islam mengandung tiga unsur pokok yang harus dimiliki dan terus dikembangkan oleh seorang Muslim yaitu Iman, Islam (syariah) dan ihsan.

Pertama, Iman. Iman atau keyakinan kepada Allah yang Tunggal dan kerasulan Muhammad, sebagai Nabi yang terakhir pembawa risalah Islam, menjadi tulang punggung (backbone) dari ajaran Islam. Tanpanya, seorang tidak lagi bisa disebut Muslim. Dalam Hadits tersebut ada empat lagi keimanan yang mesti diyakini yakni iman pada Al Quran, Malaikat, Hari Akhir dan ketentuan Allah (qadha dan qadar). Iman bertempat di hati.

Kedua, Syariah. Sebagaimana dikatakan Nurcholis Madjid dalam Islam dan Peradaban ketaatan pada syariah menjadi konsekuensi logis dari keimanan kita pada Allah dan Rasulnya (QS An Nisa 4:13). Keimanan tanpa dibarengi dengan ketaatan pada perintah Allah yang kita imani adalah keimanan yang semu.

Syariah mengandung lima unsur pokok yaitu membaca syahadat, shalat lima waktu, zakat, haji bagi yang mampu dan puasa di bulan Ramadhan. Ketaatan pada kelima unsur syariah di atas merupakan bukti minimal dari keislaman kita. Ketaatan seorang wanita Muslimah untuk berjilbab juga menjadi bagian dari ketaatan pada syariah ini.

Ketiga, Ihsan. Ihsan disebut juga dengan akhlaqul karimah atau budi pekeri yang luhur (QS Al Qalam 68:4). Ia disebut juga dengan syariah universal karena nilai-nilai yang ada di dalamnya diakui, dianut dan dipraktikkan tidak hanya oleh Muslim tapi juga oleh non Muslim di seluruh dunia. Ihsan mendapatkan penekanan pada sikap dan perbuatan yang bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga harus mengandung manfaat bagi orang banyak. Selain itu muhsin (seorang yang berperilaku ihsan) tidak akan pernah terpikir untuk melakukan sesuatu yang merugikan umat manusia (QS Al Qashash 28:77).

Seorang Muslimah ideal adalah mereka yang memiliki ketiga unsur di atas: beriman, bersyariah dan berihsan. Pada kenyataannya menjadi muslimah ideal adalah hal yang sulit. Dan itu semua manusiawi. Selagi hidup dijadikan sebagai proses pembelajaran terus menerus untuk memperbaiki level keimanan, kesyariahan dan keihsanan, maka ketidaksempurnaan kita akan dimengerti.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita berusaha mencari pembenaran (justifikasi) dari kekurangan kita. Seorang Muslimah berjilbab dan yang tidak berjilbab hendaknya terus introspeksi diri melihat kekurangan diri dan berusaha untuk belajar. Manusia memang tidak sempurna. Tapi lebih tidak sempurna lagi kalau kita tidak mau introspeksi dan selalu menyalahkan. Belajar dari siapapun yang memiliki kelebihan adalah perintah agama yang harus kita lakukan sampai akhir hayat sebagai proses menjadi seorang Muslimah ideal (QS Ali Imron 3:137).[]


Wanita Agamis
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
PP Alkhoirot Putri Malang.

Seorang pria yang hendak menikahi seorang wanita, kata Rasulullah, tidak lepas dari empat pertimbangan: kekayaan (maliha), status sosial (nasabiha/hasabiha), kecantikan (jamaliha), dan agama (diniha).[1] Dari keempat faktor tersebut, kata Rasululullah lagi, pertimbangan berdasarkan kualitas spiritual seorang wanita (li diniha) adalah yang paling tepat dan menguntungkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat — menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah. Dalam Quran Surat Annur 24:3 Allah membuat larangan tegas kepada seorang muslim yang salih agar tidak menikahi wanita pezina (kecuali setelah bertobat nasuha).

Tentu saja konsep yang sama (li diniha) hendaknya juga dijadikan prioritas utama bagi wanita dalam menentukan calon pendamping hidupnya; bukan berdasarkan ketampanan dan kekayaannya.

EQ dan SQ

Manusia dikaruniai kecerdasan yang jauh melebihi hewan. Sebagian ahli psikososial membagi kecerdasan yang ada pada diri manusia dalam beberapa macam, yang terpenting dan relevan dengan pembahasan saat ini ada dua yaitu kecerdasan emosional atau EQ (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual atau SQ (spiritual quotient).

EQ atau kecerdasan emosional yang ada pada diri manusia berfungsi untuk mengontrol perilaku agar sesuai dengan tatanan sosial yang ada. Untuk memahami mana perilaku yang ditabukan, dibolehkan atau dianjurkan dalam suatu masyarakat tertentu. Ia juga berfungsi untuk memahami mana sikap yang akan melukai, menyinggung perasaan atau menyenangkan orang lain. Semakin tinggi kadar EQ seseorang, maka akan semakin diterima orang tersebut di lingkungannya. Kebalikannya, semakin lemah kadar EQ-nya, akan semakin terasing dan tak disenangi seseorang di mana pun dia berada.

Tanda paling menyolok dari individu yang lemah EQ-nya adalah sikap egois, kikir, pemarah dan tidak hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain dan lingkungannya.

Dalam pandangan Islam, memiliki EQ tinggi saja tidak cukup. Seorang Muslim harus juga memiliki kecerdasan spiritual atau SQ yang tinggi yakni ketundukan pada Allah, Sang Pencipta (QS Adz Dzariyat 51:56). Ketundukan dengan ikhlas untuk melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya menjadi prasyarat yang tak kalah pentingnya dalam rangka usaha manusia untuk menuju kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat (Al Baqarah 2:201).

Dengan demikian, yang disebut wanita agamis bukanlah mereka yang “cuma” memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi yang ditandai dengan ketundukan pada prinsip-prinsip Islam dan menguasai keilmuan agama yang mumpuni. Juga bukanlah wanita yang cuma memiliki kecerdasan perilaku (EQ); apalagi kecerdasan intelektual (IQ).

Wanita agamis adalah mereka yang memiliki baik kecerdasan SQ maupun EQ. Semakin tinggi kadar SQ dan EQ-nya, semakin tinggi ke-agamis-annya.

Berbeda dengan IQ atau kecerdasan intelektual, SQ dan EQ bukanlah “bawaan lahir.” Ia harus diusahakan dengan kerja keras (Al Balad 90:10-18). Dengan perjuangan terus menerus. Rasulullah menyebutnya sebagai “jihad besar.” Karena memang tiada perjuangan yang lebih berat selain perjuangan untuk mereformasi diri; meningkatkan kadar kualitas EQ dan SQ. Karena ia merupakan perjuangan terus menerus dan berkelanjutan dari lahir sampai akhir hayat.[]

[1] Teks hadits sahih riwayat Muslim adalah: تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك


Wanita Idaman
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk buletin El-Ukhuwah
PP Alkhoirot Putri Malang

Pernikahan antara pangeran Charles, putra mahkota kerajaan Inggris, dan putri Diana pada tiga dekade lalu dianggap oleh banyak kalangan sebagai “perkawinan abad ini.” Yang laki-laki tampan, kaya raya, terpelajar dan calon raja Inggris. Sedang yang perempuan cantik jelita dan baik budi. Dua dasawarsa kemudian, setelah mempelai ideal ini dikaruniai dua anak, kedua mempelai ini sepakat untuk kembali menghadap kadi namun dengan tujuan berbeda: untuk bercerai. Apa penyebabnya?

Banyak faktor. Yang terutama adalah ketidaksetiaan putri Diana. Dalam wawancaranya dengan wartawan tv Inggris BBC, Martin Bashir, putri Diana mengaku terus terang bagaimana dia telah menjalin hubungan perselingkuhan dengan sejumlah lelaki termasuk di antaranya pengawal pribadinya, pejabat kerajaan dan yang terakhir dengan seorang pemuda asal Mesir bernama Dodi Al Fayed putra Muhammad Al Fayed, seorang hartawan Inggris pemilik supermarket Harold, sebuah supermarket yang menjual barang dagangan khusus untuk kalangan jutawan dan kerajaan.

Faktor kedua adalah kesibukan putri Diana dalam menjalankan aktivitas di luar rumah sebagai utusan khusus PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) yang mengharuskan sang putri melakukan perjalanan jauh keliling dunia mengunjungi sejumlah negara sehingga tak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan, apalagi melayani, sang suami.

Setelah perceraian, pangeran Charles kembali menjalin hubungan dengan seorang janda bekas teman kelasnya waktu kecil bernama Camilla Parker yang kemudian dinikahinya sampai sekarang. Apa yang menarik di sini adalah bahwa Camilla Parker tidaklah cantik. Boleh dikatakan buruk rupa dan wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Mengapa pangeran Charles menyukainya?

Camilla Parker memiliki kepribadian seorang wanita yang menjadi idaman semua pria yang berpendidikan. Ia tidak cantik rupanya, tapi hatinya berkilau. Perempuan tipe ini disebut sebagai memiliki inner beauty (kecantikan dalam). Istri yang memiliki inner beauty selalu tahu tugas dan kewajibannya terhadap suami. Ia tidak pernah mengeluh, sebaliknya ia selalu mensyukuri segala hal baik yang dilakukan sang suami; dan berusaha memperbaiki kesalahan pasangannya dengan cara yang tidak menyakitkan. Rasa sayang, kesetiaan dan pengabdiannya selalu ia berikan untuk satu orang. Ia selalu ingin memberi, dan tidak pernah menuntut. Ia menjadi pasangan yang selalu menawarkan solusi tak kala sang suami menghadapi masalah. Ia akan menjadi peringan atas beban berat yang dipilkul suami.

Kecantikan fisik perlu disyukuri karena itu anugerah Ilahi, tapi kecantikan fisik hanya akan menanam kekaguman sesaat di mata pria dan akan berbalik menjadi pelecehan dan penistaan apabila tanpa diimbangi dengan kecantikan perilaku; banyak pelacur dan wanita murahan berwajah cantik.

Sebaliknya, dalam banyak fakta, inner beauty atau kecantikan perilaku, keindahan hati dan kedewasaan sikap akan menanamkan kekaguman dan penghargaan abadi dan bertahan lama baik dari sang suami maupun dari lingkungan sekitar. Inilah mengapa dalam sebuah Hadits, Rasulullah memerintahkan seorang pria untuk memilih calon istri berdasarkan pada kecantikan hatinya (li diniha), bukan karena kecantikan lahir atau hartanya.

Begitu juga, wanita dalam memilih calon suami hendaknya tidak berdasar pada penampilan fisiknya, status sosial atau hartanya; tapi pada ketampanan hati dan keindahan perilaku serta kekuatan sikap kepemimpinannya.

Tayangan kisah tak Islami di sinetron, perilaku seronok para artis dan gosip murahan selebritis di televisi telah merubah cara berpikir sebagian masyarakat baik di kota maupun di pedesaan ke arah pola pikir negatif dan materialistik. Salah satu dampak negatifnya adalah pemujaan kepada penampilan fisik yang sebenarnya sangat menipu. Kebahagiaan dan kedamaian hati hanya akan tercapai apabila seorang santri khususnya dan umat Islam umumnya berpegang teguh pada sendi-sendi ajaran Islam; bukan pada ajaran-ajaran sesat yang ditularkan oleh penampilan dan kata-kata murahan para aktor dan artis bodoh itu.[].
plastic surgeon

Leave a Reply