Menentukan Jodoh Berdasar Weton

Menentukan Jodoh Berdasar Weton
Oleh A. Fatih Syuhud

Salah satu tradisi orang tua di sebagian masyarakat Jawa dan Madura terutama di pedesaan adalah dalam menentukan jodoh calon pasangan anaknya mereka masih tergantung pada weton. Weton adalah penjumlahan hari-hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu) dengan hari-hari dalam pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).  Dengan mengotak-atik hitungan tersebut maka akan ditemukan hasilnya apakah anaknya apabila menikah dengan yang melamarnya akan bernasib sial, atau beruntung. Dari situ, orang tua akan membuat keputusan apakah akan menerima pinangan seseorang atau menolaknya.

Sikap seperti ini sama dengan lebih mempercayai tukang ramal daripada syariah Islam yang sudah jelas aturannya dalam Quran dan hadits.  Rasulullah bersabda: مَنْ أِتى كاهِناً أو عرافاً، فَصَدّقَهُ بما يقول، فقد كَفَرَ بما أَنزَل على محمد . Artinya, barangsiapa yang datang ke dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka itu berarti dia telah kufur pada ajaran Muhammad  (HR Imam Ahmad). Berdasarkan hadits ini,  Imam Suyuthi mengharamkan percaya pada ramalan. Dan berdosa bagi yang mempercayainya.

Hadits di atas merupakan teguran keras pada orang muslim yang keislamannya tidak total alias masih setengah-setengah. Percaya pada Allah dan Rasulnya dalam arti melaksanakan rukun Islam yang lima, tapi di sisi lain masih mempertahankan tradisi nenek moyangnya yang masih percaya pada ramalan yang jelas tidak benar baik dari perspektif syariah maupun analisa dan logika keilmuan modern.

Pada dasarnya Islam tidak menolak tradisi atau ilmu tertentu yang berasal dari luar Islam. Dalam sejarahnya kita melihat banyak sarjana Islam yang mempelajari berbagai macam keilmuan yang berasal dari budaya dan peradaban non-Islam. Seperti ilmu filsafat, matematika, kedokteran, sufisme dan lain-lain. Tidak sedikit dari sarjana Islam itu bahkan menonjol di bidang keilmuan baru yang mereka tekuni. Seperti Ibnu Khaldun di bidang ilmu politik, Al-Khawarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran. Islam memberi ruang yang cukup luas bagi umatnya untuk mengembangkan kemampuan dan kapasitas dirinya secara maksimal sepanjang hal itu dapat membawa kemajuan dan bernilai positif, serta tidak berlawanan dengan prinsip aqidah Islam. Nabi menegaskan bahwa kita boleh “menuntut ilmu walaupun di negeri China” di mana negeri China saat itu bukanlah negara Islam dan tidak ada satupun orang muslim di sana. Itu artinya, ilmu non-Islam boleh dipelajari kalau memang membawa kebaikan dan manfaat bagi diri dan orang lain.

Kepercayaan kepada dukun ramal atau pada hitungan weton, primbon dan semacamnya secara tegas dilarang oleh Rasulullah karena mempelajari dan mempercayai ilmu ramalan merupakan suatu langkah mundur bagi seorang muslim karena itu bertentangan dengan prinsip Islam dan logika akal sehat keilmuan.

Bayangkan, orang tua menolak putrinya dilamar  seorang pria yang salih dan menerima pinangan seorang laki-laki preman hanya gara-gara ramalan dukun atau hitungan weton menganjurkan demikian. Bayangkan seorang santri tidak disetujui orang tuanya untuk melamar seorang santriwati dan menganjurkan untuk menikah dengan perempuan  nakal hanya gara-gara ramalan menganggap itulah yang baik.

Padahal jelas dan tegas Nabi menyatakan فاظفر بذات الدين تربت يداك, bahwa standar memilih jodoh menurut Islam hanya satu: carilah pasangan yang agamis, salih atau salihah “agar supaya kamu beruntung.” Ini pedoman bagi orang tua, dan bagi laki-laki dan perempuan yang sedang memilih calon pasangan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>